
Ayura yang masih berstatus sebagai sekretaris terkejam di perusahaan keluarga Prasetyo, kini berdiri dengan wajah garang di ambang pintu ruangan sang kakak. Kali ini bukan kesalahan bos sekaligus kakak kembarnya ini yang membuat ia mengamuk, tetapi lelaki plin plan yang sedang menatapnya penuh permohonan dari sofa yang ada di ruangan itu, yang membuat amarahnya meledak.
"Kamu benar-benar sedang menguji imanku ya." Kesal Ayura saat melihat Samudra sudah berada di dalam ruangan mewah milik Ayiman.
"Aku pamit, nanti setelah masalah kalian selesai aku akan masuk kemari. Ingat, jangan sampai singa betina ini menghancurkan barang-barang mahal yang ada di ruangan ini. Semua barang-barang yang ada di sini adalah barang kesayangan calon ayah mertuamu." Ujar Ayiman memperingati, kemudian melangkah cepat meninggalkan ruangan itu sebelum ikut mendapat amukan dari singa betina yang sedang berdiri sangar di ambang pintu ruangan.
"Kamu benar-benar mau mati di tangan ku ya." Ayura melangkah cepat menuju sofa di mana Samudra berada.
Samudra semakin menciut, ia menjadi saksi kejahatan Ayura terhadap Ayiman. Dan kini ia akan menjadi salah satu korban amukan dari gadis cantik yang entah kapan sudah mengisi hatinya ini.
"Aku senang kamu pulang, kamu tahu ngga aku kangen banget." Ayura menghambur kedalam pelukan, membuat Samudra terkejut. Padahal ia sudah menyiapkan rambutnya yang akan di jambak Ayura, atau mungkin wajahnya akan penuh luka karena kuku nakal calon istrinya. Tapi lihatlah ini, bukannya mengamuk, Ayura justru bermanja-manja di dalam pelukannya.
Laki-laki dewasa lain yang ada di ambang pintu ruangan nya hendak melayangkan protes, karena merasa tidak adil dengan adik nya ini.
"Ngapain Abang masih di sana ? Ayo pergi, mau aku lempar dengan sepatu ? Ganggu aja !" Ketus Ayura. Mata Ayiman semakin terbelalak. Apa-apaan adiknya ini, yang seharusnya di marahi itu Samudra dan bukan dirinya.
Benar-benar gila !
Sambil mengomel kesal, Ayiman melangkah meninggalkan ruangan yang akan membuatnya sesak nafas itu. Ah dia jadi merindukan Tania, berhubung Samudra ada di sini, ia akan menyerahkan pekerjaan kantor kepada sekretaris gilanya itu, dan menghabiskan waktu bersama Tania di rumah baru mereka. Mumpung sunyi, bebas tuh cetak bayi di mana saja. Otak mesum Ayiman tiba-tiba bekerja dengan cepat. Sofa, ranjang atau kamar mandi. Dimana ya yang lebih nikmat ? Semuanya nikmat !
Kembali ke ruangan, wajah yang tadinya imut menggemaskan sudah berubah garang. Gadis cantik dengan stelan formal lengkap dengan hijab andalannya itu, melangkah menuju pintu dan menutup nya. Tangannya bertengger di pinggang. Tatapan tajam bak elang, terus tertuju pada laki-laki yang baru saja ia beri bahagia namun, kembali ia hempaskan di atas lantai.
"Kenapa kembali ?" Tanyanya ketus.
Samudra menelan salivanya yang terasa pekat.
"Sekarang bagaimana ? Aku bahkan sudah membatalkan semua persiapan pernikahan kita."
Ayura kembali melangkah cepat menuju sofa, dan langsung menarik rambut yang sudah di sisir rapi itu dengan kesal. Teriakan Samudra di dalam ruangan itu, sama sekali tidak ia perdulikan. Kepalan tangan lentiknya terus menghantam punggung kokoh Samudra.
"Maafkan aku, aku kangen banget Ra, makanya aku buru-buru pulang." Mohon Samudra. Lelaki itu sudah menahan tangan nakal Ayura, agar tidak lagi mengamuk padanya. "Maafkan aku, ya ?" Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Aku kesal banget.. Huaaa...." Tangisan Ayura pecah. Ia sangat kesal mendengar Samudra pergi mendadak untuk menyelesaikan pekerjaan di luar negeri. Saking kesalnya, ia bahkan membatalkan seluruh rencana pernikahan yang sudah ia siapkan
"Maafkan aku." Samudra kembali membawa tubuh Ayura masuk ke dalam pelukannya. "Ayo kita minta nikah hari ini, pekerjaan aku banyak di sana, tapi pikiran aku hanya terus tertuju pada mu di sini. Ayo kita menikah malam ini, dan kamu ikut aku ke sana." Pinta Samudra lagi, memohon.
