Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 153 Season 2


__ADS_3

Ruangan pimpinan rumah sakit sudah menjadi seperti ruang interogasi. Alfaraz terus mengamuk pada dua suster yang kini tertunduk dalam di depannya.


Kean tidak bisa melakukan apa-apa, dia mengerti seperti apa rasanya kehilangan sosok yang di cintai.


"Kami sungguh tidak tahu siapa wanita itu Pak." Jawab salah satu suster dengan wajah yang sudah pucat pasi. Sudut bibir kedua suster itu sudah terdapat bercak darah karena amukan Adelia.


"Jika putriku tidak bisa di temukan, kalian berdua akan mati di tanganku." Ujar Alfaraz dingin.


Setelah mengatakan itu, Alfaraz keluar dari ruangan pimpinan rumah sakit, yang tidak lain adalah kakak sepupunya. Ia melangkah cepat menuju ruangan di mana istrinya berada.


Petugas dari kepolisian segera membawa di suster itu menuju kantor polisi.


Sudah satu jam berlalu, namun, masih belum juga mendapatkan informasi selanjutnya dari anggota yang bertugas di lapangan.


****


Saat membuka pintu ruangan, hatinya kembali sakit karena mendengar tangisan menyayat hati yang selama pernikahan tidak pernah terdengar dari bibir istrinya.


Alfaraz mengepalkan tangannya hingga tulang tangannya memutih. Selama ini ia berusaha untuk tidak akan pernah membuat Yana menangis seperti hari ini, namun, entah siapa yang begitu lancang merencanakan ini semua.


"Kita terlalu lengah." Ujar Zidan pada putranya.


Alfaraz masih menatap istrinya yang terus menangis di dalam dekapan ibu mertuanya. Lalu tatapannya tertuju pada bayi mungil yang begitu tenang dalam lelap di atas ranjang kecil di sudut ruangan perawatan Yana.


"Sepertinya putri Al masih baik-baik saja Pa." Ucapnya masih terus menatap bayi kecil yang ada di ruangan itu.


Zidan ikut menatap cucunya yang begitu tenang.


"Sepertinya begitu, jika terjadi sesuatu dengan saudari kembarnya, hal yang mustahil jika dia tidak merasakan hal serupa." Ucapnya menimpali perkataan putranya.


Alfaraz mengangguk.


Setelah beberapa saat mencoba menerka siapa di balik peristiwa hari ini, ponsel yang ada di dalam saku Zidan bergetar.


"Siapa Pa ?" Tanya Alfaraz.


"Orang dari kepolisian yang bertugas mencari tahu mobil yang membawa putrimu." Jawab Zidan sembari mengusap layar ponselnya.


"Bagaimana ?" Tanyanya setelah panggilan tersebut terhubung.

__ADS_1


"Mobil yang membawa bayi itu terjatuh ke ke dalam jurang Pak. Satu korban meninggal dan sudah berhadil di identifikasi. Korbannya atas nama Ibu Marlina."


Zidan mengakhiri panggilan itu, lalu tubuhnya terduduk lemas di atas sofa yang ada di ruang perawatan menantunya. Ia tidak menduga, mantan ibu mertua dari menantunya akan melakukan hal sekejam ini, seakan tidak puas sudah membuat Yana menderita selama menjadi menantu mereka.


Sama halnya dengan Alfaraz, suara dari ponsel sang Papa tadi membuat tubuhnya ikut terduduk lemas di atas sofa. Separuh nyawanya seakan ikut di angkat dari tubuhnya saat mendengar berita yang begitu mengerikan hari ini.


"Apa yang terjadi Al ?" Tanya Yana dari atas ranjangnya. "Sayang katakan padaku apa yang sudah terjadi dengan putri kita." Ucap Yana lagi. Ia sudah melepaskan diri dari dekapan sang ibu, lalu memaksa turun dari atas ranjang dan melangkah menuju suaminya berada. Darah mengalir dari punggung tangan yang yang tadinya terpasang infus.


Alfaraz segera berdiri, dan melangkah cepat menuju istrinya yang sudah terduduk lemas di atas lantai.


"Katakan padaku Al, apa yang sudah terjadi dengan putriku." Tangisan Yana kembali pecah dalam pelukan suaminya.


Alfaraz masih belum bersuara, suaranya tercekat. Dadanya sakit saat membayangkan bayi kecilnya harus merasakan hal mengerikan itu, setelah baru beberapa jam melihat dunia. Terlebih melihat Yana yang seperti ini, semakin membuat dunianya seakan runtuh.


"Sayang tolong bawa bayi kecil kita kembali." Ucap Yana memelas bersamaan dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Jangan seperti ini sayang, kasihan Nadira jika kamu terus sedih seperti ini." Bujuk Alfaraz masih belum berniat mengutarakan apa yang sudah terjadi pada putri mereka.


