
Aira menelan segala rasa penasarannya seorang diri. Ia melihat dengan jelas raut penuh kekhawatiran di wajah Danira, akan tetapi ia memilih untuk tidak bertanya dan menambah beban yang sedang menimpa keluarga barunya ini.
Bahkan saat Abizar mengangkat tubuhnya dari atas ranjang ke atas kursi roda dengan infus yang masih terpasang di atas punggung tangannya pun, Aira tidak berniat menanyakan hal itu.
Biarlah, ia akan menanyakan semuanya nanti. Nanti setelah keadaan ini benar-benar membaik. Dia tahu telah terjadi sesuatu yang rumit, dan karena ia tidak bisa ikut andil dalam mengurai kerumitan, untuk itu ia memilih untuk diam dan tidak menambah masalah yang tidak ia ketahui ini.
Beberapa orang laki-laki dengan tubuh tegap ikut melangkah bersama mereka menuju parkiran. Aira hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. Jantungnya semakin berdetak cepat, ini seperti adegan-adegan dalam novel bergenre mafia yang sering ia baca.
"Aku dan Kak Arion harus kembali ke kantor, kalian langsung pulang aja ke rumah. Ibu sudah menunggu kalian di sana." Ucap Danira. Wanita cantik itu mengusap rambut adik iparnya yang di ikat asal-asalan, lalu melangkah menuju mobil yang lain bersama Arion.
"Ah aku benar-benar ga bisa menahan rasa penasaran ku." Ucap Aira tiba-tiba saat mobil milik kakak iparnya sudah berlalu dari pelataran rumah sakit.
Abizar yang sedang memasangkan sabuk pengaman di tubuh istrinya seketika tertawa keras.
"Kalau penasaran kenapa ga di tanyakan ? Bukannya kamu sangat rajin dalam hal bertanya sesuatu ?" Abizar masih terus tertawa geli melihat wajah menggemaskan istri kecilnya.
Ia lalu memutari mobil, kemudian ikut masuk dan duduk di samping Aira. Sebelumnya ia memastikan jika lengan istrinya yang terluka, sudah berada dalam posisi yang nyaman.
"Jalan Pak." Perintah Abizar.
"Apa sesuatu sedang terjadi ?" Tanya Aira pada suaminya.
Abizar mengangguk.
"Maafkan aku." Ucapnya sambil meraih tangan Aira lalu menggenggam jemari itu dengan hati-hati.
__ADS_1
"Kenapa minta maaf ?" Tanya Aira heran.
"Maaf sudah membuatmu terluka. Melisa melakukan ini karena dia..
"Karena dia menyukai mu ?" Tebak Aira cepat.
Abizar mengangguk.
"Ayah dan Ibu sengaja meminta kita untuk pulang, karena masalah ini tidak sesimpel seperti yang aku bayangkan. Kak Danira mendapat bukti keterlibatan Papa Melisa dari kejadian di masa lalu." Jelas Abizar.
"Aduh nanti aja deh kamu jelasin, kepala aku pusing. Mana bahu kamu aku mau bersandar sebentar." Ujar Aira membuat dua laki-laki berbeda usia yang ada di dalam mobil itu tertawa.
"Jangan ngomong gitu, nanti Sopir Ayah baper. Kamu mau tanggung jawab ?" Abizar mengedipkan matanya menggoda.
"Cih dasar." Aira membawa kepalanya lalu bersandar di bahu yang begitu nyaman. "Apa kamu percaya jika bahu kamu ini adalah bahu pertama yang menjadi sandaran aku ?" Tanya Aira.
"Nyaman banget. Apa bahu seorang Ayah juga senyaman ini ?" Aira bergumam lirih, membuat laki-laki yang sedang menatap keluar jendela mobil terenyuh.
"Apa selama ini kamu sendirian ?" Abizar bertanya.
"Nggak kok, ada Gea dan teman-teman di tempat kerja paruh waktu ku." Jawab Aira. "Hanya saja aku terlalu takut meminta bahu mereka untuk menjadi sandaran." Sambungnya.
