
Aira membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan ukuran besar milik Abizar. Tatapannya tertuju pada ukiran yang ada di langit-langit kamar mewah itu.
Beruntung ?
Abizar adalah salah satu anak yang beruntung karena sudah bisa merasakan kemewahan ini sejak lahir.
Bagaiman dengan dirinya ?
Meskipun kadang ia merasa sedih dengan hidupnya, tapi ia juga tidak pernah lupa untuk bersyukur dan tentu saja merasa beruntung karena masih di beri kesempatan untuk bekerja dan membuat dirinya hidup dengan nyaman meskipun tak semewah hidup Abizar.
Entah jam berapa ia terlelap semalam. Kini ia bangkit dari atas ranjang, karena getaran ponsel yang ada di atas tempat tidur itu membuatnya terjaga.
Ia berpikir itu adalah deringan dari alarm yang biasa membuatnya terjaga ketika tidur di atas ranjang sederhana miliknya. Tapi ternyata itu adalah panggilan dari laki-laki yang terus mengisi otak hingga terbawa ke dalam mimpi panjangnya semalam.
"Sudah bangun ?"
Suara yang mampu menghangatkan hati terdengar begitu lembut di indra pendengarannya.
"Kalau aku masih tidur, ga mungkin aku angkat panggilan kamu." Jawab Aira sambil membawa kakinya turun dari atas ranjang mewah itu.
"Ada sikat gigi baru di rak penyimpanan yang ada di dalam kamar mandi." Ujar Abizar memberitahu.
Aira melangkah menuju kamar mandi, lalu mencari benda yang baru saja di beritahu oleh pemiliknya. Sudut bibirnya kembali terangkat saat melihat warna sikat gigi yang ada di rak itu serupa dengan
"Kapan kamu tahu kalau ini adalah warna favorit ku ." Tanya Aira. Ia meletakkan ponsel pintarnya di tempat yang aman, lalu mulai membuka pembungkus sikat gigi dengan hati-hati.
"Aku lihat di dalam kamar mandi kamu, ya udah aku beli satu buat nanti. Eh ternyata kamu secepat ini datang dan menggunakan kamar aku." Jawab Abizar. "Setelah berberes, langsung turun ke bawah ya, Ibu sama Ayah juga sudah menunggu." Ucap Abizar lalu mengakhiri panggilan tersebut.
Mendengar Abizar menyebut Ayah dan Ibu, seketika membuat Aira jadi gugup. Gadis itu bergegas membersihkan wajah lalu membasuh beberapa bagian tubuhnya dengan air wudhu dan keluar dari dalam kamar mandi.
"Mukenah." Gumamnya. Nafas lega berhembus saat mendapati kain berwarna putih masih ada di atas sofa di mana ia meletakkannya semalam. Tanpa membuang waktu lagi, Aira segera keluar dari dalam kamar itu, dengan setelan mukenah dalam pelukannya.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, dua pasang suami istri juga baru saja keluar dari kamar tidur mereka masing-masing
"Yuhuuu anggota keluarga baru sangat patuh yaa." Ujar Nira dengan riang seperti biasanya.
"Abizar juga sudah di bawah." Ujar Aira membuat empat orang yang ada di sana segera memasang wajah curiga.
"Tadi dia menelepon." Sambungnya menjelaskan. "Gila ya." Gumam nya lagi bersamaan hembusan nafas leg karena wajah curiga dari keempat orang dewasa itu berangsur menghilang.
Setelah menuruni anak tangga, kini mereka sudah tiba di ruang keluarga yang terlihat begitu mewah. Ada banyak pigura yang menghiasi dinding bercat putih itu. Jangan lupa pula TV plat entah berapa puluh inci yang menempel di dinding.
Sungkan, tentu saja. Ia masih belum menjadi siapa-siapa dalam keluarga ini, dan dengan lancangnya ikut bergabung dengan rutinitas keluarga.
"Ayo Nak." Ajak Zyana setelah putra bungsu dan suaminya sudah melangkah menuju ruangan khusus yang ada di rumah itu.
