
Kak boleh aku masuk ?" Tanya Dira usai mengetuk pintu kamar sang Kakak.
"Masuk Dir." Jawaban dari pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Dira menekan kenop pintu lalu masuk ke dalam kamar itu. Sedikit terkejut saat mendapati ibunya juga berada di kamar itu.
"Sini sayang." Ajak Zyana saat melihat putri keduanya masuk ke dalam kamar Nira.
Nira yang sedang memeriksa beberapa pekerjaan yang ada di dalam tabnya, ikut tersenyum saat melihat adiknya sedang melangkah menuju kearahnya dan sang Ibu.
Dira melangkah menuju sofa tempat kakak kembarnya berada. Tanpa berkata apapun, wanita cantik itu segera berbaring di atas pangkuan sang kakak.
Nira menatap wajah ibunya dengan heran. Pasalnya ini pertama kalinya Dira bertingkah seperti ini terhadapnya.
"Ada apa ?" Tanya Nira.
"Ga apa-apa, tadi baca artikel internet, katanya berbaring di atas pangkuan orang yang mencintai kita itu rasanya menenangkan. Dan ini benar-benar sangat menenangkan." Jawab Dira.
"Kamu baru tahu ? Seharusnya kamu mencobanya sejak lama Dir." Ujar Nira sembari terkekeh geli dengan sikap dadakan adik kembarnya.
"Kak, terimakasih sudah mencintaiku." Ujar Dira.
Nira menghentikan tawanya, lalu menatap ke arah wanita yang kini sedang berbaring menyamping menghadap ke tubuhnya.
"Kok tiba-tiba jadi manja sih ?" Tanya Nira sambil meletakkan benda pipih dengan layar beberapa inci itu ke atas meja sofa. "Aku merinding loh jika kamu seperti ini. Sumpah ga cocok." Sambungnya sambil berpura-pura bergidik ngeri dengan kelakuan Dira.
"Ternyata menjadi anak manis sangat menyenangkan ya Kak." Ucap Dira lagi tanpa memperdulikan ledekan sang kakak terhadap sikap anehnya hari ini.
"Apa kamu bahagia ?" Tanya Nira. Lalu kepala yang ada di atas pangkuannya mengangguk.
"Katakan padaku jika si begundal itu membuatmu menangis." Ujar Nira lagi, membuat Dira terkekeh.
"Begundal, apaan tuh." Gumamnya di atas pangkuan Nira.
"Terimakasih sudah berkorban untukku." Ucap Dira lagi. Tangannya kini sudah melingkar sempurna di pinggang ramping Nira.
"Enggak, aku yang bilang terimakasih padamu, karena selama ini sudah begitu sabar menghadapi sikap menyebalkan kakakmu ini." Ujar Nira.
__ADS_1
"Aku menyayangimu Kak." Ucap Dira.
"Aku tahu.. Karena aku pun merasakan hal yang sama. Kita kembar, mungkin kamu lupa." Ujar Nira terkekeh, namun matanya berkaca saat mendengar kata yang menyentuh hatinya keluar dari bibir Dira.
Di sofa yang lain di ruangan itu, Zyana mengalihkan tatapannya dari kedua gadis yang sedang mengobrol di atas sofa di depannya. Satu tetes air bening yang meluncur dari sudut matanya ia usap perlahan.
Dia tahu bagaimana rasanya berada di posisi Nira saat ini. Mengikhlaskan sesuatu yang di cintai itu sangat sulit bagi orang yang tidak tahu arti dari sebuah rasa cinta yang sebenarnya.
"Puncak tertinggi dari sebuah rasa cinta adalah mengikhlaskan orang kita cintai berbahagia dengan orang yang dia cintai." Ucapan mendiang Papa mertua ya saat Reno berhasil menyelamatkan bayi kecil, kembali melintas dalam benaknya.
"Kamu harus bahagia, karena jika kamu terluka aku pun akan merasakan hal yang sama." Ujar Nira lagi pada adiknya. "Ibu ngancem aku loh." Adu nya pada sang adik.
Dira sudah sesegukan di atas pangkuan sang Kakak.
"Aku mencintainya." Ucap Dira dengan suara serak menahan tangis.
"Aku tahu." Jawab Nira.
"Tapi aku juga menyayangi mu Kak. Aku bisa kok berkorban sama seperti yang kamu lakukan saat ini." Ucapnya Dira lagi.
"Ini bukan hanya tentang kamu Dira, tapi tentang aku juga. Aku mencintainya sama seperti aku menyayangi mu. Tapi dia tidak mencintaiku sama seperti dia mencintaimu." Sela Nira cepat. "Dan aku ingin hidup dengan laki-laki yang mencintaiku Dir, dan itu Feri bukan Arga." Sambungnya menjelaskan agar adiknya tidak akan merasa bersalah atas apa yang terjadi di antara mereka saat ini.
