
Pagi yang kacau di kediaman Hermawan. Zia terus mengomel sambil memasangkan dasi di leher sang suami.
Gadis kecilnya terus berteriak dari lantai atas, dan meminta putra keduanya agar bisa membantu menyiapkan perlengkapan sekolah, dan itu membuat ia kesal.
Gadis kecil berumur sepuluh tahun itu terus berteriak meminta Kean agar membantunya menyiapkan PR yang tidak sempat ia selesaikan semalam. Padahal Kean juga harus bersiap untuk berangkat ke sekolah, namun putrinya itu selalu saja merecoki dua kakaknya di pagi hari seperti ini.
"Berulang kali aku ingatkan, jangan terus memanjakan Eliana. Seharusnya saat ini ia sudah bangun sendiri dan menyiapkan keperluan sekolahnya sendiri tanpa bantuan Kean." Omel Zia pada sang suami.
"Lihat saja anak itu nanti, aku buat telinganya merah agar tidak berani membuka hijabnya lagi." Zia masih melanjutkan omelannya sambil mematut dirinya di depan cermin.
Alard hanya tersenyum menanggapi ocehan wanita terbaiknya itu, lalu kecupan yang akan ia darat kan di pipi sang istri, mengakhiri sesi mengomel Zia di pagi hari seperti ini.
Tas tangan, juga snelly dokter sudah berada di tangan Zia. Sepasang suami istri itu keluar dari kamar mereka, sedangkan kedua putra mereka masih sibuk menyiapkan keperluan Eliana, putri bungsu mereka.
Zia melangkah cepat menuju kamar putrinya. Dan lihatlah karena terlalu di manja, gadis kecil itu hanya duduk di atas ranjang sambil memperhatikan kedua kakaknya yang sibuk menyiapkan perlengkapan sekolah.
"Bagus ya." Jewer Zia di telinga putrinya. "Pakai jilbab saja, harus kakak kamu ya." Omel Zia masih menarik telinga Eliana.
"Sakit Bu." Teriak Eliana.
Kenan melangkah cepat menuju ruang ganti adiknya, lalu mengambil satu buah jilbab putih instan dari sana.
"Kalian berdua juga, jangan terus mengikuti kemauannya." Omel Zia pada dua putranya.
Yah lihatlah, Kean menggenggam tas, sedangkan Kenan sedang memegang jilbab.
"Terserahlah pada kalian." Ucap Zia kesal kemudian berlalu dari sana.
Ia meminta kedua putranya itu untuk melindungi Eliana, bukan mengurusnya. Kenan saja sudah bisa mengurus dirinya sendiri sejak usia lima tahun, nah Eliana sudah berumur sepuluh tahun, namun semuanya harus di siapkan oleh Kean dan Kenan.
"Sayang, Zidan menghubungimu." Teriak Alard dari balik depan kamar Eliana. Ia berusaha menghentikan amukan istrinya pagi ini, agar semuanya cepat selesai.
Zia berlalu dari sana, kepalanya menggeleng tidak percaya. Putra pertamanya yang sedang mengemban pendidikan di bangku SMA itu, memakaikan jilbab putih ke kepala Eliana.
Terserahlah, lakukan semuanya semau kalian. Begitulah batinnya menjerit.
*****
__ADS_1
"Ada apa Zi ?" Tanya Zia.
"Apa Farah dan Al ada di rumah Kakak ?"
Zia mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan dari ujung ponselnya.
"Apa yang terjadi Zi ?" Tanya Zia khawatir.
Dia yakin pasti telah terjadi sesuatu dengan rumah tangga adiknya ini.
"Farah pergi Kak, dia ngga ada di rumah kami. Aku cek di rumah Ibu juga ngga ada." Lirih adiknya di ujung sana.
"Zi, apa yang sudah terjadi." Tanya Zia lagi.
"Aku melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya Kak, mungkin kali ini aku akan benar-benar kehilangan Farah." Suara lirih di ujung ponsel Farah, berganti dengan benda yang terjatuh di sertai jeritan yang ia tahu itu adalah suara sang ibu.
"Zidan.." Panggil Zia, namun tidak ada balasan dari sana. Hanya suara sang ibu yang meminta Ayahnya berhenti terdengar di ponselnya.
"Aku berangkat sendiri Yah, nanti kamu antar anak-anak ke sekolah." Kecup Zia di pipi Alard setelah mematikan sambungan dan menyerahkan ponsel pada suaminya.
