
Setelah kepergian Evelyn, Arga menutup pintu kamar itu lalu melangkah masuk dan duduk di sisi ranjang di samping Dira. Tidak lama kemudian, ia meraih tubuh istrinya itu dan memeluk nya erat.
"Aku baik-baik saja Ga." Ujar Dira. Ia tahu Arga sangat mengkhawatirkan kondisinya.
"Hm, kamu akan baik-baik saja. Om Rey sudah menyiapkan Rumah Sakit terbaik, dan Team medis handal untuk menangani mu." Ujar Arga yakin.
Dira tertawa geli. Hatinya begitu bahagia karena begitu banyak orang-orang yang menyayanginya kini. Tidak, sebenarnya sejak dulu orang-orang ini memang sudah menyayanginya, hanya ia sendiri yang selalu melangkah menjauh dan menciptakan jarak di antara orang-orang penting dalam hidupnya ini.
"Aku bantu membersihkan diri ya.." Bujuk Arga.
Dira menatap suaminya penuh curiga.
Arga terbahak melihat mata yang selalu saja membuatnya berdebar sedang menatapnya curiga.
Cup...
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak akan bisa menahan diri untuk memakan mu di sini." Kecup Arga di mata indah istrinya.
Dira tertawa, ia lalu beranjak dari atas ranjang tempat mereka duduk dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Masih ada beberapa jam sebelum jam makan siang, dan ia ingin menggunakan waktu itu untuk beristirahat.
Arga pun ikut masuk ke dalam kamar mandi. Setelah kehamilan mulai memasuki tujuh bulan, Arga lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu istrinya itu.
Tidak ada acara plus plus yang terjadi di dalam kamar mandi. Keduanya murni hanya membersihkan diri, lalu keluar dari ruangan yeng terlihat begitu mewah itu dan mengganti pakaian mereka masing-masing.
"Aku mau istirahat sebentar, nanti bangunin kalau sudah waktunya makan siang, biar bisa makan siang bersama keluarga Ferri." Ujar Dira sambil membawa tubuhnya naik ke atas ranjang.
Arga mengangguk mengiyakan, lalu membantu istrinya itu berbaring dengan nayaman. setelah Dira berbaring dengan nyaman, ia mulai melakukan tugas wajibnya yaitu mengusap panggul hingga istrinya itu terlelap.
Dengkuran halus mulai terdengar, itu berarti Dira sudah terlelap. Dengan perlahan, Arga beranjak dari atas ranjang lalu melangkah keluar dari dalam kamar itu menuju ruangan di mana pemilik rumah berada.
"Apa dia sudah tidur ?" Tanya Evelyn.
Arga mengangguk, lalu ikut duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Berangkatnya nanti siang aja, tunggu dia bangun." Ujar Arga. Sejujurnya tadi ia ingin mengatakan pada Dira tentang ajakan Ferri. Namun, saat melihat istrinya itu ingin beristirahat, Arga kembali mengurungkan niatnya dan menunggu setelah makan siang nanti.
__ADS_1
"Iya, nanti setelah makan siang barulah kalian berangkat. Dira sama Tante aja, kasian dia kalau harus ke rumah sakit. Nanti sekalian aja saat jadwal operasi tiba barulah ajak dia ke sana." Ujar Reni menimpali.
Rey menyetujui usul istrinya. Terlebih rumah sakit yang ia pilihkan untuk Dira, berjarak lumayan jauh dari Mansion tempat mereka tinggal.
Banyak hal yang mereka bicarakan di dalam ruangan itu. Evelyn pun memilih untuk tinggal dan makan siang bersama calon mertuanya.
*****
Di Indonesia, Rara dan Zyana tengah di sibukkan dengan persiapan yang akan mereka bawa ke Singapura. Jadwal yang seharusnya masih sekitar dua buan lagi, di percepat. Dua wanita paruh baya, beserta dua wanita hamil lainnya akan lebih dulu terbang ke Singapura. Sedangkan para suami tetap pada rencana awal yaitu seminggu sebelum hari pernikahan, karena masih harus melakukan pekerjaan mereka di Ibu kota.
