
Waktu terus beranjak pergi. Azam duduk termenung di sofa yang ada di ruang tamu rumah sederhana yang sudah di tempati oleh istrinya. Setelah kepergian kedua orang tuanya, Azam sama sekali belum beranjak dari atas sofa yang ia duduki tadi. Entah kemana perginya gadis kecil yang baru ia nikahi hari ini. Nafas berat terus berhembus dari mulutnya. Sungguh, ia bingung harus melakukan apa di hari pertama ia resmi menjadi seorang suami dari gadis yang tidak ia kenal.
Beberapa saat kemudian, Trias keluar dari salah satu kamar, dan berdiri di di dalam ruang tamu sederhana di mana Azam berada. Entah berapa menit waktu yang ia habiskan untuk menatap punggung laki-laki yang baru hari ini resmi menjadi suaminya.
Tidak jauh berbeda dengan Azam, Trias pun bingung harus melakukan apa di hari pertama ia resmi menjadi seorang istri. Selama ini, ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan secepat ini menyandang status sebagai seorang istri. Dulu ia pernah berharap hanya akan menghabiskan sisa waktunya bersama sang Ayah.
"Kok diam di situ ?" Tanya Tiara.
Trias terkejut saat Tiara tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
Azam beranjak dari sofa yang ia duduki, lalu berbalik dan menatap dua gadis yang sudah berada di ruangan yang sama. Setelah menatap Tiara dan Trias bergantian, tatapan Azam berpindah pada pakaian yang berada dalam pelukan istrinya.
"Apa aku boleh meminjam pakaian Bapak untuk malam ini ?" Tanya nya hati-hati.
Tiara melirik pakaian yang sedang di peluk oleh adiknya, lalu tersenyum kecil.
"Itu sudah Trias siapkan. Bang Azam bersih-bersih aja dulu, aku mau ke depan nunggu pesanan makan malam kita." Jawab Tiara karena adiknya masih terus menutup mulut rapat-rapat.
Azam mengangguk.
"Ayo ajak suami kamu ke kamar.. Masa iya Bang Azam ganti pakaian di kamar ku." Kesal Tiara karena adiknya masih saja diam seperti patung.
Trias menatap Azam sebentar, lalu berbalik dan melangkah menuju kamar yang sudah ia tempati sejak kecil. Azam pun sama, laki-laki itu melangkah dan mengikuti istrinya dari belakang.
Tiara menatap tidak percaya ada dua orang yang asing di persatukan dalam ikatan sesuci pernikahan. Setelah dua orang pendiam itu sudah menghilang di balik pintu kamar, Tiara melangkah keluar dari dalam rumah untuk menunggu kurir yang akan mengantarkan makanan yang ia pesan beberapa saat yang lalu.
****
"Kamar mandinya di mana ?" Tanya Azam sambil mengelilingi kamar yang begitu sempit namun, bersih itu dengan pandangannya.
__ADS_1
Trias yang hendak menutup pintu kamar tidur, kembali mengurungkan niatnya.
"Kamar mandi ada di dapur Mas." Jawab Trias.
Azam terdiam sebentar, lalu mengangguk.
"Itu pakaian buat aku kan ?" Tanyanya sambil menunjuk pakaian yang berada di dekapan Trias.
Gadis itu mengangguk, lalu melangkah mendekati Azam untuk memberikan pakaian bekas Bapaknya, untuk sang suami.
"Pinjam handuk kamu, bisa ?" Tanya Azam sambil mengutuk dirinya sendiri. Inilah akibatnya jika memutuskan sesuatu dengan terburu-buru. Bahkan sebuah handuk kecil untuk mengeringkan tubuh nya saja, ia tidak sempat menyiapkannya.
"Handuknya ada di belakang Mas, ayo aku antar ke sana." Ujar Trias.
Dua orang asing yang berstatus suami istri itu, kembali melangkah keluar dari dalam kamar menuju dapur.
