Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 233 Chapter Bonus


__ADS_3

Suara melengking yaang hampir memekakkan telinga, terdengar di dalam ruangan mewah yang di penuhi banyak mainan. Gadis kecil kesayangan Arion, namun, menjadi musuh bebuyutan Danira itu menangis histeris di dalam ruangan khusus bermain sambil meneriaki nama dari salah satu abangnya.


"Bisa nggak kalian jangan berantem. Mau Mami antar ke panti asuhan ?" Wanita yang sudah beberapa tahun ini berubah menjadi mak lampir, sedang memasang wajah garang di ambang pintu ruangan tersebut.


Ternyata memiliki banyak anak tidak semenyenangkan seperti yang ia bayangkan. Mereka akan terlihat menggemaskan saat sedang terlelap, namun, saat sedang terjaga bisa membuatnya ingin menangis. Si kecil yang suka sekali ngambek, dan si nomor dua yang doyan bikin adiknya nangis.


"Mami, Bang Ai ga mau ajak Niza pergi main ke taman." Adu gadis yang baru berusia lima tahun itu sambil menuju Kakak keduanya yang palin terkenal usil di antara dua kakaknya yang lain.


Danira mengalihkan tatapan ke arah Putra keduanya.


"Mami kan sudah bilang, kalian bertiga wajib jagaian adek." Omelnya.


"Abang Ai mau main bola Mi, kan Niza perempuan masa iya main bola." Tolak anak laki-laki yang sudah berumur sepuluh tahun itu.


"Niza di rumah aja, main sama Mami." Si kecil Alvan menimpali.


Dan si sulung yang penyayang dan paling tampan mirip Papi mereka, melangkah mendekati gadis kecil yang masih saja cemberut minta di ajak main bola.


"Benar kata Abang Al dan Abang Ai. Kalau Kila ikut, nanti jatuh." Bujuknya.


Gadis kecil dengan mata indah mirip sang Mami itu akhirnya mengangguk dan mengizinkan ketiga Abangnya untuk pergi main di taman belakang tanpa dirinya.


Azam yang kini sudah berusia dua belas tahun tersenyum, saat adik mereka menurut dan mau tinggal di rumah bersama Mami mereka.


Ketiga bocah tampan itu akhirnya melangkah keluar dari dalam ruangan yang di buat khusus untuk mereka bermain. Sedangkan Danira mengajak putri bungsunya menuju dapur. Wanita yang kini sudah menjadi ibu dari empat orang anak itu, sedang menyiapkan makan malam untuk suami dan anak-anak nya.


"Assalamualaikum."


Saat mendengar suara yang begitu ia kenali, Daniza melepaskan tangan mungilnya di jemari sang Mami. Gadis kecil itu gegas berlari menuju ruangan depan di mana suara berasal.


"Papi.." Teriak gadis kecil itu sambil masuk ke dalam pelukan Arion.


Arion tersenyum, lalu mengangkat tubuh mungil itu setinggi mungkin.


"Papi tadi Abang Ai jahatin Niza."

__ADS_1


Kalimat yang sering Arion dengar saat kembali ke rumah, terdengar. Laki-laki yang masih saja terlihat menawan di usia yang terus beranjak itu, tersenyum hangat.


"Pengen di ajakin main bola, mana mau abangnya. Bukannya main bola, yang ada abang-abangnya malah ladenin permintaanya yang tidak akan ada habisnya." Ujar Danira menimpali.


Senyum hangat di wajah Arion seketika terlihat saat melihat Danira sudah berdiri di pintu pembatas ruangan. Lelaki itu segera merentangkan sebelah tangannya, dan meminta wanita terbaik dlm hidupnya itu untuk mendekat.


Danira tersenyum manis, lalu melangkah mendekati Arion. Beberapa saat kemudian tubuhnya sudah terbenam dalam pelukan laki-laki kesayangannya itu.


"Malam nanti kita ke rumah Ibu dan Ayah. Tadi aku bertemu Arga, dan Ayah meminta kita untuk datang dan menginap di sana malam ini." Ujar Arion sambil mengecup puncak kepala istrinya berulang kali.


"Tapi aku sudah masak sayang." Rengek Danira.


