
Senja sudah menghilang di ujung lautan, namun, seorang gadis yang sedang duduk menikmati keindahan alam itu masih belum ingin beranjak dari tempat duduknya. Bukan tidak ingin beranjak, akan tetapi ada seseorang yang memintanya untuk menunggu.
Menikmati kesendirian dengan semilir angin yang terus menerpa wajah, sedikit membuatnya lupa akan kisah menyedihkan hidupnya saat ini.
"Sudah lama ?" Tanya seseorang yang baru saja tiba di samping Danira.
Danira mendongak. Meskipun dia sudah sangat mengenal suara yang terdengar di sampingnya, tetap saja ia ingin melihat wajah laki-laki yang berani mencampakkan dirinya demi wanita yang lain.
"Ku pikir kamu ga akan berani menampakkan dirimu di hadapanku lagi." Ledek Danira dengan senyum yang semakin menambah kecantikan wajahnya.
"Aku jadi semakin bimbang melangkah karena senyum manis di wajahmu." Ujar Ferri ikut tertawa sambil membawa tubuhnya duduk di salah satu kursi yang ada di depan Danira.
"Aku sedih loh ini." Danira memanyunkan bibirnya. "Aku takut, jika nanti benar-benar jadi perawan tua." Sambungnya bergidik ngeri.
"Itu ngga mungkin, sebentar lagi ada seseorang yang jauh lebih baik dan layak dari aku, akan Allah kirimkan untukmu." Ujar Ferri yakin.
"Kamu pasti bohong." Rengek Nira.
"Jika begitu ayo kita nikah." Feri menatap sahabatnya dengan yakin.
"Dan kali ini Ayah pasti akan menghajar mu. Dasar laki-laki plin plan." Ujar Danira kesal.
Ferri menatap wajah sahabatnya dengan sedih.
"Menikahlah dengannya, itu jauh lebih membuatku bahagia. Terlebih saat ini memang tidak ada cinta di hatiku untuk kamu." Danira ikut menatap wajah sahabatnya sambil tersenyum.
"Menikahlah dengannya, lalu hiduplah dengan bahagia." Ujar Danira lagi.
"Maaf." Ucap Ferri sambil tertunduk dalam.
"Hei, aku ga apa-apa Fer. Aku turut bahagia, sungguh."
Ferri tidak lagi menjawab, lelaki itu hanya terus tertunduk dalam.
Beberapa saat keduanya masih hening. Danira menatap lautan luas yang ada di samping mereka dengan perasaan yang sulit di artikan. Sedih ? Sepertinya bukan. Hanya sedikit merasa keadaan di antara keduanya sudah berbeda.
__ADS_1
Bermenit-menit waktu berlalu, keduanya masih di temani keheningan. Hingga beberapa saat kemudian ponsel yang sedang berada di dalam tas Danira bergetar. Dengan perlahan gadis cantik itu merogoh benda pipih tersebut, kemudian memeriksa siapa gerangan yang sudah mengganggu kenyamanannya sore ini.
""Kamu di mana Nak ?""
Suara lembut menyejukkan jiwa dari wanita terbaik dalam hidupnya kini terdengar.
"Nira masih di tempat teman Bu." Jawab Nira. "Ada apa ?" Tanyanya kemudian.
"Ada tamu di rumah, cepat pulang." Perintah sang bu dari ujung sana.
"Baik, Nira pulang sekarang." Jawabnya lalu mengakhiri panggilan usai salamnya di balas sang ibu.
"Ada apa ?" Ferri ikut beranjak dari tempat duduk saat melihat sahabatnya terburu-buru bangkit dari atas tempat duduk.
"Ada tamu di rumah, aku di suruh ibu untuk cepat pulang." Jawab Danira "Ada tamu dadakan, sepertinya orang dari perusahaan." Sambungnya.
Ferri mengangguk paham, lalu ikut melangkah menuju parkiran mobil bersama Danira.
****
Beruntung Alfaraz dan Zyana menghargai niat baik keluarga dari relasi bisnis mereka, dan menganggap apa yang sudah terjadi adalah bagian dari rencana terbaik sang kuasa.
"Dia sedang dalam perjalanan." Arion melirik layar ponselnya. Sebuah senyum terlihat di bibirnya saat melihat pesan chat dari adiknya.
"Tolong sampaikan permohonan maaf ku pada kedua orang tuanya. Dan pastikan kamu menjaganya dengan baik. "
Pesan kembali masuk. Arion hanya membaca sekilas, lalu memasukkan benda pipih dengan harga puluhan juta itu ke dalam saku jasnya.
