
Langkah kaki Farah mulai menapaki jalan setapak menuju makam tiga orang yang paling berharga dalam hidupnya. Ia menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menguar dari tiga buket bunga mawar yang sudah berada dalam dekapannya.
"Assalamualaikum Ayah, Ibu, Mas." Ucapnya saat sudah berdiri di dekat tiga buah makam. Ia meletakkan satu persatu buket bunga di setiap makam.
"Mulai hari ini, aku akan selalu datang mengunjungi kalian." Ucap Farah. "Maaf selama lima tahun ini tidak pernah datang." Sambungnya lirih.
Farah memilih duduk di samping makam Andra, dan menceritakan semua yang terjadi padanya selama lima tahun ini.
Tidak ada yang bisa di benarkan. Mau itu Zidan, Nadia ataupun dirinya memiliki andil dalam ketidak harmonisan rumah tangga mereka selama empat tahun ini.
Ketiganya hanya mementingkan keinginan masing-masing, tanpa perduli dengan keinginan orang lain. Zidan hanya memikirkan bagaimana caranya agar tidak merasa bersalah terhadap Nadia, dan tidak memikirkan jika dia justru melukai Farah.
Nadia pun begitu, dia hanya ingin Farah tetap bertahan dalam rumah tangganya, padahal dia tahu jika Zidan memperlakukan Farah tidak adil.
Sedangkan Farah, tetap bertahan selama sekian tahun dalam kubangan luka, dan membiarkan dirinya tersakiti sendirian.
"Maafkan adikmu yang selalu bodoh ini." Ujar Farah sembari terkekeh pelan.
Ia masih bercerita di samping makam Andra. Menceritakan banyak hal termasuk putra ya yang sudah dua hari ini tidak ia lihat wajahnya.
"Aku merindukannya Mas, namun, aku takut Al akan lebih rindu Papanya sama seperti aku dulu yang selalu merindukan Ayah, padahal Ibu bersama ku." Ujarnya lagi.
Cukup lama Farah menghabiskan waktu di pemakaman umum itu. Membersihkan dedaunan kering yang terbawa angin. Rumput-rumput liar yang terlihat tumbuh di pinggiran makam pun ia bersihkan.
"Jangan khawatirkan aku, dan tenanglah di sana. Besok aku pasti akan datang mengunjungi kalian kembali." Ucap Farah sembari tersenyum manis. Yah, kali ini ia benar-benar merasa lega. Bisa mencurahkan segala gundah, ternyata bisa membuat keadaan sedikit lebih baik.
Tubuh mungil yang terbalut terusan panjang itu, mulai menjauh dari tiga makam itu. Matahari tepat berada di ketinggian. Teriknya mentari membuat beberapa buliran bening mulai bermunculan di dahinya.
__ADS_1
Tidak jauh dari tempat Farah berjalan, sepasang suami istri juga seorang gadis kecil sedang melangkah menuju ke arahnya. Farah tersenyum saat mendapati tiga orang yang kini semakin melangkah mendekatinya.
"Bunda." Panggil Liana.
Farah merentangkan tangannya, meminta agar gadis kecilnya itu berpindah ke dalam dekapannya. Dan seperti yang ia harapan, gadis kecil yang berada dalam dekapan sang Ayah itu begitu antusias meraih tangan Farah dan memeluk tubuh Ibu keduanya itu dengan begitu erat.
"Aku ke sana sebentar." Pamit Diana pada sang suami.
"Aku ikut." Ucap Rehan, lalu membawa tangan istrinya ke dalam genggaman.
"Kamu cemburu ?" Tanya Diana.
Rehan mendengus mendengar tuduhan dari istrinya, sedangkan Farah hanya tertawa melihat tingkah dua orang dewasa yang sudah mulai melangkah menuju makam yang baru saja ia tinggalkan beberapa langkah.
Farah menurunkan tubuh Liana, lalu membawa tangan mungil gadis kecilnya untuk ia genggam. Sepasang suami istri yang masih saling meledek itu sudah bersimpuh di depan makam Andra.
Terlihat Diana mengusap lembut nisan Andra, sedangkan Rehan masih terus menggenggam jemari istrinya dengan begitu erat.
