Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 243 Season 4


__ADS_3

Daniza menggenggam tangan mungil Al Fatih, lalu keduanya melangkah bersamaan masuk ke dalam lift yang tersedia di basemen apartemen tempat ia tinggal selama hampir satu tahun ini.


Setelah kotak besi yang membawa dua orang yang terus bergandengan tangan sudah berada di lantai di mana apartemen berada, dua orang yang terlihat seperti ibu dan anak itu kembali melangkah bersama keluar dari dalam lift.


"Bentar.." Ujar Daniza sambil melepaskan genggamannya di jemari mungil Fatih. Bocah laki-laki yang sudah memasuki sekolah dasar itu mengangguk patuh, dan membiarkan Daniza menekan beberapa digit angka di pintu apartemen.


"Abang.." Daniza terkejut saat mendapati kakak sulungnya sudah berbaring di atas sofa yang ada di ruang tamu apartemen miliknya.


"Kamu mau Singapura ?" Tanya Azam setelah tubuhnya sudah bangkit dan duduk di atas sofa tempat ia berbaring tadi. Tubuhnya cukup lelah hari ini, namun, saat mendengar rencana kepergian Daniza menuju negara dimana Ibu dari Papi mereka berada, rasa lelah itu tidak bisa menjadi penghalangnya untuk seger memastikan hal ini kepada adiknya.


Daniza masih belum melanjutkan langkahnya masuk lebih dalam lagi. Ia masih berdiri di ambang pintu apartemen yang baru beberapa menit uang lalu ia buka.


"Niz, jangan ambil keputusan seorang diri seperti ini. Seharusnya kamu membicarakan dengan Abang juga." Ujar Azam lagi.


Daniza masih belum menimpali. Otaknya terus ia ajak, agar bisa merangkai kata yang tepat untuk di utarakan kepada Azam. Dengan perlahan, Daniza menutup pintu apartemen itu lalu mendekati Azam yang masih terus menatapnya sendu dari atas sofa.


"Aunty aku ngantuk." Rengek Fatih.


Daniza yang masih saja menutup mulutnya rapat-rapat akhirnya membuka suara. Ia melirik bocah laki-laki yang memang suah terlihat sayu, lalu kembali menatap Abangnya yang terlihat begitu lelah.


"Abang pulang dan istirahat aja dulu, besok aku jelasin semuanya." Ujar Daniza.


"Abang mau dengar penjelasan mu hari ini." Jawab Azam.


Daniza terdiam. Ia sangat mengenal watak Azam, dan jika laki-laki yang begitu mirip dengan sang Papi ini, menginginkan hari ini, maka kata besok yang akan keluar dari bibir siapa pun tidak akan berguna.


"Ya udah aku bantu Al istirahat dulu." Izinnya.


Azam mengangguk, lalu kembali merebahkan diri di atas sofa yang ia duduki dan membiarkan Daniza kembali melanjutkan langkah menuju kamar tidur.


"Paman Azam sakit ya Aunty ?" Tanya Fatih saat jarak keduanya sudah masuk ke dalam kamar Daniza.

__ADS_1


Daniza mengangguk.


"Fatih bobo sendiri ga apa-apa kan ? Aunty mau bantuin paman Azam minum Obat." Ucap Daniza.


"Tentu Aunty." Jawab bocah laki-laki itu.


Daniza tersenyum, lalu mengusap kepala keponakannya itu dengan sayang.


"Ayo Aunty bantu sikat gigi dan ganti baju." Ajaknya.


Fatih mengangguk antusias. Keduanya lantas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh kecil Fatih.


Setelah semuanya siap, Daniza mengajak Fatih untuk tidur di ranjangnya. Sebelum keluar dari dalam kamar mewahnya itu, Daniza lebih dulu membacakan sepenggal cerita sebagai pengantar tidur untuk Al Fatih. Saat Daniza berpamitan untuk keluar dari dalam kamar itu sebelum keponakannya Fatih benar-benar terlelap, bocah laki-laki itu tidak keberatan.


