Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 262 Season 4


__ADS_3

Usai menikmati sarapan bersama, Daniza kembali ke kamarnya untuk membantu Daren bersiap ke kantor, dan dirinya juga harus ke rumah sakit.


Begitupun dengan Trias. Gadis yang masih terlihat canggung di rumah mertua nya itu, mengikuti langkah kaki Azam menuju kamar tidur yang akan ia tempati mulai hari ini.


Azam mengambil alih satu buah cover yang ada di genggaman Trias, lalu menarik cover itu menuju kamar tidurnya. Trias hanya diam dan terus mengikuti ke mana Azam akan membawanya.


"Ayo masuk." Ajak Azam saat melihat Trias masih terdiam di depan pintu kamar tidur yang baru saja ia buka lebar-lebar.


Trias mengangguk, lalu memberanikan diri masuk ke dalam kamar yang lima kali lebih besar dari kamar tidur yang ada di rumahnya. Tidak, bukan lima kali lebih luas, tapi kamar tidur milik Azam ini hampir seluas rumahnya.


"Aku tinggal ke kantor, ga apa-apa kan ?" Tanya Azam. Laki-laki itu meletakkan koper yang berisi barang-barang pribadi istrinya di samping ranjang mewah yang ada di dalam kamar itu.


"Iya ga apa-apa Mas." Jawab Trias.


Azam mengangguk, lalu bersiap keluar dari dalam kamarnya itu.


"Mas.." Panggil Trias sebelum Azam keluar dari dalam kamar.


"Barang-barang aku di taruh di mana ?" Tanya Trias.


Azam kembali melangkah masuk, lalu mendekati dua pintu yang bersampingan di dalam kamar itu.


"Ini kamar mandi, kalau kamu ingin membersihkan diri kamu bisa menggunakan kamar mandi ini. Nanti aku akan meminta Mami untuk menemani kamu membeli barang-barang yang kamu butuhkan." Ujar Azam.


"Ga usah Mas, aku masih punya persediaan." Jawab Trias.


Azam tidak menimpali, ia masih belum mengenal seperti apa kepribadian gadis yang ia nikahi ini, untuk itu ia takut jika nanti keputusan nya akan membuat Trias merasa tidak nyaman.


"Ini ruang ganti. Kamu boleh mengatur pakaian kamu di sini." Ujar nya.


Trias segera menarik koper yang di letakkan Azam di samping tempat tidur, lalu melangkah masuk ke dalam ruang ganti.


"Lemari pakaian aku mana Mas ?" Tanya Trias lagi.


Azam ikut melangkah masuk ke dalam ruang ganti, lalu membuka pintu lemari yang kosong.


"Kamu bisa menyimpan barang-barang kamu di sini. kalau masih ga muat, kamu boleh menyimpannya di tempat barang-barang aku." Ujar Azam.


"Terimakasih Mas." Ucap Trias.


Azam tersenyum, lalu mengusap puncak kepala istrinya itu.

__ADS_1


"Aku pergi." Pamitnya dan di angguki oleh Trias.


"Mas..." Panggil Trias lagi, membuat Azam menarik nafasnya dalam-dalam. Memiliki istri sepertinya cukup menyita banyak waktu di pagi hari.


"Aku belum salaman." Cicit Trias.


Azam terkejut, tapi ia tetap berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka lebar. Membiarkan Trias mendekat untuk mencium punggung tangannya.


"Kamu hati-hati, hubungi aku jika ada sesuatu." Ucap Azam setelah Trias mencium punggung tangannya.


"Aku ga punya nomor ponsel Mas Azam." Trias merogoh ponselnya dari dalam saku celana berbahan jeans yang melekat di tubuh rampingnya, lalu menyerahkan benda pipih itu kepada Azam.


Azam mulai mengetik digit angka yang merupakan nomor ponselnya di layar ponsel Trias. Setelah selesai, ia kembali menyerahkan ponsel itu kepada istrinya.


*****


Di kamar lain yang ada di rumah itu, Daniza sedang membantu Daren bersiap. Gadis cantik dengan hijab andalannya itu sedang mengikat dasi di leher suaminya.


"Mas.." Tegur Daniza saat Daren kembali mengecup bibirnya.


