Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 28


__ADS_3

Farah terjaga dari lelapnya, lalu meraih benda pipih miliknya yang ada atas nakas di samping bed pasien tempat ia terlelap. Waktu baru menunjukkan pukul dua dini hari. Karena sering kali terjaga di waktu seperti ini dan mengadu pada sang pemilik kehidupan, tentang takdirnya yang begitu mengenaskan, membuat Farah tidak lagi bisa memaksa matanya tertutup kembali. Di tatapnya sang suami yang tengah terlelap di atas sofa yang tidak jauh dari ranjang tempat ia berada. Lalu perlahan Farah turun dari bed tersebut, kemudian melangkah menuju kamar mandi. Infus tidak lagi terpasang di punggung tangannya, Zia sudah melepasnya semalam.


Wajahnya ia basuh dengan air hangat, tidak lupa juga ia mengganti sesuatu yang sudah penuh di dalam sana. Setelah menyelesaikan semua urusannya di dalam kamar mandi, Farah kembali membuka pintu kecil itu, namun betapa terkejutnya dia, saat mendapati laki-laki yang tadinya sedang terlelap di atas sofa, sudah berdiri tanpa suara di hadapannya.


"Ya Allah Mas, bikin kaget aja." Ucap Farah terkejut. Bagaimana tidak, laki-laki yang begitu lelap di atas sofa kini sudah berdiri mematung di depan pintu kamar mandi, tanpa mengeluarkan suara apapun.


"Maaf." Ucap Zidan, namun sebuah senyum geli terlihat di bibirnya karena melihat raut keterkejutan di wajah Farah.


Farah kembali melanjutkan langkahnya menuju ranjang, setalah mengangguk pelan dan membiarkan suaminya masuk ke dalam kamar mandi. Dia memeriksa ponselnya kembali, ada beberapa klien yang sudah ia alihkan pada pengacara lain kembali menghubunginya. Namun, Farah memilih untuk meneruskan pesan tersebut ke nomor Rehan. Biar Rehan yang akan mengurusnya nanti.


Selang beberapa waktu, Zidan keluar dari dalam kamar mandi, dan melihat istrinnya sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi ?" Tanya Zidan


Farah mendongak, menatap laki-laki yang sedang berdiri di samping bed tempat ia duduk.


"Ini klien yang aku tangani kemarin, menghubungiku Krena tidak ingin di alihkan pada pengacara lain." Jawabnya.


"Kenapa kamu alihkan ?" Tanya Zidan. Kini ia sudah ikut duduk di atas bed di samping Farah.


Farah menghentikan aktivitas tangannya dari benda pipih yang ada di dalam genggamannya, lalu menatap wajah Zidan sejenak.


"Aku sudah berhenti dari Firma Hukum Kak Rehan." Jawabnya.


Zidan masih diam, tidak ingin menimpali dan memilih untuk menunggu Farah melanjutkan ceritanya.


"Aku berniat pulang ke Jogja setelah perceraian kita selesai." Cicitnya pelan.


"Maafkan aku." Ucap Zidan.

__ADS_1


Entahlah tidak ada lagi kata yang bisa ia ungkapan selain maaf. Melihat Farah yang begitu putus asa karena sikap abainya selama ini, membuat Zidan semakin merutuki kebodohannya.


"Mas, apa boleh aku izin pulang ke Jogja ? Aku rindu rumah Ibu." Izin Farah.


"Sama aku dan Al juga. Kita pergi bertiga." Ucap Zidan.


Farah mengangguk, lalu tersenyum sembari mengucapkan terimakasih pada laki-laki yang kini menatapnya dengan penuh cinta.


"Tidur lagi Ra, aku mau nunggu waktu subuh sekalian." Ucap Zidan.


"Selama empat tahun ini, aku sering terjaga dan tidak akan lagi terlelap hingga pagi menjelang." Jawab Farah.


Zidan menarik nafasnya dalam-dalam, mengurangi rasa bersalah yang semakin menghimpit dada. Betapa terlukanya Farah karena dirinya. Seharusnya apapun yang orang katakan tentang pernikahan keduanya, ia mampu berlaku baik pada Farah sebagaimana ia memperlakukan Nadia. Namun semua sudah terjadi, benar kata kata Ayahnya, penyesalan adalah neraka di dunia. Walaupun Farah tidak meninggalkan dirinya seperti Ibunya dulu, tetap saja rasa sesal telah menyakiti wanita ini, semakin terasa menyesakkan dada.


"Maafkan aku." Ucapnya.


Lagi-lagi hanya kata ini yang bisa ia ucapkan dengan tulus, meskipun dia tahu, beribu kata maaf yang ia ucapkan hari ini, tidak akan mampu mengobati luka yang ia goreskan di hati Farah.


Farah duduk diam di atas ranjang, sedangkan Zian sedang mengisi pakaian kotor mereka ke dalam paper bag. Tidak banyak, hanya sepasang punya Farah dan sepasang lagi miliknya.


