
Hotel milik Gerald begitu ramai. Para tamu undangan terlihat berbondong-bondong mendatangi tempat di laksanakan nya resepsi pernikahan pemilik hotel.
Megah dan meriah, ada banyak tamu undangan yang berdatangan. Dari mulai pengusaha sekelas Zidan dan Regina, juga kenalan Farah di dunia hukum terlihat ikut hadir pada resepsi pernikahan Gerald dan Adelia yang di gelar malam ink.
Wanita yang kini menjadi ratu malam ini, terlihat begitu anggun dan sabar berdiri di atas panggung megah itu, sambil tersenyum manis pada setiap tamu yang datang mengucapkan selamat serta mengucapkan do'a kebahagiaan untuk pernikahannya malam ini.
Selamat berbahagia, hingga do'a cepat dapat momongan terus saja ia aamiinkan di dalam hatinya.
"Kok bisa ? Gumam Adelia di sertai dengan dada yang berdetak hebat. Ia menatap wanita dengan gaun merah di ujung sana. Matanya beberapa kali berkedip, memastikan jika ia tidak salah melihat wanita yang kini berdiri tidak jauh dari panggung pelaminan.
Sekian tahun ia tidak pernah lagi bertemu dengan musuhnya semasa SMA itu, tapi kini terlihat hadir di acara pernikahannya.
"Siapa yang mengundangnya ?" Gumamnya lagi. Tidak ada, sekuat apapun ia mengingat nama Nara tidak ada di dalam daftar undangan yang sudah beredar.
"Siapa ?" Tanya Gerald.
"Mantan istri Kak Al." Jawab Adelia.
Gerald mengikuti tatapan istrinya, tapi wanita yang kini sedang menjadi fokus sang istri sama sekali tidak ia kenali.
"Mungkin ada rekannya yang di undang, dan dia jadi partner gitu. Ujar Gerald menjelaskan. Ia lantas kembali beralih pada tamu undangan yang datang memberi selamat atas pernikahan nya, hingga ia tidak sadar jika istrinya sudah melangkah menjauh dari sampingnya.
"Sialan." Dada Adelia berdebar tidak karuan saat melihat wanita berbaju merah sudah melangkah perlahan mendekati kakak iparnya.
Heels dengan berapa senti yang melekat di kakinya sudah ia lepaskan begitu saja. Gaun putih indah yang melekat di tubuhnya ia angkat tinggi-tinggi agar tidak menghalangi langkah kakinya.
Suara sang suami yang baru terdengar memanggil namanya tidak ia hiraukan. Ia melangkah cepat menuju Yana yang sama sekali tidak merasakan hal bahaya yang sedang mengintai.
"Ya Tuhan, lindungi Kakak dan keponakanku.. Kak Al kemana sih ?" Ujarnya dalam hati sambil terus melangkah cepat menuju Yana. Sesekali ia melirik wanita yang juga sedang melangkah perlahan mendekati kakak iparnya. Dia tahu seberapa gila wanita yang kini semakin memangkas jarak dengan kakak iparnya yang sedang duduk membelakangi mereka.
__ADS_1
Hingga....
Settt....
Darah mengalir dari telapak tangan Adelia yang menahan pisau yang hampir saja mengenai tubuh bagian belakang Yana.
"Beraninya kamu menampakkan diri di depan ku.." Adelia menarik pisau itu dengan keras tanpa perduli pisau itu ikut melukainya.
Wajah Adelia terlihat sangat geram, ia melempar pisau yang ada di tangannya hingga membuat beberapa tamu undangan menjauh dari tempat ia dan Nara berada.
"Adelia..." Teriak Yana. Ia baru menyadari apa yang kini terjadi di belakangnya setelah bunyi benda yang jatuh di atas lantai terdengar, di sertai teriakan beberapa tamu undangan yang ada di dekatnya.
"Dasar ****** sialan !.....
Prang.....
Pecahan gelas yang baru saja ia ambil dari meja temoat Yana duduk berhamburan, disertai darah segar mengalir dari kepala Nara.
Yana berteriak meminta tolong, namun, para tamu undangan yang ada di sana terlihat begitu takut ikut campur dengan kejadian berdarah itu.
