Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 283 Season 4


__ADS_3

Pagi yang indah di di kediaman mertua. Trias melakukan rutinitasnya dengan sangat baik dan lancar, walaupun hari ini sedikit jauh lebih bersemangat dari biasanya.


Wanita yang belum dua bulan ini menyandang status sebagai seorang istri, selalu melakukan kewajibannya dengan sangat baik. Meskipun di rumah itu memiliki asisten rumah tangga, Trias tetap mengurus segala keperluan Azam, seorang diri.


"Nanti siang ke kantor kan." Sebelum masuk ke dalam mobil, Azam mencium kepala Trias berulang kali.


"Iya seperti biasa, aku akan mengantarkan makan siang."Jawab Trias.


"Aku pergi, hati-hati. Minta di anterin sama sopir Papi." Ujar Azam lagi.


Trias mengangguk patuh. Setelah mobil Azam mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah, Trias bergegas kembali ke dapur. Berharap jika Mami mertuanya masih berada di ruangan itu.


Senyum di bibir Trias mengembang, saat mendapati Mami mertuanya masih berada di ruang makan sambil membantu asisten rumah yang sedang merapikan bekas sarapan mereka pagi ini.


"Mami ada yang mau Tri tanyakan, boleh ?"


Danira yang sedang membawa piring terakhir menuju wastafel, berhenti.


Asisten rumah tangga yang bertugas membersihkan peralatan di dapur, segera melangkah menuju ruang makan dan mengambil alih piring yang ada di tangan majikannya.


"Kita keruang keluarga." Ajak Danira. Rasa khawatir tiba-tiba saja terasa, karena ini pertama kalinya Trias ingin mengajaknya berbicara serius setelah hampir dua bulan menjadi menantu nya.


"Begini Mi, Tri udah ga dapat tamu bulanan setelah menikah. Tri hamil ya ?" Tanya wanita itu polos.


Danira seketika terbahak. Apa iya anak seumuran ini tidak bisa merasakan perubahan hormon dalam tubuhnya.


"Kamu merasa mual atau sesuatu ?" Danira berubah menjadi detektif dadakan.


Trias menggeleng.


"Atau ingin makan sesuatu ?" Tanya Danira lagi. Namun, Trias kembali menggeleng.


"Tri hanya ingin rebahan aja." Jawab Trias jujur.


"Itu mah semua orang mau, Tri." Jawab Danira tertawa.


"Tapi sebelumnya Tri ga suka rebahan kok." Ujar Trias, semakin membuat Danira tertawa geli.


Ya ampun sepolos apa sih menantu cantiknya ini.


"Kita ke dokter yuk." Ajak Danira.


"Mami ngga sibuk ?" Tanya Trias.


"Iya, sibuk. Sibuk rebahan di paha Papi kamu." Jawab Danira lalu tertawa keras, apalagi saat melihat wajah cantik menantunya yang tiba-tiba cemberut.


Danira berpamitan untuk bersiap. Trias pun melakukan hal yang sama. Wanita itu ikut beranjak dari atas sofa, dan naik menuju lantai atas di mana kamarnya berada. untuk bersiap pergi ke dokter.


Saat tiba di dalam kamar, Trias menatap tubuhnya di depan cermin. Senyum di wajahnya seketika mengembang, sambil mengusap perutnya yang masih sangat rata. Benarkah ada kehidupan lain di sana ?

__ADS_1


Setelah puas menatap perutnya di depan cermin, Trias segera mengambil tas dan barang penting lainnya, kemudian melangkah keluar dari kamar itu menuju lantai bawah. Takut Mami mertuanya menunggu.


Dan benar saja, wanita paruh baya yang selalu terlihat elegan itu sudah menunggunya di ruang keluarga.


****


Mobil yang di kendarai Danira mulai melaju di jalanan menuju rumah sakit di mana Daniza bekerja. Sebelum berangkat, Danira sudah mengabari putrinya untuk datang. Namun, ia tidak memberitahu dalam rangka apa ia tiba-tiba berkunjung ke tempat kerja Daniza hari ini.


"Kamu sudah menghubungi Azam ?" Tanya Danira.


"Belum, Mi." Jawab Trias.


"Harus pamit, biar Azam tahu kalau kamu ga di rumah." Ucap Danira.


Trias mengangguk paham. Ia lantas merogoh ponselnya yang ada di dalam tas, lalu menghubungi Azam.


"Bilang aja mau jalan-jalan bareng Mami. Ga usah kasih tahu kalau kita mau ke rumah sakit."


Trias mengangguk.


Panggilan terhubung dengan Azam. Trias meminta izin keluar rumah seperti yang di sarankan oleh mami mertuanya tadi, tapa memberitahu ke mana ia dan sang mami pergi.


Trias terus saja mengangguk patuh setiap perintah mutlak yang sedang terdengar di ujung ponselnya. Seakan anggukan kepalanya itu bisa di lihat oleh Azam.


"Udah ?" Danira terkekeh melihat wajah cemberut menantunya. Ia yakin kalimat panjang lebar, berisi perintah yang wajib di laksanakan, membuat wajah cantik di sampingnya ini cemberut.