Ayira melepaskan diri dari pelukan Samudra. Ia menatap laki-laki itu dengan lekat.
"Laku bagaiman dengan Bang Ayi, dia pasti akan keteteran tanpa aku." Jawab Ayura.
"Nggak, dia pasti senang kamu keluar dari perusahaan ini." Ujar Samudra tertawa saat melihat wajah yang tadinya begitu manis, kembali berubah masam. "Aku kangen banget." Sambungnya sambil mengusap pipi Ayura.
"Jangan modus, kita bukan muhrim." Tepis Ayura di tangan nakal yang sedang mengusap lembut wajannya. "Kita ke rumah Ayah dulu, dan sampaikan niat kedatangan mu malam ini." Ajaknya.
Samudra mengangguk antusias.
"Bentar aku mau cari Bang Ayo dulu." Ayura beranjak dari atas sofa, lantas keluar dari dalam ruangan itu untuk mencari keberadaan Ayiman.
****
Baru saja Ayiman hendak memeluk istrinya itu dari belakang, getaran ponsel yang ada di saku jasnya membuat wanita cantik dengan rambut tergerai indah itu, menoleh.
"Mas sudah pulang ?" Tania beranjak.
Sementara Ayiman itu, Ayiman merogoh ponsel yang ada di dalam saku jasnya, dan bersiap memaki orang yang mengganggu kesenangannya siang ini.
"Kamu mau mati ?" Tanyanya kesal.
"Iya aku mau mati, tapi nangis setelah memastikan Abang mati dulu." Jawaban tidak kalah kesal terdengar dari ujung ponselnya.
Nyali Ayiman menciut, ia kembali memeriksa dengan teliti siapa gerangan yang sedang menghubunginya siang ini.
Ya saalam... "Sekretaris gila !" Gumamnya.
__ADS_1
"Apa ?" Teriakan di ujung sana kembali terdengar.
Tania hanya bisa menggelengkan kepala. Pemandangan yabg seperti ini sudah sering kali ia lihat, bahkan saat masih tinggal bersama mertuanya, Tania selalu menonton adegan action secara live dari dua bersaudara ini. Yang tentu saja, suaminya yang kalah.
"Kenapa pulang ga bilang-bilang sama dia, Mas. Kasian Ayu, selalu saja kamu recoki dengan pekerjaan yang seharusnya itu tugas kamu." Tania ikut memarahi suaminya.
Ayiman semakin frustasi. Tidak di rumah, tidak di kantor ngenes banget hidupnya. Apa semua wanita seperti ini, oh tuhan....
"Aku kangen, mau cetak bayi.." Jawabnya tanpa memperdulikan teriakan yang berasal dari ponsel pintarnya.
Beberapa saat kemudian panggilan itu berakhir, dan tanpa menunggu lama, Ayiman membawa istri nya ketempat percetakan bayi. Bukan printer ya, tapi ranjang !
****
Kita kembali ke kantor. Di dalam ruangan yang tadinya sudah jauh lebih tenang, kembali memanas. Ayura menggenggam erat ponselnya, seakan ingin meremukkan benda pipih itu menggunakan tangannya.
"Ayo kita pulang dan minta Ayah buat menikahkan kita malam ini juga. Masa iya Bang Ayi sudah pulang mau cetak bayi di rumah."
Samudra tertawa keras mendengar rengekan memelas bercampur kesal dari bibir Ayura.
"Aku temani kamu kerja hari ini. Malam nanti kita nikah, dan mulai besok kamu gantian nemanin aku kerja sambil cetak bayi." Ujarnya masih dengan tawa.
Ayura mendengus, gadis itu lalu melangkah keluar dari dalam ruangan dan kembali ke meja kerja miliknya. Bagaiman lagi, kakak kembarnya yang gila itu sudah kembali, mau tidak mau ia Teto harus berada di kantor.
Samudra pun ikut keluar dari dalam ruangan itu, lalu melangkah menuju meja kerja yang ada di depan ruangan Direktur. Menarik kursi yang ada di sana, lalu duduk di samping Ayura.
"Ini akan lama loh." Ayura memperingati.
"Ayo mulai kerja, biar tidak akan lama lagi." Ujar Samudra.
"Jangan gangguin aku, jangan ajak aku ngobrol nanti otak ga fokus." Tegas Ayura memperingati. Samudra mengangguk paham.
__ADS_1