Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 143 Season 2


__ADS_3

Adelia terus tersenyum geli, saat tangannya terus di tarik oleh suaminya menuju kamar hotel.


"Sabar dong, nanti pasti sampai juga." Ujar Adelia meledek.


"Ngga, nanti kamu akan berubah pikiran lagi." Jawab Gerald sambil melangkah cepat menuju kamar pengantin yang belum sempat di gunakan. Beberapa karyawan hotel yang datang menyapa, ia abaikan begitu saja. "Jalannya jangan kyak siput gitu dong." Ucapnya lagi masih terus menarik tangan istrinya agar segera sampai ke tempat tujuan.


"Iya ini sudah sangat cepat loh, ga sabar banget sih." Jawab Adelia terkekeh.


Keduanya melangkah masuk ke dalam lift lalu naik menuju lantai di mana kamar pengantin mereka berada.


"Ngapain lagi sih mereka ke sini, ganggu aja." Kesal Gerald saat melihat dua orang yang semalam mengganggu malam pertamanya, sudah berdiri dengan pakaian rapi di depan pintu kamar.


Adelia semakin tertawa lucu.


"Sepertinya kamu senang banget ya, lepas dari santapan aku hari ini." Ujar Gerald pada istrinya. "Mau ngapain ?" Tanyanya setelah sudah berada di hadapan Alfaraz dan Yana.


"Mau pamitan." Jawab Alfaraz.


"Oh kirain.." Ucap Gerald lega.


"Tapi sama kalian berdua juga, Papa dan Bunda sudah lebih dulu karena harus antar Ibu mertua ku, jadi aku pulang sama kalian berdua." Ujar Alfaraz.


Gerald menganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Mama dan Papa kamu juga sudah menunggu di rumah Bunda, dan kalian berdua di minta untuk cepat pulang." Sambung Alfaraz, lalu melangkah meninggalkan sepasang pengantin baru yang shock dengan beritanya pagi ini..


Yana hanya tertawa geli, begitu pun dengan Adelia. Istri yang masih belum di buka segel itu ikut melangkah bersama Kakak iparnya menuju lift.


"Sayang, nanti kita nyusul aja pulangnya." Tahan Gerald di pintu lift yang terbuka. "Kita belum melakukan malam pertama." Sambungnya merengek, tanpa memperdulikan orang lain yang ada di sana.


"Ini siang Bambang, bukan malam. Kalau mau malam pertama, ya tunggu malam aja." Omel Alfaraz.


"Kayak kamu ga pernah ngelakuin siang aja."


Masih dengan wajah cemberut, Gerald akhirnya ikut melangkah masuk ke dalam lift dan kembali turun menuju lobi.


Dua wanita cantik yang ada di dalam lift, hanya terus tertawa dengan dua laki-laki yang masih belum bisa akur di depan mereka.

__ADS_1


Mobil Gerald mulai melaju di jalanan Jakarta menuju rumah di mana para orang tua sedang menunggu.


"Nanti aja Gerald, kamu dan Adel akan punya banyak waktu nanti. Seumur hidup mau kamu kurung di dalam kamar terus, juga ga ada yang larang." Ucap Yana.


"Ngga ada yang larang, tapi ada yang ganggu. Ah apes banget sih."


Gerald berdecak kesal.


Adelia hanya tertawa melihat wajah tidak bersemangat suaminya.


"Malam nanti deh, kita ke rumah Mama aja biar ga di gangguin sama Kak Al." Usul Adelia.


"Benar ya.." Tanya Gerald memastikan.


Adelia mengangguk yakin.


"Jangan hanya di tiduri, setalah itu kamu sakiti. Awas aja, habis kamu di tanganku." Ancam Alfaraz.


Gerald tersenyum mendengar ancaman Alfaraz. Tidak, tidak pernah sekalipun terbesit di otaknya untuk menyakiti gadis sebaik Adelia. Meskipun saat ia datang dan memenuhi permintaan sang Mama untuk melamar Adelia, ada ragu dengan pernikahan ini. Tapi tidak pernah sekalipun ia berpikir untuk menyakiti. Kalaupun pernikahan yang di rencanakan oleh orang tua mereka tidak bisa berjalan dengan baik, ia akan memastikan tidak akan ada luka yang tertinggal.


Perpisahan mungkin akan menjadi jalan yang akan ia ambil, jika semua tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Tapi, tidak akan ada luka dari perpisahan.