"Yang hilang itu juga putri kita Al, kasihan dia.." Lirih Yana masih terus terisak dalam pelukan Alfaraz, hingga beberapa saat kemudian wanita yang memang masih lemas itu tak sadarkan diri. Semua orang tidak menyadari darah yang terus merembet keluar dari punggung tangan Yana.


Gerald yang sejak tadi ikut menenangkan istrinya karena mengamuk pada dua suster yang ikut menjadi tersangka pada kejadian hari ini, segera melangkah keluar dari ruangan untuk menemui dokter.


Setelah semuanya sudah baik-baik saja, dokter tersebut keluar dari dalam ruangan yang di selimuti oleh kesedihan itu.


Dua wanita paruh baya yang sejak tai berusaha menenangkan Yana, sudah pindah dan duduk di sofa bersama Zidan. Sedangkan Alfaraz tetap berada di sisi ranjang di samping istrinya terbaring.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Farah pada suaminya.


"Mobil yang membawa cucu kita terjatuh ke dalam jurang, dan orang yang ada di dalam mobil itu adalah Ibu Marlina. Wanita itu di nyatakan meninggal, namun bayi kecil itu tidak di temukan." Jawab Zidan.


"Astagfirullah..." Lirih Dinda di sertai air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.


Selama ini ia menutup mata dari semua yang terjadi, karena ia tidak ingin ikut campur dengan rumah tangga Yana dan Reno, terlebih melihat putrinya yang selalu terlihat baik-baik saja. Namun, kini ia tidak tahan lagi dan ingin memaki wanita yang pernah menjadi besannya itu dengan lantang.


"Entah apa salah putriku padanya Mbak." Ucap Dinda saat Farah sudah membawa tubuhnya yang bergetar ke dalam pelukan.


"Yana tidak bersalah, mereka saja yang jahat." Jawab Farah.


"Kasian bayi kecil kita itu Mbak. Baru beberapa jam melihat dunia, sudah harus mengalami hal tragis seperti itu." Ucap Dinda lagi.

__ADS_1


Farah mengusap lembut punggung besannya itu. Ia pun sedih saat membayangkan bayi sekecil itu sudah harus mengalami hal mengerikan seperti ini.


Semua orang yang sedang bersedih di dalam ruangan itu, seketika menoleh saat pintu ruangan tempat mereka berada di buka dengan perlahan.


Alfaraz segera beranjak dari atas ranjang tempat Yana terbaring, lalu melangkah cepat menuju laki-laki yang kini memeluk tubuh putri kecilnya.


"Beraninya kamu !" Alfaraz meraih kerah kemeja Reno dan bersiap memukul lelaki yang terlihat menyedihkan itu.


"Alfaraz.." Tegur Zidan. "Kamu tidak lihat dia sedang membawa putrimu." Ujar Zidan lagi.


Alfaraz menoleh, ia menatap bayi kecil yang sedang terlelap dalam pelukan Reno. Tangannya yang sedang menahan kerah Reno perlahan terlepas, lalu segera meraih bayi mungil itu dan memeluknya erat.


"Maafkan Mama ku Om." Ucap Reno pelan.


Zidan beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah menuju lelaki yang terlihat begitu mengenaskan di ambang pintu ruangan.


Alfaraz sudah melangkah menuju ranjang di mana istrinya berada, sambil menggendong bayi kecilnya yang membuat semua orang sedih hari ini.


Adelia dan Gerald pun ikut beranjak, lalu melangkah menuju ranjang. Begitupun dengan Farah, wanita paruh baya dengan jilbab andalannya itu ikut melangkah cepat menuju ranjang untuk memastikan jika cucunya baik-baik saja.


Berbeda dengan Dinda, ia justru melangkah menuju magang pintu di mana Reno berada. Ia menatap sedih mantan menantunya yang terlihat begitu mengenaskan itu.


"Ibu tahu kamu sangat mencintai Yana, dan tidak lagi ingin melukainya." Ucap Dinda saat sudah berada di depan Reno.


"Maafkan sikap Mama selama ini Bu." Ujar Reno.


Dinda mengangguk.


"Maafkan atas kekacauan yang di buat mama hari ini Om." Ucapnya lagi.


Zidan menepuk pelan bahu Reno.


"Puncak dari sebuah rasa cinta adalah keikhlasan Nak. Ikhlaskan semua yang memang tidak bisa menjadi milik kita, percayalah Allah sudah menyiapkan sebuah kebahagiaan untuk mu nanti." Ucap Zidan.


Zidan merentangkan tangannya, meminta lelaki yang kini sudah sebatang kara itu untuk masuk ke dalam pelukannya.


*****


*Note Author

__ADS_1


Aku tuh tipe yang ga tegaan loh, jadi masa iya kalian tega membiarkan jari ku yang mulai keriting ini crazy tanpa di beri hadiah 🤧🤧


__ADS_2