
Arga berdiri di depan gerbang sekolah Danira dengan staylis yang membuat beberapa siswi di sana terkagum-kagum. Ia sudah meminta izin pada Ayah dan Ibunya Nadira, jika hari ini ia akan mengajak gadis itu keluar, hitung-hitung merayakan perpisahan karena sebentar lagi Nadira akan berangkat ke luar negeri.
Di dalam halaman sekolah, Danira yang sedang kumpul bersama teman-temannya tersenyum melihat Arga sudah berdiri di depan sekolah, padahal jam pulang sekolah masih beberapa menit lagi.
"Tampan banget sih.. Mau godain adik aku yaa."
Satu pesan chat berhasil Danira kirimkan ke nomor ponsel Arga. Gadis cantik itu kembali tersenyum saat melihat laki-laki yang sedang celingukan mencari dirinya.
Beberapa saat kemudian, satu buah mobil mewah ikut terparkir di depan sekolah. Mobil yang sepertinya tidak asing di mata Danira, dan benar saja. Itu kakak sepupu mereka yang sudah sekian tahun tidak menampakan diri di Indonesia. Tapi sedang apa di sekolahnya di waktu seperti ini.
Danira hendak beranjak dari tempat duduknya, namun, langkahnya yang hendak meninggalkan tempat tongkrongan langsung terhenti, saat melihat adik kembarnya yang sedang melangkah cepat dengan senyum yang jarang sekali terlihat di wajah adiknya yang serupa dengannya itu.
Nadira yang sedang melangkah cepat, terkejut saat mendapati Argab sedang berada di depan sekolah. Namun, beberapa saat kemudian ia kembali terlihat biasa-biasa saja. Ia sudah tahu, siapa yang sedang di tunggu oleh laki-laki yang ia sukai ini.
Senyum yang sempat menghilang, kembali terlihat saat tangan yang sejak tadi terlipat di atas dada kini terbuka. Nadira kembali melangkah cepat sambil tersenyum manis, lalu segera membenamkan tubuhnya dalam pelukan Rayan.
Arga yang hanya berjarak beberapa meter dari dua orang yang sedang berpelukan, hanya bisa menatap pemandangan itu dengan nanar.
"Kak Arga lagi nungguin Kam Nira ya ?" Tanya Nadira setelah melepaskan pelukan Rayan dari tubuhnya.
"Iya..." Jawab Arga terbata.
"Who ?" Tanya Rayan.
"Ga usah sok." Ujar Nadira.
Rayan terkekeh.
"Siapa ?" Tanyanya lagi.
"Kak Arga, temannya Kak Nira, anaknya Om Reno." Jawab Dira.
Rayan tersenyum geli.
"Lengkap banget sih jawabnya." Goda Rayan. "Kayak orang spesial aja." Sambungnya sambil tersenyum jail.
Dira melotot, gadis itu segera mendorong tubuh kakak sepupunya masuk ke dalam mobil, sebelum rahasianya terbongkar.
"Kak Arga telepon aja. Sepertinya dia lagi nongkrong sama teman-teman nya." Ujar Dira.
__ADS_1
"Kamu mau pergi ?" Tanya Arga cepat.
Nadira mengangguk.
"Kemana ?" Tanya Arga lagi.
Nadira menatap wajah Arga heran.
"Mau ngecek paspor Kak." Jawabnya.
Arga terlihat lemas mendengar jawaban Nadira.
"Aku duluan ya Kak." Pamit Nadira.
Arga mengangguk lemah.
Setelah mobil yang di kendarai Rayan sudah berlalu dari sana, Danira keluar dari pelataran sekolah dan menemui sahabatnya yang terlihat tidak bersemangat. Gadis yang terkenal dengan kejailannya itu tertawa saat melihat wajah mengenaskan sahabatnya.
"Itu kakak sepupu kami. Tenang aja, ga usah kayak orang mau mati gitu." Ujar Nira menjelaskan.
"Tapi tampan banget." Ucap Arga.
"Kamu ngga mencoba untuk mencegahnya ?" Tanya Arga.
Lelaki itu membukakan pintu mobil, dan mempersilahkan sahabat nya masuk ke dalam.
"Ayah sama Abi yang paling dia sayangi aja ga bisa menahannya pergi, apalagi aku orang yang paling di bencinya." Jawab Nira.
