
Abizar masih berdiri di samping mobil, dan bersikeras tidak ingin ikut masuk ke dalam mobilnya itu.
"Ya udah kamu naik taksi aja." Ujar Arga. "Arion tutup pintu mobilnya." Sambung lelaki yang mulai ikutan buncit seperti istrinya itu.
"Aira turun, kita pakai taksi aja." Perintah Abizar kesal.
Gadis manis yang sedang duduk di tengah-tengah dua wanita kembar itu menggeleng.
"Mobil ini nyaman, aku mau di sini." Jawab Aira acuh sontak membuat orang-orang yang ada di sana terbahak.
"Ah aku suka banget sama adik ipar ku ini." Cubit Nira di pipi Aira.
"Huu.. Manis banget, seperti ice cream." Sambung Dira sambil menatap wajah masam adik tampannya.
Beberapa saat kemudian dengan wajah masam, Abizar terpaksa masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Arion.
"Ini sesak banget." Kesalnya. Oh ayolah ini mobil miliknya, lalu mengapa ia pula yang harus menderita di sini. "Harusnya aku yang bawa, terus Kak Arga duduk di sini." Abizar masih terus memprotes tindakan ke empat kakaknya.
"Sudah diam aja. Kalau aku yang duduk di sana, ngga akan muat." Ujar Arga sambil mengendarai mobil Abizar keluar dari pelataran Bandara.
"Kita makan malam dulu, Aira belum makan." Perintah Abizar.
"Ngga apa-apa, aku makan di kostan aja." Jawab Aira.
"Ngga apa-apa Aira, kami juga sangat lapar." Ujar Dira seakan mengerti rasa sungkan Aira yang enggan merepotkan mereka.
Aira mengangguk, lalu tersenyum pada wanita yang sedangan menatapnya ramah.
Mobil masih melaju di jalanan. Danira meminta Arga agar makan di restoran yang dekat dengan rumah mereka saja.
"Aira yang akan traktir kita." Celetuk Abizar saat Arga sudah memasuki pelataran parkir di salah satu restoran mewah yang ada di Jakarta.
"Benarkah ?" Tanya Danira antusias.
"Iya benar. Aira baru dapat pesangon dari tempat dia bekerja." Jawab Abizar
"Kamu suruh dia berhenti kerja ?" Tanya Nira tidak terima, dan di angguki oleh Abizar.
__ADS_1
"Ngga apa-apa Ra ?" Tanya Dira.
"Ngga apa-apa Kak, toh nanti aku bakal numpang hidup sama dia." Jawab Aira sambil menunjuk ke arah Abizar, dan membuat dua wanita yang ada di sana tertawa.
"Uang kamu bakal habis Ra. Kakak ipar kamu ini maniak sama makanan." Arga menunjuk istrinya.
"Itu juga kan karena anak kamu yang minta. Nih aku mulai gendut." Kesal Dira.
"Ga apa-apa Kak, aku punya banyak uang di tabungan, rencananya buat beli apartemen. Tapi ga usah deh, aku mau minta rumah aja sama suami ku nanti, jadi malam ini, kalian boleh pakai uang aku untuk makan sepuasnya. Jawab Aira.
"Ah baik banget sih." Arga mengacak-acak rambut Aira dan akhirnya mendapat tepisan dari Abizar.
"Hanya aku yang boleh melakukan itu !" Tegasnya.
"Dih pelit amat." Arga mengusap punggung tangannya yang terasa panas karena ulah adik iparnya.
"Kak Nira dan Kak Arion kemana ?" Tanya Aira karena tidak lagi melihat sepasang pengantin baru itu.
"Iya yaa, mereka kemana kok tiba-tiba menghilang ?" Tanya Dira karena tidak menyadari kakak gilanya it sudah menghilang dari sana.
"Paling cari tempat aman. Kamu ga ingat pas mau berangkat ke Bandara saja mereka masih sempat-sempatnya cetak bayi." Ujar Arga kesal karena
"Kamu ih." Dira memukul kepala suaminya lalu melangkah cepat masuk ke dalam restoran.
"Sayang tungguin aku." Teriak Arga sambil berlari menyusul istrinya masuk ke dalam restoran meninggalkan Aira bersama Arga.
