
Prang...
Pecahan ponsel yang ada di dalam genggaman Nara, berhambur di lantai kamar di sebuah apartemen mewah di Jakarta. Nara menangis tersedu mendengar kalimat lelaki yang entah sejak kapan mulai ia cintai. Rasa yang yang awalnya hanya ingin membantu memuluskan rencana dendam, kini berubah menjadi cinta yang menggebu nyaris membuatnya sesak.
"Kak Al jangan lakukan ini padaku." Lirihnya bersamaan dengan air mata yang terus luruh membasahi pipi mulusnya.
Nara menekan dadanya yang terasa sakit, keputusan Alfaraz kembali pada keluarga, dan berjanji akan kembali setelah berhasil, membuat Nara meradang. Tidak, ia tidak membutuhkan harta, yang ia inginkan saat ini hanyalah Alfaraz.
Bisakah ia memutar kembali waktu ke beberapa tahun yang lalu ? Saat semuanya masih baik-baik saja. Saat Alfaraz terus memohon padanya agar tetap bersama ? Saat sang Mama belum meminta Alfaraz untuk pergi meninggalkan dirinya.
Ternyata sesakit ini rasanya di tinggalkan.
Apakah ini karma ? Apakah seperti ini rasanya di tinggalkan oleh orang yang di cintai ?
Setelah puas menangis, Nara bangkit dari atas ranjangnya, lalu keluar menuju dapur. Tenggorokannya kering karena begitu banyak menangis. Ia membutuhkan segelas air putih, walaupun tidak bisa membuatnya benar-benar lebih baik, setidaknya rasa sakit di tenggorokan akan sedikit berkurang.
Seandainya, ah kata ini semakin membuat dirinya terperangkap dalam penyesalan. Seandainya ia tidak mendengarkan sang Mama, dan meminta Alfaraz untuk tetap di sampingnya, mungkin saat ini ia sedang meneguk kebahagiaan bersama suaminya itu.
Dua hari telah berlalu setelah kepergian Rita untuk selamanya. Hingga sampai menutup mata, sang Mama masih membawa dendam yang tidak pernah terbalaskan.
Sedih tentu saja, tidak ada orang yang tidak sedih karena di tinggalkan satu-satunya keluarga.
Sakit hati melihat Mamanya menderita sekian tahun karena keluarga besar Alfaraz, tak tak bisa membuat Nara membenci suaminya itu. Entah sejak kapan rasa cinta untuk Alfaraz ini tumbuh, ia pun tidak tahu.
Ingin membalaskan dendam yang belum tuntas, namun sekeras apapun Nara berpikir, itu bukanlah kesalahan dari keluarga besar suaminya. Dendam yang tumbuh di hati sang Mama, semata karena wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya itu terlalu terobsesi dengan Papa mertuanya dulu.
Dan hari ini pun Nara tidak lagi memiliki keinginan untuk melanjutkan rencana balas dendam Mamanya itu. Yang ia mau hanyalah Alfaraz, akan tetapi kini laki-laki itu sudah pergi menjauh dari kehidupannya. Tangannya semakin sulit menjangkau laki-laki yang dulu sempat bersimpuh di kakinya agar tetap tinggal bersama.
__ADS_1
***
Di dalam kamar di rumah mewah kediaman Prasetyo, Alfaraz berdiri di balkon kamar tidurnya. Menatap taman indah di belakang rumah yang bisa di lihat dengan jelas dari balkon kamar tidurnya.
Taman yang dulu selalu sang Papa gunakan untuk mengajaknya belajar berbagai hal. Taman yang dulu selalu ia gunakan untuk bermain bersama sang Bunda kini tinggallah kenangan.
Setelah keputusannya pergi dari rumah kurang lebih enam tahun silam, membuat hubungan keduanya merenggang. Meskipun kini semua fasilitas sudah di kembalikan, namun, tatapan kecewa sang Papa padanya masih belum pergi dari wajah yang sudah mulai menua itu.
Tidak ada lagi sapaan hangat untuknya, seperti dulu saat lelaki tua itu kembali dari perusahaan. Bahkan Adelia, adik satu-satunya pun selalu acuh tak acuh dengannya. Beruntung ada sang Bunda, meskipun semburat kekecewaan masih terlihat jelas di netra yang kata orang-orang begitu mirip dengannya, tapi Bunda masih mau menyapa dan mengajaknya berbicara banyak hal.
Al menggenggam erat ponsel yang baru saja ia gunakan menerima panggilan dari seseorang yang sampai saat ini masih mengisi hati terdalamnya.
