
Bunga-bunga yang di ambil langsung dari toko bunga milik Dinda sudah tertata rapi di dalam rumah mewah milik Farah. Dua wanita itu sudah rapi dengan kebaya yang senada, dan kini sedang menyambut para kerabat dekat yang akan menyaksikan acara akad nikah Adelia hari ini.
"Selamat Ra, selamat atas umur kita yang semakin tua." Zia tertawa dengan kalimat nya sendiri.
"Iya ya Kak. Ih gemesin banget si cucu Oma ini." Farah mencium bayi mungil yang ada di dalam pelukan kakak iparnya. "Semoga punya Yana dan Al juga kembar." Farah kembali mencium bayi mungil yang ada di dalam pelukan Eliana.
"Aamiin Tante." Jawab Eliana.
"Penantian yang panjang, langsung di kasih dua ya El." Farah masih menatap takjub dua bayi mungil itu.
"Alhamdulillah Tan."
Farah mengusap lembut kepala keponakannya.
"Ayo masuk." Ajaknya.
"Eits ada keluarga baru yaa.." Farah melirik gadis cantik yang sedang menggenggam tangan cucunya. "Tapi wajahnya kok ga asing Kak." Tanya Farah pada kakak iparnya.
"Oh ini Rianti, Aunty nya Nana kembaran Riana." Jawab Zia memperkenalkan gadis yang sedang bersama putranya.
"Bukan Aunty Oma,,, tapi Ibu." Gadis kecil yang sedang menggenggam tangan Rianti menimpali pembicaraan, dan membuat orang dewasa yang ada di sana tertawa. "Ibu sudah pulang dari Syurga Oma." Sambung Nana dengan suara menggemaskan.
"Baiklah, Nana senang Ibu sudah balik ?" Tanya Farah sambil berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Nana.
"Iya, senang banget."
Farah tersenyum, lalu mengusap lembut kepala kecil Nana.
"Masuk yuk.." Farah mengajak keluarga besar kakak iparnya itu masuk ke dalam rumah.
"Sedang di cari besan kamu tuh." Tunjuk Zia pada wanita yang mengenakkan kebaya yang sama dengan adik iparnya.
"Ya sudah, aku tinggal ya Kak." Pamit Farah lalu melangkah menuju calon besannya berada.
****
Di dalam kamar pengantin, Adelia menatap layar ponselnya dengan nanar. Air matanya jatuh membasahi pipi yang sudah begitu cantik dengan olesan makeup.
Yana tidak beranjak dari atas ranjang pengantin, tapi ia ikut memperhatikan apa yang sedang terjadi di depan meja rias.
Penata rias yang bertugas menyiapkan Adelia hari ini, melangkah mundur, untuk memberikan waktu pada konsumen nya.
"Selamat berbahagia." Wajah lelaki yang sedang memaksakan diri tersenyum di layar ponsel milik Adelia, tidak mampu membuat Yana menahan air matanya.
"Maafkan aku." Lirih Adelia.
"Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah mengecewakan kamu, Bunda dan juga Papa. Maafkan aku."
__ADS_1
Suara Rey kembali terdengar.
"Ini yang terakhir yaa, setelah ini aku tidak akan bisa menghubungi istri orang lagi."
Kekehan penuh keterpaksaan terdengar. Adelia sudah menutup mulutnya rapat-rapat.
"Maafkan aku, dan kamu harus bahagia. Sudah jangan nangis lagi, kasihan penata rias kamu, jadi frustasi gitu."
Lelucon Rey masih belum mampu membuat tetesan air mata yang jatuh di pipi Adelia berhenti.
"Aku harus ke kantor. Ingat kamu harus bahagia."
Panggilan berakhir, Adelia masih terdiam tanpa suara dengan air mata yang masih membanjiri pipinya.
Yana beranjak dari atas ranjang, lalu melangkah mendekati adik iparnya.
"Suratan takdir yang sudah di tulis rapi oleh Allah, akan selalu berakhir indah. Percaya padaku." Ucap Yana saat tubuhnya sudah berdiri di samping adik iparnya.
"Mbak jangan cantik-cantik dong, nanti aku kalah. Ga enak Mbak, kalau bridesmaid nya lebih cantik dari pengantin. Nanti aku jadi bahan ledekan orang-orang."
