Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 183 Season 3


__ADS_3

Setelah memberitahu passcode apartemennya pada Abizar, Nira kembali meletakkan ponsel pintarnya di atas nakas samping tempat tidur, lalu kembali mendekat ke arah suaminya.


"Ada apa ?" Tanya Arion saat Nira sudah kembali masuk ke dalam pelukannya.


"Abizar berniat membantu seorang gadis yang di kerjai oleh teman-teman kampusnya." Jawab Nira.


"Lalu apa yang salah dengan itu, hingga membuatmu gelisah seperti ini ?" Tanya Arion lagi.


"Masalahnya gadis itu sedang dalam pengaruh sesuatu yang aneh, dan aku takut mereka akan melakukan hal yang tidak baik di apartemen ku." Jelas Nira. "Apa aku harus menghubungi Ayah dan ibu yaa, sungguh aku takut Abizar akan melakukan hal yang tidak baik pada gadis itu." Sambungnya meminta saran pada Arion.


Arion melirik jam tangan yang ia letakkan di atas nakas di sampingnya, kemudian menggeleng.


"Tunggu pagi dulu." Jawabnya.


"Itu masih sangat lama Arion, sumpah aku ga tenang." Jawab Nira.


"Maksud aku, tunggu waktu subuh di Jakarta dulu, tinggal beberapa jam lagi kok. Kasihan Ayah dan Ibu pasti sedang beristirahat." Jawa Arion berusaha untuk menenangkan Danira. "Lagi pula aku yakin, Abizar ga akan sampai melakukan hal seperti itu. Harusnya kamu pun yakin, kalian kan saudara. Udah sini, peluk aku lagi." Sambungnya sambil kembali menarik tubuh Danira dan mendekapnya erat.


"Aku ga dekat sama Abizar, begitu pun Dira. Kedua adikku sangat dekat, tapi tidak dengan ku. Seperti ada dinding pembatas yang menjulang tinggi, antara aku dengan mereka. Jadi, aku sungguh tidak terlalu mengenal bagaimana watak kedua adikku." Nira menjelaskan.


"Kenapa bisa begitu ?" Tanya Arion heran. "Aku pikir kalian sangat dekat, melihat bagaiman interaksi kalian sekarang." Sambung Arion masih dengan ekspresi heran di wajahnya.


"Saat bayi aku pernah menjadi korban penculikan, dan hampir saja terbunuh. Untuk itu Ibu dan Ayah, selalu memprioritaskan segala tentang aku dari pada Dira. Tidak hanya Ayah dan Ibu, tapi hampir seluruh keluarga selalu memberiku perhatian lebih, dan memastikan aku selalu baik-baik saja. Namun, yang tidak kami ketahui, semua itu membuat Dira merasa tidak adil. Kami tidak menyadari hal itu, nanti setelah kami mulai beranjak remaja, Dira mulai menjadi pribadi yang tertutup dan dingin terhadap siapapun."


Nira menarik nafasnya sejenak, guna menetralkan sedikit rasa tidak nyaman yang mulai mengisi rongga dadanya.


"Aku dekat dengan Arga, sangat dekat. Kami menjadi teman saat masih anak-anak hingga dewasa. Itu bukan karena Arga menyukaiku, tapi karena aku memang orang yang selalu membuka diri terhadap siapapun. Berbeda dengan Dira, dia terkesan sangat tertutup, hingga suatu hari aku tidak sengaja membuka komputer miliknya, dan mendapati banyak gambar Arga saat kecil hingga remaja di sana. Dan dari sanalah aku mengetahui, jika tidak hanya Arga yang menyukai Dira, tapi Dira juga merasakan hal yang sama."


Nira kembali menghembuskan nafasnya perlahan. Sedangkan Arion masih setia mendengarkan cerita yang mungkin sudah lama terdiam di hati Danira, sambil mengusap lembut rambut panjang yang terurai milik istrinya itu.


"Aku dan Dira terjebak di dalam satu rasa yang sama, pada laki-laki yang sama. Yang paling mengenaskan adalah, laki-laki itu hanya memiliki rasa pada salah satu di antara kami, dan itu bukan aku. Untuk itu, seterluka apapun aku, sebagai seorang kakak, harus berusaha sekuat tenaga untuk berpura-pura bahagia dengan keadaan." Ucap Nira pelan.

