
Pagi yang lebih indah dari biasanya, begitulah yang di rasakan Yana saat ini. Berulang kali ia kembali melihat pantulan tubuh di depan cermin yang ada di dalam kamarnya. Melihat jika penampilannya pagi ini sudah benar-benar sempurna. Rok selutut di padukan dengan blouse, terlihat begitu pas di tubuh rampingnya.
"Sudah Nak, nanti kacanya pecah." Ujar Dinda. Wanita paruh baya itu sudah berdiri di pintu yang sedikit terbuka sambil tersenyum. "Anak Ibu sudah cantik kok, ayo kita sarapan nanti kamu telat." Sambungnya lagi.
Yana tersenyum, lalu meraih tas selempang kecil dan kunci mobilnya, kemudian ikut keluar dari dalam kamar menuju dapur untuk sarapan bersama sang Ibu.
Baru saja langkah kakinya memasuki ruang makan, matanya seketika melotot melihat siapa yang kini sedang duduk manis di meja makan.
"Kok masih jam segini sudah ada di sini ?" Tanyanya sambil menarik kursi yang ada di depan Alfaraz.
"Mau jemput kamu." Alfaraz melirik kunci yang baru saja di letakkan Yana di atas meja makan. "Mulai hari ini ga usah bawa mobil sendiri, aku yang akan jemput kamu." Sambungnya.
"Ga enak Al sama karyawan lain." Tolak Yana.
"Ga enak kenapa ? kan emang itu tujuan aku, biar ngga ada lagi yang jodoh-jodohin kamu dengan si Gerald itu."
Yana menatap Alfaraz dengan senyum manis, namun masih belum bisa membuat wajah tampan yang sedang kesal itu kembali membaik.
"Ngga usah terima bunga-bunga yang di kirim si gila itu lagi." Ujar Alfaraz.
Yana hanya diam dan menyimak, sambil mengisi satu piring untuk ia berikan pada Alfaraz.
"Awas aja kalau ketahuan lagi." Omelan Alfaraz masih berlanjut.
"Nih makan nanti kita telat." Yana menyodorkan satu piring yang sudah terisi makanan ke arah calon suaminya.
"Janji yaa ga akan nerima bunga atau apapun dari orang lain."
Yana menoleh pada sang Ibu yang terlihat sedang menahan tawa, lalu kembali menatap Alfaraz yang terlihat serius memintanya berjanji.
"Iya aku janji, lagi pula bukannya selama ini kamu yang terus menerima bunga-bunga itu, dan akhirnya hancur di tong sampah."
Mendengar kalimat Yana, Dinda tidak lagi bisa menahan tawanya yang pecah di ruang makan.
"Nak Al, nanti kalau sudah nikah di kurung aja di dalam kamar, ga usah kasih izin keluar."
"Benar juga saran Ibu." Jawab Alfaraz.
Yana melotot tajam.
"Awas aja kalau ngelakuin itu. Udah ga usah bahas yang aneh-aneh, makan." Ujarnya masih dengan tatapan tajam mengintimidasi.
__ADS_1
Alfaraz tidak lagi bersuara, lelaki tampan itu sudah memulai sarapannya dengan diam. Tatapan tajam Yana membuat nyalinya menciut.
"Nanti kamu sering-sering kemari, biar Ibu ajarin gimana caranya buat kurung dia agar ga kemana-mana."
Dinda masih mengajak Alfaraz untuk berbicara mengenai rencana yang akan mengurung Yana di rumah.
"Bu jangan aneh-aneh.."
"Makan !" Yana menunjuk piring Alfaraz sambil menatap tajam laki-laki yang terlihat ingin menimpali pembicaraan mengenai rencana jahat ibunya.
"Kita buat dia jadi ibu dengan banyak anak." Dinda berbisik di telinga calon menantunya.
"Bu..." Yana memelas agar sang Ibu berhenti membicarakan rencana jahat itu.
Bekerja adalah dunianya, dan jika si laki-laki gila bin posesif ini benar-benar akan mengurungnya di dalam kamar, maka bisa dipastikan, sebentar lagi ia akan menjadi salah satu penghuni rumah sakit jiwa.
"Lah kenapa ? Sudah waktunya kamu untuk fokus dengan keluarga kecil mu. Toh jika menikah dengan Alfaraz, kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun. Ibu yakin Alfaraz akan memberikan apapun yang selama ini kamu berikan pada Ibu. Iya kan Nak Al."
Alfaraz mengangguk, meskipun ia tidak tahu apa yang sedang di bicarakan oleh calon ibu mertuanya ini. Yang pasti, saat ini ia mendapatkan seseorang yang akan mendukung rencananya ke depan.
Yana tidak lagi menimpali dan kembali fokus dengan sarapannya. Ibunya ini jika sudah mendapat orang yang sama pemikirannya, pasti akan semakin berpikiran aneh.
