
Setelah pintu apartemen kembali tertutup, tubuh Yana langsung merosot dan terduduk di atas lantai. Kakinya gemetar, dadanya sakit bagai di tikam dengan benda tajam. Ia menangis lirih. Bukan karena hanya karena cinta yang masih bertahta dengan angkuh di relung hati terdalamnya, namun, ia menyesal sudah menggantungkan semua asa pada laki-laki yang salah. Mencintai Reno dengan segenap jiwa, sampai lupa, jika mencintai manusia dengan berlebihan itu sangatlah tidak baik.
"Bu sakit sekali." Lirihnya di sertai isak tangis pilu.
Apartemen itu memang kedap suara, jadi ia tidak lagi bisa mendengar apa yang terjadi setelah kepergiannya. Apakah mereka kembali melanjutkan aktivitas panas yang tertunda ? ataukah kini sedang menertawakan kesedihannya ? Entahlah yang pasti Ini sangat menyakitkan. Membayangkan bukan dirinya lagi yang berada dalam pelukan hangat Reno membuat dadanya sakit. Melihat sudah ada wanita lain yang menatap wajah tampan itu dengan penuh cinta, membuat hatinya serasa di remas kuat.
"Ya Allah kenapa se sakit ini rasanya." Lirihnya lagi.
Yana memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajah di sana. Beberapa orang yang menjadi tetangganya selama enam tahun di gedung apartemen ini, menatap aneh kearahnya yang sedang duduk dan menangis di atas lantai, tapi Yana tidak lagi menghiraukan hal itu.
Bermenit-menit waktu berlalu, Yana masih memeluk lututnya dengan begitu erat. Anggap saja dirinya bodoh karena menangisi sampah seperti Reno, namun, entah bagaiman caranya ia mencurahkan perih ini agar sedikit berkurang. Hanya berharap, air mata yang menetes hari ini, akan menjadi air mata yang terakhir kalinya ia teteskan untuk laki-laki itu.
Setelah puas mencurahkan tangisnya, barulah Yana bangkit dan meninggalkan gedung itu. Ia ingin setelah keluar dari gedung ini, tidak akan lagi ada air mata yang tercurah untuk laki-laki itu. Ia berharap ini adalah air mata yang terakhir kalinya meluncur dari pelupuk matanya untuk lelaki yang tidak bersyukur sudah memiliki dirinya.
Dentingan lift berbunyi, Yana keluar dari kotak besi yang tidak akan pernah ia gunakan lagi, dengan hati yang masih perih. Sekuat tenaga ia menguatkan diri, jika semua ini sudah garis tangan hidupnya. Bukankah jodoh juga bagian dari rahasia sang pencipta ?
Sebelum mobil yang ia kendarai benar-benar berlalu dari apartemen itu, Yana kembali mengitari bangunan itu dengan netra nya. Allah memanglah maha membolak-balikkan segalanya. Bahkan sampai di titik ini, ia masih tidak percaya jika kisah cinta manis yang ia ukir bersama Reno sekian tahun di dalam gedung berlantai di hadapnnya, benar-benar sudah berakhir.
Mobil sedan berwarna merah itu, keluar dari pelataran parkir apartemen, kemudian bergabung dengan mobil-mobil yang lain di jalanan padat Jakarta. Lampu-lampu kenderaan yang berada di jalanan yang sama, masih menjadi titik fokus Yana saat ini.
Tidak mudah untuk melupakan, namun semua pasti akan terhapus seiring berjalannya waktu. Yah, dia hanya perlu bertahan dan terus melaluinya lalu semuanya akan kembali baik-baik saja.
***
Di dalam apartemen, Rara terduduk lemas di atas sofa yang baru saja di tinggalkan oleh Reno. Ancaman suaminya yang akan menceraikan dirinya jika perceraian dengan Yana terjadi, membuat wanita hamil itu terdiam tanpa kata.
__ADS_1
Tidak masalah jika ia tidak di cintai, yang paling penting adalah bayi yang berada di dalam kandungannya ini memiliki keluarga yang utuh dan di cintai oleh laki-laki yang di sebut Ayah.