__ADS_1


Usapan lembut di rambut panjang miliknya, sudah berubah menjadi kecupan-kecupan kecil di puncak kepalanya.


"Mulai sekarang jangan berpura-pura lagi. Aku ingin kamu menunjukan bagaimana dirimu sebenarnya di depan aku." Ucap Arion.


Hati Nira menghangat karena perlakuan manis itu. Ia lantas mendongak dan benar saja kecupan manis yang tadi menghujam puncak kepala, kini sudah berpindah di keningnya.


"Jangan buat aku jatuh cinta terlalu cepat dengan perlakuan manis mu. Ngga seru ah, masa iya aku semurahan itu." Protesnya karena mulai merasakan detak jantung yang menggila saat tatapan mereka bertemu.


"Murahan apaan sih !" Ketus Arion, setelah mencium panjang bibir tipis Nira.


"Memerah dan itu menggemaskan." Ucapnya lagi sambil mengusap lembut bibir yang baru saja ia cicipi hingga memerah, dengan ibu jarinya. Lalu tangannya berpindah pada pipi Nira yang sudah merona.


"Ahhh bentar-bentar aku mau menyetel suhu ruangan dulu, di sini panas banget." Ujar Nira sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Arion. Akan tetapi, tubuh mungilnya semakin tenggelam di dalam dekapan suaminya itu.


"Kalau panas buka baju aja." Goda Arion.


"Woi kenapa jadi mesum gini." Teriak Nira sambil terus berusaha melepaskan diri dari dekapan Arion. "Lepaskan aku." Rengek nya.


"Loh mana keberanian kamu. Bukannya mau merasakan nikmatnya jadi pengantin, sini aku kasih." Godanya lagi sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Danira.


"Arion...." Nira berteriak saat tangan suaminya mulai nakal. "Besok aja, aku harus pastikan kamu benar-benar sembuh dulu, yaa." Pinta Nira sambil menahan tangan Arion yang sudah melepaskan kancing piyamanya, bahkan tangan nakal itu sudah masuk ke dalam piyama, dan menyentuh kain berenda yang ada di dalam sana.


"Baiklah." Jawab Arion dengan senyum jailnya.


"Ya udah ayo lepaskan tanganmu dari sana." Pinta Nira lagi.


"Ga mau terlepas, kayaknya di sana ada magnet deh." Jawab Arion santai.


"Alasan apaan tuh, gak etis banget."


"Iya benar, sepertinya kain berwarna hitam ini mengandung perekat dan membuat tangan aku tidak bisa terlepas."

__ADS_1


"Kalau mau jangan setengah-setengah.."


Nira melepaskan atasan piyama yang ia kenakan, hingga menampakkan bahu mulusnya, juga kain berenda berwarna hitam yang terlihat begitu kontras dengan kulit putih mulusnya.


"Aku hanya bercanda Nira." Ucap Arion terkejut saat tangan jailnya yang sudah terlepas dari dada Nira, kembali di tarik oleh gadis itu ke tempat semula.


"Aku kan sudah bilang, kalau mau jangan main-main." Ujar Nira sambil mendudukkan tubuhnya di atas tubuh Arion.


Tangan lentiknya mulai melepaskan satu per satu kancing piyama yang melekat di tubuh Arion.


Arion bangkit dan ikut terduduk di atas ranjang. Laki-laki itu melepaskan atasan piyama yang menutupi tubuh bagian atas miliknya.


Kecupan-kecupan yang meninggalkan jejak, mulai memenuhi tubuh bagian atas Nira. Hingga getaran ponsel yang ada di atas nakas di samping ranjang, menghentikan kegiatan panas setengah jalan itu.


"Ga apa-apa, lanjutkan aja." Ujar Nira.


"Nanti besok, setelah kembali dari rumah sakit." Jawab Arion.


"Yakin ?" Tanya Nira.


"Tentu. Ayo sana di lihat dulu, takutnya penting." Ujar Arion sambil membantu Nira beranjak dari atas pangkuannya.


"Sabar yaa." Sambungnya dalam hati sambil menatap nanar gundukan di bawah sana.


*****


*Note Author


Hai-hai, si mesum kembali rajin 🤭🤭


Jangan lupa tinggalkan jejak, biar mager ku ga datang lagi 😘😘

__ADS_1


Love sekeboon buat kalian semuaaaa ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2