
Zidan mendorong pelan pintu ruangan tempat Farah di rawat. Matanya tertuju pada dua wanita yang saling bercengkrama. Ibunya sedang duduk di samping ranjang, sedangkan Farah duduk bersandar di atas ranjang pasien. Dadanya bergemuruh melihat wajah pucat pasi, namun masih bisa membalas senyum dari ibunya.
"Apa yang di katakan Dokter Nak ? Tanya Dimas saat putranya selesai meletakkan sebuah tas plastik yang berisi obat-obatan Farah di atas nakas.
"Farah keguguran Yah." Jawab Zidan. Ia menatap sedih wajah Farah yang terlihat begitu tenang, seakan berita yang ia bawa hari ini tidak begitu berpengaruh pada wanita itu.
"Innalilahi." Ucap Anisa terkejut.
"Kenapa kamu melakukan semua ini Ra ?" Tanya Zidan dengan suara yang sedikit meninggi. Namun ia tetap menatap lembut wajah istrinya.
"Terlepas sikap buruk ku selama ini, bukankah aku berhak tahu keberadaan anakku." Ucapnya lagi. "Kamu begitu egois Farah." Sambungnya membuat Farah menoleh. Menatap tajam wajah tampan yang masih saja membuat hati bodohnya berdebar.
"Apa selama ini Mas pernah bertanya keadaanku ? Mas menganggap ku tidak ada, jadi bagaimana caranya aku mengatakan semuanya. Tolong beritahu aku bagaimana caranya aku mengatakan apa yang terjadi, sementara Mas bahkan tidak pernah ingin tahu tentangku. Jangan ingin tahu, saat menatapku pun Mas terlihat enggan melakukannya." Ujar Farah dengan suara bergetar, mengabaikan sepasang suami istri paruh baya yang masih berada di dalam ruangan tempat ia di rawat.
Bisakah seseorang memberitahu laki-laki di hadapannya ini, jika ia pun terluka saat mendapati janin yang ada di dalam kandungannya, sudah tidak ada lagi. Dia pun sedih, tidak ada seorang ibu yang rela kehilangan buah hatinya. Namun apa yang harus dia lakukan, terlalu banyak yang terjadi. Dokter sudah memperingati tentang kondisi janinnya yang lemah, namun keadaan seakan tidak pernah memberi dukungan untuknya.
"Setidaknya kamu bisa memberitahu Nadia Ra, sama seperti dulu saat kamu mengandung Al." Ucap Zidan memelas.
"Apakah semua hanya tentang Mbak Nadia ? Bisakah kamu menganggap ku sama berharganya dengan Mbak Nadia. Aku juga istri kamu, aku berhak mendapatkan perhatian yang sama seperti yang kamu curahkan untuk Mbak Nadia." Ucap Farah dengan mata yang mulai berlinangan air mata.
"Ra." Ucap Zidan tercekat. Entah mengapa ras bersalah kini semakin menghantam dadanya.
"Aku ingin sendiri. Tolong tinggalkan aku sendiri." Sela Farah.
Zidan berbalik lalu meninggalkan ruangan tempat Farah berada. Dimas yang melihat sikap menyebalkan putranya, segera melangkah dan ikut keluar dari dalam ruangan. Sedangkan Anisa tetap berada di dalam ruangan.
"Farah ingin sendiri Bu. Ga apa-apa kan ?" Tanya Farah pelan agar tidak terkesan mengusir ibu mertuanya dari dalam ruangan.
Anisa mengangguk mengerti, lalu mengusap lembut pipi menantunya.
"Beritahu Ibu jika membutuhkan sesuatu. Ibu dan Ayah akan menunggu di depan ruangan mu." Ucap Anisa sebelum berlalu dari kamar menantunya.
****
Anisa ikut keluar dari ruangan, dan mendapati dua laki-laki berharga dalam hidupnya duduk diam fi depn ruangan.
__ADS_1
"Kapan kamu akan sadar Nak ? Apa masih harus menunggu Farah benar-benar meninggalkan mu dulu baru kamu menyadarinya ?" Tanya Dimas kesal.
"Farah keterlaluan Yah, dia bahkan menyembunyikan kehamilannya dan meminta cerai dariku."
"Kamu yang keterlaluan Zidan. Kita yang keterlaluan padanya. Bagaimana bisa kamu menuntut Farah memberitahu, sedangkan kamu tidak pernah bertanya tentang keadaannya. " Omel Anisa setelah menutup pelan pintu ruangan tempat Farah berada. "Dia tidak tahu cara memberitahu, kamu mengabaikan keberadaannya." Ucap Anisa merasa bersalah.
