Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 56


__ADS_3

Dulu saat Nadia menyerahkan hasil pemeriksaan Farah ketika di nyatakan hamil Alfaraz, ia bahkan tidak menunjukan ekspresi bahagia yang begitu membuncah di dalam dada, karena terlalu takut menyakiti hati Nadia. Namun, kini ia tidak lagi bisa menyembunyikan semua itu. Matanya yang berbinar, kini mulai berembun sembari mengucapkan terimakasih di sertai maaf dari lubuk hatinya yang terdalam untuk sang istri yang berjarak beberapa meter dari tempat ia dan Zia berdiri.


"Kakak masuk, ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Kalian hati-hati di jalan." Ucap Zia.


Zidan mendongak, mengalihkan tatapannya dari kertas berukuran kecil yang berada dalam genggamannya,lalu menatap wajah sang Kakak yang sedang tersenyum.


"Aku akan berhati-hati." Jawabnya.


Zia mengangguk, menepuk pelan bahu adiknya, kemudian berlalu dari sana.


"Ra, aku masuk yaa.. Kalian hati-hati di jalan." Pamit Zia dengan suara yang sedikit keras sembari melambaikan tangan pada adik ipar dan keponakannya yang sedang duduk di bangku taman yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Terlihat Farah memegang tangan mungil Alfaraz dan membalas lambaian tangan dari Zia, hingga tubuh kakak iparnya itu hilang di balik pintu kaca rumah sakit.


Setelah kepergian Zia, Zidan memasukkan kertas kecil itu ke dalam kantong kemeja yang ia kenakan, lalu melangkah menuju dua orang yang sudah kembali asik di kursi taman. Entah apa yang sedang di bahas oleh dua orang berharga itu, hingga begitu tega mengabaikan keberadaannya.


"Ayo kita pergi, ngga baik berlama-lama di rumah sakit." Ajak Zidan.


Farah menurunkan tubuh Al dari pangkuan, dan meminta putranya itu untuk berjalan sembari menggenggam jemarinya.


Alfaraz pun menurut, ia begitu antusias mengayunkan langkah kaki kecilnya, meninggalkan taman rumah sakit itu menuju mobil milik sang Ayah.


Zidan masih berdiri di tempatnya, saat Al dan Farah melewati tubuhnya begitu saja. Ada sesuatu mengganggu di hatinya saat Farah mengabaikan keberadaanya. Bukan sedih karena Farah mengabaikan dirinya, namun, ingatannya kembali menerawang jauh saat dulu ia selalu mengabaikan wanita yang semakin melangkah menjauh dari empatnya berdiri.


Kini ia menyadari, Farah pun merasa seperti ini saat ia mengabaikan wanita itu. Dengan langkah cepat, Zidan menyusul dua orang berharga itu. Berjalan di samping Farah, dan membawa jemari wanita itu ke dalam genggamannya.


Farah mengalihkan fokusnya, menatap jemarinya yang sudah berada di dalam genggaman lelaki yang tiba-tiba sudah berjalan di sampingnya.


"Maafkan aku, dan terimakasih." Ucap Zidan. Lelaki itu masih belum mengalihkan tatapannya dari jalan yang ia lewati menuju mobil.

__ADS_1


Farah mengalihkan tatapannya dari jemarinya, lalu menatap wajah tampan Zidan dari samping.


"Kamu akan tersandung nanti." Ucap Zidan lagi. Lelaki itu tersenyum saat merasa sedang di perhatikan oleh istrinya.


Farah diam, ia tidak menanggapi kalimat yang terdengar meledek dari bibir Zidan. Wanita itu kembali fokus melangkah menuju mobil sembari menjawab kalimat-kalimat menggemaskan Alfaraz. Membiarkan jemarinya di genggam erat oleh laki-laki yang masih menguasai seluruh hatinya. Hingga keluarga kecil itu sampai, dan masuk ke dalam mobil.


Mobil yang di kendarai Zidan keluar dari pelataran rumah sakit, dan kembali membaur dengan kenderaan lain di jalanan.


Tidak ada yang memulai percakapan, Farah hanya sibuk meladeni Alfaraz berbicara, sedangkan Zidan hanya menjadi orang yang menyimak pembicaraan dua orang berharga dalam hidupnya itu.


Tidak masalah baginya, Farah ada di sini bersama mereka sudah lebih dari cukup baginya. Ia tidak lagi ingin menuntut lebih, karena sejak duku dirinyalah yang menciptakan keadaan mereka yang seperti ini.


Semoga dan semoga, keadaan ini akan berubah seiring berjalannya waktu. Sikap dingin Farah saat ini, akan berubah.


