
Daniza masih berdiri di basemen apartemen, sambil menatap kepergian mobil kesayangannya dengan perasaan yang campur aduk. Daren, lelaki yang ia cintai sejak lama, memang memiliki kelebihan dalam mencairkan suasana yang mulai terasa canggung.
Beberapa saat kemudian, Daniza kembali masuk ke alam lift dan naik menuju lantai di mana unit apartemennya berada.
"Mas jangan menelpon saat sedang mengemudi, bahaya !" Ujar Daniza setelah mengusap ikon berwarna hijau di layar ponselnya.
"Aku berhenti di sisi jalan di depan apartemen kamu." Suara Daren terdengar di ujung ponsel Daniza.
Daniza terdiam. Gadis itu melangkah keluar dari dalam lift, lalu bergegas masuk ke dalam apartemen.
"Kamu sudah sampai di apartemen ?" Tanya Daren ketika bunyi memasukan passcode di pintu apartemen terdengar.
Daniza mengangguk, meskipun anggukan kepalanya itu tidak bisa di lihat oleh Daren. Ia lantas kembali menutup pintu apartemennya dan melangkah menuju kamar tidur di mana Fatih berada. Ia membawa tubuhnya dan duduk di kursi yang ada di depan meja rias.
"Kamu sudah di kamar ?" Tanya daren lagi.
"Iya." Jawab Daniza singkat.
"Ingat Niz, jangan peluk-peluk Fatih. Nanti kesempatan aku makin tipis buat ngedapatin kamu
"Mas.." Sela Daniza cepat.
"Hm, ada apa ?" Tanya Daren.
"Pulang dan beristirahat, atau tidak aku turun sekarang dan mengambil mobilku biar Mas jalan kaki ke rumah." Ancam Daniza sontak membuat Daren tertawa keras.
"Aku serius Niz. Ini bukan tentang Azam yang tidak menyetujui keputusan mu untuk pergi dari Jakarta. Tapi karena memang aku sendiri ingin menghalalkan rasa yang ada di dalam hati ku ini." Ujar Daren.
"Mas.." Ucap Daniza ragu-ragu sambil menatap bocah laki-laki yang sedang terlelap di atas ranjang king size miliknya.
Daniza terdiam sebentar usai mendengar deheman di ujung ponselnya.
"Mas benar-benar mencintai ku ?" Tanyanya ingin ingin memastikan.
__ADS_1
"Apa perlu aku buktikan dengan pernikahan ?" Tanya Daren.
"Mas aku serius." Kesal Niza.
Daren hanya tertawa mendengar kekesalan Daniza.
"Aku pulang. Selamat tidur calon istri." Ujarnya lagi.
"Mas.." Ucap Daniza frustasi.
"Aku ga butuh persetujuan mu sekarang, karena aku tahu jawaban apa yang ada di dalam hati mu saat ini. Kita akan menikah dua minggu lagi."
"Mas.." Daniza kembali berteriak frustasi hingga membuat bocah yang sedang terlelap di atas ranjangnya menggeliat pelan.
"Fatih terjaga dari lelapnya yaa ? Makanya kamu jangan teriak-teriak. Belum jadi istri aja kamu udah teriak-teriak kayak gitu, gimana kalau sudah jadi istri." Ujar Daren sambil tertawa geli.
"Aku ga mau bercanda ya Mas."
Daren hanya tertawa mendengar kalimat singkat yang baru saja terdengar di ujung ponsel yang masih menempel di telinga dan pipinya.
"Hati-hati Mas. Assalamualaikum." Ucap Daniza pelan.
Setelah mendengar jawaban salam di ujung ponselnya, Daniza segera mengakhiri panggilan itu lalu beranjak dari kursi yang ia duduki, lalu melangkah menuju balkon kamar apartemen. Tatapannya tertuju pada sisi jalan di mana mobilnya sedang terparkir. Spontan tangannya terangkat, dan menyentuh dada yang masih terus berdebar karena kejadian hari ini.
***
Di dalam mobil yang berada di sisi jalan, Daren masih menatap layar ponselnya. Senyum hangat seketika terlihat di sudut bibirnya, terlebih saat tatapannya menangkap gadis yang sedang memperhatikan mobilnya dari ketinggian sana.