"Itu cocok buat kamu." Ujar Zyana saat melihat besannya sudah mengenakkan kebaya yang serupa dengan miliknya.
Di kursi tunggu dua wanita cantik yang sedang hamil, sibuk melihat-lihat pakaian menggemaskan di salah satu lapak online shop.
"Kamu tahu ngga Ra, dulu Ibu sempat memukul Tante Rara loh." Ucap Danira tertawa geli.
Aira terkejut mendengar kalimat kakak iparnya.
"Kenapa memangnya ?" Tanya Aira ikutan terjangkit virus kepo kakak iparnya.
Aira masih belum mengerti. Wanita yang tidak lagi gadis namun masih berotak polos itu masih menatap wajah kakak iparnya dengan bingung.
"Om Reno adalah manatan suami Ibu." Bisik Nira agar tidak terdengar oleh wanita di ujung sana dan berakhir mendapat tabokan di kepalanya.
Aira terkejut. Tatapannya kini tertuju pada dua wanta paruh baya yang terlihat begitu akrab di ujung sana. Jangankan orang lain, dirinya pun tidak akan pernah mengira jika dua wanita yang terlihat begitu akrab itu pernah berada di situasi seperti itu.
"Kamu tahu nggak, Tante Rara adalah istri kedua Om Reno saat masih bersama Ibu." Bisik Nira lagi mulai membongkar aib keluarga.
"Di madu Kak ?" Tanya Aira cepat dan langsung di bungkam oleh Nira karena berhasil mengalihkan dua wanita paruh baya yang sedang asik saling memuji kecantikan masing-masing.
"Madu apa ?" Tanya Zyana sambil menatap tajam putri sulungnya.
"Nira pengen minum madu Bu." Jawab Nira. "Iya kan Ra ?" Sambil menatap adik iparnya penuh permohonan agar mau bekerja sama dalam berbohong.
Aira mengangguk ragu-ragu.
__ADS_1
Zyana dan Rara kembali fokus dengan kebaya-kebaya yang tersedia di sana. Sedangkan Nira seketika menghembuskan nafas lega karena berhasil selamat dari amukan ibunya.
"Kamu tahu ngga, ibu pernah...
"Udah Kak, aku ga mau bergosip lagi. Takut Ibu ngamuk." Sela Aira cepat membuat wanita dengan perut buncit itu seketika cemberut.
"Ga asik ih." Ucap Nira.
Beberapa saat kemudian, dua laki-laki tampan dengan pakaian formal masuk ke dalam ruangan di mana mereka berada.
"Ah iya, aku lupa ini sudah jam makan siang." Nira melihat jam kecil yang melingkar di pergelangan tangannya saat kecupan Arion sudah mendarat di kepalanya.
"Aku duluan ya ra, mau makan siang plus plus." Ledek Danira sambil melihat adik tampannya yang tidak pernah lagi tersenyum.
"Jangan ledekin aku Kak, kalau aku paksa Aira kakak yang tanggung jawab." Jawab Abizar kesal.
Danira tertawa, lalu bergegas keluar dari dalam ruangan itu setelah berpamitan pada ibunya.
"Jangan cium di sini, masih banyak orang ayo cepat kita ke mobil." Ajak Danira saat Aron terus saja mencium kepalanya.
Arion tertawa, namun tetap mengikuti kemauan istrinya itu agar cepat melangkah menuju mobil.
"Hati-hati NIra, nanti kamu jatuh." Ujar Arion.
"Aku ngga sabar." Jawab Danira, kembali membuat Arion tertawa geli.
"Jangan seperti ini, kasian Abizar. Dia terus mengadu padaku karena tidak bisa ngapa-ngapain istrinya." Ucap Arion.
Danira tertawa.
"Ayo cepat kita pulang ke rumah." Ajaknya agar Arion cepat membuka pintu mobil dan berlalu dari sana.
Arion hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena tingkah menggemaskan istrinya.
Setelah memasangkan sabuk pengaman di tubuh Danira, dan memastikan istrinya itu duduk dengan nyaman ia mulai melajukan mobilnya dan meninggalkan pelataran butik itu.
__ADS_1