Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 211 Season 3


__ADS_3

Pagi yang indah menyapa kediaman Alfaraz. Keluarga itu sedang menikmati sarapan yang begitu hangat di ruang makan. Pertanyaan yang sama berulang-ulang selama beberapa hari ini, dijawab Aira dengan anggukan kepalanya.


"Apa luka kamu sudah benar-benar sembuh ?" Pertanyaan yang mungkin sudah puluhan kali terulang dari bibir Ibu mertua. Dan Aira pun seakan tidak lelah menjawab semua pertanyaan penuh perhatian itu dengan senyum manis di bibirnya.


Sayang pagi ini Dira tidak nampak terlihat di sana. Wanita hamil itu sudah memulai pekerjaannya di salah satu rumah sakit milik keluarga Hermawan dan memilih untuk tinggal di rumah mertuanya agar lebih dekat dengan rumah sakit tempat dia bekerja.


"Wih rapi banget ? Mau kemana, hari ini kan libur ?" Tanya Danira dengan intonasi meledek.


"Mau tahu aja urusan pengantin baru. Iya kan Ra ?" Abizar meminta dukungan pada gadis di sampingnya.


Aira hanya tersenyum menanggapi perseteruan yang selalu saja terjadi di meja makan.


"Mau kemana Ra ?" Tanya Danira kepo.


"Abi mau ajak pacaran." Jawab Aira.


Danira tertawa keras mendengar jawaban lugu bin polos dari adik iparnya.


"Itu akal-akalan dia saja Ra, nanti kamu di ajak ke makan malam lalu berakhir deh di kamar hotel. Iya kan Abi ?" Tebak Danira.


"Kok tahu." Jawab Abizar tanpa dosa, membuat gadis yang sedang duduk di sampingnya terkejut.


"Jadi bohong ya mau ajak aku beli bunga ?" Tanya Aira memastikan.


"Ya Allah...." Zyana menggeleng-gelengkan kepalanya. Padahal menantunya ini sudah berumur dua puluh dua tahun, tapi otaknya masih sama seperti anak remaja.


"Lengan kamu sudah tidak nyeri lagi kan ?" Tanya Alfaraz.


"Tidak Ayah." Jawab Aira.


"Jadi sudah memutuskan kemana kalian mau pergi ?" Tanya Alfaraz.


Aira melirik Abizar yang sedang menikmati sarapan dengan diam.


"Terserah Abi saja Yah." Jawab Aira.


"Bagaimana kalau Ibu yang pilihkan ?" Tawar Zyana.


Abizar tersenyum penuh kemenangan, karena pasti Aira tidak akan mampu menolak rencana ibunya.


"Aira terserah aja Bu.."


"Ihhh pengen aku cubit pipi kamu yang imut itu." Gemas Danira dengan sikap adik iparnya yang terlalu penurut. Lihatlah wajah bahagia adik tampannya di sana karena Aira terus saja patuh dengan rencana jahat sang Ibu.

__ADS_1


"Ke villa puncak gimana ? Bareng-bareng." Usul Zyana.


"Apa-apaan." Protes Abizar cepat dengan rencana konyol ibunya.


Danira sontak tertawa keras. Terlebih melihat wajah bahagia adiknya kini sudah berubah masam ingin mengamuk.


"Ibu bercanda." Ucap Zyana ikut tertawa.


Aira hanya menatap orang-orang yang ada di ruangan itu dengan tatapan bingung tak mengerti.


"Ke puncak aja, yang dekat-dekat biar ga terlalu memakan waktu dan tenaga. Nanti Aira akan kembali kuliah dan kamu akan bekerja. Ayah akan siapkan, siang nanti kalian boleh berangkat." Putus Alfaraz.


"Tanpa Ibu dan Ayah, apalagi Kak Nira." Tegas Abizar sambil menatap tajam ke arah wanita yang sejak tadi terus saja meledeknya.


"Iya kalian pergi berdua." Ujar Zyana.


"Lagian ngapain aku ikut kamu." Danira menimpali.


Abizar tersenyum lega, terlebih melihat Aira yang begitu patuh dengan usulan sang Ayah.


"Ayo kita pacaran." Ajak Abizar sambil meraih tangan Aira dan Menggenggam nya erat, kemudian membawa gadisnya itu keluar dari ruang makan.


"Dih modus." Ucap Danira.


"Ajakin aku kencan juga dong." Rengek Danira pada Arion.


