Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 277 Season 4


__ADS_3

Tania mulai menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya tanpa ada yang terlewati. Tangannya masih terus saling bertautan di atas paha, untuk mengurangi rasa tidak nyaman di dalam dada. Apapun alasannya, ia tahu apa yang ia lakukan lima bulan yang lalu tidak bisa di benarkan. Ia sudah siap menerima konsekuensi atas apa yang ia lakukan selama lima bulan ini, termasuk penolakan dari sepasang suami istri yang ada di hadapannya ini.


Abizar masih terlihat tenang mendengar penjelasan calon menantunya. Laki-laki paruh baya itu hanya melirik putranya yang sedang duduk diam di samping gadis yang sedang menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya.


Berbeda dengan tiga wanita cantik yang juga ada di ruangan itu. Ketiganya nampak begitu terkejut saat mendapati kenyataan jika Tania bukanlah anak kandung dari relasi bisnis Abizar.


"Jadi sebelum pindah ke Jakarta, kamu tinggal sama siapa ?" Tanya Danira.


tania menoleh, menatap Ayiman yang terlihat diam saja di sampingnya.


"Tania tinggal di rumah peninggalan Ibu, Tante." Jawab Tania.


"Terus bagaimana dengan pernikahan kalian ?" Kali ini Abizar yang bertanya.


"Di lanjutin lah, masa iya kamu biarkan gadis sebatang kara hidup sendirian. Kamu ini gimana sih." Pukul Danira di pundak adiknya. "Nikahin malam ini juga, Ayi. Biar Tania ga akan tidur sendirian lagi." Sambung Danira dengan wajah serius.


Dira mendengus kesal. Otak mesum kakak kembarnya ini memang tidak pernah sembuh.


"Bisa nggak kalo ngomong ga usah di sambung-sambung dengan otak mesum kamu itu ?" Kesal Dira.


Danira hanya terkekeh geli melihat wajah kesal adik kembarnya.


"Tapi kamu suka kan ?" Ledek Danira.


"Dasar." Ujar Dira. Siapapun tidak akan pernah menang jika berdebat masalah ranjang, dengan wanita yang ada di sampingnya ini. Untuk itu, ia memilih untuk tidak lagi menimpali.

__ADS_1


"Gimana, Tan ? Kamu masih mau lanjutin pernikahan kalian ?" Tanya Aira.


Tania kembali menoleh ke arah Ayiman yang masih juga diam seakan tidak mendengarkan pertanyaan dari sepasang suami istri yang ada di hadapan mereka.


"Tania terserah Ayiman aja, Tante." Jawab Tania.


"Pasti Ayiman mau lah, bosan Tan tidur sendirian mulu. Meluk guling ga senyaman meluk istri." Kekeh Danira.


"Jika Ayah dan Ibu tidak mempermasalahkan semua yang sudah terjadi, Ayi sangat ingin melanjutkan pernikahan ini." Ujar Ayiman.


"Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Belajarlah dari kejadian ini, jika sesuatu yang di awali dengan niat yang salah hasilnya tidak akan pernah baik. Jangan meremehkan kekuasaan Allah dalam menentukan takdir manusia. Di awal mungkin kalian tidak akan pernah berharap jika perasaan akan membawa kalian sampai di titik ini, tapi lihatlah sekarang." Ujar Abizar panjang lebar.


"Tidak, Yah. Saat memutuskan untuk menikah dengan Tania, Ayi memang bersungguh-sungguh melakukan itu." Jelas Ayiman, karena sepertinya sang Ayah berpikir niatnya tidak tulus. Tidak, Tania bukan hanya wanita yang ingin ia jadikan alat agar bisa melupakan Daniza, namun karena Daniza ia belajar mencintai gadis sebaik Tania. "Meskipun saat itu perasan masih belum sepenuhnya, tapi Ayi memang berniat untuk mencintai Tania sebagai mana mestinya." Sambung Ayiman jujur.


"Wah, kamu memang terbaik sekali, Ayi.." Danira bertepuk tangan.