"Kamu mau ke rumah sakit ?" Tanya Daren. Tangan nakalnya terus saja menjelajahi wajah cantik Danira yang nampak terlihat garang karena ulahnya.


"Mas udah dong." Rengek Niza karena Daren kembali mengecup bibirnya.


"Kalo udah di luar, ga bakal bisa kayak gini. Belum lagi bocah yang bersiap merebut mu di lantai bawah." Daren mengusap lembut bibir yang baru saja ia cicipi dengan jemarinya.


Wajah Daniza merona, jantung nya semakin berdetak tidak karuan. Apalagi tatapan Daren, seakan mampu menghipnotis dirinya.


Tidak lama kemudian, bibir mereka kembali bertemu. Dan kali ini bukan lagi sebuah kecupan. Daniza membalas ciuman itu, dan memberikan Daren akses untuk berbuat semaunya.


"Ah aku harus ke kantor." Kesal Daren. Sungguh ia ingin kembali membawa Daniza ke atas ranjang yang sudah berganti bedcover itu. Namun, pekerjaan di kantor terus berputar-putar di otaknya.


Daniza tertawa geli karena lipstik yang ada di bibirnya sudah berpindah di bibir Daren. Setelah tubuhnya berhasil terlepas dari dekapan Daren, ia berjalan mendekati meja rias untuk memperbaiki penampilannya yang sedikit berantakan karena ulah suaminya.


Daren sudah lebih dulu keluar dari dalam kamar. Dankza yang terkejut karena bibir Daren masih ada lipstik nya, segera melangkah cepat sebelum laki-laki mesum itu bertemu dengan orang lain yang ada di rumah ini.


****


"Woi, masih pagi." Tegur Daren saat melihat Azam sedang mengusap puncak kepala Trias.


"Mas..." Teriak Daniza sambil membawa selembar tissue untuk membersihkan bibir suaminya.

__ADS_1


"Tuh Abang kesayangan kamu lagi godain istrinya." Ucap Daren.


"Cih.." Azam mendengus.


Trias yang ada di sana berusaha menahan tawa agar tidak pecah di ruangan itu. Melihat lipstik yang menempel di bibir Daren, perasaan malu bercampur lucu terus saja mengganggunya.


"Ish, dasar !" Daniza segera menarik kembali tangan Daren menuju kamar tidur mereka. Mengabaikan dua pasang mata yang terus saja memperhatikan lipstik yang menempel di bibir suaminya.


Setelah kepergian Daniza dan Daren, Azam kembali berbalik dan menatap Trias.


"Aku harus pergi." Pamitnya.


Trias mengangguk.


"Jangan lupa apa yang aku bilang tadi." Ujar Daren lagi. Dan Trias kembali mengangguk patuh.


"Ada apa ?" Tanya Trias saat melihat Azam masih belum beranjak dari hadapannya.


"Ga ada apa-apa.. Aku pergi." Jawab Daren. Dan lagi-lagi Trias hanya mengangguk patuh.


Cup...


Satu kecupan di pipi, membuat gadis cantik itu terdiam seperti patung hidup.


"Assalamualaikum.." Ucap Azam lalu menjauhkan wajahnya dari pipi Trias.


Karena tidak ada jawaban dari Trias, Azam segera melangkah meninggalkan ambang pintu kamarnya, menuju halaman depan rumah. Trias yang masih shock dengan kejadian pagi ini, hanya bisa menyentuh pipi kanannya yang baru saja di kecup oleh suaminya.


"Kamu kenapa Mbak ? Kayak orang lagi liat hantu aja." Suara Daniza menyandarkan Trias dari keterkejutannya.


"Ngga apa-apa, Niz." Jawab Trias.


"Ya udah, kami berangkat yaa.." Pamit Daniza.


Setelah mendapat anggukan kepala dari Trias, Daniza segera menarik tangan Daren dan berlalu dari sana.


"Sepertinya baru dapat serangan dari Abang kesayangan mu." Ujar Daren dan langsung mendapat pukulan dari Daniza.


"Bisa diam ga ! Bolehkan Mas ga usah bahas-bahas yang kayak gini." Kesal Daniza.


Daren hanya tertawa sambil meraih tangan Daniza dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


__ADS_2