
Alfaraz melajukan mobilnya menuju toko bunga milik ibu Yana. Terlalu banyak pekerjaan, ia melupakan ada wanita yang seharusnya ia perhatikan di dalam perusahaanya.
Jalanan masih saja sama padatnya. Namun, seakan sudah terbiasa dengan keadaan. Cepat atau lambat pasti akan sampai juga di tempat tujuan, dan benar saja bangunan yang di penuhi banyak bunga itu sudah nampak terlihat.
Alfaraz memarkirkan mobilnya di dalam pelataran toko, lalu bergegas masuk ke dalam. Terlihat wanita paruh baya yang tidak lain adalah sang pemilik toko, sedang fokus membuat buket bunga.
"Assalamualaikum Bu." Ucapnya.
"Eh Nak Al. Mau beli bunga lagi ?" Tanya Dina.
Alfaraz mengangguk, lalu melangkah mendekati wanita paruh baya itu dan menyalami punggung tangannya.
"Zyana tidak berada di rumah ya Bu ?" Tanya Al hati-hati sembari menyusuri toko bunga itu dengan pandangannya mencari sosok wanita yang tidak bisa ia temui saat jam pulang kerja tadi.
"Mungkin masih ada pekerjaan tambahan di kantornya." Jawab Ibu Dinda.
Al kembali mencoba mengingat dengan jelas, namun tetap saja ia tidak salah. Mobil Yana tidak lagi berada di tempat parkir saat dia pulang malam ini. Lagi pula dirinya baru bisa keluar dari ruang kerjanya, beberapa jam setelah jam pulang kerja.
"Duduk Nak." Ajak Ibu Dina lagi.
Alfaraz mengangguk, lalu duduk di atas sofa di samping Ibu Dinda. Ia lantas mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku jasnya dan mencoba menghubungi nomor Yana.
"Tidak aktif." Gumam nya.
Ia kembali mencoba menghubungi nomor itu, namun, masih saja sama. Hanya suara operator yang terdengar begitu jelas dari benda pipih miliknya.
"Kamu di mana sih. ?" Kesal Al.
Ah dia benar-benar sudah mau gila karena posesif pada wanita yang tidak seharusnya. Entahlah, melihat wajah kesal Yana setelah keluar dari ruangannya pagi tadi sedikit mengganggunya.
"Apa terjadi sesuatu Nak ?" Tanya Dinda.
"Yana tidak memberi kabar pada Ibu kalau hari ini dia lembur atau kemana ?" Tanya Alfaraz.
"Kalau masalah pekerjaan, Yana memang sering lupa memberi kabar. Tidak apa-apa, dia pasti akan pulang. Anak itu memang sangat gila kerja sejak masih kuliah dan bergabung di perusahaan itu." Ucap Ibu Dinda mencoba menenangkan lelaki yang terlihat khawatir di sampingnya.
Alfaraz hanya bisa mengangguk mengerti, meskipun perasan khawatir masih saja mengganggu nya.
***
Di sebuah restoran mewah, Zyana baru saja menikmati makan malam bersama rekan-rekan satu divisi. Kini ia duduk dengan diam di sebuah meja yang tidak jauh dari rekan-rekannya yang lain. Entah apa gerangan hingga membuat lelaki yang sudah cukup lama mengenalnya ini meminta waktu untuk berbicara berdua saja.
"Zyana." Panggil Gerald.
__ADS_1
Yana menoleh, ia menatap heran pada laki-laki yang kini memanggilnya tanpa embel-embel Ibu seperti biasanya.
"Maaf jika malam ini aku terlihat lancang. Namun, sepertinya setelah malam ini aku tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengutarakan semuanya." Ujar Gerald.
Yana masih diam, namun, perasaan tidak nyaman mulai menyelimutinya. Pasalnya ini pertama kali ia melihat wajah serius di wajah tampan rekan kerjanya ini.
"Aku menyukai mu sejak dulu. Saat kita masih sama-sama menjadi mahasiswa magang di perusahaan Pak Zidan." Ujar Gerald.
"Kamu adalah alasan aku mengapa melanjutkan karir di perusahaan orang lain, padahal aku memiliki perusahaan keluarga." Sambungnya sambil menatap Yana yang masih terlihat tenang di depannya.
"Aku tahu kamu baru saja bercerai dengan suami mu, untuk itu, malam ini aku memberanikan diri mengakui perasaanku yang terpendam sekian tahun lamanya padamu." Ujarnya lagi.
"Apa mereka tahu tentang rencana mu hari ini ?" Tanya Yana. Ia menoleh pada satu meja tempat rekan-rekannya berada.
"Aku meminta bantuan mereka." Jawab Gerald.
