Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 23


__ADS_3

Di dalam ruang tunggu, gadis kecil yang sedari tadi terus mendekap tubuh Farah kini mulai terbiasa dengan suasana. Berlarian ke sana-kemari kemari, hingga membuat kaki Farah yang terbalut heels mulai merasa kelelahan karena harus ikut melangkah ke sana-kemari kemari mengikuti gadis kecilnya.


"Bunda haus." Ucap Liana. Gadis kecil itu segera merentangkan tangannya, meminta Farah untuk membawa tubuh mungilnya ke dalam pelukan.


Farah tersenyum, namun tidak memeluk Nana sebagaimana kemauan gadis kecil itu.


"Bunda lelah, kita duduk di sana lalu minum air." Ucapnya.


Liana mengikuti langkah kaki Farah untuk duduk di salah satu kursi tunggu yang memang sudah tersedia di sana.


Farah mengambil botol air khusus milik Liana yang ada di dalam tasnya, lalu gadis kecil itu mulai menyedot air putih masuk kedalam mulut mungilnya melalui sedotan. Sedikit keringat yang terlihat di dahi kecil Liana di usapnya dengan lembut.


Nomor antrian satu persatu mulai di panggil oleh suster yang bertugas, karena memang dokter anak sudah sampai.


Tibalah waktunya nomor antrian Farah dan Liana yang di panggil. Gadis kecil itu begitu patuh ikut melangkah bersama sembari menggenggam jemari Farah dengan begitu erat.


Seorang wanita cantik dengan snelly, tertegun melihat seseorang wanita yang masuk ke dalam ruangan berasa keponakannya. Wajah yang begitu ia kenali dengan baik, karena selama dua tahun pernikahannya dengan sang suami, topik yang seringkali menjadi pembahasan adalah tentang wanita ini.


"Hai Nana.. Nana datang sama siapa sayang ?" Sapa Nadia pada keponakannya sembari menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil Liana.


"Hai Ante Nadia, kenalin ini Bunda." Balas Liana dengan suara yang begitu menggemaskan.


"Aku Farah Dokter." Ucap Farah sembari mengulurkan tangannya ke arah Dokter cantik yang di panggil Ante oleh Liana.


"Aku Nadia, sepupunya Kak Rehan. Panggil saja Nadia." Balas Nadia sambil menjabat tangan lentik yang sedang terulur ke arahnya. "Sepertinya kamu karyawan baru di Firma Hukum Kak Rehan, karena ini pertama kalinya aku melihatmu." Tebak nya.


Farah mengangguk membenarkan.


"Aku baru dua bulan ini di kantor pusat, sebelumnya aku kerja di cabang Jogja." Jawabnya menjelaskan.


Nadia mengangguk mengerti, namun dadanya berdebar tidak karuan. Pantas saja Zidan begitu sulit melupakan, Farah benar-benar gadis yang cantik dengan kepribadian luar biasa


Dua wanita itu terus mengajak Nana bercerita untuk mengalihkan rasa takut di imunisasi.


"Bunda sakit." Cicit Liana dengan air mata yang mulai menggenang.


Farah tersenyum sambil menahan kapas yang sudah di beri alkohol, pada lengan Liana yang baru saja di injeksi.

__ADS_1


"Kapan-kapan bisa temani aku minum kopi ?" Tawar Nadia pada wanita yang sibuk membujuk keponakannya.


"Boleh Dokter Nadia, kita bisa atur waktu." Jawab Farah.


"Aku bisa minta nomor ponsel mu ?" Tanya Nadia.


Farah mengangguk, lalu mengulurkan satu buah kartu nama ke arah Nadia.


Farah berpamitan keluar dari ruangan, dan Nadia mempersilahkan karena masih banyak pasien lain yang juga sedang mengantri.


****


Farah masih menatap wanita cantik yang duduk di depannya, mencoba menggali masa lalu mungkin saja ada yang dia lewatkan namun nihil. Dia gadis yang paling tajam dalam hal ingat mengingat, dan wanita ini sama sekali belum pernah dia temui di sepanjang usianya.


Senyum terlihat di bibir Nadia, karena sudah bertahun-tahun menjadi dokter anak, maka dia sangat pintar dalam menganalisa seseorang. Dan dia tahu jika gadis di hadapannya ini sedang mencoba mengingatnya.


"Kita memang belum pernah bertemu di masa lalu." Ucap Nadia sambil menyeruput cairan hitam yang ada di atas meja di hadapannya.