"Maafkan perasaan bodoh ku ini." Ucap Dira.
Nira menggeleng.
"Aku yang minta maaf karena harus memiliki perasaan di antara kalian berdua." Jawab Nira. "Arga sangat mencintaimu, hanya itu yang perlu kamu tahu. Tanamkan dalam hati, dan lakukan yang terbaik untuk kisah kalian. Jangan khawatir aku pun akan melakukan yang terbaik untuk kisah ku nanti." Sambungnya memperingati.
Zyana tidak sanggup berlama-lama di dalam kamar putri pertamanya itu. Tanpa meminta izin, ia bergegas bangkit dari atas sofa yang ia duduki, lalu melangkah keluar dari dalam kamar itu.
Bukan hanya keadaan itu yang membuatnya sedih, tetapi kalimat menusuk yang ia ucapkan beberapa hari yang lalu terhadap putri sulungnya, membuat rasa sesal kian terasa di relung hati terdalmnya.
"Maafkan Ibu." Lirihnya sambil menutup pintu kamar itu dan berlalu dari sana.
Di dalam kamar Nira, Dira masih membicarakan banyak hal tentang dirinya yang dulu selalu ia tutup rapat-rapat. Begitu pun dengan Nira, keduanya seakan menggunakan momen langkah ini untuk saling membuka diri.
Banyak hal yang terlewati, tapi tidak ada kata terlambat selagi waktu masih ada. Temui saudara mu, meminta maaf atas apa yang sudah kamu perbuat tidak akan menghancurkan harga dirimu. Percayalah, serumit apapun sebuah hubungan, jika itu masih menyangkut dengan seseorang yang memiliki darah yang sama, pasti kerumitan itu akan terurai jua. Yang terpenting adalah, bunuh ego mu, kemudian bicaralah.
__ADS_1
****
"Kamu dari mana ?" Tanya Arga khawatir. Pasalnya saat ia selesai berbicara dengan Ayah mertuanya di ruang kerja, wanita yang terus saja membuatnya khawatir sejak di rumah orang tuanya ini, tidak ia dapati di dalam kamar mereka.
"Tadi habis ketemu Kak Nira." Jawab Dira. Ia melangkah menuju ranjang di mana Arga berada, lalu masuk ke dalam pelukan sang suami.
"Aku menyayangi nya." Ucap Dira pelan.
Arga tidak menimpali. Ia hanya membalas pelukan Dira tidak kalah erat. Mungkin terjadi sesuatu dengan di wanita kembar yang ada di rumah ini, namun, ia enggan untuk bertanya dan menimbulkan kesalahpahaman di antara dirinya dan Dira.
"Aku ingin bahagia bersama mu Kak." Ucapnya lagi.
"Kalau itu aku juga ingin melakukannya. Memberi kamu banyak anak agar kamu bahagia, itu yang sedang aku usahakan sekarang." Jawab Arga. Ingin mengalihkan suasana yang membuat istrinya sedih dengan ocehan unfaedah miliknya.
"Aku serius Kak." Ucap Dira lagi. Wajahnya masih terbenam di dada bidang Arga.
"Aku juga serius sayang. Sepertinya kita perlu mencoba ranjang besar mu ini." Jawab Arga masih dengan rayuan maut untuk membuat Dira bahagia dengan cara memiliki banyak anak.
"Ga lucu. Aku lagi sedih loh ini. Ga ngerti banget sih." Rengek Dira.
Arga menjauhkan wajah Dira dari dada bidangnya, lalu menatap wajah cantik yang terlihat sembab itu dengan heran.
"Sejak kapan kamu jadi semanja ini. Aku jadi benar-benar pengen makan kamu di sini." Ujar Arga lagi. "Malam kedua yaa." Ajaknya kemudian.
"Semalam kan udah. Tiga kali pula." Jawab Dira dengan wajah tanpa ekspresi dan membuat Arga semakin gemas.
Dan akhirnya, pakaian yang menutupi tubuh Dira sudah berhamburan di atas lantai. Berganti selimut berwarna putih yang menjadi penutup tubuh polos keduanya.
"Jangan bersuara keras Kak. Kamar ku ga pake kedap suara." Ujar Dira saat suaminya sudah mulai hilang kendali.
Dan akhirnya, mulut keduanya saling membungkam agar suara aneh yang akan mengganggu seisi rumah tidak akan keluar dari dalam kamar itu.
*****
*Note Author
Tiga Bab penuh dengan adegan ehe ehe..
__ADS_1
Awas aja ga ninggalin jejak, ku kutuk jadi aneh 😤😤