Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 138 Season 2


__ADS_3

"Ngga apa-apa kamu pakai dress yang panjang ?" Tanya Farah lagi.


"Ngga apa-apa Bun, itu aja biar samaan sama Bunda." Jawab Yana.


"Kalau ngga nyaman pilih aja yang seperti bisa Nak. Ga usah dengarin dia. Mereka itu memang kayak gitu, mau istri yang tertutup, tapi mata jelalatan sama yang seksi di luar sana." Omel Farah, dan membuta dua laki-laki bak pinang di belah sama-sama menoleh.


"Mana pernah aku seperti itu." Bantah Zidan.


"Al juga mana ada seperti itu." Alfaraz menimpali.


"Bohong sayang. Jangan percaya sama gombalan mereka." Bisik Farah di telinga menantunya.


"Pilih aja dress dengan potongan yang biasa kamu pakai, biar cucu Bunda ini nyaman." Ujar Farah lagi.


"Ngga apa-apa Bun, Yana mau belajar jadi seperti Bunda juga, kemana-mana pakai pakaian tertutup." Jawab Yana.


"Ih gemesin banget sih punya mantu seperti ini." Cubit Farah di pipi Yana.


"Bun sejak kapan pakai hijab ?" Tanya Yana.


"Saat pertama kali jadi sekretaris sementara Ayah mertua dulu." Jawab Farah.


"Wah Bunda pernah jadi sekretaris Kakek ya ? Keren banget." Ujar Yana.


"Iya keren banget, sampai-sampai membuat Papa jatuh cinta." Adelia menimpali pembicaraan.


"Benarkah ?" Tanya Yana pada adik iparnya yang terus sibuk dengan benda tipis dengan layar beberapa inci di atas pangkuannya.


"Jatuh cinta, tapi menikahnya sama orang lain." Ujar Farah.


"Itu karena kamu ninggalin aku." Ujar Zidan tidak mau di salahkan.


"Lah aku kan ga tahu kalau kamu cinta sama aku. Makanya apa-apa itu ngomong, jangan diam aja kayak orang bisu." Farah membantah.


"Aku kan emang mau ngelamar Ra, kamu ya aja yang keburu pergi, tanpa pamit pula."


Farah mendengus kesal.


"Memangnya sejauh mana sih Jakarta dan Jogja, Kak Rehan kan udah kasih tahu kamu kemana aku pergi. Kamu nya aja yang emang pingin nikah sama yang lain."


Zidan tidak lagi membantah. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar lalu menatap istrinya yang kini tertunduk di hadapannya.


"Ayo kita ke ruang tamu." Ajak Adelia.


Yana hanya menatap bingung, namun, ikut beranjak dari samping ibu mertuanya saat suaminya sudah mengulurkan tangan dan mengajaknya ke ruangan lain.


"Selamat berjuang Papa." Ledek Adelia.


Setelah anak dan menantu mereka sudah menghilang dari ruang keluarga, Zidan segera beranjak dari sofa, kemudian berpindah dan duduk di samping istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucapnya memelas. "Hei kok jadi menakutkan seperti ini sih. Jangan cuekin aku, nanti wanita seksi di luar sana jadi ada temannya..


"Aduh,, iya maaf, maaf.. " Zidan terkekeh saat tangan Farah sudah mendarat di bagian tubuhnya, lalu segera meraih tubuh wanita yang ia cintai itu dan mendekapnya erat.


Permohonan maaf yang tidak pernah habis walau sudah puluhan tahun berlalu, terus saja terlontar dari bibirnya. Kecupan bertubi-tubi terus saja ia hujamkan di kepala istrinya.


"Kita ke kamar yaa." Bujuk Zidan.


"Aku masih marah ya, kesal banget kalau ingat kamu yang dulu."


"Tanpa lagi menjawab, Zidan segera membawa tubuh istrinya dan masuk ke dalam kamar."


****


Di ruangan lain, Yana menatap takjub sepasang suami istri yang baru saja berlalu menuju kamar.


"Jago banget sih Papa kamu. Cepat banget meluluhkan Bunda." Ujar Farah.


Adelia tertawa lucu.


"Ngga heran lagi Mbak, aku tuh sengaja buat masalah biar dapat uang jajan dari Papa." Jawabnya.


"Maksudnya ?" Tanya Yana tidak mengerti.


"Suami istri di kamar ngapain lagi ? Aelah Mbak, pura-pura polos deh ah." Ujar Adelia.


Blussh...


