
Arion kembali mendatangi rumah sakit yang sudah sering kali ia datangi beberapa tahun terakhir. Bedanya kali ini ia tidak lagi di temani oleh bawahannya, tetapi di temani seseorang yang mulai beharga dalam hidupnya.
Danira Florence Prasetyo, gadis cantik dengan segala keceriaannya, kini mulai mengisi hatinya yang kosong. Bukan, tidak kosong, namun, hanya di isi oleh seseorang yang tidak lagi berada di dunia.
Di ujung sana, gadis yang begitu mirip dengan istrinya sudah menunggu kedatangan mereka hari ini. Dua wanita yang luar biasa, yang mampu membuatnya menatap dunia yang baru. Dua gadis yang mampu membuatnya kembali melihat dunia yang baru setelah kepergian seseorang yang dulu mengisi hidupnya.
"Ah wanita hamil itu sudah menunggumu di sana, bikin cemburu aja." Ujar Danira sontak membuat Arion tertawa.
"Aku sudah milik kamu sekarang." Ucap Arion sambil mengecup tangan Danira.
"Woi ini tempat umum." Tegur Dira saat Danira dan Arion sudah tiba di sampingnya.
"Maklum lah Dir, kita kan pengantin baru. Iya kan sayang ?" Jawab Danira meminta dukungan pada suaminya.
Arion mengangguk membenarkan.
"Cih, terserahlah. Tapi ingat, ini negeri orang, jangan bilang kalian akan merasa ini milik berdua dan membuat penduduk Jerman pindah ke Indonesia." Ujar Dira.
"Aku ga tahu kalau kamu bisa menciptakan lelucon, ya walaupun itu terdengar sangat tidak lucu." Ledek Danira.
"Udah ngga usah banyak bicara, cepat bawa suami kamu ke dalam. Mau di periksa kan ?" Ketus Nadira.
"Dih dokternya galak." Ucap Nira lalu segera mendorong kursi roda suaminya masuk ke dalam ruangan dokter.
Dira pun ikut masuk ke dalam ruangan itu, mengikuti kakak dan kakak iparnya untuk ikut memantau perkembangan kesehatan Arion, kakak iparnya.
"Di perhatikan yaa Dokter Dira, mungkin ini terakhir kalinya kamu akan ikut memantau pasien sebagai mahasiswa saya, setelah ini kamu akan memeriksa sebagai dokter Ortopedi yang sesungguhnya." Ujar dokter paruh baya yang mulai bertanya-tanya banyak hal mengenai kesehatan, kepada pasiennya.
"Baik Dok." Jawab Dira.
Seluruh rangkaian pemeriksaan yang berpusat di kaki Arion, mulai di lakukan. Dira mulai melakukan prosedur pemeriksaan itu dengan hati-hati.
Pemeriksaan yang memakan waktu hampir satu jam itu akhirnya selesai. Kini Arion mulai melangkah perlahan menggunakan kakinya sendiri.
"Masi ngilu nggak ?" Tanya Dira pada Arion.
"Sedikit." Jawab Arion.
"Itu hanya efek karena sudah lama tidak di gunakan." Ujar Dira. "Jangan khawatir, pasti akan cepat hilang." Sambungnya.
__ADS_1
Arion mengangguk.
Setelah berpamitan pada dokter senior itu, Dira mengajak Danira dan Arion keluar dari dalam ruangan itu menuju parkiran di mana suaminya sedang menunggu.
"Kok Arga bisa ada di sini ?" Tanya Danira.
"Sebenarnya jam kerjaku sebagai dokter magang telah selesai beberapa waktu yang lalu,hanya aku masih ingin menunggu kalian datang. Kalau masih merasa ngga nyaman, kamu pakai kursi roda aja dulu." Sarannya sambil melihat kakak iparnya yang merasa tidak nyaman menggunakan kedua kakinya.
"Ngga apa-apa. Jika tidak di paksa, nanti tidak akan terbiasa." Jawab Arion.
Dira mengangguk..
"Jangan di paksa dong sayang, nanti sakit. Aku ga mau yaa jika rencana entar malam batal lagi." Ucap Dira menimpali.
"Ga akan batal." Arion melepaskan genggaman tangannya di jemari Nira, lalu menarik tubuh istrinya itu agar lebih dekat padanya.
"Rencana apa ? Aku ikut ya Kak." Ucap Dira menimpali.
Danira terbahak.
"Kamu mau ikutan cetak bayi bareng, kan punya kamu udah jadi." Jawab Danira frontal tanpa sensor membuat wanita hamil yang tengah hamil muda itu memerah malu.
"Kakak naik taksi aja, aku mau pulang ke apartemen." Dira melangkah cepat sambil mendorong kursi roda yang tadi di gunakan Arga, lalu segera masuk ke dalam mobil ketika sudah tiba di parkiran.
