
Yana menggeram kesal saat melihat mobil yang tidak lagi asing sudah terparkir di depan toko bunga ibunya.
Kapan Reno mengerti, jika dirinya pun sudah sangat lelah dengan kehidupan seperti ini. Ia ingin menjalani harinya dengan damai setiap hari.
Masih dengan perasaan kesal, Yana kembali menginjak gas dan memutar kemudi untuk pergi dari sana. Biarlah dia akan kembali nanti setelah memastikan mantan suaminya itu sudah pergi dari toko bunga ibunya.
Baru saja ia ingin kembali memutar kemudi dan pergi dari tempat itu, sosok laki-laki labil bin aneh di kantor sepanjang hari, terlihat turun dari mobil di belakang mobilnya.
Yana semakin frustasi, apa harus resign dulu baru si lelaki aneh ini mengerti jika ia masih butuh ketenangan memikirkan jalan hidupnya sendiri ? Ia hanya ingin hidup dengan tenang, masalah dengan Reno masih belum selesai kini masalah baru timbul lagi. Satu pengganggu dalam hidupnya sudah membuat ia resah, kini bertambah satu lagi.
Sungguh sial memang.
Yana masih belum keluar dari dalam mobil, namun, ia mengurungkan niatnya pergi dari sana, dan membiarkan laki-laki yang tidak lain adalah bosnya itu melangkah mendekat dan berdiri di samping mobilnya dengan diam.
"Sialan." Geram Yana, lalu memaksakan diri keluar dari dalam mobilnya.
"Apa ada yang bisa saya bantu Pak ?" Tanyanya sopan, meskipun hatinya dongkol.
"Aku mau bertemu calon mertua." Jawab Alfaraz membuat Yana terbelalak.
"Bapak sudah gila !" Bentak Yana, dan itu membuat Alfaraz tersenyum menyebalkan.
"Pulang sana." Usir Yana sambil mendekati Alfaraz kemudian mendorong tubuh bosnya itu menuju mobil mewah yang berjarak beberapa meter dari mobilnya.
"Aku serius Zyana." Ujar Alfaraz. Lelaki itu menahan pergelangan tangan yang sedang mendorong tubuhnya, namun, si pemilik tangan segera menarik tangan itu kembali.
"Bapak tahu siapa saya ?" Tanya Yana kesal.
Alfaraz mengangguk santai sambil menatap lekat wajah cantik yang terlihat sangat kesal itu.
"Saya baru beberapa hari yang lalu resmi bercerai dengan suami saya." Ujar Yana.
"Aku tahu." Jawab Alfaraz lagi masih dengan nada santainya.
"Bapak tahu masa idah seorang wanita yang baru ditinggal suaminya berapa lama?" Tanya Yana lagi.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa masih meminta saya menikah."
"Aku hanya meminta kamu menikah dengan saya, bukan meminta menikah sekarang juga." Ujar Alfaraz.
Yana terdiam, ia menatap manik itu dengan lekat. Mencari kebohongan di sana, namun, tidak ia temukan.
__ADS_1
"Bapak serius ?" Tanya Yana lagi.
Alfaraz tersenyum lalu mengangguk.
"Fix Bapak benar-benar sudah gila." Ujar Yana lalu melangkah meninggalkan lelaki aneh itu di pinggir jalan.
Melihat Yana yang sudah melangkah masuk ke dalam pelataran toko bunga, Alfaraz pun ikut melangkah masuk mengikuti Yana dari belakang.
"Ngapain ?"
Yana bersidekap sembari menatap tajam laki-laki yang sedang tersenyum jail di hadapannya.
Hilang sudah rasa hormatnya pada laki-laki yang berstatus sebagai bosnya ini.
"Kan tadi aku bilang mau ketemu calon mertua." Ujar Alfaraz santai.
"Terserah, terserah, terserah !"
Yana meninggalkan Alfaraz, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam toko milik ibunya.
Melihat tampang Reno yang begitu mengenaskan, Yana kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Hatinya serasa di remas kuat melihat lelaki yang dulunya begitu terawat baik, kini menjadi se kusut ini.
"Kamu sudah pulang Na ?" Reno bergegas bangkit dari tempat duduknya dan melangkah cepat menuju wanita yang masih begitu ia cintai.
Seseorang yang sedang melangkah masuk dengan pertanyaan jail membuat Reno terdiam di tempatnya. Ia menatap sendu wajah mantan istrinya, sedangkan Yana masih dengan wajah yang sama seperti biasa, datar tak terbaca.
"Kamu mengkhianati ku juga ?" Tanya Reno dengan suara yang sudah sedikit meninggi.
