Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 102 Season 2


__ADS_3

Piyama berbahan satin dengan potongan sepaha sudah melekat di tubuh Yana. Wanita itu sedang mengusapkan toner di wajah. Notifikasi pesan terdengar masuk ke dalam ponselnya, namun, tidak ia hiraukan.


Seperti hari-hari biasa sebelum tidur, rekan-rekannya akan bergosip tengang Alfaraz di group chating. Jadi tidak lagi heran jika bunyi pesan di aplikasi tersibuk di dunia itu terus saja terdengar.


Hingga beberapa saat kemudian, dering panggilan di ponsepnya membuat Yana terpaksa beranjak dari kursi meja riasnya dan melangkah menuju ranjang di mana benda pipih yang baru beberapa hari ia beli itu berada.


Keningnya mengerinyit saat melihat nama yang sedang terpampang di layar ponselnya. Tidak hanya itu, lelaki aneh yang kini mulai membuat dirinya merasa terganggu, melakukan panggilan video.


Beberapa saat terdiam, Yana akhirnya mengusap ikon hijau di layar ponselnya.


"Kamu di mana ?"


Wajah tampan laki-laki aneh yang mulai membuat dadanya berdebar kini terpampang di layar ponselnya.


"Aku di kamar. Ada apa ?" Tanya Yana heran.


"Kenapa chat aku ngga kamu balas ?"


"Emangnya perlu banget ya ?"


"Iyalah, kok masih di tanya."


"Ngga usah aneh-aneh deh. Awas aja kalau kamu buat aku malu di depan karyawan yang lain. Pembicaraan kita hari ini batal." Ancam Yana.


"Iya tenang aja, kalau di kantor aku ngga akan bersikap seperti ini. Makanya chat aku di balas, jangan di anggurin aja. Terus kalau di telepon itu langsung di angkat jangan di lihatin doang." Ujar Alfaraz.


Yana memutar bola matanya malas, lalu melangkah kembali menuju meja rias tanpa ingin menanggapi celotehan tidak jelas dari laki-laki aneh dan kini bertambah menjadi alay. Ia meletakkan ponsel yang ada di dalam genggamannya itu ke atas meja rias, lalu kembali melanjutkan urusannya.


"Cantik banget sih." Suara Alfaraz kembali terdengar.


"Al kamu tuh dulu play boy ya ?" Tanya Yana.

__ADS_1


Alfaraz tertawa mendengar pertanyaan Yana.


"Iya Mbak dia play boy, loh Mbak Yana ?"


Suara seorang gadis di ponselnya membuat Yana menghentikan urusannya, lalu menatap layar ponselnya dengan lekat. Wajah laki-laki alay kini sudah berganti dengan wajah gadis cantik yang seperti tidak asing di matanya.


"Saya Adel Mbak, itu loh teman Rey." Ujar Adelia lagi menjelaskan saat melihat Yana sedang berusaha mengingat siapa dirinya.


"Oh iya saya ingat." Ujar Yana. "Tapi kenapa bisa bersama Pak Alfaraz ?" Tanya Yana.


"Ini Kakak saya Mbak." Jawab Adelia.


"Oh begitu."


Yana terdiam beberapa saat, kali ini dirinya merasa rendah diri. Tentu saja, bagaimana tidak merasa minder seorang gadis cantik di yang kini tengah tersenyum hangat padanya adalah seorang pengacara hebat, dan sudah membantunya keluar dari masalah pernikahan.


"Eem maaf ya saya akhiri dulu ya. Di panggil Ibu soalnya." Pamit Yana bohong, lalu segera mengakhiri panggilan itu setelah melihat wajah kebingungan dari Adelia.


Yana menatap layar ponsel yang sudah mati itu dengan perasaan campur aduk. Kok secepat ini sih ia merasa grogi dengan orang lain. Mereka baru benar-benar kenal hari ini, dan kini sudah menjadi sedekat ini.


Suara sang Ibu di sertai ketukan di pintu kamar Yana, membuat ia tersadar dari lamunan.


"Iya masuk aja Bu, ga di kunci kok pintunya." Jawabnya, kemudian beranjak dari kursi, lalu melangkah menuju ranjang dan duduk di sana.


Dinda melangkah masuk ke dalam kamar menuju ranjang di mana putrinya berada, lalu duduk di sana.


