Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 65


__ADS_3

"Ada apa ?" Tanya Farah. Ia berhenti mengunyah makanan yang masih tersisa di dalam mulutnya, lalu menatap wajah sang suami yang sedang menatapnya lekat.


Zidan menggeleng, namun, perhatiannya masih tertuju pada wanita yang kini sudah menatapnya penuh tanya.


"Tidak apa-apa, ayo makan lagi." Ucapnya.


Dahi Farah berkerut karena bingung, namun, ia kembali melanjutkan acara makan malamnya dan tidak lagi bertanya.


"Aku suka menatap kamu jika sedang makan." Ucap Zidan.


Farah tidak lagi menghiraukan kalimat yang membuat dadanya berdebar. Ia berusaha tetap berkonsentrasi dengan makanan yang ada di hadapannya, agar cepat selesai.


"Minum Ra." Ucap Zidan. Ia menyodorkan satu gelas berisi air putih saat melihat Farah sudah selesai dengan makanannya.


"Terimakasih." Ucap Farah, lalu meneguk setengah gelas air putih itu dengan perlahan.


"Ada apa ? kok ngeliatin aku kayak gitu ?" Tanya Farah lagi.


Zidan menggeleng, namun masih mantap wajah Farah.


"Bikin kesal aja." Pukul Farah di kepala Zidan, lalu wanita itu segera beranjak dari kursi makan dan bergegas keluar dari ruangan itu tanpa menghiraukan suara Zidan yang mengeluh kesakitan.


Zidan mengikuti langkah kaki istrinya, kemudian ikut bergabung dengan kedua orang tuanya yang begitu antusias membantu Alfaraz menyusun mainan.


Melihat Farah yang sudah berada di dalam ruangan yang sama, Al segera meninggalkan mainan, lalu menghambur memeluk tubuh Bundanya.


"Unda antuk." Ucapnya.


"Istirahatlah, Ayah dan Ibu juga mau beristirahat." Ucap Anisa.


Farah lebih dulu berpamitan mengantar Alfaraz ke dalam kamar, meninggalkan tiga orang dewasa yang masih sedang membicarakan tentang rencana kepindahan mereka besok hari.


"Turun ya." Pinta Farah pada putranya saat mereka sudah bersiap menaiki tangga.


Bocah laki-laki itu mengangguk patuh, lalu turun dan menaiki satu per satu anak tangga sembari menggenggam jemari Farah.


Sesampainya di dalam kamar, Farah membawa putra ya itu untuk mencuci kaki, lalu mengganti pakaian dengan piyama yang memang selalu tersedia di sana jika Al menginap di rumah Eyang nya.


Alfaraz sudah berbaring di atas ranjang bersama Farah yang sudah memegang satu buah buku cerita. Tangan mungil bocah laki-laki itu sudah mendekap erat tubuh Bundanya.

__ADS_1


Berulang kali Farah mengecup puncak kepala putranya, dan lagi-lagi kata maaf kembali meluncur di bibirnya karena sudah meninggalkan putranya ini selama sebulan lamanya.


Sembari mengusap lembut punggung Al, Farah mulai membaca buku cerita yang ada di tangannya. Dan kalimat-kalimat pertanyaan yang terdengar begitu menggemaskan di telinganya, mulai di jawab Farah satu persatu.


Tidak membutuhkan waktu lama, Al sudah terlelap. Farah meletakkan buku bergambar yang ada di tangannya ke atas nakas, lalu mendekap erat tubuh mungil putranya.


"Maafkan Bunda yang egois ini ya Nak." Ucapnya. Puncak kepala Alfaraz kembali ia kecup berulang kali. Biasanya Al tidak seperti ini, namun, setelah ia pergi selama satu bulan, Putranya ini terus saja menempel padanya seakan tidak ingin di tinggalkan.


Zidan yang tadinya berada di ruang keluarga bersama Ayah dan Ibunya, kini sudah berdiri di ambang pintu kamar yang tidak tertutup. Sejenak ia menatap punggung Farah yang membelakanginya, lalu menutup pintu kamar dengan perlahan kemudian melanjutkan langkah menuju ranjang tempat istri dan putranya berbaring. Dengan hati-hati ia duduk di sisi ranjang di samping Farah.


Farah yang merasa ada pergerakan di belakangnya, perlahan melepaskan dekapannya di tubuh mungil Alfaraz.


"Mas sudah datang ?" Tanyanya.


Ia membalik tubuhnya dengan hati-hati, agar tidak mengganggu tidur lelap putranya, tetapi tangan mungil Al kembali mencengkram piyamanya.


"Iya, aku pikir kamu sudah tidur. Istirahatlah aku akan tidur di kamar Kak Zia." Ucap Zidan.


"Kenapa ?" Tanya Farah. Tubuhnya masih membelakangi Zidan, karena tangan Al yang mencengkram kuat atasan piyama yang ia kenakan.


"Boleh aku tidur di sini ?" Tanya Zidan hati-hati.


"Aku bahagia Mas." Ucap Farah. "Aku bahagia bisa memiliki kamu dan Al dalam hidup." Sambungnya lagi.