"Apa mereka juga tahu tentang masalah ku ?" Tanya Yana lagi.
Gerald menggeleng.
"Aku hanya mengatakan bahwa ada sesuatu yang penting. Itu saja." Jawabnya.
Yana mengangguk mengerti.
"Maafkan atas kelancanganku hari ini."
"Bukan masalah Gerald. Semua orang berhak mengutarakan apa yang ia rasakan. Dan begitupun sebaliknya, aku harap kamu juga mengerti apa yang sedang aku inginkan saat ini." Ujar Yana. "Maaf aku tidak bisa menerimanya." Tegas Yana.
"Walau hanya sekedar memberi kesempatan ?"
"Aku tidak suka memberi harapan pada seseorang, sementara aku tahu aku tidak bisa mewujudkan harapan itu." Jawab Yana.
"Apakah sudah ada orang lain yang mendahuluiku ?" Tanya Gerald lagi.
"Jika jawaban itu bisa membantu mu melupakan hari ini, maka anggap saja seperti itu." Ujar Yana.
Gerald menarik nafasnya yang terasa begitu berat, lalu wajah tampan blasteran itu tersenyum hangat pada wanita yang terlihat begitu tenang di hadapannya.
"Aku lega bisa mengutarakan semuanya hari ini. Dan ini hari terakhir aku akan menghabiskan waktu bersama kalian." Ujarnya lalu ikut menatap rekan-rekannya yang lain.
Yana masih diam, dia tidak ingin bertanya akan tetapi ia masih menunggu apa yang akan di utarakan oleh laki-laki ini selanjutnya.
"Aku tidak lagi bekerja bersama kalian mulai besok." Ucap Gerald. "Karir ku di perusahaan milik Pak Zidan sudah berhenti, dan akan mulai mengelola perusahaan keluarga. Yana aku masih akan selalu sama seperti ini. Jika nanti ada sedikit harapan untukku, jangan sungkan untuk mengatakannya." Sambungnya lagi.
__ADS_1
"Terimakasih untuk perasaan tulus itu. Akan tetapi aku tetap mendoa'akan ada wanita yang jauh lebih baik yang akan datang padamu nanti." Ujar Yana.
Gerald mengangguk, lantas mengulurkan tangannya ke hadapan Yana.
Yana terdiam sebentar, lalu ia tersenyum dan meraih tangan itu.
"Terimakasih sudah jadi rekan kerja yang baik Gerald." Ucap Yana.
"Terimakasih juga sudah menjadi atasan yang paling sempurna untuk kami semua."
Gerald membalas jabatan tangan dari Yana sambil tersenyum hangat. Lega, yah ia merasa lega karena sudah berhasil mengutarakan semua yang mengganggunya selama ini.
Setalah makan malam, mereka melangkah keluar dari mall tempat mereka menghabiskan hari terakhir bersama Gerald.
"Hati-hati Bu." Ucap Vivi.
Mereka mengantar Yana menuju mobil, karena atasan mereka ini tidak bisa melanjutkan acara selanjutnya.
Ponselnya sudah kehabisan daya, dan ia tidak ingin membuat sang Ibu menunggu. Untuk itu Yana berpamitan untuk pulang lebih dulu, dan membiarkan rekan-rekannya yang lain menghabiskan waktu terakhir kali bersama Gerald.
***
Mobil Yana memasuki pelataran toko bunga ibunya. Dadanya berdebar saat melihat ada mobil Alfaraz sedang terparkir di pelataran. Ia gegas melangkah masuk kedalam toko, dan benar saja, lelaki yang mulai mengisi otaknya kini sedang membantu sang Ibu sembari berbicara entah.
"Assalamualaikum Bu." Ucap Yana sembari melangkah menuju dua orang yang kini sudah menatapnya.
"Kenapa baru pulang jam segini Nak ?" Tanya Dinda khawatir. Sejak tadi ia menunggu Yana pulang, pasalnya lelaki yang menjabat sebagai atasan putrinya ini sudah berada di toko bunganya sejak beberapa jam yang lalu.
"Tadi di ajak teman-teman pergi nonton dan makan malam sebentar Bu." Jawab Yana. Ia menoleh sejenak pada lelaki yang sudah beranjak dari atas sofa.
"Saya pamit pulang Bu, terimakasih bunganya." Pamit Alfaraz.
"Oh iya, terimakasih sudah berkunjung Nak Al." Ujar Ibu Dinda.
Alfaraz mengangguk lalu menyalami tangan Ibu Dinda.
"Aku pulang." Ucap Alfaraz lagi sambil menatap wajah Yana sejenak.
Yana mengangguk.
Alfaraz kembali melanjutkan langkahnya keluar dari toko itu menuju mobilnya.
***
__ADS_1