
"Senang bertemu dengan mu." Ucap Arga sambil mendekat, dan melingkarkan tangannya di pinggang Dira. Sedangkan satu tangannya terulur untuk menyalami laki-laki yang sedang duduk di atas kursi roda dengan wajah sok tampan menyebalkan. "Aku Arga." Ucapnya lagi memperkenalkan diri, saat ukurannya tangannya tersambut.
"Aku Arion." Jawab Arion.
"Kamu tidak ingin bersalaman dengan ku ?" Tanya Arion kemudian saat jabatan tangannya dengan Arga sudah terlepas. Lelaki semakin tersenyum geli, saat laki-laki yang baru saja menjabat tangannya segera menarik tubuh gadis yang begitu mirip dengan istrinya.
"Kalian ngga akan tinggal di Apartemen kami kan ?" Tanya Arga sambil menyembunyikan tubuh kecil Dira ke belakang tubuhnya.
Arion dan Danira sama-sama terkekeh geli melihat sikap laki-laki posesif yang ada di hadapan mereka.
"Kami ke Berlin buat nyetak bayi, ngapain nebeng di apartemen kalian. Kayak ga ada hotel aja." Jawab Nira. Gadis cantik itu kembali mendorong kursi roda suaminya menuju area parkiran.
Arga yang masih terus menggenggam tangan Dira pun, ikut menarik istrinya itu melangkah menuju tempat di mana mobilnya berada.
Si kembar cantik bersama suami mereka masing-masing, melangkah bersama menuju tempat mobil yang akan membawa mereka pulang berada.
Beberapa orang yang juga sedang berada di Bandara tersebut, sesekali melirik ke arah mereka. Wajah cantik yang begitu mirip, hanya berbeda ekspresi saja membuat keduanya mampu menarik tatapan kagum dari orang-orang yang ada di sana.
Setelah sampai di area parkir, Arga melepaskan tangan Dira lalu melangkah mendekati Arion dan Nira. Tanpa di minta, laki-laki itu segera membantu Arion beranjak dari kursi roda, lalu masuk ke dalam mobil.
****
Mobil mewah milik Arga mulai melaju pelan di jalanan kota Berlin.
"Ini mobil siapa ?" Tanya Nira.
"Mobil aku lah, masih di tanya." Jawab Arga ketus.
"Santai aja, ga usah ngegas. Mana tahu aku kalau kamu mampu beli mobil, padahal kamu sekarang pengangguran." Ledek Nira.
Arion tertawa mendengar kalimat istrinya yang mampu membuat laki-laki yang sedang mengemudi terlihat begitu kesal.
"Aku jadi pengangguran gini biar bisa cepat kasih kamu keponakan." Ujar Arga kesal karena Nira terus saja membuatnya marah. Terlebih laki-laki yang terus saja memasang wajah sok tampan di samping kakak ipar sekaligus sahabatnya, terus saja menertawakan dirinya.
"Mau kamu kasih makan apa keponakan ku kalau kamu pengangguran gini." Ucap Nira lagi.
__ADS_1
"Gila yaa, aku masih punya banyak uang loh." Jawab Arga tidak terima karena di tuduh tidak bisa membiayai calon anaknya karena dirinya yang tidak memiliki pekerjaan sekarang. Padahal kan dia jadi pengangguran gini karena terlalu cinta pada Dira.
Dira tersenyum mendengar pertengkaran suami dan kakak kembarnya.
"Gimana perkembangan kesehatan kamu ?" Tanya Dira tiba-tiba. Wanita yang sedang hamil beberapa minggu itu tidak menggubris tatapan tajam dari laki-laki yang sedang menyetir di sampingnya.
"Sedikit lagi. Ini cek up yang terakhir. Sebenarnya sudah baik-baik saja dari kemarin, hanya saja dokter menyarankan untuk belum menggunakan kedua kakiku sebagaimana mestinya sampai benar-benar sembuh." Jawab Arion.
"Semoga kali ini hasilnya seperti apa yang kamu harapkan." Ujar Dira.
Arion tersenyum, kemudian mengangguk usai mengatakan aamiin atas do'a kesembuhan dari adik iparnya.