Cukup lama keluarga Arion duduk di ruang tamu kediaman Prasetyo, usai menjelaskan perihal kedatangan mereka malam ini yang terkesan sangat terburu-buru, sekaligus meminta maaf atas sikap Ferri. Semua orang masih menunggu dengan sabar, kedatangan gadis yang menjadi pemeran utama malam ini.
Hingga beberapa saat kemudian, Zyana menghembuskan nafas lega karena suara mesin mobil berhenti di depan rumahnya. Wanita paruh baya itu, gegas beranjak dari sofa yang ia duduki lalu melangkah cepat menuju pintu rumah untuk menyambut kedatangan putrinya.
"Assalamualaikum Bu." Sapa Nira lalu mencium punggung tangan sang ibu.
"Waalaikumsalam." Jawab Zyana. "Kamu dari mana saja sih ? Kamu janjian dengan orang lain malah keluyuran." Pukul Zyana di bahu.
__ADS_1
Danira tidak menjawab, gadis itu hanya ikut melangkah cepat menuju ruang tamu sambil mengira-ngira siapa tamu yang tak di undang mengunjungi kediamannya malam ini.
Saat memasuki ruangan, ia terkejut karena langsung di sambut dengan pemandangan yang tadi pagi ia lihat. Tatapannya langsung tertuju pada laki-laki yang sedang duduk di kursi roda, lalu berpindah pada dua orang aruh baya yang sedang duduk tepat di hadapan sang Ayah.
"Maaf Pak, saya kan tadi sudah bilang jika Dira sudah menikah satu bulan yang lalu." Ujar Danira usai menyalami punggung tangan tiga orang paruh baya yang ada di ruangan itu.
"Kedatangan kami bukan untuk melamar Dira, tapi melamar mu." Jawab Abimanyu.
Nira terkejut dengan kalimat yang baru saja ia dengar dari mulut lelaki paruh baya yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya.
Alfaraz dan Zyana masih belum menanggapi, meskipun sejak tadi keduanya sudah mengetahui niat baik keluarga yang datang berkunjung ke kediaman mereka malam ini, mereka memilih untuk menyerahkan segalanya kepada putri mereka.
Danira mengalihkan tatapannya dari wajah laki-laki paruh baya itu, lalu menatap sosok yag kini terdiam di atas kursi roda.
"Aku tidak sakit lagi. Sebentar lagi akan kembali normal." Ujar Arion menjelaskan tentang kesehatannya.
"Bukan itu. Aku tidak pernah melihat kekurangan orang, tetapi melihat kesungguhan. Jika kamu datang melamar ku hanya karena aku mirip dengan Dira, lebih baik jangan lakukan. Karena nanti setelah nikah aku tidak akan pernah bisa menjadi Dira." Jawab Nira.
"Dan saya datang bukan karena kamu begitu mirip dengan sosok yang sempat membuat ku kagum, tapi karena benar-benar kagum dengan mu." Jawab Arion yakin.
"Kita belum saling kenal. Kamu sama sekali tidak mengenalku. Dan asal kamu tahu, aku dan adikku memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang."
"Kalu begitu, ayo kita saling mengenal mulai sekarang." Sela Arion. "Kamu bisa menolak lamaran ku malam ini, jika nanti kamu merasa tidak nyaman dengan ku." Sambungnya.
Danira menggeleng.
"Aku tidak suka hal yang tidak pasti seperti itu." Jawabnya.
Empat orang paruh baya yang ada di ruangan itu hanya terus menyimak perdebatan di antara Danira dan Arion.
"Jika kamu benar-benar serius ingin mengenalku, nikahi aku. Nanti setelah itu kita belajar untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing." Ujar Danira lagi, sontak membuat semua orang yang ada di tempat itu terkejut, termasuk Arion.
"Nak. Zyana memanggil putrinya.
Alfaraz segera menggenggam tangan istrinya lalu menggeleng. Menurutnya sikap yang di ambil putrinya saat ini sudah benar, karena dalam hidup tidak ada yang sempurna.
__ADS_1
Jika kita hanya akan menikah dengan orang yang kita rasa sesuai dengan keinginan kita, maka itu akan sulit di dapatkan. Tetapi, jika kita memilih menikah lalu kemudian berusaha untuk saling melengkapi dan menerima kekurangan masing-masing, maka pernikahan itu akan mencapai bahagia yang semestinya.