Abizar tidak lagi bersuara. Ia hanya mengecup kepala yang sedang bersandar di bahunya, berulang kali.
Kata jika saja terus menari di otaknya. Namun, ia tidak menyesali karena terlambat melangkah masuk dalam kehidupan Aira. Baginya tidak ada kata terlambat untuk sebuah kesempatan yang sudah di atur oleh sang pencipta. Ingatlah bahwa Allah sangat tahu waktu yang paling tepat untuk mempersatukan umatnya dalam sebuah ikatan, dan kita sebagai manusia yang baik, senantiasa untuk terus berpikiran baik dengan takdir yang sudah di tentukan olehNya.
__ADS_1
****
Di sebuah kamar di rumah yang tidak kalah mewah, Arga duduk termenung tepat di hadapan istrinya. Berulang kali ia mengucapkan kata maaf pada sesuatu yang bukan dirinya seorang pelaku. Meskipun Dira sudah mengingatkan untuk berhenti merasa bersalah, karena memang suaminya ini tidak ikut andil dalam peristiwa itu, retak saja lelaki yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah itu terus menerus meminta maaf terhadap istrinya.
"Ini Papa, boleh Papa bicara sebentar ?" Dira melirik pintu kamar, lalu beranjak dari atas sofa yang ada di dalam kamar itu, menuju pintu kamar di mana Papa mertua ya berada.
"Papa mau bicara dengan Arga sebentar." Reno kembali meminta izin pada menantunya.
Dira melirik ke arah laki-laki yang sedang duduk tertunduk di dalam kamar, lalu mengangguk. Ia lantas melangkah keluar dari dalam kamar itu, menuju ruangan lain agar memberikan waktu yang panjang untuk suami dan Papa mertuanya berbicara.
Sepeninggal Nadira, Reno memasuki kamar putranya lalu ikut duduk di sofa yang sama di mana putranya berada. Beberapa saat ruangan itu masih hening, dan ia pun bingung harus memulai dari mana.
"Aku jadi merasa buruk di hadapan keluarga istriku Pa, terutama di depan Danira." Ujar Arga pelan.
"Papa mengerti. Papa pun dulu merasakan hal yang sama. Papa tahu bagaimana rasanya menjadi buruk di hadapan wanita yang begitu kita cintai. Tapi Ga, kita tidak perlu merasa bersalah pada sesuatu yang tidak kita lakukan. Malu boleh, karena memang yang melakukan itu adalah bagian dari hidup kita, tapi jangan menyalahkan dirimu pada sesuatu hal yang tidak kamu lakukan." Jelas Reno.
Arga mengangkat wajah lesu nya, lalu menatap laki-laki paruh baya yang terlihat begitu tenang di hadapannya.
"Ayah mertuamu baru saja menghubungi Papa, dan meminta izin untuk kembali membuka kasus Oma kamu yang tidak sempat selesai di masa lalu karena pelaku sebenarnya sudah tertangkap." Reno kembali bercerita.
"Apa sebenarnya yang sudah terjadi di masa lalu ?" Tanya Arga..
Reno mulai menceritakan perihal hubungannya dengan Zyana, Ibu mertua dari putranya ini. Keburukannya di masa lalu hingga keterlibatan wanita yang paling ia hormati dalam insiden penculikan Danira saat masih bayi.
Arga menyimak cerita masa lalu itu dengan seksama, tanpa ada yang terlewat.
__ADS_1
"Intinya Ga, kita hanya manusia biasa yang tidak akan pernah luput dari salah. Mungkin meminta maaf tidak akan cukup membuat hidup seseorang yang sudah kita hancurkan benar-benar membaik, akan tetapi saat kita di beri kesempatan untuk melakukan hal baik, jangan pernah abaikan itu. Tidak banyak hal yang Papa minta dari kamu, jaga dan cintai Dira dengan baik. Jangan melakukan kesalahan seperti yang Papa lakukan di masa lalu. Kamu bukanlah kesalahan, tapi langkah yang Papa dan Mama kamu ambil di masa lalu sangatlah salah." Ujar Reno setelah bercerita panjang lebar tentang masa lalunya yang begitu rumit.