"Mas Azam mau mandi dulu." Jawab Trias. Pakaian yang ada di pelukannya sudah berpindah pada Azam. Sedangkan dirinya kembali melanjutkan langkah menuju bagian belakang untuk mengambil handuk.
"Terimakasih." Ujat Azam.
Trias mengangguk. Setelah Azam berlalu masuk ke dalam kamar mandi, Trias membantu menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.
"Mereka orang yang sangat baik. Mbak sudah lama mengenal Mas Ai, jadi kamu jangan khawatir." Ucap Tiara seketika membuat Trias menghentikan aktivitasnya di atas meja makan sederhana.
"Apa Mas Azam ga punya kekasih Mbak ? Sungguh, aku takut jika kejadian di novel-novel itu terjadi dalam hidup aku." Lirih Trias.
Tiara tersenyum melihat kekhawatiran di wajah adik nya. Ia sudah mengenal keluarga Aidar setahun setelah mereka bekerja di tempat yang sama. Karena alasan itulah, Tiara hanya berusaha untuk menganggap Aidar sebagai seorang sahabat. Bagi Tiara, ia terlalu kecil untuk menjadi wanita penting dalam hidup Aidar yang tidak bisa ia gapai. Berulang kali Aidar meyakinkan dirinya tentang pernikahan, namun, bagi Tiara kata sakral itu masih sangat jauh dari angannya.
"Aidar bukan tipe laki-laki yang suka mengobral cinta pada banyak wanita. Meskipun aku tdak dekat dengan keluarga Aidar, tapi aku yakin Bang Azam juga seperti Aidar." Jawab Tiara berusaha menghapus kekhawatiran adiknya. "Kalian hanya belum saling mengenal Tri, tapi aku yakin Bang Azam tidak kalah baik dari Aidar. Jangan terlalu banyak pikiran, lakukan lah tugas mu sebagai seorang istri. Lakukan segala kewajiban kamu dengan ikhlas, dan biar Allah yang akan memberikan hak kamu nanti." Usap Tiara di punggung tangan adiknya. Ia tidak khawatir tentang adiknya. Ia dan Trias sudah melewati banyak ujian hidup, jadi untuk melewati ujian hari ini, bukan lah masalah baginya. "Kita lewati ini sama-sama, ya ?" Pinta Tiara.
__ADS_1
Trias mengangguk.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Azam sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi itu, dengan kaos berkerah milik mendiang Bapak mertuanya. Tapi celana panjang hitam yang melekat di tubuh bagian bawahnya, masih celana yang sama ia gunakan pagi ini.
"Ah, celana milik Bapak ga muat sama aku." Ujar Azam menjelaskan.
Tiara tersenyum sebentar, lalu mengangguk. Sedangkan Trias masih saja canggung jika berhadapan langsung dengan suaminya.
"Bantuin suami kamu makan, aku mau angkat telepon dulu." Pamit Tiara.
"Mbak ga makan dulu ?" Tanya Trias berharap kakak perempuannya ini tetap tinggal di dalam ruangan itu.
"Aidar menelpon untuk membahas tahlilan yang akan di langsungkan besok. Kalian berdua makan aja dulu, ini tidak akan lama." Jawan Tiara.
Trias hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, untuk mengurangi kegugupannya ketika Tiara sudah melangkah pergi meninggalkan dapur.
Azam melangkah mendekati meja makan, lalu duduk di sala satu kursi yang tersedia di sana.
"Terimakasih." Ucap Azam saat satu buah piring yang berisi makanan sudah berada di hadapannya.
Trias mengangguk.
"Kamu masih kuliah kan ? Semester berapa ?" Tanya Azam.
"Baru semester lima Mas." Jawab Trias.
"Sekarang umur kamu berapa ?" Tanya Azam lagi.
Trias menghentikan tangannya yang hendak menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya, lalu menatap laki-laki yang nampak begitu tenang di sampingnya.
__ADS_1