"Aku penasaran bagaimana kamu ketemu dengan kakak ku. Apa seperti saat bertemu aku ?" Dira tersenyum mengucapkan kalimat pertanyaan itu, terlebih melihat wajah laki-laki yang semakin terlihat kesal di sampingnya.
"Enak banget ya kamu, aku yang sudah kenal mereka saat mereka masih bayi masih harus berjuang keras untuk bisa menikahi Dira. Nah kamu, hanya sekali bertemu langsung berakhir di pelaminan." Sela Arga kesal. Oh ayolah, dia tidak ingin ada laki-laki lain yang dekat dengan istrinya.
"Karena aku berani mengambil keputusan." Jawab Arion dengan wajah meledek.
Nira tertawa saat melihat Arga yang seketika mendengus kesal setelah mendengar jawaban menohok dari suaminya.
Arion hanya menanggapi kekesalan iparnya itu dengan tawa. Seakan ocehan, serta perdebatan yang terus terdengar di dalam mobil itu adalah sesuatu yang membuatnya bahagia.
"Jangan senyum-senyum seperti itu, aku ngga mau jauh cinta padamu lebih dulu." Bisik Nira di telinga Arion.
"Aku sangat menantikan itu." Jawab Arion dengan senyum di wajah tampannya.
"Keluar sekarang ! Arga tiba-tiba menghentikan mobil di sisi jalan. Kalian berdua pikir aku dan Dira obat nyamuk di sini ?" Kesalnya lagi.
"Telinga kamu di tutup aja." Jawab Nira masih terus menatap wajah tampan suaminya.
"Aku kesal, turun sekarang. Pakai taksi aja." Ujar Arga lagi.
"Lah aku ngga larang kalian bermesraan. Kenapa kalian ngga melakukan hal yang sama. Iya kan sayang ?" Kini tangan Nira sudah menyentuh rahang tegas suaminya, dan itu membuat Arga semakin frustasi. Bagaimana tidak, istri kesayangannya yang sedang menahan malu di sampingnya, sama sekali tidak mau berinisiatif memulai percakapan manis seperti yang di lakukan Nira saat ini.
"Jangan di sini sayang, sabar sebentar lagi kita tiba di hotel." Ujar Arion dengan tatapan jail. Lelaki itu menggenggam tangan istrinya, lalu mengecup tangan lentik itu berulang kali tanpa memperdulikan dua orang yang sedang memasang ekspresi berbeda di kursi depan.
__ADS_1
Dira diam, menurutnya pembahasan suami istri seperti ini memang sangat tabu jika di bahas di depan orang lain. Sedangkan Arga semakin frustasi kerena melihat tingkah sepasang pengantin baru yang sedang duduk di kursi penumpang di mobilnya.
"Ayo jalan, kami mau cepat sampai hotel." Perintah Nira.
"Mengesalkan."
Arga kembali melajukan mobil menuju hotel tempat Nira dan Arion beristirahat selama di Berlin.
"Nanti kalau di apartemen, aku ma jenguk anak kita yaa." Bisik Arga pelan, dan langsung mendapat tabokan dari istrinya.
Dua orang yang sedang duduk di bangku belakang tertawa geli.
"Gimana sih cara kamu sampai berhasil buka segel adik dingin ku ini ?" Tanya NIra di sela-sela kekehan nya.
"Aku paksa lah." Jawab Arga santai.
"Bisa ngga, jangan bahas hal begituan. Kalian ngga malu ?" Dira akhirnya bersuara setelah sekian waktu hanya menjadi penyimak.
"Rasanya gimana Dir ? Aku penasaran." Tanya Nira tidak memperdulikan wajah adik kembarnya yang sudah memerah menahan malu karena pembahasan vulgarnya.
"Kalian belum coba emang ?" Tanya Arga.
"Tunggu Arion sehat dulu, biar puas." Jawab Nira seketika membuat Dira batuk.
"Turunin aku sekarang. Pembahasan kalian mencemari pendengaran bayi ku." Ancam Dira.
"Jangan sayang, mereka aja yang turun. Aku jadi pengen jengukin anak kita di dalam mobil seperti kemarin."
Plak....
Tabokan mendarat sempurna di kepala Arga hingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan.
"Wah adikku ternyata sehebat itu. Mobil bergoyang dong." Goda Nira.
"Kak.." Ucap Dira memelas.
__ADS_1