
Tania menatap tubuhnya di depan cermin. Kebaya berwarna putih yang di rancang khusus itu nampak terlihat cantik di tubuh rampingnya. Beberapa kali ia memutar tubuhnya di depan cermin, untuk memastikan jika kebaya berwarna putih dengan taburan mutiara itu benar-benar sudah sempurna di tubuhnya sebelum ia menunjukan pada Ayiman yang sedang menunggu di depan ruang ganti tempat ia berada.
Beberapa hari lagi pernikahan mereka akan di gelar. Hari ini Tania begitu bersemangat, karena ini pertama kalinya Ayiman berinisiatif mengajak dirinya untuk mengecek persiapan pernikahan mereka.
Laki-laki yang entah sejak kapan mulai mengisi hatinya itu, tiba-tiba menjemput dirinya di tempat kerja, dan mengajak ke tempat di mana mereka mengukur baju pengantin beberapa minggu yang lalu.
"Ayi.." Panggil Tania sambil berdiri di hadapan Ayiman. "Gimana ?" Tanyanya.
Ayiman tersenyum, lalu mengangkat kedua tangannya untuk memberikan jempol pada gadis yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
"Cantik." Ucapnya seketika membuat senyum manis di wajah Tania mengembang.
"Benarkah ?" Tanya Tania memastikan, dan langsung di angguki oleh Ayiman.
Tania memang cantik. Hanya perasaannya saja yang masih tertuju pada Daniza dulu, sehingga membuat hatinya tertutup untuk melihat gadis lain selain Daniza.
"Kamu juga keren dengan jas itu." Puji Tania.
"Dan laki-laki keren ini calon suami kamu. Senang ga ?" Tanya Ayiman penuh percaya diri.
"Senang lah. Kamu tahu sih belum tahu bagaimana rasanya jika impian tercapai." Ujar Tania. Gadis itu masih membiarkan senyum manis tetap terlihat di bibir tipis nya.
"Apakah menikah dengan ku adalah impian mu ?" Tanya Ayiman serius.
"Tentu saja, siapa sih yang ga mau di nikahi oleh seorang pewaris." Kekeh Tania. Ia lalu berbalik dan hendak meninggalkan Ayiman di sana. Namun, sayang pergelangan tangannya langsung di tahan oleh laki-laki itu.
"Aku memang belum pernah mengimpikan gadis lain selain Daniza, tapi ngga ada salahnya merubah nya sekarang, bukan ?"
Ayiman menatap hangat wajah cantik calon istrinya, dengan lekat.
"Ga usah sok puitis deh, ga cocok Ayi." Pukul Tania di bahu Ayiman. Senyum di wajah Tania masih belum pergi karena mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Ayiman. Tidak lama kemudian ia kembali masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Ayiman masih menatap kepergian Tania dengan senyum yang sama.
Tidak ada yang tidak mungkin jika kita masih mau berusaha. Yang terpenting adalah, niatnya baik.
Tania gadis yang baik dan pantas mendapatkan cinta dari laki-laki yang baik.
__ADS_1
*****
Di gedung dengan puluhan lantai, Ayura terus saja mengomel kesal. Bagaimana tidak, laki-laki yang seharusnya memimpin rapat siang ini, melarikan diri entah kemana. Lihat saja nanti jika lak-laki itu kembali, memukulnya dengan dokumen ini sepertinya belum cukup membuat hati Ayura merasa lebih baik.
Gadis yang menjabat sebagai orang nomor dua di dalam perusahaan itu, menerima setia laporan drai para penanggung jawab divisi dengan seksama sembari membuka lembaran-lembaran kertas yang ada di hadapannya untuk memastikan jika yang sedang di laporkan oleh salah satu karyawan di depan sana, benar-benar sudah sesuai dengan laporan yang ada di hadapannya.
Waktu terus bergulir, rapat yang seharusnya di pimpin oleh Ayiman sebentar lagi selesai. Ayura masih terus memeriksa setiap laporan yang masuk padanya dengan teliti. Bahkan beberapa pesan dan panggilan yang masuk ke dalam ponsel yang ada di atas meja pun ia abaikan begitu saja.
Gadis yang candu akan pekerjaan. Begitulah seorang Ayura, tapi mungkin sebentar lagi ia harus membiasakan diri menjadi wanita yang hanaya akan melayani suami di rumah. Menyiapkan pakaian, makanan dan masih banyak lagi kewajiban yang harus ia penuhi setelah menjadi seorang istri nanti.
Setelah rapat itu selesai, gadis yang mengenakan setelan formal dengan hijab andalannya itu, melangkah keluar dari ruang rapat menuju meja kerjanya.
