
Pagi yang di nantikan Farah selama empat tahun pernikahannya, akhirnya tiba. Sarapan sambil bercengkrama di depan meja panjang bersama orang terkasih, adalah hal yang paling di inginkan nya sepanjang perjalanan pernikahan mereka.
Celotehan Alfaraz yang mulai penasaran dengan berbagai hal, semakin menambah daftar kebahagiaan nya. Senyum hangat yang tercetak jelas di wajah Zidan, membuat hatinya ikut menghangat. Tatapan dingin dan menusuk yang sering kali tertuju padanya, kini tidak lagi ia dapati, berganti wajah tampan dengan tatapan penuh cinta.
Selama empat tahun hidup bersama Zidan, ia akan memilih untuk tidak sarapan di rumah, agar bisa menghindari tatapan dingin Zidan. Kini semua telah berubah, tatapan dingin hampir membekukan pernikahan mereka tidak lagi ia dapati pagi ini. Wajah tampan yang selalu membuat dadanya berdebar, terlihat begitu indah di pandang mata. Senyum hangat Zidan kala menimpali celotehan putranya, semakin membuat hati Farah membuncah.
Ah Allah memang sudah mengatur segala sesuatunya dengan sangat baik, hanya tinggal menunggu dan bersabar kapan waktu yang sudah di tentukan itu, datang menyapa.
Air mata dan luka begitu mudahnya terhapus, hanya dengan kata maaf juga senyum yang kini masih ia nikmati dari wajah tampan suaminya.
"Ra." Tegur Zidan saat mendapati istrinya sedang termenung.
Farah tersadar dari lamunannya, saat tangan kokoh milik Zidan menggenggam erat punggung tangannya.
"Iya Mas ada apa ?" Tanya Farah gelagapan.
"Aku mau berangkat, ga apa-apa kan aku tinggal ? kamu udah ngga ada keluhan lagi kan ?" Tanya Zidan beruntun. Terlihat jelas tatapan khawatir dari netra nya.
Farah hanya menggeleng, lalu tersenyum manis ke arah sang suami.
"Kita antar Papa pergi kerja yuk." Ajak Farah pada putranya. Ia mengusap lembut bibir Al menggunakan tisu, bersamaan dengan itu Alfaraz mengangguk antusias.
Zidan kembali membawa jemari Farah ke dalam genggamannya, lalu meraih tubuh putranya masuk ke kedalam dekapan, dan membawa dua orang berharga itu keluar dari dapur menuju teras rumah.
Berbagai macam kalimat peringatan penuh perhatian yang selama ini selalu tertuju pada Nadia, terus di utarakan Zidan. Jangan ini, jangan itu, istirahat dan masih banyak lagi, membuta Farah menyunggingkan senyum di bibir tipisnya.
__ADS_1
Kalimat yang dulu selalu membuat ia cemburu, kini tertuju padanya. Ah apakah dia harus bersyukur saat ini, yah dia harus mensyukuri nya. Semua yang baik-baik dalam hidup, bukankah wajib untuk di syukuri.
Farah mencium punggung tangan Zidan takzim.
Sebelum masuk ke dalam mobil miliknya, Zidan bergantian mengecup dua pipi menggemaskan milik Al dan Farah terlebih dahulu.
Lambaian tangan Farah dan Al mengiringi kepergian mobil Zidan dari pelataran rumah, senyum Farah masih belum pergi. Awal yang baik untuk memperbaiki semuanya.
*****
Di lobi perusahaan, Zidan di buat geram saat mendapati seorang wanita yang kemarin datang membawa masalah baru dalam hidupnya, sedang duduk di kursi tunggu dengan begitu angkuh. Senyum gadis itu sama sekali tidak membuat ia tergoda, namun semakin membuat ia muak.
Zidan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam perusahaan miliknya. Ia sama sekali tidak menghiraukan wanita yang kini sudah beranjak dari kursi tunggu dan melangkah mendekat ke arahnya.
Zidan menghentikan langkah kakinya, ia membalik tubuhnya lalu menatap tajam sosok gadis yang terlihat begitu percaya diri.