"Pikirkan, kapan kamu bertanya bagaimana perasaanya selama empat tahun ini." Lanjut Anisa. Ini pertama kali ia mengomel putranya ini, sungguh dia sangat kesal dengan sikap Zidan yang begitu membingungkan semua orang.
Anisa masih tidak habis pikir dengan putranya ini, sangat jelas terlihat jika Zidan masih begitu menginginkan Farah untuk tetap tinggal di sampingnya, namun sikap yang di tunjukan Zidan justru membuat Farah ingin segera pergi.
"Gadis itu hanya punya kamu Nak, tidak ada orang lain yang ia miliki selain kita. Berubah lah mulai hari ini, berusahalah untuk memperbaiki semuanya, sebelum Farah benar-benar akan pergi dari hidup kamu." Ucap Anisa memperingati dengan nada yang kembali melembut.
Zidan menarik nafas frustasi, diapun bingung harus memulai semuanya dari mana. Selama empat tahun ini ia jarang sekali berkomunikasi dengan Farah.
"Jangan biarkan istrimu sendirian, Ayah dan Ibu harus kembali. Al sendirian di rumah." Ucap Dimas berpamitan.
"Bu, Zidan tidak terbiasa berdua dengannya. Biasnya komunikas apapun harus melalui Nadia." Ucap Zidan memelas agar sang Ibu tetap tinggal di Rumah Sakit dan membantu membangun komunikasi yang baik dengan Farah.
"Belajarlah Nak. Mau sampai kapan kamu seperti ini. Dia masih memberimu kesempatan, jangan sampai kesempatan itu benar-benar habis. Ibu mohon padamu." Mohon Anisa pada putranya. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang mulai menua itu, begitu memohon agar putranya segera memperbaiki segalanya sebelum terlambat.
Setelah kepergian Ayah dan Ibunya, Zidan kembali melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Farah yang sedang melangkah perlahan menuju kamar mandi.
Masih dengan mulut yang tertutup rapat, Zidan mengambil botol infus dari tangan Farah, lalu membantu istrinya itu masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku bisa sendiri." Ucap Farah sambil meminta botol infus yang ada di tangan Zidan.
Namun laki-laki itu masih saja membisu, dan ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku mau buang air kecil dan mengganti pembalut Mas." Ucap Farah kesal.
"Lalu ?" Tanya Zidan.
"Ya Allah Mas, yah tunggu saja di luar, lalu apa lagi."
"Lakukan saja, aku tidak akan melihat apa yang ingin kamu lakukan." Jawab Zidan acuh.
__ADS_1
Farah mendengus kesal, namun tetap membiarkan laki-laki yang semakin membuatnya kesal berdiri di sampingnya sambil menggenggam botol infus miliknya.
"Kemarin bisu, sekarang keras kepala." Gumamnya kesal.
Zidan masih diam, namun sedikit rasa yang baru terasa di hatinya, ketika mendengar omelan Farah yang membuatnya gemas.
"Kamu hanya akan menatap dinding kamar mandi seperti itu ?" Ketus Farah lagi setelah selesai dengan urusannya.
Zidan membalik tubuhnya, lalu ikut keluar dari kamar mandi.
"Makan dulu, lalu minum obat." Ucap Zidan sambil menyiapkan makan siang yang sudah sediakan oleh pihak rumah sakit.
Farah sudah kembali duduk di atas ranjang, sambil memperhatikan suaminya yang sedang menyiapkan meja kecil khusus di atas ranjang.
"Aku bisa sendiri Mas." Ucap Farah.
Zidan mengangguk lalu membiarkan Farah menyuapi makanannya sendiri.
Saat Zidan hendak membantu Farah meminum obat, pintu ruangan kembali terbuka perlahan. Senyum jail Diana kini tertuju pada Farah yang baru saja meminum obatnya dengan batuan Zidan.
"Ga usah liatin aku kayak gitu Kak." Kesal Farah.
Diana tertawa lucu melihat wajah cemberut Farah.
Rehan dan Zidan sudah keluar dari ruangan, tersisa Diana yang terus saja menggoda Farah.
"Kenapa ngga bilang-bilang kalau kamu lagi hamil. Ihh nakal banget bikin kesal aja." Pukul Diana di lengan Farah.
"Aku takut, kalau Kak Rehan tahu aku hamil, dia pasti ngga akan setuju aku cerai sama Mas Zidan." Cicit Farah.
"Terus sekarang gimana ?" Tanya Diana
"Belum tahu, Mas Zidan belum ngebahas lebih lanjut." Jawab Farah.
Diana tersenyum
__ADS_1
"Ikuti kata hatimu." Ucapnya.