
Siang yang terik mulai pergi. Sinar matahari yang menerangi bumi, mulai tenggelam di ujung sana. Awan putih yang menghiasi langit biru, mulai berubah kelabu.
Sejak kejadian siang tadi di ruang kerja Daren, Daniza masih menutup mulutnya rapat-rapat. Kini wanita itu sedang membantu Al Fatih bersiap untuk tidur.
"Tidak perlu, Bu. Al bisa sendiri kok." Ujar Fatih saat Daniza hendak ikut berbaring di ranjangnya.
Daniza terdiam sesaat. Setelah kejadian tadi, bukan hanya dirinya yang menutup mulut rapat-rapat, tetapi bocah laki-laki yang selalu menempel padanya ini, ikut mogok bicara.
"Ada apa ?" Tanya Daniza.
Fatih menggeleng.
"Kamu kangen sama Ibu ya ?" Tanya Daniza berusaha untuk bertingkah seperti biasa, walaupun rasa tidak nyaman masih meneyelimutinya karena kehadiran Maya di tempat kerja Daren siang ini.
"Apa sekarang Al memiliki dua Ibu ?" Tanya bocah itu.
Daniza tersenyum, lalu mengangguk.
"Hebat kan ?" Ucapnya.
"Apa hebatnya sesuatu yang bisa membuat Aunty nangis." Jawab Fatih.
Daniza terdiam.
"Kok Aunty, ga suka jadi anak Ibu lagi ya ?" Tanya Daniza memelas.
Anak laki-laki itu menggeleng.
"Jangan nangis lagi Bu, Al takut Ibu sedih." Ucap bocah laki-laki itu sontak membuat Daniza tertawa.
"Udah ah, ayo tidur." Ujar Daniza.
Fatih pun mengangguk.
Daniza menarik selimut berwarna abu-abu itu, lalu menutupi tubuh kecil putranya dengan hati-hati. Setelah memastikan Fatih sudah terlelap, Daniza beranjak dari atas ranjang, lalu keluar dari dalam kamar yang di tempati oleh putranya itu.
"Ngapain di sini ?" Daniza terkejut saat mendapati Daren sedang berdiri di depan pintu kamar putra mereka.
__ADS_1
Daren meraih tangan Daniza dengan perlahan, lalu menarik istrinya itu menuju kamar tidur mereka.
"Pelan-pelan, Mas. Ada apa sih kok narik-narik ga jelas kayak gini." Ujar Daniza lagi. Daren masih belum bersuara, dan hanya terus menarik istrinya menuju kamar tidur mereka.
"Ganti pakaian kamu, kita harus ke rumah sakit." Ujar Daren setelah mereka sudah berada di dalam kamar mereka.
Daniza diam, ia menatap wajah suaminya dengan lekat.
"Cepat Niz." Lirih Daren.
"Tidak, aku tidak akan pergi tanpa kamu jelaskan apa yang sedang terjadi." Tegas Daniza.
"Maya kecelakaan. Pihak kepolisian baru saja menghubungi ku untuk memastikan identitas jenazah." Lirih Daren.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun." Daniza menutup mulutnya dengan telapak tangan. Wajah menyedihkan Maya saat keluar dari ruang kerja daren siang tadi, kembali melintas di pelupuk matanya.
Tanpa mengganti piyama panjang yang melekat di tubuhnya, Daniza segera meraih mantel untuk menutupi atasan piyama agar tidak terlalu terlihat mencolok di tempat umum.
"Ayo, kok malah diam disitu." Ajak Niza.
"Maafkan aku karena membuat kamu sedih siang ini." Lirih Daren.
"Ayo kita temui Mbak Maya dulu. Kamu tahu kan dia tidak memiliki siapapun selain kamu dan Fatih." Ajak Daniza sambil mengulurkan tangannya ke arah Daren.
Daren meraih tangan lentik itu, dan menariknya hingga tubuh Daniza masuk ke dalam pelukannya. Kata maaf juga kecupan penuh permohonan maaf atas apa yang terjadi siang ini di tempat kerjanya terus saja di gumamkan Daren di atas kepala istrinya itu. Melihat mata indah Daniza berkaca, hatinya ikut tercabik.
"Aku tidak tahu sejak kapan dia berada di tempat kerja ku, Niz." Ujar Daren jujur.
"Aku tahu, karena siang tadi saat mau menjemput Fatih, Mbak maya ada di depan sekolah." Ujar Daniza. "Ayo kita temui dia dulu, nanti kita bicarakan lagi." Imbuh nya.
