Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 168 Season 3


__ADS_3

Langkah kaki Dira terhenti di ambang pintu rumah. Tatapannya tertuju pada orang-orang yang sedang berada di dalam ruang tamu.


"Duduk sini Dir." Ajak Nira sambil menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.


Dira tersenyum, lalu melangkah dan duduk di samping kakak kembarnya.


Mendengar nama Dira di sebut, pemuda tampan yang sedang mengerjakan tugasnya di ruang keluarga segera bangkit dan melangkah menuju ruang tamu dan duduk di samping Dira.


"Aku kangen Kak." Rengek Abizar.


Dira hanya tersenyum, lalu mengusap lembut kepala adiknya.


"Kamu ngga kangen sama aku ?" Tanya Nira.


"Enggak." Jawab Abizar.


"Ih jahat banget sih.."


"Yah,, kan Kak Nira setiap hari ketemu sama aku." Ujar Abi.


"Berarti setelah hari ini kamu akan kangen aku juga. Bu, seperti yang sudah Nira katakan sama Ibu, kami akan menikah dan tinggal di Singapura bersama keluarga Feri."


Zyana masih belum menanggapi. Wanita paruh baya itu hanya menatap putri pertamanya, lalu beralih pada laki-laki yang kini tertunduk di sofa tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Benar begitu Nak ?" Tanya Zyana.


Feri mengangkat wajahnya, lalu menatap wanita paruh baya yang sedang menatapnya lekat, seakan sedang mencari sesuatu di wajahnya.


"Maaf Om, Tante jika kedatangan saya malam ini terkesan lancang dan kurang sopan. Tapi niat saya hari ini benar-benar tulus datang meminta izin dari Om dan Tante untuk bisa menikahi Danira."


Sepasang suami istri itu masih diam tanpa kata.


"Saya terlahir dari keluarga yang kurang harmonis, tapi saya sangat ingin membangun keluarga kecil yang bahagia bersama anak Om dan Tante." Sambung Feri menjelaskan perihal kedatangannya malam ini.


"Kapan kamu siap ?" Tanya Alfaraz sontak membuat semua orang didalam ruangan itu terkejut termasuk Zyana.


"Ayah.." Protes Zyana.


"Saya punya pekerjaan Om walau tak sebesar penghasilan Nira." Jawab Feri. "Saya siap kapan saja jika Nira memintanya." Sambungnya yakin.


"Beritahukan pada kedua orang tuamu. Meskipun mereka tidak bisa datang, tapi restu orang tua sangat di perlukan untuk merencanakan sebuah pernikahan." Ujar Alfaraz.

__ADS_1


Feri menatap Nira lalu tersenyum.


"Jika hanya sekedar meminta restu, mereka akan dengan senang hati memberikan itu. Tapi mungkin mereka tidak akan bisa datang dan menyaksikan pernikahan kami."


"Itu bukanlah masalah, yang terpenting mereka merestui niat baik mu hari ini. Dan satu lagi, Om sangat berharap mereka bisa menerima Nira dengan baik nanti."


"Tentu saja Om, saya sendiri yang akan memastikan itu."


Alfaraz mengangguk.


Berbeda dengan Yana, ia tdak tahu harus berbuat apa di situasi sepeti ini. Sedih, tentu saja. Tidak ada seorang ibu yang tidak sedih saat mendapati putrinya mengorbankan perasaan demi putrinya yang lain. Sama seperti kejadian pernikahan dadakan empat hari yang lalu. Dia sedih saat Dira bersedia menggantikan Nira menikah. Dan lebih membuatnya sedih, saat itu ia tidak mengetahui jika Nira juga terluka karena harus memendam cintanya demi kebahagiaan Dira.


Serumit inikah perjalanan hidup kedua putrinya.


'Om menerima niat baik kamu malam ini. Dan segera hubungi Om jika semuanya sudah siap." Ujar Alfaraz lagi.


Dira menoleh, menatap wajah kakak kembarnya. Senyum yang tidak pernah pergi dari wajah kakak kembarnya itu ia tatap dengan seksama.


Sayang, dia bukanlah adik yang baik sehingga tidak bisa menemukan jika senyum yang ada di bibir Nira saat ini benar-benar senyum bahagia, ataukah hanya ingin menutupi luka.


