Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 87 Season 2


__ADS_3

"Apa yang sudah terjadi ?" Tanya Dinda pada dua orang yang terlihat saling menjaga jarak di hadapannya.


Sudah tiga malam Yana menginap di rumahnya ini, dan sudah tiga malam pula ia melihat menantunya terlelap di kamar tamu seorang diri.


Sepasang suami istri yang baru saja menyelesaikan sarapan itu masih bungkam. Tidak ada yang berniat membuka suar di antara keduanya membuat Dinda sedikit kesal.


"Zyana !" Panggil Dinda lagi. Kali ini suaranya sudah meninggi.


"Yana akan bercerai dengan Mas Reno Bu." Jawab Yana akhirnya.


"Na." Lirih Reno.


"Apa masalah akan selesai dengan perceraian ?" Tanya Dinda dengan nada yang semakin meninggi.


"Pernikahan kami sudah selesai Bu, Yana tidak bisa bertahan dalam situasi sulit seperti ini." Ucap Yana pelan.


"Dan selamanya situasi sulit akan selalu datang menyapa, walaupun itu bukan Reno." Ujar Dinda.


Ia menatap lekat ke arah putrinya yang sudah tertunduk dalam. Tetes demi tetes air mata terlihat mulai terjatuh dari wajah yang tertunduk dalam ke atas meja makan.


"Yana bisa bertahan dengan situasi sulit asalkan Yana masih menjadi satu-satunya. Yana bisa melalui enam tahun pernikahan meski tanpa kasih dari Mama mertua, yang terpenting Yana masih menjadi satu-satunya wanita yang Mas Reno kasihi." Lirih Yana dengan suara bergetar. Tangisannya ingin pecah di dalam ruangan ini, namun, dengan sekuat tenaga ia menahannya.


"Maksud kamu apa ?" Tanya Dinda.


Yana tidak menjawab, hanya isakkan terdengar dari bibirnya. Biarlah, jika aib rumah tangganya akan di ketahui oleh sang Ibu, maka bukan dirinya yang paling berhak memberitahu. Biarlah Reno yang menjelaskan semuanya.


"Maafkan Reno Bu."


Kalimat yang kesekian kalinya kembali terdengar. Bosan, tentu saja. Yana sudah sangat bosan mendengar kalimat permohonan maaf dari suaminya ini. Kata maaf yang terucap, hanya seperti garam yang di taburkan di atas luka, pedih.


"Ada wanita lain yang terpaksa hadir dalam rumah tangga kami. Tapi Yana masih satu-satunya yang ad di dalam hati Reno Bu." Jelas Reno memelas.

__ADS_1


Dinda menarik nafas nya dalam-dalam, lalu kembali menghembuskanya perlahan. Sakit, tentu saja. Tidak ada seorang Ibu yang akan baik-baik saja, saat mendapati rumah tangga anaknya di ambang kehancuran.


"Selesaikanlah dengan baik. Ibu hanya akan menunggu hasil terbaik dari kalian berdua." Ujar Dinda.


Ia tidak ingin salah dalam mengeluarkan kalimat, karena selama ini putrinya sama sekali tidak pernah mengeluhkan apapun. Semua terlihat baik-baik saja, dan putrinya hidup dengan bahagia.


Wanita paruh baya itu beranjak dari kursi, lalu melangkah keluar dari ruang makan. Memberikan waktu dan kesempatan kepada putri dan menantunya untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik.


"Sayang." Reno menyentuh punggung tangan Yana yang ada di meja makan. Namun, masih saja sama. Tangan yang dulu selalu menyentuhnya dengan penuh kasih sayang, kembali di jauhkan dari jangkauannya.


Lelaki itu beranjak dari kursi, Yana masih terdiam. Akan lebih baik jika lelaki ini segera pergi dan membiarkan dirinya sendiri.


"Maafkan aku Yana, aku benar-benar akan gila jika kamu seperti ini."


Yana masih acuh, bahkan melihat Reno sudah berlutut di sampingnya sama sekali tidak bisa meluluhkan hatinya yang sudah terluka.


"Ayo kita cerai Mas. Kita lakukan dengan cara baik-baik." Pinta Yana. Ia masih menatap kedua tangannya yang saling bertaut di atas meja makan.


"Kalau begitu, kita akan bertemu di pengadilan." Ucap Yana dingin.


"Na..


"Mas, ku mohon. Jika Mas benar-benar mencintaiku, tolong bebaskan aku dari neraka ini. Mungkin poligami yang Mas lakukan, hadiahnya Syurga untukku. Akan tetapi, aku masih hidup Mas, dan aku tidak ingin menjalani kehidupan yang seperti neraka di dunia." Ucap Yana di sela-sela isak tangis menyayat hati.