"Ayo kita ke kamar juga."


Plak...


Tangan Yana menghantam kepala suaminya.


"Satu keluarga ga ada yang benar." Gumam Yana, tapi masih bisa terdengar dengan jelas, dan itu membuat Adelia terbahak.


"Btw selamat ya atas kehamilannya, semoga sehat sampai keponakan aku lahir ke dunia." Ujar Gerald sambil mengulurkan satu buket bunga ke arah Yana. Tatapan tajam dari laki-laki yang sedang merangkul wanita yang ia beri bunga, terus saja ia abaikan.


"Terimakasih Gerald. Semoga pernikahan kalian tiga hari lagi di perlancar biar cepat hamil seperti aku juga." Ucap Yana hendak meraih buket bunga, namun tangan nakal entah milik siapa kini menjauhkan bunga itu dari jangkauannya.


"Anak aku akan marah kalau ibunya menerima bunga selain dari Papanya." Ujar Alfaraz kesal.


Ah ingin rasanya ia menggeprek wajah calon adik iparnya ini, lalu di beri sambal seperti ayam geprek di kedai artis terkenal itu. Sungguh mengesalkan.


"Itu bunganya indah loh sayang, dan anak kamu mau menerima bunga itu." Protes Yana.


" Ngga, nanti aku beliin bunga yang lebih indah. Ah tidak, kita akan pergi ke rumah Ibu malam nanti, kita beli bunga di sana." Ujar Alfaraz tetep kekeuh tidak ingin menerima bunga pemberian Gerald.


"Tapi anak kamu maunya pemberian Gerald, gimana dong."

__ADS_1


"Ayo kita masuk kamar." Ajak Alfaraz sambil beranjak dari sofa yang ada di ruang keluarga. "Kamu harus istirahat." ucapnya lagi.


"Tapi,..


"Oke, oke kita ke kamar. Turunkan aku." Pinta Yana.


Namun, lelaki yang semakin aneh dan gila tidak perduli dengan permintaanya, dan terus melangkah menuju kamar mereka.


Dua orang yang ada di ruangan tempat mereka berada tadi, hanya bisa menatap kepergian mereka dengan ekspresi berbeda. Adelia terkesan biasa aja, sedangkan Gerald menatap sepasang suami istri itu dengan tatapan takjub .


"Nanti setelah nikah, kita akan seperti itu juga." Ujar Gerald.


"Jangan aneh seperti Kakak dan Papa aku. Awas aja." Ucap Adelia memperingati.


Gerald tertawa lucu.


"Tapi benar sih, Alfaraz itu mirip banget sama Papa." Ujar Gerald.


"Wajah Kak Al mirip Bunda, tapi sifatnya emang mirip banget sama Papa." Jawab Adelia. "Tapi kamu dapat bunga dari mana ? perasaan tadi ke sini ga bawa bunga deh ?" Tanya Adelia heran.


"Tadi aku tinggal di sini, kamu nya aja yang ga lihat. Oh iya ini buat kamu aja, tadi di tolak sama kakak ipar kamu." Gerald mengulurkan buket bunga ke arah calon istrinya.


"Ogah, aku ini original yaa, masa iya nerima pemberian bekas orang lain."


"Bunga ini emang buat kamu, suka aja lihat wajah kesal kakak kamu saat cemburu."


Adelia menatap calon suaminya tidak percaya.


"Nih lihat." Gerald menunjukan kartu kecil yang tergantung di buket bunga. "Untuk calon istri." Gerald membaca tiga kata yang tertulis di atas kartu itu.


"Ya udah sini." Adelia menerima bunga itu.


"Aku mau pulang, mau pamitan sama Bunda dan Papa kamu takut ganggu." Ujar Gerald terkekeh.


"Buang pikiran mesum kamu itu." Ucap Adelia tidak terpengaruh dengan arah pembicaraan calon suaminya.


Gerald kembali tertawa gemas dengan tingkah calon istrinya.


"Sampai ketemu tiga hari lagi." Gerald mengusap lembut kepala Adelia.


Adelia tersenyum, lalu mengangguk.


Keduanya lantas melangkah menuju pintu depan.


"Yakin ga mau aku temanin tidur ?"


"Pulang..!"


"Baiklah aku pulang, selamat malam calon istri." Gerald melangkah menuju mobil mewahnya yang terparkir di pelataran rumah.

__ADS_1


Adelia menatap kepergian Gerald dengan hati yang entah mengapa tiba-tiba berdebar.


__ADS_2