"Rumit banget sih kalian." Ujar Arga. Lelaki yang sebentar lagi akan meraih gelar sarjana itu melajukan mobilnya menuju rumah Danira.
"Kamu izinnya mau bawa Dira jalan-jalan, kenapa malah aku yang kamu culik." Protes Danira.
"Ngga dapat adiknya, kakaknya pun jadi. Toh kalian kembar, mana ada orang yang bisa membedakan selain aku di luar sana." Jawab Arga.
"Dan setelah ini jika pacarku ngomel, kamu yang harus menenangkan nya."
"Tenang aja, pacar kamu itu sahabat aku. Dia ngga akan ngomel." Jawab Arga.
"Kak Arga coba tahan dia pergi." Ucap Nira.
__ADS_1
"Kamu kan yang bilang, Ayah kamu dan Abizar aja ngga bisa menahannya apalagi aku yang bukan siapa-siapa. Biarkan dia pergi dan mewujudkan semua mimpinya, toh jika memang di takdirkan bersama, pasti akan bertemu lagi." Arga menoleh pada Danira sebentar, lalu kembali fokus pada kemudi yang ada di tangannya.
"Yah siapa tahu aja." Ucap Nira sambil menerawang jauh pada beberapa potret masa kecil merek yang tersimpan rapi di dalam komputer adik kembarnya.
Tidak lama, mobil Arga sudah terparkir di depan rumah mewah milik orang tuan Danira. Dan mobil yang berada di sekolah tadi, juga sedang terparkir di sana.
"Mereka masih di rumah." Ucap Danira sambil tersenyum jail. Berbagai rencana gila mulai bermunculan di otaknya.
"Kita kencan bareng malam ini." Ujarnya membuat mata Arga terbelalak. "Serahkan semua padaku. Kak Rayan orang yang penuh pengertian kok, tenang aja." Sambungnya.
"Jangan aneh-aneh Nir, jangan buat dia tidak nyaman." Ucap Arga memperingati. Lelaki itu masih enggan keluar dari dalam mobil.
"Tidak, pokoknya serahkan semuanya padaku. Ayo turun, aku mau ganti baju dulu." Ajak Danira. Gadis periang itu bergegas masuk ke dalam rumahnya, dan benar saja Rayan masih berada di ruang tamu sambil berbincang dengan Ayah dan Ibunya.
Setelah menyalami punggung tangan ketiga orang dewasa yang ada di sana, Danira berjalan cepat menuju ruangan lain dan mendapati kedua adiknya sedang belajar di sana.
"Dir, kamu mau keluar sama Kak Rayan ?" Tanya Danira.
Nadira yang sedang fokus dengan pelajaran adiknya mengangguk mengiyakan.
"Sama aku dan Kak Arga juga yaa." Pinta Danira memelas.
"Kami ada kepentingan, bukan untuk bermain-main." Jawab Nadira masih belum mengalihkan fokusnya dari lembaran-lembaran kertas milik Abizar.
"Setelah kepentingan kalian selesai kita jalan-jalan sebentar. Aku juga mau jalan-jalan sama Kak Rayan sebelum kalian ke Berlin." Pinta Danira.
Nadira menarik nafasnya, lalu mengangguk menyetujui permintaan kakak kembarnya.
"Tunggu sebentar, aku mau ganti baju." Ujar Danira laku segera melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya.
Selang beberapa saat, gadis yang memiliki wajah serupa dengan Nadira itu mulai menuruni satu persatu anak tangga. Tatapan horor dari bocah tampan yang ada di dalam ruangan itu, tidak ia hiraukan. Gadis supel itu segera menarik tangan adik kembarnya menuju ruang tamu, dan mengajak dua laki-laki yang berada di sana untuk segera pergi.
"Di mobil yang berbeda aja." Putus Nadira tanpa ingin di bantah.
Meskipun cemberut, Danira menuruti permintaan dari adik dinginnya itu, lalu melangkah menuju mobil Arga. Arga hanya bisa tertawa melihat keadaan Danira.
"Ketawa kamu. Aku heran apa sih yang kamu suka dari gadis dingin itu. Bikin kesal aja." Omel Danira.
Arga tidak menjawab, lelaki itu kembali tertawa geli melihat wajah kesal sahabatnya.
__ADS_1