Ternyata cinta yang ia persembahkan dengan sepenuh hati, tidak akan mampu menahan Nara untuk tetap tinggal di sisinya
Nara, gadis manis yang membuat Alfaraz jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ia berpikir, jika kisah mereka akan berjalan mulus, namun ternyata pernikahan sirih yang ia lakukan tanpa restu karena umur Nara yang belum cukup, kandas bahkan sebelum mereka mendaftarkan pernikahan dengan resmi.
Belum lagi hubungannya dengan kedua orangtua yang merenggang. Papa dan Bunda yang memilih lepas tangan dengan kehidupannya semakin menambah daftar penderitaan Alfaraz.
Sudah empat tahun lamanya mereka tidak lagi bersama, seharusnya saat ini mereka sudah mendaftarkan pernikahan secara resmi ke pengadilan. Menikmati masa-masa indah menjadi orang tua muda. Bagi Alfaraz hidup mewah bukanlah hal yang paling ia inginkan, hidup sederhana dengan Nara baginya sudah lebih dari cukup.
Mendengar isak tangis Nara beberapa saat yang lalu di ujung ponselnya, membuat hatinya seakan di remas kuat. Dulu ia berharap, di saat-saat tersedia Nara seperti hari ini, ia ada dan mendekap istrinya itu. Namun, kini keadaan tidak lagi sama, Alfaraz sudah memutuskan untuk kembali dan itu berarti ia sudah memilih melepaskan Nara.
Alfaraz terkekeh miris, ya.. Ia menertawakan kehidupannya sendiri yang entah bagaimana kedepannya. Tanpa Nara, dan belum juga mendapat maaf dari sang Papa.
Setelah kembali dari luar Negeri usai menyelesaikan magisternya, Al hanya menghabiskan banyak waktunya di dalam kamar. Tidak banyak yang ia lakukan, menatap foto Nara yang masih terpampang di layar ponselnya dan mengusapnya lembut.
"Nak Bunda masuk ya ?" Suara lembut di sertai ketukan di pintu kamarnya, membawa Alfaraz tersadar dari pikiran tentang kehidupan tragisnya.
__ADS_1
Ia menatap sejenak pintu kamarnya yang masih tertutup rapat, lalu mengizinkan wanita berharga itu masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa ?" Tanya Farah sembari melangkah mendekati putranya yang terlihat murung sambil menggenggam erat sebuah ponsel.
"Tadi Al menelepon Nara Bun, Mamanya meninggal dua hari yang lalu." Ucap Alfaraz pelan. "Al benar-benar merasa jadi lelaki yang tidak berguna, karena di situasi sulit Nara, Al hanya duduk diam di sini." Sambungnya lirih.
Farah tidak bisa berkata-kata, ia hanya mengusap lembut punggung putranya, berharap usapannya itu bisa membuat beban yang ada di punggung Alfaraz akan sedikit berkurang.
"Beberapa hari lagi dia akan berulang tahun. Al sedih karena merusak masa depannya yang seharusnya masih sangat panjang." Ujar Alfaraz
"Enggak kok Al, setelah kamu memutuskan pergi dia baik-baik saja. Bunda lihat banyak gambarnya terpasang di banner. Dia jadi wanita yang jauh lebih baik setelah kepergian mu." Ucap Farah.
Farah memang melihat menantunya itu sering tampil di beberapa TV swasta. Ada juga beberapa papan iklan yang terlihat beberapa bagian jalan dengan gambar Nara. Itu berarti, gadis muda yang di nikahi putranya tanpa izin dari mereka itu, hidup dengan baik setelah kepergian putranya ke luar negeri tiga tahun yang lalu.
****
*Note Author
Cerita ini adalah kisah beberapa tahun kemudian setelah kisah yang ada di chapter bonus ya kka. Maaf mungkin tidak terlalu ngeh apa gimana. Yang pasti, kisah ini adalah kisah setelah semua tokoh utama sudah menikah.
Untuk Kisah Eliana dan Kenan, aku akan crazy up awal Januari. mengejar 60 ribu kata sebulan di bulan Januari, untuk bulan Desember ini aku masih harus mencapai 60 ribu kata untuk wanita kedua, jadi jari keriting ku ga akan mampu lagi buat handel dua atau lebih novel sekaligus.
Januari aku akan fokus ke Eliana, lalu bulan berikutnya ke Briana dan Gama. Yang pasti akan aku selesaikan. semua novelku sudah memiliki kerangka masing-masing jadi tinggal mengembangkan setiap Bab. Hanya saja waktuku juga masih harus di bagi dengan pekerjaan di kantor, pekerjaan di dunia nyata masih harus jadi prioritas, karena gaji ku di dunia khayalan ini masih belum bisa di pakai untuk makan.
hihihi 😅😅
Do'akan aku sehat-sehat ya, biar kerjaan di kantor lancar, dan crazy up tiga sampai empat bab sehari pun juga lancar 😇🥰
__ADS_1