Ingatannya kembali berkelana dan mengingat kegiatan rutinnya selama satu tahun terakhir ini.. Ia selalu menyempatkan diri mengikuti Niza, dan berdiam diri di sisi jalan ini sambil memperhatikan balkon kamar apartemen yang saat ini di gunakan Daniza. Setelah kamar apartemen itu gelap, barulah ia akan kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah menemui putranya.
Al Fatih dan Daniza sama berharga dalam hidunya. daren sangat mencintai Al fatih, walaupun ia tahu bocah laki-laki yang di lahirkan Maya beberapa tahun silam itu bukanlah darah dagingnya.
Dan malam ini kegiatannya kembali terulang. Mobil milik Daniza yang ia kendarai malam ini masih belum berlalu dari sana. Daren masih terus memperhatikan gadis yang sedang berdiri di balkon kamar.
__ADS_1
"Pulanglah Mas." Daren tersenyum setelah mengusap layar ponselnya. Gadis yang baru saja mengakhiri panggilan beberapa saat yang lalu, kembali menghubunginya.
"Aku malas pulang Niz. Dua orang yang aku cintai sedang berada di sini, jadi aku masih ingin menghabiskan banyak waktu di sini." Jawabnya sambil melihat gadis yang belum juga beranjak dari balkon apartemen.
Tidak ada yang bersuara, hanya hembusan nafas keduanya yang terdengar di ponsel masing-masing.
"Mas,
"Hm.."
"Apa benar, Mas ga pernah menyentuh Mbak Maya ?" Tanya Daniza.
Daren tertawa mendengar pertanyaan polos itu.
"Aku pernah mencobanya, tapi Maya menolak. Aku ingin menjadi suami yang bertanggung jawab, tidak hanya nafkah lahir tetapi batin nya juga. Namun, Maya tahu aku akan melakukannya hanya karena semata-mata ingin menunaikan kewajiban ku, dan bukan karena mencintainya. Kamu seorang wanita Niz, aku yakin kamu tahu apa yang akan kamu lakukan jika menikah dengan laki-laki yang tidak kamu cintai. Itu alasannya kamu selalu menolak Ayiman, kan ?" Tebak Daren.
Tidak ada jawaban di ujung sana, membuat daren kembali melanjutkan pembicaraan yang memang belum selesai.
"Isi hati yang tersimpan selama belasan tahun, tidak akan habis di ungkapkan hanya dengan waktu satu malam. Tapi aku ingin berterimakasih karena kamu sudah memiliki perasaan yang sama, dan menjaganya sampai hari ini Niz. Maaf aku terlalu pengecut untuk mengutarakannya. Maaf karena aku terlalu takut kamu terluka dengan kata-kata orang lain di luar sana."
Hembusan nafas semakin terdengar jelas diujung ponsel Daren. Lelaki itu menutup matanya, menikmati suara hembusan nafas yang begitu menenangkan di ujung ponselnya. Ini pertama kalinya ia bisa menikmati debaran jantung dengan hati yang lega karena berhasil mengungkapkan isi hatinya.
"Mas tahu kalau aku..
"Iya. Azam mengatakannya padaku. Sejak dulu kami selalu bertukar pendapat tentang perasaan kita ini. Aku selalu jujur tentang apapun padanya, begitupun dengan Azam. Kamu tahukan sejak dulu hanya Azam yang berteman dengan ku." Sela Daren cepat.
"Mbak Maya ?" Tanya Daniza.
"Dia tahu aku mencintaimu, tapi tidak dengan mu. Karena aku tidak pernah membahas tentang kamu padanya. Aku tidak ingin semakin mendzaliminya." Jawab Daren. "Masuk dan istirahatlah. Aku juga mau pulang, besok pagi sekali aku harus kembali ke lampung." Sambungnya.
"Aku tutup.." Dua kata singkat terdengar di ujung sana.
"Aku mencintaimu Niz." Ujar Daren sebelum panggilan mereka berakhir.
__ADS_1
Kali ini benar-benar berakhir, karena setelah itu Daniza langsung melangkah masuk ke dalam kamar, dan beberapa saat kemudian kamarnya berubah gelap.