"Aku lagi ada hal penting yang harus di bicarakan dengan Ayah. Kamu kencan sama Ibu aja, nih kartu ku gesek aja sepuas kamu." Arion beranjak ari kursi saat melihat Ayah mertuanya sudah beranjak dari sana.


Abizar tertawa keras sambil melangkah cepat keluar dari dalam ruang makan bersama Aira.


*****


Mobil berwarna putih mili Abizar sudah keluar dari pelataran rumah. Lelaki itu terus tersenyum hangat sambil mengemudikan mobilnya menuju toko bunga sang Oma.


"Apa kit tidak perlu bersiap untuk berangkat ke puncak besok ? Kok malah jalan-jalan ?" Tanya Aira heran.


"Mau mempersiapkan apa ?" Tanya Abizar.


"Yah, baju dan perlengkapan lain." Jawab Aira.


"Tidak perlu, cukup persiapkan dirimu saja." Ujar Abizar.


Aira tidak lagi menanggapi. Gadis itu memilih diam dan menikmati genggaman yang begitu hangat di jemarinya. Biarlah, apapun alasan yang membuat Abizar menahannya, ia tidak lagi mempermasalahkan hal itu.

__ADS_1


Menikah, lalu punya anak dengan laki-laki sebaik Abizar, siapa sih yang tda menginginkan hal itu. Meskipun ketakutan di tinggalkan terus saja mengganggu pikirannya, Aira memutuskan untuk menjalaninya saja. Ia hanya akan mengikuti kemana takdir akan membawanya nanti.


Beberapa saat kemudian, mobil yang di tumpangi keduanya berhenti di depan sebuah toko bunga sederhana. Aira membiarkan tangannya terus di genggam, dan ikut masuk ke dalam bangunan sederhana namun, terlihat indah itu.


"Oma kamu di mana Abi ? Aku ingin menyapa." Tanya Aira.


"Beliau sudah leih dulu menghadap." Jawab Abizar. "Ayo pilih bunga yang kamu mau, aku yang bayar." Ucapnya sombong.


Aira tertawa lucu melihat tingkah Abizar.


"Mau ambil banyak boleh ? Sekalian bekal ke puncak." Ujar Aira.


"Ambil semua ngga apa-apa, di kebun Oma masih banyak." jawab Abizar penuh semangat.


Aira kembali tertawa geli.


Beberapa buket bunga akhirnya sudah masuk ke dalam bagasi mobil.


"Kita berangkat sekarang aja. Gimana ?" Ajak Aira saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil.


Abizar terkejut. Ia menatap lama wajah cantik yang nampak tenang itu.


"Kita pacaran di puncak aja, siapa tahu ada setan yang tiba-tiba saja menggoda kita di sana." Ucap Aira lagi membuat Abizar tertawa keras.


"Setan ga akan berani mengganggu pasangan yang halal, karena nanti bukan dosa yang di dapat tapi pahala." Jawab Abizar sambil mulai melajukan mobilnya menuju tempat yang udah berada di kepalanya sejak sarapan pagi ini.


Waktu terus berlalu dengan mobil yang terus melaju di jalanan Jakarta.


Gadis yang sedang duduk di kursi penumpang seketika berpaling saat mobil yang sedang membawanya sudah berhenti di pintu masuk jalan tol.


"Kita benaran pergi sekarang ?" Tanya Aira dengan jantung yang semakin berpacu.


"Tentu saja, aku adi pengen tahu sekuat apa iman kamu. Setan di puncak banyak loh, dan suka banget menggoda gadis seperti kamu." Ucap Abizar.


Aira terhenyak, dadanya semakin berpacu kencang.Ia berusaha untuk tetap terlihat tenang sambil menautkan kedua tangannya di atas paha.


"Jangan takut, kita hanya akan pacaran di sana. Seperti kamu bilang tadi, yah siapa tahu aja iman kita goyah dan tergoda oleh bujuk rayu setan di sana." Ujar Abizar terkekeh.


*****


*Note Author


Yuhuuu unboxing di puncak. Banyak like dan komen, aku up 10 Bab hari ini. Ayo berikan dukungan, ingat tiga pendukung teratas dapat hadiah dari aku. Untuk 4 sampai 10 aku pikir-pikir dulu 🤣 liat nanti kalau dananya cukup 🥴🤭

__ADS_1


Bentar lagi tamat, aku mau publish novel terbaru aku.


__ADS_2