Reno menarik kursi yang di duduki istrinya agar menghadap ke arahnya.


"Selama tiga hari ini aku berusaha menerima, namun, semuanya terasa begitu sulit bagiku Mas. Aku tidak bisa menjalaninya."


Reno tidak lagi bersuara, lelaki itu menenggelamkan wajahnya di atas pangkuan istrinya dan menangis di sana. Rok hitam selutut yang menutupi paha Yana sudah basa dengan air mata. Reno masih tersedu di atas pangkuan yang selalu menjadi tempat ternyaman untuk melepaskan penat selama enam tahun ini.


"Jangan tinggalkan aku Na, aku mohon. Aku akan melakukan apa saja asalkan kita masih akan tetap bersama."

__ADS_1


"Mas," Yana mengusap lembut rambut suaminya. Wanita itupun menangis, bahkan beberapa tetes air mata yang keluar dari pelupuk matanya, mulai berjatuhan hingga membasahi kepala Reno.


"Meskipun kita masih bersama, semuanya tidak akan lagi sama seperti dulu. Aku akan menjalani hidup penuh kecurigaan setiap waktu. Aku akan selalu mencurigai mu dan mungkin tidak akan lagi percaya padamu." Yana menarik nafasnya sebentar. "Aku tidak ingin menjalani hidup seperti itu Mas." Lirihnya.


Reno sudah melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Ini begitu sulit baginya, membayangkan tidak bisa lagi memeluk Yana, membuat dadanya sesak.


"Kita sudahi luka ini Mas. Mungkin aku akan menderita setelah kehilangan kamu, tapi aku yakin itu tidak akan lama. Aku hanya perlu berusaha melupakan kisah kita, lalu semuanya akan kembali baik-baik saja."


"Jangan lakukan ini Na." Reno masih memohon.


"Mas aku jijik, sungguh aku sudah jijik dengan mu. Membayangkan kamu menyentuh wanita lain, saat masih menyentuhku membuatku jijik. Jika saja wanita itu tidak hamil, mungkin aku masih bisa menerima pernikahan yang katamu terpaksa itu, namun melihat wanita itu hamil, aku benar-benar tidak bisa menerima nya lagi."


"Sayang..."


"Aku harus bekerja Mas, lepaskan aku." Ucap Yana berusaha melepaskan tangan Reno yang memeluk pinggangnya erat.


"Ngga Yana, aku tidak bisa."


"Jika kamu masih terus seperti ini, maka terpaksa aku akan menggunakan caraku sendiri. Dan tentu saja itu akan semakin menyulitkan mu."


Kali ini Yana sudah bersuara tegas. Ia kesal, tentu saja. Selama ini ia selalu melakukan yang terbaik. Belum memiliki anak di usia pernikahan mereka yang sudah sekian tahun, bukanlah keinginannya semata, tapi kesepakatan mereka berdua agar masih leluasa membantu keuangan dua wanita yang sudah membawa mereka ke dunia. Dan kini ia mendapati alasan di balik pengkhianatan suaminya adalah dirinya yang belum hamil, sungguh itu sangat tidak bisa di terima oleh akal sehatnya.


Tidak lagi tahan, Yana menarik tangan kekar itu dengan kasar lalu beranjak dari kursi dan melangkah keluar dari ruang makan, meninggalkan laki-laki yang masih bersimpuh di atas lantai, tanpa menoleh lagi.


Cintanya masih utuh, namun tidak dengan kepercayaannya. Hati yang selama ini selalu ia persembahkan untuk Reno, sudah remuk. Kepercayaan yang ia tanamkan dalam diri sekian tahun lamanya, hilang dalam sekejap saat mendapati pengkhianatan suaminya itu.


Begitu besar kepercayaan yang ia berikan pada Reno, bahkan tidak sekalipun ia memeriksa setiap transaksi yang selalu Reno lakukan di rekening laki-laki itu. Dan kini, semua kepercayaan yang ia tanamkan dalam hati untuk keutuhan rumah tangga mereka, di bunuh oleh orang yang begitu ia cintai.


Sudahlah, tidak ada lagi yang tersisa. Bahkan kepingan hati yang sudah hancur pun, Yana tak lagi memiliki niat untuk memungutnya.


Setelah mengganti rok yang sudah basah dengan air mata suaminya, Yana mencium punggung tangan Ibunya, kemudian keluar dari rumah yang penuh dengan kenangan masa kecilnya menuju tempat ia bekerja.

__ADS_1


__ADS_2