Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 63


__ADS_3

Zidan mengelilingi rumah baru yang sebentar lagi akan ia tempati bersama keluarga kecilnya. Sebagian besar barang-barang sudah tertata rapi di tempatnya masing-masing. Hanya tersisa beberapa saja yang masih sedang di rapikan oleh orang-orang yang bertanggung jawab.


Langkah kakinya memasuki kamar yang akan ia tempati bersama Farah. Satu buah pigura berukuran besar sudah tergantung di atas kepala ranjang. Senyum kembali terlihat di wajahnya, saat melihat wajah cantik Farah dengan balutan hijab putih.


Kamar ini memang tidak semewah kamar utama di rumahnya yang lama. Namun, ini begitu nyaman, dan yang lebih penting tidak ada lagi kenangan Nadia yang akan selalu membuat Farah merasa tidak nyaman.


Semua hanya akan ada tentang Farah. Kehidupan baru, kisah yang baru dan tentu saja kenangan yang baru akan mereka ukir di kamar ini. Meninggalkan kamar utama di rumah lama, yang menjadi saksi bisu penderitaan Farah selama empat tahun pernikahan mereka.


Zidan keluar dari dalam kamar yang sudah siap di tempati itu. Langkah kakinya berjalan menuju dapur yang paling Farah sukai. Tidak semewah dapur yang ada di rumah pemberian Kakak iparnya sebagai hadiah pernikahannya dengan Nadia, tetapi tidak kalah nyaman dengan dapur yang ada di rumah lamanya, dan Zidan pun memang ingin memiliki rumah yang baru dan berbeda dengan rumah lamanya.


Ia ingin mengukir kenangan baru di rumah ini bersama Farah dan anak-anak mereka. Meskipun tidak akan bisa menghapus luka yang pernah ia torehkan di hati istrinya, setidaknya di tempat ini akan ada bahagia yang baru untuk ia persembahkan kepada wanita berharga itu.


Satu kolam renang yang cukup luas berada di taman belakang rumah. Belum tertata rapi, namun sudah cukup layak untuk di gunakan. Lagi pula Farah mengatakan, jika istrinya itulah nanti yang akan menanam bunga di taman ini.


Zidan kembali membawa langkah kakinya menuju lantai atas. Dua kamar berada di lantai itu. Satu kamar yang akan di tempati Putranya Alfaraz, dan satu kamar lagi akan ia siapkan untuk calon anak mereka yang masih berada di kandungan Farah.


Beberapa buah foto perkembangan Alfaraz sudah terpajang di dinding samping tangga yang ia lewati menuju kamar di lantai atas.


Tidak ada yang instan, Begitulah yang ia pikirkan saat ini. Kejadian beberapa bulan lalu adalah sebuah pembelajaran untuknya, agar lebih bisa menegaskan apa yang ia inginkan.


Allah tidak akan memberikan masalah tanpa ada jalan keluarnya. Hanya saja, mungkin dirinyalah yang salah mengambil langkah saat itu. Ingin menahan Farah, tetapi juga melukai, dan hal itulah yang paling ia sesali hingga saat ini.


Seharusnya ia mampu menolak dengan tegas, dan tidak menjadikan wanita yang ia cintai sebagai orang yang ia gunakan untuk membahagiakan wanita lain.


Kamar Alfaraz sudah siap di tempati, ranjang yang tidak terlalu besar sudah tertata dengan rapi. Lemari pakaian juga kamar mandi terlihat sudah bersih dan siap di gunakan.


Kamar kosong yang ada di samping kamar putranya masih belum tersentuh, karena memang Zidan lah yang meminta agar petugas yang menyiapkan rumah barunya ini lebih dulu menyiapkan ruangan yang perlu mereka gunakan.


Untuk yang belum terlalu penting, biarlah akan di dekorasi setelah mereka pindah nanti.


Zidan kembali menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. Asisten rumah tangga yang ada di rumah lama baru saja sampai bersama orang-orang suruhan Ayah Dimas juga box-box yang berisi barang-barang pribadi mereka bertiga yang ada di rumah lamanya.


"Kamar saya dan Farah di sana Mbok." Tunjuk Zidan di salah satu kamar yang tidak jauh dari ruang keluarga. "Dan kamar Al di atas, nanti minta mereka untuk menatanya dengan baik." Perintah Zidan pada asisten rumah tangganya.


Wanita paruh baya yang sudah sekian tahun bekerja di rumahnya itu mengangguk, mengiyakan.

__ADS_1


Setelah memastikan semua berjalan lancar, Zidan keluar dari rumah itu, kemudian masuk ke dalam mobil lalu keluar dari pelataran rumah barunya.