"Kamu beruntung banget punya keluarga yang menyenangkan seperti ini." Ucap Aira sambil menatap kepergian sepasang suami istri yang sudah menghilang di pintu restoran.
"Sekarang mereka keluarga kamu juga." Jawab Abizar. Lelaki muda itu memberanikan diri menggenggam tangan Aira, dan membawa gadis itu masuk ke dalam restoran.
"Terimakasih Abizar." Ucap Aira.
Abizar tidak menjawab. Ia semakin mengeratkan genggamannya di tangan Aira. Bahagia ? Yah,, ia begitu mendengar kata terimakasih dari bibir gadis kesayangannya ini.
"Kak Nira belum datang ya ?" Tanya Abi saat ia dan Aira sudah bergabung bersama Dira dan Arga.
"Belum, mana aku sudah lapar banget lagi." Kesal Dira.
__ADS_1
"Kakak dan Aira pesan duluan aja." Ujar Abizar memberi saran karena Aira pun belum makan malam sejak mereka keluar dari restoran tempat gadis nya ini bekerja.
Dira dan Aira pun mulai memesan makanan yang mereka inginkan.
****
Di luar restoran, Danira berdiri sambil bersandar di samping mobil dengan tatapan mengintimidasi. Begitupun dengan Arion, lelaki itu sudah curiga dengan mobil yang terus saja membuntuti mobil yang membawa mereka dari Bandara menuju restoran ini.
"Kenapa mengikuti mobil kami ?" Tanya Danira.
"Aku temannya Abizar Kak." Ucap gadis yang kini tertunduk di depan Arion dan Danira.
"Lalu kenapa tidak menyapa kami sejak di Bandara ?" Tanya Arion.
"Aku ngga tahu jika kalian dari Bandara." Jawab gadis itu. Aku memang ingin makan malam di restoran ini. Sambung gadis itu lagi dengan wajah yang sedang di usahakan setenang mungkin.
Arion dan Danira saling bertatapan sejenak.
Beberapa saat kemudian Danira melipat tangannya di dada lalu menatap tajam gadis yang masih terlihat begitu tenang, padahal baru saja mengatakan kebohongan.
"Apa kamu sudah terbiasa berbohong ?" Tanya Danira sambil melangkah mendekati gadis yang begitu terkejut karena kebohongannya begitu cepat di ketahui oleh dua orang yang sedang menatapnya penuh intimidasi.
"Kak gadis itu bukan gadis baik-baik. Dia sengaja mendekati Abi agar bisa menikmati kehidupan seperti kita." Melisa mengalihkan pembicaraan, tanpa ia ketahui wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya adalah orang yang tidak mudah di bodohi.
Danira menarik sudut bibirnya.
"Kamu menyukai Abizar ?" Tanyanya.
"Iya kakak, aku dan Abi sudah dekat sejak lama tapi gadis itu sengaja merusak hubungan kami." Jawab Melisa antusias.
"Sayang sekali, sepertinya kamu harus merelakan Abizar karena adikku harus bertanggung jawab pada gadis itu. Ujar Danira.
"Kakak dia sengaja meminum minuman itu agar bisa menjerat Abizar."
"Yah mau bagaimana lagi, kamu harus merelakan karena sebentar lagi mereka akan menikah. Abizar harus bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan bukan ?"
"Sudah yaa, lebih baik buang jauh-jauh semua yang ada di otak kamu dan hiduplah dengan baik setelah ini. Keluarga kami orang yang sangat tidak suka mencari keributan." Ujar Danira memperingati. "Ayo sayang, kita masuk ke dalam. Nanti si ibu hamil ngamuk karena keburu lapar." Ajaknya pada sang suami.
__ADS_1
Arion mengangguk, lalu ikut melangkah dan masuk ke dalam restoran bersama istrinya.
Di pelataran parkir, Melisa kembali masuk ke dalam mobil mewahanya dan meninggalkan area restoran itu. Menyerah ? Tentu saja tidak, ia hanya perlu membuat rencana yang lebih matang lagi untuk mengagalkan rencana pernikahan itu.