Hari ini ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, karena bos gilanya itu pergi bersenang-senang dengan calon istrinya. Lift yang di pakai Ayura terus bergerak naik menuju lantai paling atas gedung perusahaan.
"Kamu ga kerja ?" Tanya Ayura saat melihat siapa yang sedang duduk di kursi depan meja sekretaris.
"Kata Ayiman kamu sedang ada rapat, jadi aku berinisiatif datang untuk membawakan kamu makan siang." Jawab Sam.
"Bukan itu yang aku tanyakan. Kamu ga kerja ?" Tanya Ayura lagi dengan wajah yang cemberut.
"Kalau aku kerja, ga mungkin aku berada di sini." Jawab Samudra. "Makan siang dulu yuk." Ajaknya.
Ayura melirik tumpukan dokumen yang ada di atas meja kerjanya, lalu tatapannya berpindah pada satu buah paper bag yang ada di hadapan Samudra.
Karena tidak tahan lagi melihat keraguan di wajah Ayura, Samudra segera beranjak dari kursi yang ada depan meja kerja Ayura, lalu segera menarik calon istrinya itu menuju ruangan Ayiman.
"Aku sudah minta izin." Ujar Samudra.
Ayura hanya terus menatap pergelangan tangannya yang sedang di genggam oleh Samudra. Samudra adalah satu-satunya laki-laki yang berani menggenggam tangannya seperti ini.
"Duduk situ, aku siapkan dulu." Ujar Samudra lagi.
"Biar aku aja Sam. Tunggu di sini." Ayura meraih paper bag yang ada di tangan Samudra, lalu kembali melangkah keluar dari ruangan Ayiman.
Jelang beberapa saat Samudra menunggu, Ayura kembali masuk ke dalam ruangan untuk menyajikan makan siang yang ia bawa hari ini.
__ADS_1
"Ayo makan." Ajak Ayura setelah menyajikan makanan yang di bawakan Samudra siang ini ke atas meja sofa yang ada di hadapan mereka.
Saat Ayura dan Samudra sedang menikmati makan siang mereka, pemilik ruangan yang tadi kabur dari tanggung jawab di perusahaan, masuk ke dalam ruangan dengan pintu yang di biarkan terbuka.
"Cie,, yang lagi makan siang bareng. Udah jinak ya Sam." Goda Ayiman lalu membawa tubuhnya duduk di samping Ayura.
Ayura mendengus kesal, ingin sekali ia mendorong laki-laki tengil yang kini duduk di sampingnya.
"Tahu ga Dek, Bang Azam sudah nikah loh." Ujar Ayiman. Ayura berhenti mengunyah, lalu menoleh pada laki-laki yang terlihat serius dengan kalimatnya.
"Air.." Sam mengulurkan segelas air putih ke arah Ayura.
Ayura menerima gelas yang berisi air putih itu, lalu meneguknya.
"Terimakasih Sam." Ucapnya.
Samudra mengangguk.
"Bang Ayi tahu dari mana ? Kok Ayah sama Ibu ga di undang." Tanya Ayura.
"Pernikahannya dadakan banget." Jawab Ayiman.
Ayura mengerutkan keningnya. Sedadakan apa sih sampai-sampai keluarga dekat seperti mereka tidak mengetahui pernikahan itu.
"Namanya juga jodoh Ra, tidak akan ada yang tahu kapan datang. Sama seperti ajal kan, kita tidaka akan pernah tahu kapan datang menyapa. Semua adalah rahasia Allah." Ujar Samudra menimpali.
"Nah itu dia. Semoga kalian jodoh ya, biar Ayura segera minggat dari perusahaan ini..
Brakk...
"Aduh, sakit Dek. Abang becanda.." Keluh Ayiman sambil mengusap kepalanya yang baru saja di hantam dengan nampan.
Samudra menatap kejadian itu dengan tubuh yang merinding ngeri. Wanita seperti apa yang menjadi calon istrinya ini.
"Enak banget kalau ngomong. Kamu ga tahu aku tuh orang yang paling berjasa di perusahaan ini. Kamu tahunya makan uang nya doang !" Tegas Ayura. Setelah menarik nafasnya, Ayura kembali melanjutkan makan siang yang di bawakan Samudra spesial untuknya siang ini. Eh, spesial ? Terserah;ah, dia kan emang gadis spesial.
__ADS_1
Dua laki-laki yang ada di dalam ruangan itu hanya bisa terdiam. Yang satu sedang menahan sakit di kepalanya, sedangkan yang satunya lagi sedang bertengkar dengan pikirannya sendiri. Ngeri bercampur lucu, tapi lebih banyak takutnya.