"Apa aku masih berkewajiban menjawabnya ?" Yana justru balik bertanya dan membuat Reno mengepalkan tangannya.
"Aku tidak tahu, ternyata kamu juga semurahan ini." Ujar Reno.
"Yah aku semurah ini, untuk itu jangan menampakkan dirimu lagi di sini. Jangan datang mengemis sesuatu yang tidak mungkin pada wanita murahan dan tidak jelas asal-usulnya seperti aku." Ucap Yana dingin.
Al sudah terdiam di belakang Yana, merasa bersalah karena sikap jailnya membuat Yana kembali di terpa masalah. Seharusnya ia mendengarkan nasihat adik kesayangannya kemarin.
"Maaf saya hanya rekan kerja Ibu Yana." Ujar Alfaraz menjelaskan.
Reno masih menatap lekat wajah cantik mantan istrinya yang tidak berubah. Tidak ada tanda-tanda kesedihan di sana. Yana terlihat begitu menikmati kehidupan, sementara dirinya bahkan hanya sekedar bernafas pun begitu terasa menyesakkan saat Yana tidak lagi ada di sampingnya.
"Kamu tidak sedih berpisah dengan ku ? Kamu lihat aku se hancur ini sekarang, dan kamu masih baik-baik saja." Ucap Reno.
Yana menatap iba laki-laki yang terlihat berantakan di hadapannya. Namun, sedih dan bahagia adalah pilihan, dan ia berhak memilih mana yang menurutnya lebih baik.
__ADS_1
"Kamu yang menciptakan kehancuran mu sendiri Mas. Dan aku tidak berkewajiban ikut hancur di dalam masalah yang kamu ciptakan." Ujar Yana.
Matanya berkaca, hati wanita memang selembut ini. Bahkan melihat lelaki yang pernah menjadi seseorang yang berharga dalam hidup jadi se hancur ini, ikut membuat hati sedih. Terlepas dari luka yang Noah begitu pedih, tetap saja di lubuk hati terdalam nya ia begitu prihatin dengan keadaan Reno saat ini.
"Tolong beri aku kesempatan Na. Kamu bilang kamu masih mencintaiku." Ujar Reno berusaha untuk mengais sisa-sisa rasa yang masih berada di hati mantan istrinya.
"Jangan seperti ini Mas, pulanglah. Istri dan anak kamu menunggu." Bujuk Yana.
"Na,..
"Jangan berani menyentuh ku !" Bentak Yana.
Alfaraz masih terdiam di belakang Yana, ia ingin keluar dari ruangan itu namun, kakinya justru memangku di lantai. Ia merasa sangat bersalah karena sudah berani menahan pergelangan tangan Yana tadi.
"Kalian ini, sudah dewasa kelakuan masih saja seperti anak kecil. Tidak malu ada orang lain yang sedang melihat pertengkaran kalian." Omel Ibu Dinda yang sejak tadi terdiam di sofa.
"Masuk dan duduk sini Nak." Ajaknya pada Alfaraz yang terlihat serba salah di belakang Yana.
"Terimakasih Bu." Ucap Al lalu melangkah menuju sofa tempat Ibu Dinda sedang merangkai bunga.
Melihat Reno yang sudah tertunduk tanpa kata, Yana melangkah masuk lebih dalam dan keluar lewat pintu belakang menuju rumah untuk mengganti pakaiannya.
Reno hanya menatap kepergian mantan istrinya dengan nanar, lalu beralih pada laki-laki yang sedang berbincang akrab dengan mantan ibu mertuanya.
"Bu Reno mohon." Ucap Reno memohon. Ia bergegas melangkah dan ikut duduk di samping Ibu Dinda.
Alfaraz masih diam, hanya sesekali melirik lelaki yang ia ketahui adalah mantan suami Yana, terus memohon entah untuk apa.
"Apa yang harus ibu lakukan Nak ? Yana sudah menolak dengan tegas untuk kembali, jadi Ibu harus menghargai keputusannya." Jelas Ibu Dinda.
Reno tertunduk, hidupnya kacau tidak terarah. Selama ini ia hanya terus menggantungkan segalanya pada Yana, dan kini setelah Yana tidak lagi bersamanya semuanya jadi berantakan.
*Note Author
Maaf yaa jika dua hari ini up nya kurang.
Oh iya aku mau promosi novelnya seorang teman..
Berbagi cinta : Tetanggaku Ternyata Maduku
Karyanya Kak Bubu.id
jangan lupa mampir ya 🙏🙏🙏
__ADS_1
mau ikut sertakan gambar, tapi jaringannya lemot banget 😥