Nara sudah tersungkur di atas lantai, namun Adelia sama sekali tidak berniat untuk mengakhiri pembalasannya yang sudah sekian tahun tersimpan rapi di dalam hatinya. Ia duduk di atas tubuh wanita yang sudah tidak berdaya, dengan senyum sinis di sudut bibirnya.
"Del udah, kamu akan membunuhnya.." Yana berusaha menarik adik iparnya yang terlihat begitu berbeda dari biasanya.
"Aku memang ingin membunuhnya.." Jawab Adelia dingin.
Darah terus mengalir dari telapak tangan Adelia hingga mengotori gaun dan pecahan gelas yang masih ada di dalam genggamannya.
Tangan Adelia yang masih menggenggam pecahan gelas itu sudah terangkat dan bersiap menancapkan pecahan gelas itu di dada Nara. Beruntung tangan kokoh Gerald segara menarik tubuh istrinya menjauh dari wanita yang sudah terlihat mengenaskan di atas lantai hotel.
__ADS_1
Alfaraz yang sejak tadi tidak menyadari kejadian mengenaskan itu, baru saja tiba di samping Yana yang terlihat begitu shock, lalu segera meraih tubuh istrinya itu dan memeluknya dengan sangat erat.
"Kalian ngapain saja !" Bentaknya pada petugas keamanan yang terlihat berlarian menuju tempat kejadian.
"Astagfirullah, ada apa Nak ?" Tanya Farah saat melihat gaun indah putrinya sudah penuh dengan darah.
"Aku ingin membunuhnya Bun, dia membuat kita kehilangan Kak Al bertahun-tahun. Wanita itu membuat Bunda dan Papa menangis sekian tahun lamanya." Adelia masih histeris. Sungguh ia belum puas sebelum memastikan wanita itu benar-benar menghilang dari muka bumi ini.
"Sialan berani sekali dia datang dan berniat mengacaukan pernikahanku." Ia kembali melangkah cepat menuju Nara yang sudah di amankan oleh petugas keamanan.
"Nak, jangan seperti ini." Zidan yang juga baru menyadari keadaan karena begitu asik bertegur sapa dengan para rekan bisnisnya, segera memeluk tubuh putrinya dengan begitu erat.
"Papa lepaskan. Jika Adel membunuhnya malam ini, Adel ga akan masuk penjara. Ini kesempatan tepat untuk menghabisinya." Ujar Adelia.
"Meskipun orang seperti dia mati, tidak akan ada yang berubah di masa lalu. Jangan kotori tangan mu dengan orang tidak berguna seperti dirinya. Yang terpenting saat ini kita sudah bahagia." Ucap Zidan sambil mengeratkan pelukannya di tubuh putri nya.
"Dia merebut segala yang seharusnya aku nikmati semasa SMA Pa. Dia merebut Kak Al dariku. Dia membuat Kak Al tidak perduli padaku, padahal aku sangat membutuhkan Kak Al saat itu." Isak Adelia dalam pelukan sang Papa. "Dia merebut Kak Al dari Papa dan Bun...." Kalimat Adelia terhenti, ia tak sadarkan diri di dalam pelukan sang Papa.
Zidan sudah mengangkat tubuh putrinya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri menuju kamar hotel.
"Gerald tolong hubungi Dokter." Perintahnya pada sang menantu, kemudian berlalu dari ruangan itu bersama istri dan putrinya.
Hati Alfaraz mencelos, ia mendengar jelas apa yang baru saja di utarakan adiknya. Ia mengikuti tubuh sang Papa yang sudah berlalu dari ruangan itu dengan tatapan nanar.
"Aku jahat banget sama keluarga ku sendiri Sayang." Gumamnya seakan ingin mengutarakan apa yang ia rasakan saat ini pada sang istri.
"Bawa istrimu masuk ke dalam, biar Tante yang akan menangani para tamu undangan. Istrimu pasti terkejut, takut berimbas pada kandungannya." Ujar Regina.
"Terimakasih Tante." Ucap Alfaraz, kemudian ikut melangkah menjauh dari kerumunan menuju kamar hotel.
__ADS_1
Alfaraz melangkah meninggalkan ruangan itu bersama Yana. Pikirannya berkecamuk. Ia melangkah perlahan sembari berulang kali merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh di masa lalu.
"Maafkan Al Pa, Bun. Maafkan Kakak Del." Lirihnya.