
Di sebuah rumah mewah, dua wanita berbeda usia sedang duduk terdiam di atas sofa. Meja yang terbuat dari kaca sudah hancur berserakan di atas lantai tempat mereka berpijak. Wanita cantik dengan hijab masih sesegukan di tempat duduknya sembari mengusap pelan perutnya yang terus berkontraksi.
"Rara pulang ke Lampung saja Ma." Ucapnya pelan.
Sungguh ia terlalu takut untuk terus memaksakan diri berada di samping Reno, sementara lelaki itu bahkan tidak pernah menghargainya.
Setiap malam Reno selalu menyetubuhinya tanpa perasaan sembari menyebut nama mantan madunya, dan itu terlalu menyakitkan. Belum lagi lelaki itu selalu melakukan hubungan intim dengan sangat kasar tanpa perduli dengan bayi yang masih berada di dalam kandungannya.
"Sudah sejauh ini Nak. Jangan pergi, tetap bersama Reno." Bujuk Lina pada menantunya.
"Tapi Ma, Rara takut." Lirih Rara.
Lina menarik nafasnya yang teras begitu berat, tidak tahu apa yang harus ia lakukan kini. Ia merasa bersalah telah merusak kebahagiaan putranya. Namun, entah mengapa sampai saat ini ia tetap tidak bisa menerima ada wanita lain yang Reno sayangi melebihi kasih sayang Reno terhadap dirinya.
Yana benar-benar sudah merebut satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya. Putranya sudah terjatuh sangat dalam pada pesona gadis yang tidak memiliki ayah sejak lahir itu.
"Kita hanya perlu berusaha lebih baik lagi Ra. Buat dia kembali mencintai Mama, lalu Mama akan membagi cinta itu padamu." Ujar Lina membujuk, lalu ikut mengusap lembut perut menantunya.
"Apa bisa Ma ? Sepertinya Mas Reno membenci kita." Ucap Rara.
"Ini hanya soal waktu, tenang saja." Ucap Lina berusaha menenangkan menantunya. Meskipun saat ini, ia pun mulai merasa khawatir tentang Reno yang selalu saja mengamuk tanpa alasan.
Rara kembali mengangguk patuh atas permintaan Mama mertuanya. Bersabar sedikit lagi demi keinginannya, mungkin bukanlah masalah besar, begitu pikir Rara.
"Ma kok makin terasa ya sakitnya ?" Tanya Rara ketika perih di perutnya semakin terasa.
"Apa sudah waktunya lahiran ?" Tanya Lina khawatir.
"Belum Ma, ini masih jauh dari taksiran dokter."
"Mama antar ke Rumah Sakit ya ?"
Rara mengangguk patuh, kemudian ikut beranjak dari sofa yang merek duduki.
"Hati-hati." Ucap Ibu Lina. Wanita paruh baya itu lantas memanggil asisten rumah tangganya untuk membersihkan pecahan kaca yang berhamburan di atas lantai.
"Aduh Ma.."
"Ada apa ?"
"Sakit banget Ma."
__ADS_1
Rara kembali terduduk di atas sofa. Perutnya terasa di hujam dengan pisau. Sedangkan Lina terlihat panik saat melihat wajah menantunya yang terlihat semakin memucat. Ia berteriak memanggil asistennya untuk membantu membawa Rara menuju mobilnya.
"Sabar kita akan segera ke Rumah Sakit."
"Mbok cepat bantu saya." Teriak Lina dari ruangan tempat ia dan Rara berada.
Rara semakin merintih kesakitan, darah mulai merembet keluar menembus terusan panjang yang ia kenakan.
"Sakit Ma
" Lirihnya lagi.
Dua wanita paruh baya itu berusaha membopong tubuh Rara menuju mobil yang terparkir di depan rumah, kemudian berlalu dari sana.
Lina masih melajukan mobilnya dengan hati-hati menuju rumah sakit. Meskipun tubuhnya bergetar, ia berusaha untuk tetap berkonsentrasi pada kemudi, terlebih melihat darah yang semakin banyak mengalir sampai ke kaki menantunya.
"Maa..." Teriak Rara lagi.
"Sabar sayang, kita hampir sampai." Jawab Lina.
Takut, sungguh dia sangat takut terjadi apa-apa dengan calon cucu dan menantunya ini. Apa yang akan ia katakan pada sahabatnya di Lampung jika terjadi sesuatu dengan putri mereka.
Saat mobilnya sudah terparkir di depan rumah sakit, beberapa perawat terlihat datang mendekat sambil mendorong bed pasien untuk Rara, dan membawa wanita yang sudah penuh darah itu masuk ke dalam rumah sakit.
