
"Kita makan siang bareng ya." Ajak Gea.
Aira menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menatap sahabatnya tidak enak.
"Aku sudah janji makan siang sama Mas Abi di kantor." Jawab Aira dan langsung di sambut tawa meledak oleh Gea.
"Mas ? Ya ampun Ra, geli banget sumpah." Ledek Gea masih dengan tawanya yang seketika membuat Aira cemberut.
Oh ayolah dia pun merasakan hal yang sama, tapi mau bagaimana lagi, ini permintaan mutlak dari Abizar, dan ia tidak ingin di kutuk menjadi batu karena sudah durhaka terhadap suaminya itu.
"Aku juga ga mau Gea, kakak kamu aja yang makin hari makin aneh kelakuannya." Jawab Aira kesal.
"Ya udah maafin aku yaa." Usap Gea di punggung sahabatnya, namun, tawa geli dari bibirnya belum juga berhenti. "Ayo aku antar kamu ke kantor Kak Abi." Ajaknya.
Aira mengangguk, sejujurnya ia pun tidak lagi memiliki banyak tenaga untuk ia gunakan menunggu taksi.
Setelah barang-barang sudah ia masukkan ke dalam tas, Aira melangkah keluar dari dalam ruangan itu menuju parkiran.
"Kita mampir ke restoran dulu." Ujar Aira saat keduanya sudah berada di dalam mobil Gea. Dan Gea pun mengangguk mengiyakan permintaan Aira dan mulai melajukan mobilnya keluar dari pelataran kampus. Beruntung di jam seperti ini, jalanan tidak terlalu macet, mungkin karena semua pengguna jalan masih berdiam diri di tempat kerja masing-masing, sehingga tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang membawa keduanya sudah terparkir rapi di pelataran restoran yang dulu pernah menjadi tempat Aira mengais rezeki.
Aira dan Gea bergegas masuk ke dalam restoran, dan memesan menu yang di inginkan Aira.
"Cie ada yang udah jadi Nyonya nih." Ledek salah satu pelayan restoran yang mengenal Aira.
Aira hanya menanggapi ledekan itu dengan senyum termanisnya.
"Gimana kabar kamu Ra ?" Tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba duduk di salah satu kursi yang ada di samping Aira.
__ADS_1
"Baik Chef, Alhamdulillah." jawab Aira.
"Selamat atas pernikahan mu yaa, maaf saya ga bisa datang." Ujar laki-laki yang biasa di panggil chef itu.
Aira mengangguk.
"Saya bisa minta alamat kamu ?" Tanya laki-laki itu. "Kemarin saya mampir ke kostan kamu, tapi kata pemilik kost kamu sudah tidak tinggal di sana lagi." Sambungnya.
Aira menoleh ke arah Gea, lalu kembali menatap laki-laki yang masih mengenakkan apron itu dengan heran. Pasalnya selama ia menjadi karyawan di restoran ini, mereka belum pernah berbicara lama, jadi dari mana lelaki ini tahu tempat tinggalnya.
"Maaf jika sudah lancang. Saya menanyakan alamat kamu pada karyawan restoran, dan berniat mengirim hadiah pernikahan sekaligus memohon maaf karena tidak sempat hadir di hari bahagia kamu." Jelas laki-laki itu saat melihat wajah Aira yang begitu terkejut dengan perbincangan mereka siang ini.
"Berikan nomor ponsel mu chef, biar saya kirimkan alamatnya. Bertepatan suaminya Aira adalah Kakak sepupu ku." Tawar Gea sambil mengulurkan ponselnya ke arah laki-laki tampan yang terus saja meminta alamat sahabatnya ini.
Laki-laki tampan yang sering menjadi perbincangan para karyawati di restoran itu kembali menyerahkan ponsel Gea usai mengetik beberapa digit angka di layar ponsel tersebut.
"Kalau begitu saya permisi kembali ke dapur, silahkan menikmati makan siangnya." Ucap laki-laki itu lagi, lalu beranjak dari kursi yang ia duduki dan kembali ke tempat ia biasa bekerja.
