Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 150 Season 2


__ADS_3

Alfaraz Menggenggam tangan Zyana, lalu keduanya melangkah menuju ruang tamu di mana Reno berada.


Reno mendongak, menatap sepasang suami istri di hadapannya dengan perasaan penuh penyesalan. Tidak, bukan sepasang suami istri itu yang ia pandang, tapi wajah cantik yang terlihat begitu berseri dengan perut membuncit yang menjadi fokusnya saat ini.


Nafasnya terasa tercekat, dadanya bergemuruh penyesalan kian memenuhi hati, kala melihat wajah bahagia dua orang yang kini sudah duduk di hadapannya.


Tatapan Reno beralih pada dua tangan yang masih saling bertaut. Hatinya mencelos saat melihat bagaimana Alfaraz memperlakukan wanita yang pernah ia beri luka, bagaikan seorang ratu.


Ah, dirinya yang bodoh. Dirinya yang hanya selalu mengutamakan nafsunya. Bahkan di saat Yana sudah terluka pun, ia masih begitu tega kembali menyiram luka itu dengan air garam dengan meniduri Rara tepat di hadapan Yana. Dan kini, kedua wanita yang sama-sama terluka dengan sikapnya itu begitu sulit untuk kembali ia raih. Bukan sulit, tapi tidak akan pernah bisa.


"Ada perlu apa, hingga kamu begitu jauh-jauh datang ke rumah mertuaku ?" Tanya Yana.


Reno tersadar dari lamunan yang di penuhi penyesalan.


"Maaf jika kedatangan ku mengganggu mu." Ucap Reno.


Zyana masih diam, ia menunggu apa yang ingin di bicarakan oleh manta suaminya ini hingga begitu repot-repot mengunjunginya hingga ke rumah mertuanya.


"Aku datang hanya ingin menyerahkan ini." Reno mengulurkan secarik kertas yang ia ambil dari saku kemejanya ke arah Yana.


Zyana dan Alfaraz sama-sama menoleh kertas persegi panjang yang ada di atas meja di depan mereka.


"Ini apa ?" Tanya Yana sambil menatap kertas berisi nominal rupiah itu dengan alis bertaut.


"Ini hasil penjualan Apartemen kita dulu." Jawab Reno.


Yana tersenyum.


"Setelah berpisah, tidak ada lagi milik kita. Sejak awal Apartemen itu memang milikmu, dan aku tidak berniat untuk mengambil apartemen itu." Jawabnya.


"Anggap aja harta gono gini dariku." Ucap Reno.


"Uang hasil penjualan rumah yang aku siapkan untuk kita saja belum aku gunakan sama sekali Ren. Suamiku memberiku banyak uang, jadi aku tidak membutuhkan ini." Yana kembali menggeser kertas itu ke arah Reno. "Berikan saja pada Rara, bukankah kamu juga pernah memadu kasih dengannya di apartemen itu ? Jadi sepertinya dia juga berhak mendapatkan harta gono gini darimu." Sambungnya.


"Rumah apa ?" Tanya Reno. Lelaki itu mengabaikan sindiran pedas yang tertuju padanya.

__ADS_1


"Yah aku membuat rumah masa depan untuk keluarga kecil kita, tapi aku sudah menjualnya. Aku ingin tidak ada satu pun yang tersisa di dalam hidupku tentang kita, termasuk cek ini." Ujar Yana sambil melirik kertas yang belum diambil kembali oleh pemiliknya.


"Yana.."


"Jika tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan dengan Zyana, pulanglah. Istriku butuh istirahat." Alfaraz menyela kalimat yang belum selesai dari bibir Reno.


Reno menarik nafasnya yang terasa sesak, lalu beranjak dari sofa dengan wajah penuh penyesalan.


"Dan bawa ini kembali, aku tidak ingin istri dan anak-anak ku menggunakan uang yang bukan berasal dari kerja keras ku. Jangankan dari orang lain, uang milik Yana pun tidak akan aku izinkan di gunakan untuk anak-anak ku." Ujar Alfaraz lagi sembari melirik kertas yang masih ada di atas meja.


Hati Reno kembali tersentuh. Selama menikah dengannya, Yana bahkan harus membantunya untuk memenuhi segala kemauan sang Mama yang setinggi langit itu.