"Siapa Alfaraz ?" Tanya Dinda.


"Dia atasan Yana di kantor Bu."


"Jadi benar kamu sudah dekat dengan pemuda itu saat masih berstatus sebagai istri Reno ?" Tanya Dinda lagi.

__ADS_1


"Ngga kok Bu, Yana baru mengenalnya hari ini."


"Dan kalian sudah sedekat tadi ? Bukankah dia atasan kamu itu berarti kalian bekerja di tempat yang sama." Ujar Dinda.


Bukan tidak mempercayai putrinya, akan tetapi selama ini ia tidak pernah mendapati ada lelaki lain yang dekat dengan Yana selain Reno. Dan hari ini dengan tiba-tiba laki-laki yang tidak ia kenal datang dan meminta putrinya untuk di jadikan istri, membuat Dinda khawatir jika putrinya ini sudah berbuat sesuatu yang salah.


"Ibu tidak percaya pada Yana lagi ?" Tanya Yana dengan raut wajah sedih.


"Yana baru mengenalnya hari ini Bu. Dia putra direktur utama yang lama, dan baru beberapa hari ini menggantikan Ayahnya yang sudah pensiun. Sumpah demi diri Yana sendiri, selama ini Yana tidak pernah membukakan pintu pada lelaki manapun selain Reno." Jelas Yana. Sedih, yah dia sangat sedih melihat tatapan ragu dari mata Ibunya.


"Ibu hanya takut kamu salah dalam mengambil langkah." Ujar Dinda. "Maafkan Ibu." Sambungnya merasa bersalah karena sudah meragukan putrinya sendiri.


"Yana memang sudah salah mengambil langkah sejak tujuh tahun yang lalu. Saat Tante Lina sudah memberi restu, Yana pikir beliau memang sudah ikhlas memberi itu, namun pada kenyataannya..."


"Lupakan semuanya. Maafkan Ibu yang sudah lancang meragukan mu." Ujar Dinda. Ia lantas meraih tubuh Yana dan memeluk putrinya itu dengan erat sembari meminta maaf karena sudah berpikiran buruk.


"Percaya Yana Bu. Selama ini dan sampai saat ini, Reno masih menjadi satu-satunya laki-laki yang ada di hati Yana. Hanya saja keadaan ini terlalu berat untuk Yana terima." Ujar Yana lagi. Ia tidak lagi menangis, dia hanya sedikit menyesal karena sudah memberi jalan pada Alfaraz masuk dalam kehidupannya, dan membuat sang Ibu meragukan kesetiaan nya selama ini.


"Maafkan Ibu." Ucap Dinda. Ia mengurai pelukannya, lalu merapikan rambut panjang putrinya dengan hati-hati.


"Ibu percaya padamu. Tapi alangkah baiknya untuk menjaga jarak dari laki-laki yang bukan muhrim mu. Ingat Na, selama tiga bulan masa idah, seharusnya kamu masih perlu tinggal bersama Reno untuk menghindari fitnah, namun, karena Ibu masih ada maka kamu bisa tinggal bersama Ibu di rumah ini, tapi dengan catatan harus bisa menjaga jarak dengan lelaki manapun." Ujar Dinda menasehati.


Yana mengangguk faham.


"Maafkan Yana juga, seharusnya Yana bisa lebih tegas pada Alfaraz tentang status Yana." Ucapnya.


"Tidak masalah jika lelaki itu memang serius, akan tetapi tunggulah setelah kamu benar-benar sudah terlepas dari semua ini. Peringatkan dia dengan tegas tentang status kamu saat ini."


Yana kembali mengangguk mengerti.


"Istirahatlah, Ibu juga akan kembali ke kamar untuk beristirahat."

__ADS_1


Setelah kepergian Ibunya, Yana melangkah menuju meja rias dan mengambil ponselnya dari sana. Ia menyetel alarm seperti malam-malam biasanya sebelum tidur. Ada beberapa pesan yang terlihat di layar ponsel, termasuk pesan dari Alfaraz, tapi Yana memilih untuk mengabaikan.


Mereka masih sebatas orang yang baru mengenal, jadi mengabaikan sebuah pesan bukanlah hal yang perlu di permasalahkan. Untuk selanjutnya, biar ia akan menjelaskan nanti.


__ADS_2