"Iya, Mi." Jawab Trias. "Tri senang kok. Semoga aja benaran hamil ya, biar jadi kejutan siang nanti." Sambungnya penuh harap.


Danira mengaminkan pengharapan menantunya di dalam hati.


Mobil yang tadinya berbaur dengan banyak kenderaan lain di jalan, mulai memasuki pelataran rumah sakit milik keluarga Hermawan. Keduanya lantas turun dari dalam mobil mewah itu dan masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Daniza sudah menunggu kedatangan dua wanita yang sedang ia tunggu-tunggu kedatangannya.


"Mbak Tri hamil ?" Tanya Daniza antusias.


"Baru mau di periksa." Jawab Danira.


"Treennggg..." Daniza memamerkan hasil USG yang baru ia dapat hari ini.


"Ini benar, Nak ?" Tanya Danira sambil merebut kertas kecil yang berada di tangan putrinya.


"Yah, Niza baru periksa hari ini juga, Mi." Jawab Daniza dengan binar bahagia. "Semoga Mbak Tri juga ya." Sambungnya sambil mengusap lembut perut rata kakak iparnya.


"Aamiin.. Selamat untuk kehamilannya ya, Mbak." Jawab Trias.


Daniza mengangguk, kemudian mengajak Mami dan kakak iparnya menuju ruangan dokter kandungan yang ada di rumah sakit itu.


****

__ADS_1


Di salah satu ruangan khusus di gunakan untuk rapat, Azam terlihat begitu fokus menerima laporan kinerja dari masing-masing divisi.


Hingga beberapa saat kemudian, ponselnya yang ada di atas meja rapat bergetar. Sebuah pesan chat masuk ke dalam ponselnya.


Azam membuka pesan yang di kirimkan oleh sang Mami. Dadanya berdebar saat melihat gambar Trias yang sedang terbaring di atas bed pasien.


"Tolong gantikan saya." Perintahnya pada sang sekretaris, lalu segera melangkah keluar dari ruang rapat.


Apa yang sedang terjadi dengan istrinya ? Bukan kah beberapa saat yang lalu, istri kecilnya itu meminta izin untuk pergi jalan-jalan dengan sang Mami, lalu mengapa sekarang sudah berada di rumah sakit.


"Pak tolong antar saya ke rumah sakit." Perintahnya pada petugas keamanan yang ada di sana. Tangannya bergetar. Sungguh, ia akan mengutuk dirinya sendiri jika terjadi sesuatu dengan Trias.


"Lebih cepat, Pak." Perintah Azam tidak sabaran.


Lelaki paruh baya yang seharusnya bertugas menjaga keamanan kantor itu, hanya mengangguk patuh. Ia pun menambah laju mobil yang sedang ia kendarai, tanpa menurunkan konsentrasinya agar bisa sampai dengan selamat ke tempat tujuan.


"Selamat calon Ayah." Pesan singkat dari sang Mami, di sertai hasil pemeriksaan Trias hari ini, kembali masuk kedalam ponsel Azam. Mata Azam terbelalak, lihatlah istri kecilnya itu. Berani sekali menyembunyikan hal sepenting ini padanya.


Beruntung jarak antara perusahaan dengan rumah sakit milik keluarga Hermawan tidak terlalu jauh, sehingga tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang membawa Azam berhasil tiba di pelataran rumah sakit.


"Bapak pulang ke kantor pakai taksi saja." Ujar Azam sambil mengulurkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada petugas kemanan yang sudah membantunya.


"Baik, Pak. Terimakasih." Lelaki paruh baya itu menerima uang yang sedang terulur kearahnya, lalu berpamitan untuk kembali ke kantor.


Azam turun dari dalam mobil sambil menghubungi nomor ponsel Trias.


"Kamu di mana ?" Tanya nya cepat saat panggilannya sudah di jawab oleh sang istri. Azam melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan dada yang berdebar. Wanita yang sedang ia tanyai di ujung ponselnya, masih belum bersuara..


"Tri, jangan main-main sama aku. Kamu di mana ?" Tanya Azam lagi.


"Di ruangan Mbak Niza, Mas."


Panggilan berakhir. Azam segera melangkah cepat menuju ruangan adiknya. Ia harus segera menghukum istri nakalnya itu karena berhasil membuatnya ketakutan.


****


Pintu ruangan Daniza terbuka, Trias yang sedang duduk seorang diri di dalam ruangan itu segera menoleh, lalu tersenyum saat melihat Azam sudah berdiri di ambang pintu ruangan.


"Kamu benar-benar hampir membuat ku mati serangan jantung." Ujar Azam sambil melangkah cepat menuju sofa di mana Trias duduk. Laki-laki itu segera meraih tubuh istrinya, dan memeluknya dengan erat. "Apa yang harus aku katakan pada Ayah di sana, jika terjadi sesuatu dengan mu." Sambungnya.


Trias tersenyum. Kecupan-kecupan yang terus mendarat di kepalanya, semakin membuat hatinya menghangat.


"Aku hamil, Mas." Ucap Trias.


Azam melepaskan pelukannya.


"Aku tahu, Mami sudah memberi tahu." Jawabnya.


Wajah manis Trias segera berubah masam melihat Azam yang sama sekali tidak terkejut dengan kehamilannya.

__ADS_1


__ADS_2