Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 71


__ADS_3

"Brengsek, mati saja kamu sialan." Pukul Dinda berulang kali. Bahkan potongan guci yang masih ada di tangannya ia pakai untuk menusuk punggung laki-laki yang tidak lagi sadarkan di atas tubuh Farah.


Setelah puas memukuli laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya, Dinda menarik tubuh yang sudah berlumuran darah itu dan jatuh ke atas lantai di dekat kaki Farah.


"Alfaraz.." Teriak Farah lalu menghambur mendekati tubuh putranya yang sudah tergeletak di atas lantai.


"Hubungi nomor kakak ku." Pintanya pada Dinda. "Tolong hubungi Kak Zia. Ku mohon." Sambungnya.


Farah yang sudah membawa tubuh Al ke dalam pelukannya menoleh, melihat wanita hamil yang sudah terduduk di atas lantai.


"Mbak bawalah putra Mbak ke rumah sakit segera. Nanti minta mereka menjemput ku di sini, sepertinya perutku berkontraksi." Ucap Dinda


Farah semakin bergetar, melihat tiga orang berbeda yang sudah berlumuran darah di dalam rumahnya. Dengan hati-hati, ia kembali meletakkan tubuh Al ke atas lantai, lalu melangkah cepat menuju kamar tidurnya.


Ponsel, benda itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Sambil menghubungi seseorang di ujung ponselnya, Farah kembali melangkah cepat menuju ruangan di mana putranya berada.


"Kak Zia tolong kirimkan Ambulance ke rumahku. Al terluka." Suara Farah bergetar. "Sekarang Kak, cepat !" Sambungnya, kemudian membiarkan ponsel itu tergeletak begitu saja di atas lantai, entah masih tersambung atau tidak, ia tidak peduli lagi.


"Al harus kuat sayang. Kita tunggu Aunty datang ya." Ujar Farah sembari memeluk tubuh putranya dengan begitu erat.


Di ruangan yang sama, wanita yang sudah terduduk di atas lantai terus menarik dan menghembuskan nafasnya dengan teratur.


"Kamu berdarah Dinda." Ucap Farah ketika melihat darah merembet keluar dan mengotori lantai yang sedang di duduki oleh Dinda.


"Ga apa-apa Mbak, tetap di situ. Cari bagian tubuh putarmu yang mengeluarkan darah, dan tekan dengan kuat." Ucap Dinda terbata.


Farah teringat, kepala bagian belakang Al yang terbentur tadi, dan benar saja lukanya memang tidak terlalu besar, namun darah terus saja mengucur dari situ.


Di luar rumah, bunyi sirine ambulance telah terdengar. Hingga akhirnya langkah kaki beberapa orang yang sedang melangkah cepat menuju ke arahnya, termasuk Zia.


Kakak iparnya itu segera melepas snelly yang ia kenakan, lalu menggunakan jas putih itu untuk menutupi bagian tubuh Farah yang terlihat karena baju yang sobek entah karena apa. Farah baru menyadarinya sekarang, jika lelaki biadab itu berhasil menyobek bajunya.


"Bawa wanita itu ikut bersama kita sekarang juga Kak." Pinta Farah.


Zia mengangguk, lalu petugas rumah sakit segera membawa Alfaraz dengan cepat menuju mobil ambulance, begitupun dengan Dinda.

__ADS_1


"Kak Zia ku mohon selamatkan putra ku." Lirih Farah. Isakkan yang ia tahan sejak tadi akhirnya meluncur juga ketika bocah laki-laki kesayangannya itu sudah di bawah masuk ke dalam mobil ambulance bersama Dinda. Ia dan Zia juga ikut masuk ke dalam ambulance itu.


"Dia akan baik-baik saja, percaya padaku. Kamu harus tenang." Ujar Zia. Ia mengambil ponselnya, lalu segera menghubungi adiknya untuk segera ke rumah sakit. Setelah berbicara singkat dengan Zidan, Zia kembali menghubungi Alard untuk memberitahu jika ada mayat di rumah Farah dan meminta sang suami agar segera mengurusnya.


Tidak ada lagi suara yang terdengar, Zia membawa kepala Farah agar bersandar di pundaknya sambil melihat dokter yang Zia bawah hari ini dengan begitu ahli mulai menangani Alfaraz.


Zia penasaran tentang tragedi yang terjadi di rumah adik iparnya, namun, ia menahan diri untuk tidak membahas tentang itu dulu. Farah masih sock, jadi sangat tidak tepat membahas hal itu.


