Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 151 Season 2


__ADS_3

"Sekali aja hm." Gerald masih berusaha membujuk Adelia.


"Aku masih ga suka dekat-dekat kamu sayang. Nanti aja yaa." Tolak Adelia. Wanita dengan perut yang membuncit itu kembali beralih pada benda pipih yang menampilkan online shop yang menjajakan berbagai macam keperluan bayi.


"Tapi aku pengen, ini sudah sangat lama loh. Dapat dosa kamu nanti." Ujar Gerald dengan wajah gemas bercampur kesal karena masih saja di abaikan oleh istrinya. "Begituan saat hamil bisa memperlancar lahiran loh.." Bujuknya lagi.


"Bohong kan..." Adelia menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya.


"Search aja di Mbah gugel kalau ga percaya." Ucap Gerald sambil tersenyum penuh kemenangan. Ah, malam ini ia akan berbuka puasa setelah beberapa bulan hanya bisa menjadi tukang bersih-bersih muntahan istrinya yang menggemaskan ini.


"Oh iya benar loh.." Seru Adelia.


Gerald tersenyum licik. Tangan nakalnya mulai berani merangkul pundak istrinya.


"Tapi aku masih belum mau. Gimana dong.." Adelia tertawa dalam hati saat melihat wajah bahagia suaminya sudah berganti dengan wajah menyedihkan.


"Jahat banget sih.." Rajuk Gerald. "Cari yang lain aja ah.." Sambungnya.


"Cari aja, dan layangan kita akan putus. Aku buat layangan kamu bergelantungan di tiang listrik sampai kering." Ujar Adelia.


Gerald semakin cemberut.


"Jangan lama-lama, dan hati-hati." Ucap Adel sambil tersenyum.


"Benar ?" Tanya Gerald memastikan.


Adelia mengangguk.


"Ga akan muntah lagi seperti kemarin-kemarin kan ?"


"Kalau muntah lagi, kan ada kamu.."


Tangan Gerald yang mulai bergerilya kembali terhenti.


"Enggak kok, aku bercanda." Adelia tertawa geli. "Ayo aku juga rindu. Anak kamu juga pengen di jengukin." Sambungnya sambil menaik turunkan alisnya menggoda.


"Ini tidak akan cepat berakhir, aku akan bermain berlama-lama dengan anakku." Ujar Gerald.


Adelia tidak lagi menanggapi, ia hanya ikut menikmati setiap sentuhan penuh kehati-hatian di tubuhnya.


Acara menjenguk anak yang masih berada di dalam kandungan akhirnya berhasil dan lancar tanpa muntahan.


****

__ADS_1


Di sebuah ruangan yang di siapkan khusus, Alfaraz masih memeluk tubuh Yana dengan erat sambil mengusap lembut pinggang istrinya itu. Wanita yang kini sama berharga dengan sang Bunda sedang terlelap di dadanya.


Ini malam kedua mereka menginap di rumah sakit, untuk persiapan pembedahan besok. Dada Alfaraz tidak berhenti berdebar. Perasaan cemas dengan istrinya, di tambah rasa tidak sabar menanti kehadiran putri kembarnya begitu mengganggu pikirannya malam ini, sehingga membuat matanya sulit untuk terlelap.


Detik berganti menit, dan waktu semakin bergerak maju. Alfaraz masih setia dengan kegiatannya yang terus mengecup puncak kepala Yana sambil mengusap lembut pinggang istrinya itu.


Malam yang kelabu mulai berganti pagi yang masih begitu temaram. Alfaraz perlahan bangkit dari atas ranjang tempat Yana terlelap, lalu melngkah menuju kamar mandi.


Kewajiban di waktu subuh pada sang pemilik kehidupan baru saja ia tunaikan. Kali ini permintaanya berbeda. Jika kemarin-kemarin ia meminta Allah untuk selalu menjaga keutuhan rumah tangganya, kali ini ia meminta agar Allah melindungi istrinya yang akan berjuang hari ini.


Di atas ranjang, Yana sudah terjaga. Ia bangkit lalu duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Tatapannya tertuju pada Alfaraz yang belum beranjak dari atas sajadah. Entah apa yang masih di pinta oleh lelakinya itu, hingga masih begitu enggan beranjak dari sana.


"Sayang..." Panggil Yana.


Alfaraz menoleh, senyum seketika terlihat di wajah teduhnya saat melihat Yana sudah duduk di atas ranjang. Ia segera beranjak dari sana, lalu melangkah menuju istrinya berada.