"Tapi sepertinya mbak begitu mengenalku." Ucap Farah.


"Hm, salah satu orang berharga dalam hidupku sangat mengenalmu." Jawab Nadia.


Farah menggeleng lalu ikut menyeruput kopi di cangkirnya.


"Belum mau menikah ?" Tanya Nadia lagi.


"Ngga juga, hanya belum ketemu jodoh." Jawab Farah.


"Mau menikah dengan suamiku ?" Tanya Nadia to the point.


Dan pertanyaan yang dia lontarkan seketika membuat Farah tertawa lucu.


"Aku belum menikah bukan karena tidak ingin, dan aku pun bukanlah gadis yang tidak lagi laku hingga harus menjadi istri dari suami wanita lain." Jawab Farah masih dengan senyum manis di bibirnya.


"Tapi aku serius Ra." Ucap Nadia menatap lekat wajah yang tiba-tiba menjadi serius.


"Maaf mbak sepertinya saya harus permisi sekarang." Pamit Farah tanpa ingin melanjutkan lagi pembahasan yang menurutnya tidak pantas ini.

__ADS_1


Oh ayolah wanita mana yang mau melamar seorang gadis untuk suaminya. Tersinggung ? Yah dia begitu tersinggung dengan tawaran dari wanita yang tidak dia kenal ini. Mereka bahkan baru bertemu beberapa hari yang lalu, dan dengan lancangnya wanita cantik yang masih bergeming di kursinya ini meminta dirinya untuk menjadi istri dari laki-laki yang berstatus sebagai suaminya sendiri.


"Ra.." Panggil Nadia saat Farah sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Aku punya penyakit yang menghambat kesempurnaan rumah tangga kami. Hampir enam tahun bersama, namun malaikat kecil yang sama-sama kami rindukan tak kunjung hadir dan tak akan pernah hadir." Lirih Nadia.


"Dan aku bukan wadah untuk membuat malaikat kecil untuk kalian." Tegas Farah.


"Aku ingin Zidan bahagia, bantu aku untuk mewujudkan bahagianya Ra." Bujuk Nadia.


"Zidan.." Suara Farah tercekat, namun kembali dia usahakan untuk terlihat biasa-biasa saja.


"Iya, Zidan Prasetyo. Putra seorang direktur utama yang jatuh cinta pada mahasiswi magang di perusahaanya." Ujar Nadia. "Aku hanya ingin melihat binar bahagia di matanya sebelum aku pergi." Sambungnya.


Farah menggeleng tegas, namun dia kembali duduk di kursi di depan Nadia. Tangannya terulur untuk menyentuh punggung tangan Nadia yang berada di atas meja, lalu mengusapnya lembut.


"Aku sangat ingin menjadi Ibu. Aku ingin merasakan bagaimana terbangun di tengah malam dan menimang bayi dalam pelukanku. Bantu aku untuk mewujudkannya." Pinta Nadia.


"Tapi kenapa aku ?" Tanya Farah pelan.


"Karena itu kamu Ra, jika orang lain aku tidak akan mau melakukannya." Bujuk Nadia lagi.


"Lalu bagaimana dengan Mas Zidan ?" Tanya Farah. Sejujurnya hati yang dulu dia kubur rapat, kini perlahan mulai dia gali kembali. Dan yah satu-satunya nama laki-laki selain mendiang sang kakak masih terukir rapi di sana.


"Soal Zidan serahkan semua padaku. Kamu hanya perlu menyetujui ini, setelahnya biar menjadi urusanku." Ucap Nadia dengan binar di matanya.


"Apa seseorang yang berharga buat mbak dan mengenalku itu Mas Zidan ?" Tanya Farah.


Nadia mengangguk


"Dia pernah terpuruk setelah kepergian mu." Ucapnya.


Farah tersenyum lalu menggeleng.


"Tidak apapun di antara kami." Ucapnya.


Oh ayolah terbuat dari apa hati wanita di hadapannya ini hingga begitu santainya membicarakan perasaan suaminya untuk wanita lain.

__ADS_1


"Aku menjadi saksi perjuangannya menata hati setelah kepergian mu Farah." Ucap Nadia. "Kami menikah karena perjodohan, namun dia laki-laki yang baik, dan tidak akan susah untuk jatuh cinta padanya, termasuk aku." Sambungnya.


"Hubungi aku jika kamu menyetujui permintaan ku ini." Ucap Nadia lagi, lalu membiarkan Farah berlalu dari sana.


__ADS_2