"Aku mencintai mu, Niz. Sangat mencintaimu." Ujar Daren kembali mengeratkan pelukannya di tubuh Daniza.
Daniza hanya tersenyum kecil mendengar kalimat yang kembali berhasil menghangatkan hatinya yang mulai ragu sejak siang ini.
Setelah berpamitan pada Papa dan Mama mertuanya, dan menitipkan putra kecil nya yang sedang terlelap, tanpa memberi tahu apa yang sedang terjadi, keduanya melangkah bersamaan keluar dari rumah mewah itu dan masuk ke dalam mobil yang terparkir di pelataran rumah.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Daren sudah berhenti di depan salah satu rumah sakit yang ada di kota Jakarta. Beruntung hari sudah malam, sehingga jalanan Jakarta yang biasanya ramai pengguna, sudah mulai lenggang.
__ADS_1
Beberapa petugas kepolisian nampak terlihat hadir di sana. Juga ada satu orang dokter yang akan menjalani otopsi pada jenazah, sudah bersiap menunggu kehadiran mereka.
"Ini pak Daren, suami dari pada korban ?" Tanya salah satu petugas kepolisian itu, memastikan.
Daren melirik Daniza sebentar.
"Saya mantan suaminya." Jawab Daren.
Petugas kepolisian itu mengangguk paham. Setelah membawa Daniza dan Daren ke dalam ruangan khusus, petugas tersebut mulai menjelaskan perihal kecelakaan yang melibatkan Maya.
Menurut saksi mata dan melihat rekaman beberapa CCTV yang ada di sekitar kejadian, Mbak Maya buka kecelakaan biasa, tapi memang berniat untuk bunuh diri." Ujar lelaki yang mungkin masih seumuran dengan Daren itu.
Daniza masih melihat rekaman yang sempat terekam CCTV. Mulutnya masih tertutup telapak tangan. Ini sangat jelas terlihat, jika mantan istri dari suaminya ini memang sengaja membunuh dirinya sendiri.
"Astagfirullah, ya Allah." Daniza begitu shock melihat kejadian tragis itu.
Rasa bersalah mulai menyelimutinya. Seputus asa apa wanita ini, hingga begitu berani melakukan hal seperti ini.
Daren meraih tubuh Daniza dan memeluknya erat. Menghalangi agar istrinya itu tidak melihat kejadian mengerikan yang terekam dengan begitu jelas oleh kamera CCTV.
"Bagaimana Pak, apa benar korban adalah mantan istri anda ?" Tanya petugas kepolisian itu. Daren mengangguk yakin.
Seorang petugas kepolisian yang lain, datang dan membawakan barang-barang pribadi milik Maya yang di temukan di dalam mobil.
"Dia bahkan masih menyimpan cincin pernikahan kalian, Mas." Lirih Daniza setelah Daren memastikan jika barang-barang itu adalah milik Maya.
"Sudahlah semua sudah terjadi, Niz. Aku ga tahu apa yang sedang di pikirkan Maya hingga harus melakukan hal seperti ini."
Setelah selesai melakukan banyak hal di rumah sakit, termasuk pengurusan pemakaman jenazah, Daniza dan daren berpamitan untuk pulang. Hari sudah semakin larut, dan mereka sama sekali belum mengabari dua orang paruh baya yang mungkin saat ini masih menunggu kepulangan mereka.
Di dalam mobil yang kembali melaju meninggalkan pelataran rumah sakit, masih namak hening. Dua orang yang ada di dalam mobil mewah yang terus melaju di jalanan Jakarta itu, masih terus larut dalam pikiran masing-masing.
Daniza menatap jalanan dari luar jendela mobil, dengan hati yang terus di liputi rasa bersalah. Berbeda dengan daren, ia berpikir jika apa yang menjadi keputusannya hari ini memang sudah tepat.
"Apa yang harus aku katakan pada Fatih, Mas ?" Lirih Daniza bertanya.
"Kamu ibunya, Niz. Dan sejak dulu, fatih tidak terlalu dekat dengan Maya, jadi jangan terlalu khawatir soal itu. Ini bukan kesalahan kita, Maya sendiri yang memilih jalan ini." jawab Daren.
__ADS_1
Daniza tidak lagi menimpali. Ia kembali diam seribu bahasa, hingga mobil yang membawa mereka sudah terparkir rapi di depan rumah mewah milik mertuanya.