Senyum menyeringai terlihat jelas di wajahnya, pandangan jijik terus tertuju pada gadis yang terlihat acuh tak acuh dengan kekesalan yang semakin menumpuk memenuhi kepalanya.
"Dan kamu pikir aku mau melakukannya ?" Ujar Zidan mengejek.
Rita masih saja menampilkan senyum manisnya, seakan sama sekali tidak terintimidasi tatapan tajam dari Zidan.
"Tentu saja harus. Selama Farah masih ada, aku ga apa-apa kamu abaikan, nanti jika wanita kedua itu sudah menyusul Kakak sepupuku, bukankah aku akan menjadi satu-satunya ? Aku hanya perlu merencanakan sesuatu agar ia cepat menyusul Kak Nadia, dan itu adalah hal yang sangat mudah." Ucapnya masih dengan senyum manis.
Zidan semakin geram, sungguh jika orang di hadapannya ini adalah laki-laki, sudah di pastikan bogem mentah yang kini berada di sisi kanan dan kirinya sudah melayang menghancurkan mulut yang begitu lancang itu.
__ADS_1
"Minta petugas keamanan untuk menyeretnya keluar dari sini. Jangan lupa tandai wajahnya, jangan pernah ijinkan orang ini masuk walau sejengkal di dalam perusahaan ku." Perintah Zidan pada sekretarisnya.
"Ternyata kamu se putus asa itu. Apa kamu benar-benar tidak lagi laku. Ah ya, memangnya siapa yang mau menikahi wanita yang tidak punya harga diri seperti mu ini." Ujar Zidan, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Mengabaikan wanita yang sejak tadi selalu menampilkan senyum meremehkan itu di tempatnya.
****
Di dalam ruangan mewah di lantai paling atas gedung dengan puluhan lantai, Zidan menutup mata sambil bersandar di kursi kebesaran nya.
Kekesalan masih menyelimutinya, di tambah lagi pekerjaan yang terbengkalai sejak duka kepergian Nadia, semakin menambah sakit kepalanya.
Sudah siang, namun ia bahkan belum bisa menyempatkan diri untuk keluar dari ruangan ini dan mengisi energinya dengan yang baru. Cacing-cacing di dalam perutnya mulai meronta, meminta untuk segera di beri makan.
Ia tidak menyadari, jika apa yang ia lakukan pagi ini, membuat seorang gadis semakin bersemangat merusak kehidupannya yang masih dalam perjuangan. Yah memeperjuangkan kembali hati yang dulu ia sia-siakan. Memperjuangkan Farah agar bisa memulai semuanya dari awal lagi.
Entah di mana sikap berani yang selam ini mengendap di hatinya. Bahkan untuk memasuki kamar Farah saja, ia begitu sungkan melakukan nya. Padahal selam empat tahun ini, ia bahkan tidak takut meniduri istrinya itu tanpa izin.
Zidan menarik laci meja kerjanya, lalu mengambil pigura kecil dari dalam sana. Foto pernikahannya dengan Farah i tatap sebentar, lalu meletakkan benda yang hanya bisa ia simpan di dalam laci, ke atas meja kerja. Satu pigura yang sudah bertahun-tahun menghiasi meja, diraihnya. Menatap sebentar, lalu meletakkan benda berbahan kayu dengan ukiran indah itu ke dalam laci meja kerjanya.
Semua akan berubah, Nadia masihlah menjadi salah satu wanita terbaik yang pernah Allah hadiahkan untuknya. Namun, saat ini Farah menjadi yang utama dari segalanya.
"Nanti jika kita masih di pertemukan di kehidupan selanjutnya, tidak apa-apa jika kamu memarahiku." Ucapnya lalu menutup kembali laci meja kerjanya.
Semu harus berubah mulai hari ini, ia ingin menjalani kehidupan tanpa merasa bersalah pada siapapun. Ia ingin mencintai Farah, tanpa takut menyakiti orang lain.
Gadis yang pertama kali membuat i jatuh cinta, namun menjadi wanita kedua dalam hidupnya. Farahdila Putri, ia ingin memberikan cinta sebanyak yang ia miliki untuk wanita itu.
__ADS_1