Karena tidak mendapat apapun dari wajah yang begitu mirip dengannya, Dira berpamitan pada orang-orang yang ada di sana untuk masuk ke dalam kamarnya. Mengenai rencana kepulangannya besok, ia memilih untuk belum memberitahu hal itu.


Setelah mendapat izin dari Ayah dan ibunya, Dira beranjak dari atas sofa. Tidak lupa ia mengusap lembut kepala Abizar kemudian berlalu dari ruangan itu di ikuti Arga.


Setelah sampai di depan pintu kamar, Dira membalik tubuhnya dan menatap laki-laki yang juga masih diam seribu bahasa.


"Kak..' Panggil Dira.


Arga Mengangkat wajahnya, lalu menatap wajah istrinya.


"Ngga apa-apa." Ujar Dira lantas membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Arga pun ikut masuk ke dalam kamar itu masih tanpa sepatah kata pun.


"Apa Kak Feri orang baik ?" Tanya Dira.


Arga melangkah mendekati Dira, lalu membawa gadis yang terlihat bimbang itu ke dalam pelukannya.


"Feri orang yang baik, dan lebih penting dia sangat mencintai Nira."


"Aku sangat merasa bersalah Kak." Ucap Dira.


Arga mengeratkan pelukannya, sembari mengecup kepala Dira yang tertutup hijab. Tidak hanya Dira, ia pun merasakan hal yang sama. Entahlah, tiba-tiba ia merasa menjadi laki-laki brengsek karena terjebak di antara dua gadis yang sama-sama baik.

__ADS_1


Namun, rasa yang sudah sejak lama terbentuk untuk Dira sama sekali tidak bisa ia kendalikan.


"Jangan khawatir, Nira pati akan menemukan kebahagiannya. Feri adalah orang yang sangat tepat. Dan yang leih penting, mereka sudah menjalin hubungan itu sejak lama."


Dira mengurai pelukan, tapi belum beranjak dari tempatnya. Hingga kecupan pertama kalinya mendarat di atas bibir tipisnya.


"Mau nginap di rumah Mama dan Papa malam ini ?" Tawarnya pada sang suami.


Arga menatap Dira, lalu sebuah senyum penuh harap terlihat di wajahnya.


"Kita nginap di rumah Mama malam ini, dan tunda keberangkatan besok. Mau nggak ?" Tanya Dira lagi.


Tanpa menjawab apapun, Arga segera menarik tangan Dira lalu keluar dari dalam kamar itu menuju lantai bawah.


Zyana terkejut saat melihat putri dan menantunya yang terlihat sedang terburu-buru.


"Mau kemana ?" Tanya Zyana.


Dira tersenyum.


"Mama Rara menelfon dan meminta kami ke sana. Besok malam Dira sama Kak Arga nginap di sini." Jawab Dira.


"Oh ya sudah, hati-hati di jalan." Ujar Zyana memperingati.


"Kak aku pamit yaa..." Ucap Dira lagi.


Nira tersenyum lalu mengangguk mengiyakan.


Setelah berpamitan, Arga kembali menarik tangan Dira menuju mobil lalu keluar dari pelataran rumah mertuanya.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil mewah milik Arga sudah terparkir rapi di depan rumah orang tuanya. Keduanya melangkah menuju pintu rumah lalu masuk ke dalam.


"Ma.." Panggil Arga.


"Bapak dan Ibu sudah tidur Den." Wanita paruh baya yang baru saja melangkah dari dapur menjawab panggilan Arga.


"Oh ya sudah Mbok, saya langsung ke atas ya. Nanti kalau Ibu bangun, bilang aja saya dan Dira nginap." Ujar Arga kemudian mengajak Dira menuju kamar tidurnya.


Dira memasuki kamar yang baru pertama kali ia masuki itu dengan dada berdebar. Ia mengelilingi kamar yang bernuansa abu-abu itu dengan netra nya.


Mata yang sejak tadi menelisik ke seluruh sudut kamar mewah milik suaminya tertutup rapat, kala tubuh nya terasa hangat karena sebuah dekapan.

__ADS_1


"Bisakah malam ini ?" Tanya Arga.


Jantung Dira semakin berpacu lebih kuat dari biasanya.


__ADS_2