****


Ingin mencoba mulai menerapkan saran Zia di rumah sakit tadi, sepertinya bukanlah hal yang buruk.


"Ada dua kompleks perumahan yang Ayah tawarkan, nanti kamu pilih yang kamu mau." Jawab Zidan. Ia menatap sejenak wajah samping Farah yang selalu terlihat teduh dengan balutan hijab. Senyum di wajah pucat Zidan masih belum pergi, lalu kembali berkonsentrasi dengan jalanan di depannya.


Farah mengangguk.


"Ra,


Zia menoleh, menatap wajah suaminya yang terlihat berkonsentrasi dengan jalanan. Menunggu apa yang hendak di katakan oleh Zidan. Namun, sudah beberapa detik berlalu, kalimat yang sedang ia tunggu belum juga terdengar dari bibir Zidan.


Ia memilih untuk tidak bertanya, lalu kembali mengalihkan tatapannya menuju mobil-mobil yang saling berdesakan di depan mobil mereka.


Zidan menarik nafasnya, ia merutuki dirinya yang selalu saja kehilangan kata-kata saat bersama Farah. Sikap mereka yang sama-sam irit berbicara, membuat keduanya sulit untuk menjalin komunikasi.

__ADS_1


"Aku ingin hidup tenang Mas. Aku harap setelah ini tidak ada lagi masalah yang akan datang mengganggu. Jika ingin meminta hak mu, datanglah dan bicara. Aku berkewajiban melayani semua kebutuhanmu layaknya seorang istri pada umumnya, namun, aku juga ingin di perlakukan selayaknya istri oleh suamiku. Aku tidak ingin kamu mendatangiku hanya saat meminta hak biologis mu, tapi semuanya."


Farah menghembuskan nafasnya ketika mengutarakan kalimat panjang lebar yang selama ini mengganggu pikirannya.


"Maafkan aku..


"Aku tidak butuh permohonan maaf Mas, yang aku ingin mulai saat ini perlakukan aku selayaknya wanita yang berharga dalam hidupmu, bukan sebatas wanita yang kamu butuhkan di atas ranjang mu." Ujar Farah menyela.


"Aku ingin jadi istri seutuhnya Mas, bukan sebatas penghangat ranjang mu. Menyiapkan semua kebutuhanmu, merawat dan menjaga anak kita dengan baik, dan di perlakukan dengan baik olehmu. Bukan menumpuk uang di dalam rekening ku usai kamu meminta hak mu."


Farah terus mengeluarkan semua sesak yang selama ini menghimpit dadanya. Ia berpikir inilah saatnya untuk mengeluarkan segalanya agar bisa melangkah dengan ringan kedepannya. Terlebih lagi kini mereka terjebak di tengah jalan, dengan mobil yang merangkak seperti siput.


"Aku bahkan tidak pernah menggunakan uang itu Mas." Lirihnya.


Zidan terkejut mendengar itu.


"Kenapa ?" Tanya Zidan sedih. "Bukankah semua itu memanglah kebutuhan yang harus aku penuhi ?" Sambungnya. Kali ini ia sudah menatap wajah istrinya yang tertunduk dalam.


"Ra..


"Aku punya uang Mas, aku kerja. Kak Rehan membayar puluhan juta setiap kali memenangkan kasus. Aku bahkan bisa membeli apartemen dengan uang ku sendiri. Lagi pula selama ini Mbak Nadia selalu memastikan semua kebutuhanku terpenuhi. Yang tidak kalian berikan adalah perhatian yang selayaknya di berikan oleh keluarga. Padahal itulah yang paling aku butuhkan. Kamu tidak pernah benar-benar menjadi suami bagiku, aku merasa hanya seperti seorang wanita bayaran yang akan di bayar usai melakukan kewajiban ku di atas ranjang." Ujar Farah.


Zidan segera mencari tempat yang bisa ia pakai untuk menepikan mobilnya, air mata yang mulai berjatuhan di wajah Farah membuat ia semakin merutuki dirinya yang begitu sangat kejam dengan wanita yang begitu ia cintai ini.


Empat tahun bukanlah waktu yang singkat, dan Farah mampu bertahan dengan kesakitan itu. Berulang kali ia mendatangi kamar Farah tanpa kata, lalu kembali bergegas meninggalkan Farah yang terdiam di atas ranjang usai ia nikmati.


Ingin menjaga satu hati, namun, dengan cara melukai hati yang lain. Begitulah yang ia terapkan selama empat tahun pernikahannya dengan Farah.


"Maafkan aku, tidak, jangan maafkan aku." Ucap Zidan. Suaranya bergetar, kedua tangannya menangkup wajah Farah, lalu mengusap lembut air mata di pipi istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2