"Punya Arion." Jawab Dira singkat lalu duduk di kursi tepat di samping Arga.
"Kok bisa ?" Arga menatap istrinya penuh curiga.
"Apa-apaan mata kamu kayak gitu." Protes Dira karena mendapat tatapan curiga dari suaminya.
"Woi, kami nebeng dong." Ucap Danira sambil menempelkan wajahnya di kaca jendela mobil yang ada di samping Dira.
"Dasar wanita tidak tahu malu." Gumam Dira.
Setelah mengucapkan kalimat yang membuat Arga tertawa, Dira meminta suaminya itu untuk membuka pintu mobil yang ada di bagian belakang.
Beberapa saat kemudian, Nira dan Arion masuk dan duduk di bangku penumpang. Sebelum itu Nira lebih dulu meminta Arga untuk memasukkan kursi roda suaminya ke dalam bagasi.
"Ingat, aku ini kakak ipar kamu loh." Ancam Nira sebelum Arga protes.
__ADS_1
"Baiklah kakak ipar." Ujar Arga lalu keluar dari dalam mobil.
***
Mobil yang terbilang mewah itu mulai keluar dari pelataran rumah sakit, dan berbaur dengan kenderaan lain yang ada di jalanan Berlin.
"Bagaimana perkembangan kesehatan Arion ? Semuanya baik kan ?" Tanya Arga.
"Iya, dia sudah baik-baik saja." Jawab Dira.
"Berarti tiga hari lagi kita akan kembali ke Jakarta. Ayah meminta kita pulang." Ucap Arga.
"Kok gitu, kami merencanakan bulan madu selama dua minggu, kok malah di suruh pulang." Protes Nira.
"Abizar akan menikah minggu depan, dan kita semua wajib berada di sana. Ini tidak boleh di bantah, ayah akan marah !" Arga meniru gaya berbicara dari ayah mertuanya, dan membuat dua wanita kembar yang berada di dalam mobil tertawa, sekaligus rindu pada sosok bijaksana yang sedang jauh di sana.
"Ayah dan Ibu mendapati Abizar meniduri seorang gadis di apartemen Danira." Ucap Arga lagi.
"Tidak mungkin ! Aku kenal bagaimana adikku, dia tidak akan mungkin melakukan hal di luar batas. Selama ini dia bahkan tidak berpacaran agar terhindar dari hal-hal seperti itu." Kesal Dira saat mendengar kabar dari suaminya.
"Abizar mengaku pada Ayah dan Ibu, lalu memaksa untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan." Ucap Arga.
Arion tertawa mendengar kalimat Arga. Yah menurutnya cara yang di pakai adik iparnya agar bisa mengikat gadis itu sangat lah keren.
"Kalian percaya dia melakukan hal itu ?" Tanyanya.
"Ya enggak lah !" Jawab Dira cepat, karena ia sangat mengenal bagaimana watak adiknya itu.
"Dia mengatakan pada Nira semalam, jika dia menyukai gadis itu dan ingin menikahinya. Yah aku sih menduga, jika itu hanya akal-akalannya saja agar bisa mengikat gadis itu." Ujar Arion.
"Tunggu, kenapa Abizar bisa berada di apartemen kamu bersama seorang gadis di apartemen kamu ?" Tanya Dira sambil menatap kakak kembarnya yang sejak tadi terdiam di belakang.
"Ceritanya panjang, dan aku ngga tahu kalau Abizar bisa sampai sejauh itu." Jawab Nira.
"Ya udah ceritain sekarang." Ucap Dira cepat.
Danira pun mulai menceritakan kejadian semalam pada orang-orang yang ada di sana.
Setelah mendengar cerita panjang dari Nira, Dira akhirnya bisa bernafas lega. Dia lupa jika adik tampannya sudah dewasa, dan bisa kapan saja jatuh cinta dengan seorang gadis.
__ADS_1
"Ngapain kamu bawa kami kesini ?" Protes Nira saat mobil yang di kendarai Arga sudah berhenti di depan apartemen. Karena terlalu serius bercerita, ia sampai lupa meminta untuk di antar kan kembali ke hotel. "Antar kami ke hotel, kamu ngga tahu kalau waktu kami untuk berbulan madu hanya tiga hari lagi." Sambungnya memerintah.
Dira melotot mendengar kalimat kakak kembarnya. Gadis itu lantas bergegas mengambil earphone dan memutar musik untuk ia dengarkan pada calon bayinya agar tidak mendengar kalimat vulgar dari mulut Aunty gilanya. Berbeda dengan Arga, calon Ayah itu menatap frustasi pada Danira, sedangkan Arion hanya tertawa geli. Ternyata bahagia sesederhana ini. Cukup memiliki keluarga yang luar biasa, mampu membuat dirinya benar-benar merasa bahagia.