Aira mengangguk, lalu mengikuti semua orang menuju ruangan di mana Abizar berada.
Kegiatan wajib yang tidak memakan banyak waktu, tapi banyak orang yang lupa dan melewati kewajiban itu sudah selesai di laksanakan.
"Ga apa-apa Ra, cium aja." Goda Nira dan langsung mendapat pukulan dari sang ibu.
"Kenaikan kamu itu ga pernah habis ya." Omel Zyana pada putri sulungnya.
Abizar menertawakan wajah cemberut Danira.
Karena kegiatan di dalam ruangan itu telah berakhir, Alfaraz kembali mengajak seluruh keluarganya untuk duduk di ruang keluarga. Ada hal yang harus ia sampaikan pada anak-anak nya mengenai pernikahan Abizar yang terkesan begitu mendadak.
Begitupun Danira, ia sudah menceritakan tentang anak gadis yang terus membuntuti mobil adik nya itu pada sang Ayah, dan ia harus memberitahu hal itu kepada Abizar, agar adiknya akan lebih berhati-hati nanti.
Bukan bermaksud berprasangka buruk kepada orang lain, akan tetapi mempersiapkan diri pada hal-hal buruk yang kemungkinan terjadi itu, juga penting di lakukan agar terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan.
"Pernikahan kalian akan berlangsung tiga hari lagi. Dan mulai hari ini, Aja akan tinggal di sini, sedangkan Abizar, untuk sementara waktu tinggal di apartemen." Ujar Alfaraz.
__ADS_1
Tidak ada yang membantah keputusan itu, hanya Aira yang mengalihkan tatapannya dari lelaki paruh baya itu, ke arah Abizar yang terlihat diam tanpa suara.
"Ini di lakukan untuk mencegah hal buruk Aira. Semalam ada seseorang yang mengikuti mobil kita dari Bandara. Dan mungkin mobil itu sudah mengikuti kalian dari tempat kerja kamu." Ujar Nira menjelaskan.
"Siapa ?" Tanya Abizar.
"Melisa, katanya dia teman kamu." Jawab Danira.
Abizar terkejut mendengar nama salah satu temannya di sebut. Ia tahu bagaimana watak dari Melisa, tapi ia tidak berpikir gadis itu sampai melakukan hal seperti ini.
"Apa saja bisa terjadi Abizar. Dan lebih baik mencegah, dari pada mengobati nanti. Kamu membawa gadis masuk ke dalam hidupmu, tanpa kamu sadari ada gadis lain juga yang ingin masuk ke dalam hidupmu." Ujar Nira memperingati.
Abizar tidak lagi menimpali, ia hanya menatap gadis yang terlihat begitu tenang di ruangan itu.
"Baiklah, hari ini ibu mau pergi, siapa yang akan ikut." Zyana bersuara.
"Aku." Alfaraz dengan cepat mendaftarkan diri, namun sayang yang ia dapatkan hanyalah wajah masam sang istri.
"Ini urusan wanita, kamu kerja aja biar aku punya uang buat belanja." Ujar Zyana, membuat anak-anaknya tersiksa menahan tawa.
"Ingin ketawa tapi takut dosa." Celetuk Danira saat melihat wajah jelek Ayahnya.
"Ga akan Ayah kasih uang." Ancam Alfaraz.
"Anak-anak Ayah ini punya banyak uang, jadi ga butuh lagi. Kecuali istri Ayah yang pengangguran ini." Jawab Danira meledek. "Lagi pula Aira hari dapat pesangon semalam, boleh deh aku nebeng sama dia." Sambungnya sambil mengedipkan mata berulang kali ke arah calon adik iparnya.
"Kamu sudah berhenti kerja ?" Tanya Zyana.
"Katanya dia mau numpang hidup dan habisin uang Abizar aja." Jawab Danira lagi.
"Tos, kita satu server." Ujar Zyana pada gadis manis yang sedang duduk diam di sampingnya.
__ADS_1
Aira menatap orang-orang yang ada di sana secara bergantian. Seumur hidupnya, ia tidak pernah membayangkan akan di pertemukan dengan keluarga yang begitu luar biasa seperti ini.