"Keponakanmu baik-baik saja Dok." Ucap dokter yang sejak tadi sibuk membersihkan luka di kepala bagian belakang Alfaraz.


"Bagaimana dengan wanita hamil itu ?" Tanya Zia.


Tatapannya tertuju pada wanita yang masih menari hembusan nafasnya dengan teratur.


"Kandungannya berkontraksi. Kita akan melakukan tindakan operasi di rumah sakit nanti." Jawab satu orang dokter yang sedang mendampingi Dinda.


***


Di rumah sakit, mobil Zidan lebih dulu sampai. Ia segera keluar dari dalam mobilnya, lalu bergegas menuju resepsionis. Tidak ingin membuang waktu, Zidan segera bertanya perihal keberadaan Kakaknya, namun, jawaban resepsionis itu semakin membuatnya takut.


"Dokter Zia masih belum sampai Pak, tadi pergi menjemput pasien di rumah keluarga nya." Jawab perawat tersebut.


"Angkat sayang." Ucapnya khawatir.


Setelah suara operator terdengar, Zidan mematikan sambungan lalu kembali menghubungi nomor istrinya, dan masih saja sama, tersambung tapi tidak di jawab.


"Kamu di mana sih Ra."


Berulang kali ia menghubungi nomor ponsel istrinya, hingga suara seseorang akhirnya terdengar menjawab panggilannya.


"Istri saya di mana ?" Tanya Zidan cepat tanpa basa basi.


" Sudah di bawah ke rumah sakit Pak, saya dari pihak kepolisian yang sedang memeriksa TKP."


Lutut Zidan terasa tidak lagi memiliki tulang, ia terduduk di lemas di atas lantai teras rumah sakit.


"Apa yang terjadi di rumah saya ?" Tanyanya.

__ADS_1


"Kami sedang dalam proses penyelidikan. Satu orang pria ditemukan tidak bernyawa di dalam rumah." Jawab seseorang di ujung sana.


Wajah Zidan pucat pasi, pagi ini semua masih baik-baik saja. Melihat satu mobil ambulance yang terburu-buru memasuki pelataran rumah sakit, Zidan segera mengakhiri panggilannya lalu beranjak dari atas lantai kemudian melangkah cepat mendekati mobil ambulance tersebut.


Petugas rumah sakit bergegas membuka pintu mobil ambulance, lalu menarik dua bed pasien keluar dari dalam mobil itu.


"Al.." Suaranya tercekat melihat putranya yang pagi ini masih baik-baik saja sudah berlumuran darah. Zidan segera membenamkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil putranya sembari mengucapkan kata maaf berulang kali.


"Pasien baik-baik saja Pak, namun, kami harus tetap memeriksa tubuhnya lebih detail." Ujar salah satu laki-laki muda yang mengenakkan jas putih.


Meskipun berat, Zidan melepaskan tubuh Alfaraz, dan membiarkan petugas rumah sakit itu membawa putranya masuk kedalam.


"Mas..


"Sayang.


Zidan kembali terkejut, jas putih yang membungkus tubuh istrinya pun sudah terdapat banyak darah. Meskipun tangannya bergetar, ia tetap berhati-hati membantu Farah keluar dari mobil ambulance itu.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Zidan pelan. Ia mendekap tubuh istrinya dengan begitu erat.


"Al Mas, anak kita terluka." Ucap Farah.


Zidan mencium kepala Farah berulang kali, berusaha untuk menenangkan istrinya itu.


"Kata dokter dia baik-baik saja." Ucapnya.


"Kamu tidak terluka kan ?" Tanya Zidan.


Farah menggeleng


"Aku baik-baik saja, tapi Al terluka. Aku tidak bisa melindunginya." Lirih Farah membuat Zidan semakin mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku, seharusnya aku yang melindungi kalian berdua." Ucapnya penuh sesal.


Sepasang suami istri itu ikut masuk ke dalam rumah sakit lalu duduk di depan ruang bedah tempat putra mereka berada.


"Kak, Al akan baik-baik saja kan ?" Tanya Zidan.

__ADS_1


"Insha Allah, Al anak yang kuat. Lukanya tidak terlalu parah, hanya perlu melakukan sedikit tindakan. Jangan terlalu khawatir ." Ujar Zia menjelaskan.


__ADS_2