"Aku bahagia kok, terimakasih Andra karena kamu sudah mengirimkan sahabat sebaik Rehan." Ucap Diana
"Aku juga akan bahagia kok, hanya belum waktunya saja." Ucap Farah. Wanita itu berdiri di belakang sepasang suami istri yang sedang mengadukan sifat kekanakannya.
Setelah beberapa saat bercengkrama di samping makam, ke empat orang itu kembali melangkah keluar dari area pemakaman, menuju mobil milik Rehan.
"Kakak berkendara dari Jakarta ?" Tanya Farah saat mobil Rehan mulai bergerak keluar dari area pemakaman.
"Kami memang berencana datang berziarah, dan mengajak kamu juga. Eh pas sampe rumah, kata Zidan kamu lagi ngambek, dan kabur dari rumah." Ujar Diana terkekeh.
__ADS_1
"Ra, Ayah, Ibu dan Mas Andra pasti akan sangat sedih jika kamu sendirian di rumah itu." Ucap Diana.
Wanita yang sudah memiliki satu orang anak itu, membalik tubuhnya. Menatap wanita yang selalu menjadi prioritas mendiang kekasihnya dulu, dengan begitu lekat.
"Pulanglah Ra, kalian perlu bicara." Sambung Diana membujuk.
Farah menggeleng
"Aku pasti pulang dan membicarakan semuanya, namun, untuk saat ini aku ingin menyembuhkan semuanya terlebih dahulu, agar bisa mengambil keputusan yang bijak nanti." Jawab Farah.
Rehan menggenggam tangan istrinya, kemudian menggeleng. Mencegah Diana yang ingin kembali mengutarakan sesuatu pada Farah.
"Farah butuh waktu untuk menyembuhkan semuanya sayang. Ia perlu di beri waktu untuk memikirkan semuanya, agar tidak salah mengambil keputusan." Ucap Rehan memberi pengertian.
Diana menurut, sejujurnya ia begitu khawatir saat mengetahui Farah kembali pulang dan tinggal sendirian di Jogja. Dan meskipun keputusan Farah tidak bisa di benarkan, namun, tidak sepenuhnya juga salah. Karena Farah memang membutuhkan waktu sendiri.
"Kakak harap, apapun itu yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan mu. Kamu sebagai wanita memang perlu menangkan diri atas apa yang telah terjadi, namun, jangan abaikan posisimu sebagai seorang Ibu. Alfaraz membutuhkan kamu Ra." Ucap Diana.
"Apa aku Ibu yang jahat Kak ?" Tanya Farah. Ia menoleh, menatap jalanan Jogjakarta yang mereka lewati dari jendela mobil.
Tidak sepadat Jakarta, Namun, sore ini lumayan. Banyak orang-orang yang mungkin saja baru kembali dari tempat kerja, saling memacu kenderaan mereka di jalanan yang sama.
"Tidak, kamu tidak jahat. Kamu memang membutuhkan waktu untuk menyembuhkan semua luka. Jangan terlalu memikirkan Al, putramu baik-baik saja. Dia anak yang penuh pengertian." Ucap Rehan.
Farah menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Sejujurnya ada rindu yang begitu menyiksa, saat wajah menggemaskan Alfaraz melintas di benaknya. Namun, ia tidak akan bisa membuat putranya itu bahagia, jika ia sendiri berada dalam kubangan luka yang entah kapan sembuh.
Jika ingin membahagiakan orang lain, maka buatlah dirimu sendiri bahagia terlebih dahulu.
__ADS_1
Berpura-pura bahagia, itu hanya akan semakin menyiksa. Jadi, akan lebih baik mengambil waktu sendiri. Melepaskan diri dari semua masalah yang sedang menimpa. Memikirkan matang-matang apa langkah yang perlu di ambil setelahnya.
Berumah tangga tidak cukup hanya dengan rasa cinta yang menggebu. Buktinya saat ini, cinta yang kata Zidan masih begitu besar untuk Farah tidak mampu mencegah sesuatu yang mengecewakan terjadi. Cinta yang selalu Zidan utarakan, tidak mampu menjaga Farah dari luka.