Kalimat lelucon dengan suara serak menahan tangis itu, membuat Yana tersenyum tapi dengan mata yang berembun. Ia tahu, adik iparnya ini hanya ingin menutupi gundah dengan lelucon.
"Semua akan baik-baik saja kan Mbak ? Gerald akan menyayangi ku kan ?" Tanya Adelia.
"Sayangi dia dengan tulus. Perlakukan dia dengan baik, untuk hasil dan balasannya serahkan semua pada Allah. Mbak sudah merasakan balasan nya saat ini. Kakak kamu, membalas semua cinta tulus dan ikhlas yang dulu sempat di sia-siakan orang lain." Ujar Yana meyakinkan.
"Sebentar lagi Bun, Bunda tunggu aja di bawah, nanti Yana yang akan membawanya turun." Jawab Yana cepat.
"Baiklah, Bunda tunggu secepatnya. Gerald sudah siap."
Farah kembali membalik tubuhnya, dan keluar dari kamar putrinya. Sedangkan penata rias yang berada di dalam kamar itu, kembali merapikan riasan yang terkena air mata di wajah Adelia.
"Masih cantik kan Mbak Yana." Adelia cemberut. "Aku cemburu, nanti Gerald makin ga bisa lupain Mbak Yana." Sambungnya.
Yana tertawa mendengar kalimat adik iparnya
"Pukul aja kepalanya Dek, biar amnesia sekalian." Jawabnya tertawa jahat.
"Kejam banget sih."
Adelia beranjak dari kursi, lalu merangkul lengan Yana kemudian melangkah keluar dari dalam kamar.
"Tuh kan, Gerald liatin Mbak terus."
Yana tersenyum geli.
"Dia itu cuma mau liatin kamu, tapi mau bagaimana lagi kita dempetan gini."
__ADS_1
Saat sudah memasuki ruangan mewah yang sudah di hias dengan sangat indah, tangan Adelia sudah berpindah pada calon Mama mertuanya.
Yana melangkah menuju Alfaraz yang kini sudah mengulurkan tangan, lalu duduk dengan diam di sana.
"Kok masih langsing aja sih."
Wajah Yana merona, ia melihat sekeliling ruangan saat tangan nakal suaminya mengusap lembut perutnya yang masih terlihat rata.
"Nakal banget sih, ga tahu tempat. Tentu saja masih rata, ini belum genap dua bulan." Jawab Yana. "Udah ah, sana lihat tuh si Gerald grogi jabatan tangan sama Papa." Sambungnya tertawa geli.
"Saya terima nikahnya Adelia Prasetyo Binti Zidan Prasetyo dengan maskawin tersebut tunai."
Kalimat singkat namun, memiliki arti yang tidak akan pernah habis di jabarkan itu, berhasil di ucapkan Gerald dengan satu tarikan nafasnya.
Kalimat Hamdalah penuh syukur dari orang-orang yang ikut menyaksikan acara sakral hari ini, memenuhi ruangan.
Cincin pernikahan yang di pilih langsung oleh sang Mama, berhasil Gerald sematkan di jari manis istrinya. Hingga ciuman takzim di punggung tangannya mengakhiri sesi awal baru kehidupan hari ini.
Pernikahan bukanlah sebuah akhir, tapi merupakan awal dari sebuah kehidupan baru. Untuk itu, jangan takut jika kita memutuskan untuk menikah dengan orang yang mungkin asing.
***
"Aku tidak ingin terlibat dengan rencana mu."
Suara dari ponsel yang menempel di telinga Nara kembali terdengar.
"Tenang aja, kamu hanya akan membantuku masuk ke dalam resepsi pernikahan adik ipar ku saja. Setelah itu tinggal menjadi urusanku."
"Berhentilah Nara, kamu bisa bahagia tanpa Alfaraz."
"Ngga, aku ngga akan bahagia jika melihat Alfaraz bahagia dengan orang lain."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Nara beranjak dari atas ranjang di dalam kamar apartemennya, lalu melangkah menuju ruang ganti.
"Baiklah, kita harus tampil cantik malam ini." Senyum terlihat di sudut bibir Nara.
****
*Note Author
Gantung lagi 🤣🤣🤣
Malam nanti yaa, aku mau kerja dulu..
Maaf kemarin aku terlalu menikmati liburan, sampai lupa ngetik 😅😅
Hari ini aku kasih bonus 🥰🥰🥰😘😘😘
__ADS_1