Zidan tidak menjawab, ia mengecup berulang kali kepala bagian belakang Farah. Jika bisa di ukur, mungkin kebahagiaan yang ia rasakan saat ini melebihi apa yang di rasakan Farah.


Bisa di bayangkan bagaimana rasanya, jika sesuatu yang kita inginkan, dan terasa begitu sulit tergapai namun kini berada di dalam dekapan. Sungguh, tidak ada yang bisa membuat Zidan semembuncah ini, selain memiliki Farah dalam hidupnya.


Benar kata Nadia, tidak ada yang bisa benar-benar membuat ia bahagia selain Farah, bahkan Nadia sekalipun tidak bisa membuat Zidan bahagia seperti hari ini.


"Kamu tidak sesak, tangan mungil ini ikut mendekap mu ?" Tanya Zidan. Ia mengusap lembut tangan mungil putranya yang mencengkram erat piyama Farah.


"Aku senang kok, ini pertama kalinya kita seperti ini." Jawab Farah.


"Maafkan aku yang tidak bisa tegas. Mulai hari ini, kita akan selalu seperti ini." Ujar Zidan.


Farah mengaminkan kalimat yang baru saja terucap dari bibir Zidan. Ia pun ingin selalu seperti ini, bahkan sejak dulu ia begitu menginginkan keadaan seperti hari ini.


Namun, tidaklah masalah. Mungkin dulu waktunya belum tepat, dan saat ini Allah menyiapkan bahagianya di waktu yang tepat.

__ADS_1


"Ah sepertinya Al tidak ingin membagi Bundanya dengan ku." Ucap Zidan berpura-pura sedih.


Farah terkekeh pelan mendengar rengekan dari laki-laki yang memeluknya dari belakang.


"Jika aku bergerak, dia akan langsung mengeratkan genggamannya. Aku merasa bersalah karena sudah meninggalkan Al, dan membuat anak ini begitu takut aku beranjak walau sedikit." Ujar Farah.


"Bukan kamu, tapi aku yang salah. Aku yang minta maaf karena membuatmu pergi meninggalkan anak kita." Zidan semakin mengeratkan pelukannya. Kecupan berulang kali ia darat kan di kepala istrinya.


Rasanya beribu terimakasih dan maaf, tidak akan cukup untuk mewakilkan segala rasa yang ada di dalam dadanya. Berulang kali ia meminta maaf, begitu pun terimakasih yang ia utarakan, tidak bisa lagi terhitung jumlahnya. Namun, rasa bersalah juga bersyukur karena Farah kembali masih saja bersemayam di hatinya.


"Aku mencintaimu Ra, sangat. Sejak dulu sampai saat ini tidak pernah berubah walau sedikit." Ujar Zidan.


Farah kembali mengaminkan di dalam hatinya, di sertai kata semoga. Semoga tidak hanya dulu dan hari ini, tetapi di masa yang akan datang hingga menua nanti.


***


Menikah, jangan berpikir pernikahan itu hanya akan ada kebahagiaan. Banyak hal yang akan terjadi setelah kita memutuskan untuk menikah. Menyatukan dua orang dengan watak dan perilaku berbeda, bukanlah hal yang mudah, namun, dari sanalah kita belajar bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali sang pencipta.


Sekian tahun berkubang dalam luka, bukan berarti bahagia tidak akan pernah datang menyapa.


Ingatlah, luka tidak selamnya hanyalah tentang berbagi. Bahkan hanya sekedar perbedaan pendapat pun bisa saja membuat kita terluka. Lantas, apakah luka itu akan mampu membuat kita berpisah, ataukah justru di jadikan pelajaran ? Semuanya tergantung dari pribadi masing-masing, dan inilah seorang Farah. Ia memutuskan untuk kembali, dan berharap keadaan yang pernah membuatnya terluka tidak akan pernah lagi ia rasakan.


Semua orang ikut andil dalam luka yang ia rasakan, termasuk dirinya sendiri.


"Dia masih mencintaiku, aku pasti akan bahagia bersamanya nanti, walau saat ini ia sudah bersama wanita lain."


Mungkin kalimat inilah yang membuat Farah bertekad untuk menjadi wanita kedua dalam hidup Zidan, yang tidak ia pikirkan bisa saja cinta yang dulu Zidan miliki untuknya, tidak akan mampu membuat Zidan berlaku adil terhadap keduanya. Karena sejatinya, Zidan pun hanyalah sebatas manusia bisa yang bisa saja salah dalam menentukan langkah.


***


*Note Author


Jadi, yang tidak bisa berlaku adil seperti Zidan, ngga usah ngeyel buat nikah lagi. Terlepas kita memiliki materi yang cukup untuk menghidupi sepuluh wanita sekalipun, tetap saja materi berbeda dengan hati.


Mungkin ada sebagian wanita yang rela karena mempertimbangkan banyak hal. Namun, percayalah tidak semua wanita bisa benar-benar berada di titik paling ikhlas dalam berbagi sesuatu yang di cintai.


Hihi itu pandangan aku sih 😅


Jika ada pandangan lain, boleh deh Kakak2 sekalian berhambur di komentar. Buat ide di Bab berikutnya, dan buat pelajaran kedepannya. 🤭😁😘

__ADS_1


__ADS_2