"Ngga apa-apa, kita kan boleh membawanya ke rumah ibu. Kamu ngga mau pamerin masakan enak kamu ?" Arion tersenyum jail.


"Kamu lagi hina masakan aku yaa." Tebak Danira dengan wajah garangnya membuat laki-laki tampan itu terbahak.


"Papi jangan liatin Mami aja, liatin Niza juga." Tangan mungil Daniza menarik wajah sang Ayah agar segera menatapnya.


"Jangan Papi, liat Mami aja. Nanti Mami kasih anak cantik baru deh." Danira tidak mau kalah, dan tanpa menunggu lama suara melengking yang mampu membuat telinga orang panas, segera memenuhi ruang tamu mewah itu.


Arion melepaskan pelukannya di tubuh Danira, dan fokus menenangkan gadis kecil yang sedang menangis karena ulah istrinya.


"Apa ngga salah ? Bukannya Mami yang sering minta jatah." Ledek Arion.


Danira semkin cemberut, dan bersiap melayangkan peperangan dengan gadis kecilnya karena berhasil merebut suaminya.


****


Di sebuah rumah mewah milik keluarga Prasetyo, Aira sedang membantu ibu mertuanya serta beberapa asisten untuk menyiapkan makan malam keluarga yang rutin di lakukan setiap akhir bulan. Sebulan sekali, Alfaraz akan meminta anak-anaknya berkumpul untuk makan malam bersama.


"Mas..." Aira terkejut saat tangannya di tarik keluar dari dapur. "Aku ga pamit Mas, Nanti di cariin ibu." Sambungnya lagi karena Abizar terus menarik tangannya menuju kamar.


Laki-laki keras kepala itu tidak mendengarkan. Ia hanya terus menarik tangan istrinya menuju kamar mereka.


"Aku cariin, kenapa sih senang banget ngumpet di dapur." Omelnya..

__ADS_1


Air hanya tertawa lucu, lalu mengambil jas yang masih ada di tangan Abizar. Tangannya mulai melepaskan kancing kemeja suaminya itu satu persatu.


"Ini masih sore loh." Ujar Abizar.


Aira menatap suaminya itu sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Sayang..." Abizar menahan tangan Aira.


"Ga usah mesum, aku mau suruh kamu mandi, bau apek !" Tegas Aira.


"Mandi plus plus yaa." Bujuk Abizar dan langsung mendapat tabokan di kepalanya.


"Sana mandi, Ayah sudah menunggu di ruang keluarga." Dorong Aira di tubuh Abizar agar masuk ke dalam kamar mandi. Ia lalu masuk ke dalam ruang ganti untuk menyiapkan baju ganti untuk Abizar, sambil membawa baju bekas suaminya itu.


Setelah meletakkan pakaian ganti Abizar di atas ranjang, Aira kembali melangkah keluar dari dalam kamar menuju dapur tempat ibu mertuanya berada.


"Ibu, Ayah sudah pulang yaa ?" Tanya Ayura. Gadis kecil yang mulai beranjak remaja itu berdiri di hadapan ibunya.


Aira mengangguk, lalu melihat kebelakang putrinya mencari anak laki-laki yang selalu saja mengikuti putrinya kemana-mana.


"Kak Ayi lagi sama Kakek." Ucap Ayu.


Aira kembali mengangguk.


"Mau ikut Ibu ke dapur. Nenek lagi buat kue yang enak." Ajaknya.


Ayura mengangguk antusias. Gadis penyuka segala jenis makanan manis itu, ikut melangkah bersama sang ibu menuju dapur di mana neneknya berada.


"Ketemu ?" Tanya Zyana saat melihat Ayu kembali masuk ke dapur bersama menantunya.


"Ibu tahu kalau Mas Abi sudah pulang ?" Tanya Aira.


"Tentu saja, Ibu lihat di narik kamu keluar dari sini tadi."Jawab Yana terkekeh. Ia tahu menantunya ini masih saja malu kalau di ledek karena sifat mesum putranya.


"Maafin Aira tadi pergi ga pamit-pamit." Ucap Aira.

__ADS_1


Zyana hanya mengusap punggung menantunya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


*****


__ADS_2