Aira hanya menatap sahabatnya dengan tatapan aneh. Tidak hanya kali ini Gea bersikap seperti ini, untuk itu ia tidak lagi heran dengan binar mata sahabatnya saat melihat wajah tampan laki-laki.
Setelah membayar pesanannya, Aira melangkah keluar dari dalam restoran itu menuju mobil di mana Gea sedang menunggunya.
"Ada apa ?" Tanya Aira heran saat melihat Gea terus saja menatap layar ponselnya.
"Di read aja, tapi ga di balas." Rengek Gea sambil memperlihatkan layar ponselnya.
"Kamu benaran kasih alamat Ayah dan Ibu ? Aku kan belum minta izin Ge." Lirih Aira.
__ADS_1
"Kenapa harus izin, itu rumah kamu juga Ra. Lagi pula Aunty Yana dan Om Al pasti ga akan marah kok, percaya padaku." Ujar Gea lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran restoran menuju perusahaan milik keluarga yang saat ini di pimpin oleh Abizar.
"Itu bukan rumah ku Gea, aku numpang di sana." Ucap Aira takut-takut. Sejujurnya ia sangat takut melewati batas, sekalipun seluruh keluarga Abizar sangat menyayanginya.
Gea tertawa melihat wajah khawatir sahabatnya.
"Ya ampun Ra, ga usah takut lah. Aunty pasti senang banget ada orang yang sayang padamu, terlebih orang itu chef tampan. Ah aku jadi ga sabar gimana reaksi Kak Abi nanti jika chef itu benar-benar datang ke rumah Aunty nanti." Kekeh Aira.
"Jangan aneh-aneh Ra, kuliah ku masih setahun lagi. Kakak kamu tuh makin hari makin aneh, bisa-bisa aku ga di izinin ke kampus lagi."
Gea kembali tertawa ketika mendengar cerita sahabatnya. Ia tahu akan hal itu. Keluarga mereka adalah orang-orang yang jia sudah mencintai seseorang, maka akan sangat sulit melepaskan begitu saja, termasuk kakak kandungnya yang kini memilih menjauh dari keluarga.
"Ra..." Panggil Gea saat sudah memarkirkan mobilnya di halaman kantor perusahaan.
"Ada apa ?" Tanya Aira heran.
"Jika ada seseorang di luar sana, yang begitu mencintaimu tapi takut mengutarakannya, apa yang akan kamu lakukan ?" Tanya Gea sambil menatap lekat wajah cantik sahabatnya. Ah sungguh bodoh dirinya yang sudah menjadi adik yang tidak berguna untuk Gio. Jika saja ia cepat menyadari perasaan kakaknya itu, mungkin saat ini Aira adalah kakak iparnya.
"Aku akan sangat berterimakasih untuk hal itu Gea. Sungguh aku merasa beruntung jika ada yang begitu tulus mencintaiku di luar sana." Jawab Aira.
Gea tersenyum.
"Ya udah sana masuk, ingat aku menyayangi mu. Ceritakan apapun yaa, dan jangan lupa ajak Kak Abi ke dokter, wajah kamu pucat banget." Ujarnya.
Aira mengangguk lalu keluar dari dalam mobil itu, dan masuk ke dalam lobi perusahaan setelah mobil Gea berlalu dari sana.
"Iya, istrinya menjebak Pak Abi dan mau tidak mau Pak Abi harus menikahi gadis itu karena sudah terlanjur begituan."
__ADS_1
Aira berdiri di depan meja resepsionis yang menjadi tempat para karyawan perempuan sedang membicarakannya. Ingin sekali ia menjelaskan, namun ia memilih untuk tidak melakukannya.
"Ruangan Pak Abizar di mana ?" Tanya Aira seketika membuat para wanita itu seketika terkejut karena gadis yang sedang mereka bicarakan sudah berdiri di hadapan mereka.