Rara menatap pintu kamar yang baru saja tertutup rapat. Entah sudah berapa menit waktu yang ia habiskan dengan duduk di atas sofa ini, namun, laki-laki yang baru saja memberi ancaman dan mengusirnya untuk segera pergi dari apartemen ini, belum juga keluar dari dalam kamar itu.
Wanita hamil itu beranjak dari sofa, lalu melangkah menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena Reno membawanya ke kamar tadi.
Tidak banyak pekerjaan, masak memaksanya sudah selesai, Rara hanya tinggal menyajikannya di atas meja makan.
Makan malam yang ia masak sudah terhidang di atas meja. Rara menatap hidangan itu, lalu beralih pada pintu kamar yang masih tertutup rapat. Dengan mengumpulkan segala keberanian, ia melangkah mendekati pintu kamar itu dan mengetuknya.
"Mas..
Prang...
Sebuah benda entah apa menghantam pintu membuat Rara terkejut.
Rara membalik tubuhnya, lalu melangkah gontai menuju pintu apartemen dan keluar dari sana tanpa suara. Sejak dulu lelaki itu tidak pernah menginginkannya, hanya saja ia terlalu terobsesi dengan Reno, teman masa kecilnya di Lampung, sebelum lelaki itu pindah ke Jakarta setelah kepergian ayahnya.
***
Di kediaman Prasetyo, sebuah keluarga baru saja selesai menyantap makan malam. Adelia membantu sang Bunda membereskan piring-piring bekas dari atas meja, dan membawanya ke tempat pencucian piring, yang kemudian akan di cuci oleh asisten rumah tangga.
Sedangkan Alfaraz mengikuti langkah kaki sang Papa menuju ruang kerja. Entah apa yang ingin di bicarakan oleh lelaki paruh baya ini, ia pun tidak tahu.
"Bagaimana masalah mu ?" Tanya Zidan saat ia dan putranya sudah duduk di atas sofa berwarna cokelat yang ada di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Bagi Al sudah selesai Pa, tapi tidak tahu bagi Nara seperti apa." Jawab Alfaraz
"Apa yang gadis itu minta ?" Tanya Zidan.
Alfaraz menggeleng.
"Al sudah menawarkan, dan memintanya untuk menghubungi jika sudah menentukan sesuatu yang dia mau. Tapi Nara menolaknya." Jawabnya jujur.
Zidan menarik nafasnya yang tersa berat, sembari meminta di dalam hati, semoga gadis itu berbeda dengan Rita.
"Kapan kamu mulai bekerja ?" Tanyanya.
"Minggu depan Pa, masih ada beberapa hal yang harus Al selesaikan terlebih dahulu." Jawab Alfaraz.
Zidan mengangguk mengerti, lalu meminta putranya untuk kembali ke kamar jika sudah tidak ada yang perlu untuk di bahas bhas lagi.
***
Malam yang sepi di rumah Dinda. Wanita paruh baya itu terus mengusap lembut kepala putrinya yang sudah terlelap di atas pangkuannya.
Tidak ada cerita apapun yang ia dengar dari bibir putrinya, namun, ia tahu seberapa dalam kesedihan yang di rasakan putrinya saat ini. Menyimpan kesakitan sendirian, akan lebih menyakitkan.
Akan tetapi, terkadang kita harus mengerti mengapa seseorang ingin menyimpan semuanya sendiri dan tidak ingin membaginya.
Pada dasarnya kesedihan yang kita simpan sendiri, akan hilang jika kita sudah melupakan. Namun, saat kita membagi dengan orang lain, dan tiba saat dimana kembali di ceritakan tanpa sengaja, luka itu pasti akan kembali terasa meskipun kita sudah berusaha melupakannya.
__ADS_1
"Maaf ibu tidak bisa membantu meringankan beban mu Nak." Ucapnya.
Dinda menarik nafasnya dalam. Dadanya ikut berdenyut sakit, karena kesakitannya dulu kembali di rasakan oleh putrinya. Kisah sedih yang ia harap hanya akan di alami olehnya, kini menimpa putrinya juga.