****


Daniza melangkah menuju sofa di mana Abang kesayangannya berada. Ia melihat laki-laki yang selalu memastikan kebahagiannya itu sudah terlelap di atas sofa kecil miliknya. Rasa tidak enak di dalam dada mulai menganggu. Ia merasa bersalah karena sudah merencanakan sesuatu hal yang besar tanpa berkomunikasi terlebih dahulu dengan Azam. Padahal ia tahu jika laki-laki yang kini terlelap di atas sofa pasti akan sangat mengkhawatirkan apapun jika itu menyangkut dirinya.


Mungkin karena suara wajan dan spatula yang saling beradu di atas kompor, membuat laki-laki yang sedang terlelap di atas sofa beberapa saat yang lalu, kini sudah berdiri di pintu pembatas ruangan sambil melihat adiknya yang begitu telaten menggunakan spatula.


"Abang akan lebih bahagia jika kamu hanya menjadi istri dan Ibu yang baik di rumah." Ujar Azam sambil melangkah mendekati meja makan lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Daniza menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu tersenyum pada laki-laki tampan yang sedang menatapnya hangat dari kursi makan yang ada di dapur kecilnya.


"Aku buatin Abang makan malam." Ucapnya masih dengan senyum manis yang semakin menambah kadar kecantikannya.


"Nasi goreng di tambah senyum manis mu belum mampu mengobati kesedihan Abang saat mendengar kamu akan pergi jauh." Jawab Azam.


Senyum di wajah Daniza seketika menghilang.


"Singapura tidak jauh Bang. Di sana ada Aunty Ev dan Om Ferri. Lagi pula Abang kan bisa kapan saja datang ke sana." Ucap Daniza.

__ADS_1


Azam tidak menimpali. Ia hanya menatap sedih gadis yang kembali memunggunginya itu.


"Abang makan malam dulu, nanti kita bicarakan lagi." Ucap Daniza sambil membawa sepiring nasi goreng yang baru saja ia tuang dari dalam wajan menuju meja makan.


Azam pun patuh, lelaki yang memang belum sempat makan malam setelah pekerjaannya yang menguras banyak waktu dan tenaga hari ini, muai memakan makanan yang di masak oleh adik kesayangannya itu dengan hati-hati.


"Kalau kamu pergi, Abang ga akan bisa makan nasi goreng seenak ini." Ujar Azam.


Daniza terkekeh.


"Ga usah gombal sama adik sendiri Bang, gombalin tuh salah satu karyawan Abang biar nanti ada yang buatin Abang nasi goreng kalau aku ga di sini lagi." Jawab nya masih sambil tertawa geli. Terlebih melihat wajah cemberut abang nya.


"Jahat banget sih. Kamu ga mau masakin makan malam buat Abang kamu ini yaa." Tuduh Azam masih dengan wajah cemberutnya.


Daniza kembali tertawa geli.


"Kalau Abang minta di buatin makan malam sama aku, terus kapan aku masak buat suami Bang." Ujar Daniza masih dengan tawa geli.


Azam tidak lagi menimpali. Laki-laki yang masih saja terlihat tampan dengan wajah cemberutnya itu kembali melanjutkan acara makan malamnya.


Daniza pun tidak lagi berbicara, ia hanya duduk dengan diam sambil memperhatikan Azam yang begitu lahap menikmati makan malam yang di masak olehnya.


"Maafkan aku Bang." Ucap Daniza sambil mengulurkan segelas air putih, saat melihat Azam sudah menyelesaikan makan malam nya.


*****


*Note Author


Hai-hai, maaf kan aku yaa guys..


Maaf karena membuat kalian semua kecewa dengan tulisan receh aku ini.

__ADS_1


Oh iya, yang benar itu Daniza umur 24 menjelang 25 tahun, kalau Alf Fatih berumur tujuh tahun menjelang delapan tahun 🙏🙏🙏


__ADS_2