Adelia menoleh, dadanya berdebar terlebih melihat senyum di sudut bibir suaminya. Bukan senyum jail seperti biasanya, tapi senyum yang terasa menyejukkan pandangan. Adelia pun ikut tersenyum manis, seakan senyum yang baru saja ia lihat dari bibir Gerald menular padanya.


Bahagia ? Semoga saja.


Ada banyak do'a yang terucap dari para tamu undangan semalam untuk kebahagiaan mereka. Dan Adelia selalu mengaminkan do'a itu di dalam hatinya.


"Kamu harus bahagia." Ucapan Rey kembali melintas.


Adelia menutup matanya.


"Yah aku harus bahagia, dan kamu juga harus bahagia Rey." Gumamnya dalam hati.


***


Rumah mewah kediaman Prasetyo, sudah semakin terlihat. Gerald kembali melajukan mobilnya masuk ke dalam pelataran, setelah petugas keamanan yang bertugas membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.

__ADS_1


Setelah mobil terparkir rapi di depan rumah, empat orang yang terlihat begitu bahagia dengan, melngkah masuk ke dalam rumah.


Pintu rumah terbuka, senyum bahagia yang terlihat begitu menyejukkan jiwa langsung menyambut kedatangan mereka.


"Ah senangnya." Gumam Farah saat empat orang anaknya menyalami punggung tangannya bergantian.


"Papa kemana Bun ?" Tanya Adelia.


"Ada di ruang keluarga, lagi nungguin kalian biar bisa makan siang bareng." Jawab Farah lalu melangkah masuk ke dalam rumah di ikuti anak dan menantunya.


"Mama dan Papa di sini juga ?" Tanya Gerald.


"Tadi sih iya, tapi sudah pergi bertemu pengacara yang akan menangani kasus Nara." Jawab Farah.


"Adel ingin menanganinya sendiri Bun.'" Pinta Adelia.


"Duduk dulu." Ucap Farah. Keempat orang itu bergabung dan duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


"Mama dan Papanya Gerald punya tim kuasa hukum yang handal. Dan kasus Nara, tidak hanya tentang kita, tapi juga tentang harta ayah biologisnya. Jadi Papa menyarankan agar kita lepas tangan saja, dan biarkan mereka yang menangani ini." Ujar Zidan menjelaskan.


"Pa..." Kalimat Alfaraz terhenti.


"Jangan melakukan apapun Al. Ingat Nak, kesempatan ke tiga akan sangat jarang datang dalam hidup. Syukuri saat ini kamu sudah terlepas. Biarkan itu menjadi urusan mereka." Ujar Zidan tegas. Ia tahu apa yang kini berada di dalam otak putranya. Sejahat apapun gadis itu, tetap saja akan ada sedikit rasa tidak tega di hati putranya.


Zidan menoleh, ia menatap wajah menantunya yang terlihat tidak terpengaruh.


"Cukup pastikan Yana baik-baik saja, dan cucu Papa lahir dengan selamat." Ucapnya lagi dengan tegas.


Alfaraz tidak lagi bersuara.


***


Di salah satu restoran private di Jakarta, sepasang suami istri yang terlihat begitu berwibawa, sedang menatap serius tiga orang pengacara yang duduk di hadapan mereka, sambil menjelaskan perihal kasus yang terjadi di acara pernikahan putra mereka semalam.


"Tangani saja, kami menunggu hasil yang terbaik. Yang pasti saya tidak ingin wanita ini kembali melukai menantuku." Ucap Regina tegas.


"Tentu saja Nyonya, kami akan melakukan yang terbaik, dan memastikan hasilnya akan memuaskan kalian. Ada klien yang sedang bekerja sama dengan kami, Nara adalah putri biologis dari salah satu pengusaha, dan anak-anak sah pengusaha itu ingin melenyapkan Nara. Jadi kita bisa menggunakan mereka sebagai dukungan agar bisa menyelesaikan kasus ini secepatnya." Ujar salah satu pengacara itu. "Kami akan berterimakasih jika bisa bekerja sama dengan Nona Adelia." Sambungnya berharap.

__ADS_1


"Tidak, jangan libatkan menantuku dalam kasus ini. Lakukan saja tugas kalian dengan baik, sebagaimana bayaran yang sudah saya berikan selama ini kepada Firm Hukum kalian." Tegas Regina.


"Tentu saja Nyonya, maaf atas kelancangan kami."


__ADS_2