Setelah menyelesaikan sarapan yang penuh dengan drama perdebatan itu, Yana keluar dari ruang makan. Dinda dan Alfaraz mengikutinya dari belakang, sambil membicarakan rencana mereka yang akan mengurung Yana di dalam kamar dan memiliki anak yang banyak.
"Masakan Ibu enak banget." Alfaraz mengacungi dua jempolnya ke arah calon ibu mertuanya sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Besok datang lagi dan sarapan di sini ya.."
"Iya sekalian tempat tidur kamu di bawa aja kesini dan suruh papa kamu untuk mengeluarkan kamu dari kartu keluarganya." Yana mengomel. Ia sudah duduk di dalam mobil Alfaraz, sedangkan si pemilik mobil masih asik membahas hal aneh dengan Ibunya.
"Kamu ngga sabar ya, tercatat di kartu keluarga yang sama dengan ku ?"
Yana hanya memutar bola matanya malas, tanpa ingin menjawab ledekan dari Alfaraz.
"Cepat berangkat, apa perlu aku turun lagi dan pakai mobil ku sendiri ?" Ancam Yana.
"Iya jangan marah-marah, nanti cantiknya hilang."
"Ga lucu.. Eh...
"Ada apa ?" Tanya Alfaraz mengikuti tatapan mata Yana.
__ADS_1
Yana menoleh, ia menatap wajah calon suaminya yang terlihat tegang saat melihat seseorang yang keluar dari dalam mobil tidak jauh dari pekarangan rumah milik ibunya.
"Kita berangkat sekarang." Ujar Alfaraz dingin, lalu segera melajukan mobilnya. Yana masih menatap mobil itu, dan terlihat wanita yang tidak lain adalah mantan istri dari calon suaminya ini kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan lingkungan tempat ia dan ibunya tinggal.
"Al, aku takut mereka akan jahatin ibu." Farah masih melihat spion mobil. Berharap mobil yang mereka tinggalkan tadi akan terlihat di sana. "Al pelan-pelan, aku khawatir dia akan.." Kalimat Yana terhenti, ia bernafas lega saat melihat Alfaraz sudah merogoh ponsel dari dalam saku jas, kemudian segera menghubungi seseorang yang tidak lain adalah Nara.
"Kita bertemu di kafe dekat kantor."
Setelah mengucapkan satu kalimat singkat itu, Alfaraz kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
Yana melirik wajah Alfaraz yang tidak lagi seramah tadi saat mereka di ruang makan. Jika sudah seperti ini, ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.
Alfaraz menghentikan mobilnya di depan sebuah kafe, dan beberapa saat kemudian, mobil yang tadi mereka tinggalkan di depan rumah Yana, ikut berhenti di depan kafe yang sama.
"Aku tunggu di sini, selesaikan masalah kalian." Ucap Yana. Sejujurnya ia merasa sangat tidak enak, beberapa bulan yang lalu ia bertemu dengan Nara, dan mengatakan jika dirinya sangat tidak menyukai laki-laki yang berselingkuh, namun kini dirinyalah yang menjadi wanita Kedua di antara Alfaraz dan Nara.
"Jangan buat aku marah di sini. Ayo turun." Tegas Alfaraz.
"Al...
"Ikut atau tidak sama sekali. Aku mau bertemu dengan Nara karena kamu yang memintanya, jadi jika kamu tidak ikut turun, maka aku pun tidak akan mau bertemu dengannya." Ujar Alfaraz.
Yana menghembuskan nafas, lalu membuka pintu mobil yang ada di sampingnya.
Terlihat wanita cantik dengan dress mahal itu sudah melangkah mendekati Yana.
"Jadi kamu yaa, dasar pembohong." Ujar Nara sinis saat sudah berada di hadapan Yana.
Yana diam saja, ia tidak berniat menjawab tuduhan yang langsung di tuduhkan Nara padan nya.
"Kita bicara di dalam." Perintah Alfaraz, lalu meraih tangan Yana dan menggenggamnya.
Yana menatap tangan yang kini menggenggam tangannya, lalu beralih pada wajah yang terlihat dingin dan tidak bersahabat.
***
*Note Author
Sudah empat kali aku kasih makan, dan ini ga gratis yaa.. bayarnya pakai like dan komentar yang banyak 😅😅
Ini yang terakhir, oke ini yang terakhir ! Begitulah batin aku meronta. Apalah daya, aku terlalu cinta dengan emak-emak, kakak-kakak dan adek-adek yang sudah bersedia menyumbangkan semua hadiah, vote dan koin di novel receh ini.
__ADS_1
Terimakasih banyak, love banyak-banyak buat kalian semua. 🥰🥰🥰🥰🥰❤️❤️❤️❤️❤️❤️