Sehelai kertas yang berisi resep obat Farah, sudah di kantongi Zidan di dalam saku celana panjang yang melekat di tubuhnya. Serangkaian pemeriksaan akhir sudah selesai. Farah baik-baik saja, rahimnya juga baik-baik saja, hanya memang memerlukan sedikit istirahat agar bisa kembali memulihkan tubuh yang lemas. Zidan menggenggam tangan Farah dengan erat, lalu membawa istrinya keluar dari ruangan yang di tempati Farah selama dua hari ini.


Zidan menggenggam tangan Farah dengan begitu erat, hingga keluar dari dalam gedung rumah sakit. Seseorang yang masih mengenakkan snelly, menatap sepasang suami istri itu dengan tangan terkepal erat, dan Zidan maupun Farah tidak ada yang memperhatikan.


Mobil mewah yang sudah sekian tahun menemaninya, keluar dari pelataran rumah sakit, dan mulai melaju di jalanan Jakarta yang masih begitu lenggang. Berbaur dengan beberapa mobil yang sudah berada di jalanan yang sama. Zidan melajukan mobilnya dengan perlahan, menuju suatu tempat yang ingin dia tuju pagi ini sebelum kembali ke rumah mereka.


"Kita mau kemana Mas ?" Tanya Farah, saat merasa jalanan yang merek lewati, bukanlah jalan menuju rumah.


"Ke suatu tempat, aku ingin menceritakan banyak hal pada seseorang." jawab Zidan.

__ADS_1


"Jika menyangkut pekerjaan, aku bisa kok naik taksi. mas kerja aja ga apa-apa." Ujar Farah.


Zidan menatap wajah Farah, lalu menggeleng.


"Ini bukan masalah pekerjaan, tapi memang aku rasa penting dan harus segera di selesaikan, agar kita bisa melangkah dengan ringan ke depannya." Jawabnya.


"Ra, aku ingin memulai kembali. Aku ingin mewujudkan apa yang dulu aku rencanakan bersamamu." Ujarnya.


Farah menatap lekat wajah bagian samping suaminya. Sedikit tidak mengerti, namun ia tetap menutup rapat mulutnya. Menunggu kelanjutan dari sang suami tanpa bertanya.


"Sejak dulu, rencana masa depan yang aku buat itu bersamamu, namun seiring berjalannya waktu, Nadia mulai berhasil mengisi sedikit kekosongan setelah kepergian mu. Dia wanita yang baik sama sepertimu, sayang kalian berdua harus terjebak dengan laki-laki pengecut sepertiku." Ujarnya.


"Mas semua sudah berlalu, ayo kita mulai semuanya dari awal lagi. Tidak perlu memperbaiki, namun menginstal kembali, agar semua masalah yang menimpa kita beberapa tahun ini ikut terhapus. Dan kita akan memulai semuanya dari baru lagi." Ucap Farah.


Zidan mengangguk, meskipun ia tidak sepemikiran dengan Farah.


Dia akan memperbaiki semuanya, dia akan berusaha mengobati luka yang sekian tahun ini ia ciptakan di hati wanitanya.


****


Mobil yang di kendarai Zidan mulai memasuki pemakaman umum. Sebelum memasuki area pemakaman, Farah meminta Zidan berhenti sebentar di depan tokoh bunga kecil yang ada di sana. Dan membeli satu buket bunga mawar putih untuk wanita yang ia hormati.


"Cinta ini awalnya bukan milik Mbak Ra, sejak awal cinta Zidan memang milikmu. Bukan Mbak yang rela berbagi, tapi sebenarnya kamu yang sudah membagi cinta untuk Mbak, untuk itu sebelum Mbak pergi, Mbak ingin mengembalikan cinta pada pemiliknya."


Kalimat Nadia kembali terngiang di telinga Farah. Saat itu Farah berpikir, kalimat Nadia itu hanya ingin menahannya agar tidak pergi, namun kini ia semakin yakin jika cinta Zidan memang masih utuh untuknya.


Zidan membuka pintu mobil di samping Farah, lalu membawa tangan istrinya ke dalam genggaman. Hati Farah menghangat, sesekali tatapannya tertuju pada jemari mereka yang bertaut. Bisakah ia meminta pada Allah, untuk tetap seperti ini sampai akhir nanti ? Semoga Allah mendengar semua permintaan yang ia gumam kan di dalam hatinya.


Zidan dan Farah mulai melangkah menuju tempat peristirahatan Nadia, satu buket mawar putih di genggam Farah dengan begitu erat. Sesekali ia menghirup bau wangi yang menguar dari mawar putih itu. Hingga ia ikut berhenti, pada satu buah makam dengan tanah yang masih sedikit basah.

__ADS_1


Yah, baru lima hari yang lalu ia mengantarkan kepergian wanita baik ini, dan kini ia kembali lagi.


__ADS_2