"Maafkan aku Yana, aku turut bahagia dengan kehidupanmu." Ujar Reno sambil mengambil cek itu dari atas meja kemudian kembali memasukkannya ke dalam kantong kemeja miliknya.


Setelah kepergian Reno, Zyana kembali membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan Alfaraz.


"Maaf karena membuatmu tidak nyaman dengan kejadian ini." Mohon Yana.


Alfaraz menggeleng, lalu mengecup kepala Yana berulang kali.


Yana mengangguk, lalu keduanya beranjak dari sofa dan melangkah menuju ruang makan.


"Bunda dan Ayah belum makan siang ?" Tanya Yana tidak enak.


"Kita makan siang sama-sama." Ajak Zidan pada anak-anak dan menantunya.


"makanannya jadi ga enak kalau ga ada Mbak Yana." Ujar Adelia menimpali.


Zyana terenyuh dengan perlakuan seluruh keluarga suaminya ini.


"Nanti setelah lahiran, kalian tinggal di rumah ibu untuk sementara waktu." Ucap Farah.


Yana menatap ibu mertuanya dengan mata berkaca. Sejujurnya ini yang ingin ia bicarakan dengan Alfaraz dan kedua mertuanya.


"Jangan terharu gitu, Bunda lagi ngusir kamu loh ini." Kekeh Farah sambil merentangkan tangannya agar menantunya masuk ke dalam pelukan.

__ADS_1


Air mata Yana jatuh menetes di pipinya. ia masuk ke dalam pelukan ibu mertuanya sembari mengucapkan banyak terimakasih.


Kalian tahu, salah satu yang paling membahagiakan untuk wanita setelah menikah adalah, ketika mendapatkan ibu mertua yang memperlakukan kita sebagai anak sendiri.


"Ayo Papa sudah sangat lapar ini." Ajak Zidan lagi, dan sontak membuat semua orang yang ada di sana terbahak.


Farah mengurai pelukan di tubuh Yana, lalu beralih masuk ke dalam pelukan suaminya.


Keluarga besar itu melangkah menuju ruang makan bersama-sama dengan senyum bahagia yang masih terlihat di wajah mereka.


****


Reno memacu mobilnya menuju rumah sang Mama. Sepertinya takdir memang hanya akan bersama dengan wanita yang sudah melahirkannya itu. Wanita yang sudah menghancurkan seluruh kebahagiaanya, namun, sampai saat ini tidak bisa ia benci.


Gebang rumah mewah yang di bangun dengan bantuan Yana, sudah terbuka. Reno memarkirkan mobilnya di depan rumah, lalu turun dan melangkah menuju pintu rumah.


Langkah kakinya terhenti saat melihat ada seorang lelaki yang tidak ia kenal sedang berbincang dengan mamanya di ruang tamu.


"Siapa Ma ?" Tanya Reno.


"Bukan siapa-siapa hanya teman lama Mama." Jawab Lina.


Meskipun tidak percaya dengan jawaban sang Mama, Reno tetap mengangguk kemudian berlalu dari ruangan itu.


"Kenapa tidak di beritahukan saja padanya, agar ada yang membantumu untuk melaksanakan ini." Tanya lelaki seumuran Lina itu.


"Tidak, putraku sangat mencintai mantan istrinya. Dia pasti tidak akan setuju, dan justru menggagalkan rencana kita." Jawab Lina.


"Baiklah, sepertinya kamu sudah tahu apa yang harus di lakukan. Ini harus berakhir, dan sekarang aku serahkan semua aset yang sudah beralih atas namamu. Nona Nara percaya kamu bisa melakukan semuanya dengan baik. Kalau begitu saya permisi, ingat jangan sampai gagal." Perintah lelaki paruh baya itu, kemudian berlalu dari ruangan itu.


Lina mengangguk mengiyakan.


Setelah kepergian tamu sang Mama, Reno yang belum benar-benar pergi dari ruangan itu kembali berbalik. Tangannya terkepal, rasa bersalah karena sudah melukai Yana masih belum pergi dari dalam dada, dan kini sang Mama kembali merencanakan hal buruk untuk wanita yang sangat ia cintai itu.


Hentikan apapun rencana Mama, jika itu menyangkut Yana. Keluarga Prasetyo bukanlah keluarga yang bisa di lawan dengan mudah. Perintah Reno. Rahang Reno mengeras.

__ADS_1


__ADS_2