"Ada apa ? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan ?" Tanya Alfaraz.


"Iya, aku mau peluk kamu." Jawab Yana.


Alfaraz tersenyum. Ia bangkit lalu melangkah dan semakin memangkas jarak, kemudian segera membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Sudah woi, istrimu harus segera di siapkan."


"Cih, Kak Kean ganggu aja." Ucap Alfaraz. Ia beranjak dari ranjang tempat Yana berada, dan memberikan waktu untuk dokter kandungan memeriksa keadaan istrinya.


Kean terkekeh melihat wajah cemberut adik sepupunya.


"Jangan khawatir, setelah ini kamu masih akan punya banyak kesempatan memeluk istrimu sepuasnya." Ujar Kean menenangkan adik sepupunya.


"Dia akan baik-baik saja kan Kak ?" Alfaraz menoleh, ia menatap wajah istrinya yang sedang tersenyum sambil bercerita entah apa dengan dokter wanita yang sedang duduk di sisi ranjang.


"Tentu saja, jangan khawatir. Bayi dan ibunya sehat." Ujar Kean yakin.


Alfaraz mengangguk.


Lelaki itu ikut keluar dari ruangan, saat Yana sudah di dorong menuju ruang operasi.


Dinda, Farah dan Zidan serta putri dan menantu mereka, Gerald yang baru tiba di rumah sakit langsung melangkah menuju ruangan Yana. Beruntung Yana belum sempat di bawa masuk ke dalam ruang operasi.


"Harus kuat ya Nak." Ucap Farah.


Yana mengangguk masih dengan senyum manis di bibir pucatnya. Ini pengalaman pertama, dan sedikit membuatnya takut.

__ADS_1


Dinda tidak mengatakan apa-apa, hanya usapan lembut yang terus ia berikan di kepala putrinya. Doa memohon keselamatan terus saja ia utarakan di dalam hatinya.


"Selamat berjuang sayang, aku tunggu kalian bertiga di sini." Ujar Alfaraz.


"Aku juga Mbak, kami semua menunggu kalian bertiga di sini." Ujar Adelia menimpali.


Yana lalu di bawa masuk ke dalam ruang operasi untuk di siapkan. Tatapan cemas bercampur tatapan penuh harap mengiringi tubuh Yana sampai menghilang di balik pintu ruang operasi yang tertutup rapat.


****


Lina mempersiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan untuk besok.


Reno masih menatap sendu wajah wanita yang sudah melahirkannya. Sejak tadi ia berusaha membujuk sang Mama, tapi masih belum berhasil juga.


"Jika kamu akan memberitahu keluarga Yana tentang rencana Mama, maka kamu akan kehilangan Mama." Ujar Lina sambil merapikan beberapa perlengkapan bayi yang akan ia pakai nanti.


"Apa Mama ngga kasihan sama Yana ? Selama ini dia bantuin Reno buat bahagiain Mama."


"Mama tahu, ini yang terakhir kali Ren. Mama ngga akan ikuti rencana Nara yang ingin membunuh bayi Yana, tapi Mama akan menitipkan bayi itu di panti asuhan." Jawab Lina. Wanita itu meletakkan tas kecil berisi perlengkapan bayi di sudut kamarnya.


"Mama yakin ini akan berhasil ? Keluarga Alfaraz bukanlah orang-orang yang akan membiarkan sesuatu yang membahayakan mendekati anggota baru keluarga mereka.."


"Mama tahu itu, dan mengenai urusan di dalam rumah sakit Mama tidak akan tahu menahu. Mama hanya bertugas menunggu dan membawa bayi itu pergi."


"Ren Mama akan menjamin bayi itu ga akan kenapa-kenapa. Kali ini saja, tolong jangan gagalkan rencana Mama walaupun kamu masih begitu mencintai Yana." Pinta Lina memelas.


"Baiklah aku akan membantu Mama, tapi jangan bilang soal ini pada Nara atau orang suruhannya itu."


"Janji ngga akan menggagalkan rencana ini ?" Tanya Lina memastikan.


Reno menarik nafasnya, lalu mengangguk.


"Biar aku yang membawa bayi itu ke panti asuhan." Putusnya.


*****


*Note Author


Ini konflik terakhir, plis jangan marahin aku yaa 😅 Aku janji ending Yana dan Alfaraz ga se jahat hati Nara kok 🙈


Oh iya, beberapa Bab lagi kita akan masuk ke Season Si Kembar. Tetap stay di sini yaah..


Mulai hari ini aku kembali crazy up 🤭

__ADS_1


__ADS_2