***


Rumah mewah yang beberapa kali ia sambangi saat Nadia masih ada sudah terlihat. Petugas keamanan yang sudah sangat mengenal mobilnya, segera membukakan pintu gerbang, lalu mempersilahkan dirinya masuk ke dalam.


Entahlah, mungkin keputusannya saat ini terdengar salah. Namun, inilah yang ia inginkan saat ini. Melanjutkan hidup bersama Farah hingga menua bersama, itulah yang ia inginkan saat ini.


Zidan menarik nafas, lalu keluar dari dalam mobilnya. Sejujurnya ada sedikit rasa bersalah, karena ia terkesan ingin melupakan Nadia, wanita yang sekian tahun menemani hidupnya. Namun, jika ia tidak melakukan hal ini, maka selamnya ia akan terperangkap dalam penyesalan.


"Assalamualaikum Ma." Ucap Zidan lalu mencium punggung tangan wanita yang kini membukakan pintu untuknya.


"Waalaikumsalam Zi, ayo masuk." Ajak Yuna.


"Papa ada ?" Tanya Zidan.


"Ada, baru balik dari Rumah Sakit. Duduk dulu, Mama panggilkan Papa kamu." Ujar Yuna.


Zidan mengangguk, lalu duduk di sofa yang ada di ruang keluarga rumah mertuanya.


"Maafkan aku." Gumam Zidan.


"Itu foto Nadia saat mengucapkan sumpah profesi." Ujar laki-laki paruh baya yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.


Zidan membalik tubuhnya, lalu mendekati Papa mertuanya yang kini tersenyum hangat ke arahnya.


Zidan mencium punggung tangan Papa mertuanya takzim.


"Gimana kabar Papa ?" Tanya Zidan.


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat. Papa baik-baik saja." Jawab Angga lalu mengajak menantunya untuk duduk.


Selang beberapa saat, Yuna datang membawakan dua cangkir teh di atas nampan dan cemilan bersama asisten rumah tangganya.


Wanita paruh baya itu duduk di samping sang suami, usai meletakkan nampan dan sepiring cemilan yang ia bawa dari dapur ke atas meja.

__ADS_1


"Pa, Ma maaf mengganggu. Zidan datang ke sini mau memberitahu sesuatu." Ucap Zidan.


"Ada apa ?" Tanya Angga.


"Zidan akan pindah ke rumah yang baru besok." Ucap Zidan pelan. Sejujurnya ia merasa tidak enak menyampaikan hal ini.


"Itu keputusan yang bijak Nak. Buatlah Farah nyaman, sama seperti kamu membuat Nadia nyaman dulu." Ujar Yuna.


Zidan tersenyum lega mendengar kalimat Mama mertuanya. Padahal tadi ia sudah menyiapkan diri, jika dua orang paruh baya ini akan marah padanya.


"Jadi rumah lama kalian bagaimana ?" Tanya Angga.


"Untuk itulah Zidan ke sini Pa, kira-kira menurut Papa dan Mama gimana ?" Tanya Zidan hati-hati.


Angga tersenyum, ia mengerti mungkin saat ini Zidan tidak enak karena harus meninggalkan rumah yang pernah menjadi tempat yang paling di sukai putrinya itu.


"Kalau kamu ngizinin, Papa mau buat Panti Asuhan untuk Nadia." Ujar Angga.


Zidan tersenyum, tidak salah ia memutuskan untuk datang ke sini. Setidaknya rumah yang penuh dengan kenangan tentang Nadia tidak akan terbengkalai begitu saja.


"Tentu saja Pa." Ujarnya.


Angga tersenyum melihat wajah lega Zidan. Sebenarnya ia dan istrinya sudah mengetahui perihal kepindahan Zidan dari rumah peninggalan putrinya itu. Dimas dan Anisa sudah memberitahu dan merencanakan hal ini.


Namun, melihat Zidan yang juga datang dan menghargai dirinya sebagai orang tua, membuat Angga semakin bangga dengan menantunya ini.


"Terimakasih Nak, dan sampaikan permohonan Maaf Papa dan Mama pada istrimu." Ucap Angga. "Maaf sudah membuat Farah menderita hanya karena ingin membahagiakan Nadia." Sambungnya.


Zidan mengangguk, tidak lupa pula ia mengucapkan banyak terimakasih atas pengertian orang tua dari mendiang istri pertamanya.


"Farah menyayangi Nadia Pa." Ucapnya.


"Papa dan Mama tahu karena Nadi sering membicarakan tentang Farah." Ucap Yuna.


Setelah berbincang-bincang sebentar bersama kedua orang tua mendiang istri pertamanya, Zidan berpamitan untuk segera pulang karena hari semakin sore.

__ADS_1


__ADS_2