Di dalam ruangan mewah milik Alfaraz, Yana masih berdiri di depan pintu masuk, karena si pemilik ruangan masih bungkam dan belum mempersilahkan dirinya duduk. Lelaki itu hanya terdiam sembari menatap satu kotak berwarna maron yang ada di atas meja kerja.
"Pakai ini." Ucap Alfaraz tanpa basa basi sembari mendorong kotak cincin yang ada di hadapannya.
Yana masih tetap tenang dan berdiri diam di tempatnya. Ia sama sekali tidak berniat mematuhi perintah Alfaraz, karena ia tidak berkewajiban melakukan hal itu.
"Kamu hanya akan berdiri di situ ?" Tanya Alfaraz.
Yana menarik nafasnya dalam-dalam, lalu melangkah menuju kursi yang ada di depan meja kerja Alfaraz.
"Pakai itu." Tunjuk Alfaraz pada benda yang sama sekali tidak di lirik Yana.
"Kita batalkan dulu semuanya. Nanti setelah semua tanggung jawab saya selesai, barulah kita membicarakannya kembali." Ucap Yana.
"Jangan bercanda !" Kesal Alfaraz.
"Maafkan saya." Ucap Yana.
__ADS_1
"Zyana !"
"Pak, kita berada di dalam kantor. Membicarakan masalah pribadi di lingkungan pekerjaan sangatlah tidak profesional." Ucap Yana memperingati.
"Tidak ada yang akan di batalkan, aku sudah membicarakan banyak hal dengan Papa dan Bunda. Tiga bulan lagi kita menikah." Putus Alfaraz.
Yana memberanikan diri menatap wajah tampan yang kini tengah menatapnya dengan begitu lekat, lalu kembali mengalihkan tatapannya pada satu kotak cincin yang ada di hadapannya.
"Jika tidak ada masalah tentang pekerjaan, saya pamit permisi Pak." Ucap Yana sopan.
"Yana." Panggil Alfaraz saat Yana hendak beranjak dari kursi.
Yana tidak lagi mengindahkan panggilan Alfaraz, ia tetap beranjak dari kursinya dan melangkah menuju pintu ruangan.
"Aku bilang padanya kita memiliki hubungan sejak lama. Tadi setelah kamu masuk ke dalam kantor, aku sempat berbicara dengan mantan suami kamu." Ujar Alfaraz.
Yana berhenti melangkah, lalu membalik tubuhnya dan menatap tajam laki-laki yang kini sama mengganggunya dengan sang mantan suami. Bukan seperti ini yang ia inginkan. Meskipun dia tidak lagi perduli tentang Reno, namun ia ingin terus menjaga nama baiknya sampai akhir.
"Tapi kenapa ?" Tanyanya masih berusaha untuk tetap tenang, meskipun kini kekesalan sedang menyelimutinya.
"Agar dia berhenti mengganggu mu." Jawab Alfaraz.
"Baiklah, terimakasih untuk niat baik Bapak. Tapi, untuk kedepannya jangan lakukan lagi. Untuk urusan itu biarlah menjadi urusan saya. Kalau begitu saya permisi." Pamit Yana lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari dalam ruangan.
"Jangan bertemu dengannya lagi."
Yana tidak lagi menjawab, ia mengepalkan tangannya menahan kesal. Ah jika saja saat ini mereka sudah berada di luar kantor, pasti ia sudah memukul otak bodoh laki-laki yang mulai bertindak seenaknya itu sekarang juga. Sayangnya saat ini ia hanyalah sebatas bawahan yang harus patuh pada apa saja yang di perintahkan.
Setelah menutup pintu ruangan itu, Yana kembali membalik tubuhnya dan menatap tajam pintu yang berbahan kayu itu. Berharal tatapan tajamnya bisa menembus hingga ke otak bodoh laki-laki yang sudah mulai kehilangan kewarasan itu.
"Mbak di marahi sama Pak Al ya ?" Tanya Mia.
"Yah begitulah Mia." Jawab Yana salah tingkah. "Kalau begitu saya permisi." Lanjutnya dan bergegas melangkah meninggalkan ruangan itu.
Saat menuruni lift, Yana masih belum berhenti mengomel di dalam hatinya. Sepertinya dia memang harus menjadi istri si bodoh itu, barulah bisa membalas kekesalan ini.
*Note Author
Hai maaf ya akhir-akhir ini agak slow update..
akhir bulan banyak banyak pekerjaan di kantor 😥
__ADS_1
Oh iya, ini ada novel seorang sahabat, mampir ya 🙏