Aira ikut tersenyum. Sejatinya tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar. Yang paling penting adalah, semua orang harus wajib saling terbuka. Serumit apapun masalah, jika di bicarakan dengan baik, pasti akan terurai juga.


"Jadi dua hari lagi, kita tetap melangsungkan pernikahan itu ?" Tanya Abizar lagi, memastikan. Dan langsung di angguki oleh dua orang yang sedang duduk berdampingan di hadapannya.


"Ah, manis banget sih. Aku jadi pengen nikah lagi." Celetuk Danira, dan langsung mendapat pukulan dari Nadira.


"Sudah tua Kak, bentar lagi mau punya cucu loh, ga pernah insaf ih." Kesal Dira, dan lagi-lagi hanya mendapat tawa geli dari Danira.


"Tania nginap di rumah Tante aja." Ajak Nira. "Kasian Trias sendirian, Niza tinggal di rumah Tante Dira." Sambung Danira.

__ADS_1


"Boleh ya, Bi." Mohon Danira lagi sambil mengacak-acak wajah tampan adiknya.


"Kak, bentar lagi mau jadi nenek jangan kayak anak kecil terus dong." Protes Abizar karena kegilaan kakak sulungnya.


*****


Setelah pembicaraan yang menyita waktu itu, kini Danira mulai melajukan mobilnya di tengah jalanan kota Jakarta bersama Dira yang sedang duduk di kursi penumpang yang ada di samping kursi pengemudi. Sedangkan Ayiman dan Tania masih mengikuti mobil mewah itu dari belakang.


Malam ini hingga hari H pernikahan, Tania akan tinggal di rumah Danira. Wanita paruh baya yang kecentilan nya melebihi anak muda itu, berhasil membujuk calon menantu adiknya agar tinggal dan menemani menantunya di rumah.


Rumah megah miliknya sangat sepi saat Daniza sudah pindah ke rumah besan sekaligus adik kembarnya. Terlebih Alfan juga sudah tinggal di apartemen, sedangkan Aidar suka lupa jalan pulang ke rumah dan memilih menginap di apartemen Alfan.


Ternyata susah-susah hamil banyak anak, ga akan berguna. Lihatlah nasibnya sekarang, walaupun rajin mencetak anak, tetap saja rumahnya berakhir sepi. Liat saja nanti, ia akan meminta Trias melahirkan banyak cucu untuk nya agar rumah kembali ramai seperti dulu, saat Daniza, putri bungsunya menangis histeris karena kejailan Aidar. Ah, dia jadi rindu putri kecilnya itu.


"Dir, Niza belum hamil ?" Tanya Danira pada wanita yang ada di sampingnya.


"Belum dua Minggu, masa iya udah hamil. Otak kamu itu loh Kak." Kesal Dira.


"Siapa tahu aja mereka udah cetak duluan, aduh sakit.." Danira berteriak kesal. "Kualat kamu nanti. Udah dua kali loh kamu mukul aku." Ujarnya kesal.


Dira tidak perduli. Siapa suruh wanita yang hanya berbeda beberapa usia menit dengannya ini terlalu mesum hingga berpikir hal yang tidak-tidak dengan anak-anak mereka.


"Anak aku itu Soleh." Ujar Dira.


"Ya siapa tahu aja, Daren kan sering ke apartemen Niza." Ujar Nira masih belum ingin menyerah berharap segera dapat cucu baru dari putrinya.

__ADS_1


"Kami ini seorang Ibu apa bukan sih. Masa mikirnya jorok kayak gitu. Niza gadis yang baik, masa iya mau di ajak cetak anak sebelum nikah." Dira masih tidak terima.


Dua wanita dengan wajah serupa namun, memiliki kepribadian seperti langit dan bumi itu terus berdebat masalah cucu baru mereka sudah ada atau belum di dalam perut putri mereka, hingga mobil yang sedang di kendarai Danira mulai memasuki pelataran rumah milik adik kembarnya.


__ADS_2