Alard segera meraih tangan istrinya, lalu menggeleng tegas. Sungguh dia tidak mau terjadi apapun pada istrinya ini, karena memaksa mengemudi dalam keadaan tidak baik seperti ini.
Zia mengangguk, namun kembali membawa tubuhnya menuju kamar tidur putrinya. Terlihat ketiga anaknya sudah bersiap untuk keluar dari alam kamar itu.
"Kenan, nanti Tante Gerin akan datang menjemput kalian. Ngga apa-apa kan kalian sarapan tanpa Ibu dan Ayah, ada urusan mendadak di rumah Eyang." Jelas Zia.
Putra sulungnya itu mengangguk, dan mengatakan agar sang ibu tidak perlu khawatir, ia akan menjaga Kean dan Kenan.
****
Jalanan Jakarta masih belum terlalu padat, walupun sudah banyak kenderaan yang melintasi jalanan menuju tempat tujuan masing-masing.
"Lebih cepat Yah." Ucap Zia.
Alard mengangguk, lalu menambah sedikit keceptan mobilnya. Ia meraih tangan istrinya, lalu di genggamnya dengan sangat erat.
"Zidan pasti baik-baik saja." Ucap Alard berusaha menenangkan Zia.
__ADS_1
Zia mengangguk, meskipun hatinya masih gelisah. Ibunya tidak pernah terdengar berteriak jika tidak ada sesuatu yang membuat wanita paruh baya itu ketakutan. Pasti telah terjadi sesuatu pada Ayah dan Adiknya.
Zi menghubungi nomor Farah, berharap jika ia yang menghubungi, adik iparnya itu akan bersedia menjawabnya.
"Ra angkat.." Gumam Zia.
Ia kembali menghubungi ponsel adik iparnya, dan kali ini terhubung. Zia lega, tapi beberapa saat kemudian kekhawatiran semakin memuncak saat suara yang menjawab panggilan itu adalah milik Zidan.
"Kenapa bisa sama kamu ?" Tanya Zia cepat.
"Akan aku jelaskan Kak." Jawaban di sertai ringisan terdengar jelas di ujung ponselnya.
Zia menghembuskan nafas berat, lalu memutuskan panggilan itu. Yah, sesuatu yang buruk telah terjadi pada rumah tangga adiknya.
Zia menatap jalanan Jakarta, memang kediamannya jauh dari kediaman Ayah dan Ibunya. Berbeda dengan Zidan, adiknya itu lebih memilih membeli hunian yang tidak jauh dari rumah Ayah dan Ibunya.
"Farah telah pergi." Ucap Zia pelan.
Alard mendengar, namun dia memilih untuk tidak berkomentar. Entahlah dia berpikir setiap rumah tangga punya masalahnya masing-masing, jadi ia memilih untuk menggenggam tangan istrinya, dan memberikan ketenangan di tangan yang terasa bergetar.
"Semua pasti baik-baik saja." Ucapnya.
Zia mengangguk, lalu mengucapkan maaf. Ia tahu Alard sedang mengkhawatirkan dirinya saat ini.
Mobil yang sedang di kendarai Alard, berhenti di halaman rumah Ayah dan Ibu mertuanya. Ia membiarkan istrinya yang bergegas turun lebih dulu, dan melangkah cepat menuju rumah mewah itu.
Alard menarik nafasnya dalam-dalam, ia masih berharap jika sesuatu terjadi dengan Farah, wanita sebatang kara itu bersedia menghubunginya kapan saja seperti yang sudah ia katakan pada istri adik iparnya itu.
"Ya Allah Zi." Ucap Zia sembari mendekat lalu duduk di samping adiknya. Terlihat sudut bibir adiknya pecah, dan sudah bisa ia tebak inilah yang membuat Ibunya menjerit tadi.
"Ngga apa-apa Kak, aku salah dan pantas mendapatkan ini." Ucap Zidan pelan.
Zia menatap wajah sang Ayah yang terlihat masih belum bersahabat. Wajah tua itu tidak hanya marah, namun juga terlihat sangat sedih.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Zia.
Zidan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mulai menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya sejak semalam.
__ADS_1
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam, hanya Anisa yang kembali terisak lirih. Kisah masa lalunya terulang kembali, dan ia mengerti bagaimana terlukanya Farah saat ini.