Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 254 Season 4


__ADS_3

"Kok nangis ?" Tanya Daren heran. Laki-laki itu menghentikan kegiatannya yang hendak menyematkan cincin pernikahan di jari Daniza.


"Ga apa-apa kok." Jawab Daniza. Tatapannya masih tertuju pada laki-laki yang duduk di samping sang Papi dengan senyum hangat sambil menatapnya dengan mata berkaca.


"Liat aku dong Niz." Ujar Daren sontak membuat seluruh keluarga yang ada di dalam ruangan itu tertawa. Sedangkan Daniza, segera mengalihkan tatapannya dari wajah Azam, dan langsung menatap tajam laki-laki yang sedang menyematkan cincin di jari manisnya.


"Cie ada yang malu, tapi dag dig dug." Celetuk Aidar saat wajah Daniza merona menahan malu.


Semua orang yang ada di dalam ruangan kembali tertawa geli.


Daniza semakin kesal karena menjadi bahan tertawaan seluruh keluarga besarnya. Dan lebih mengesalkan lagi, ketika di wajah yang baru saja membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa, hanya menyengir tanpa merasa bersalah.


"Awas aja nanti." Gumamnya kesal masih dengan wajah yang memerah menahan malu.


Setelah Daren berhasil menyematkan cincin di jari manis Daniza, kini giliran Daniza yang kembali menyematkan cincin yang serupa di jari manis suaminya itu. Tapi dengan laknat nya, laki-laki yang baru beberapa saat yang lalu resmi menjadi suaminya itu, malah menjauhkan jemari itu dari jangkauannya.


"Mau aku pakein ga ? Kalo ga ya udah pernikahan kita batal." Ancam Daniza.


"Apa-apaan sih, ngomongnya kok gitu." Seru Daren tidak terima.


"Maknanya, kalo udah bucin sama aku sejak kecil itu, ga usah aneh-aneh !" Daniza menarik tangan daren, lalu menyematkan cincin yang serupa dengan yang ada di jari manisnya itu dengan perlahan.


"Manis banget sih." Goda Daren, kembali membuat orang-orang yang ada di sana tertawa.


Wajah Daniza semakin cemberut. Tapi cemberut yang nampak di wajah cantik itu, hanya semakin membuat orang-orang yang ada di sana tertawa geli.


Beberapa saat kemudian, Daniza mencium punggung tangan itu, takzim.


****


Waktu begitu cepat berlalu. Prosesi sakral itu telah usai, tapi kehangatan yang terjadi di dalam ruangan itu tak kunjung selesai. Daniza sudah tidak agi mengenakan kebaya pengantin, bahkan riasan di wajah cantiknya sudah di bersihkan sebelum shalat dzuhur berjamaah untuk pertama kalinya bersama Daren.

__ADS_1


Kini sepasang pengantin baru itu sedang menikmati waktu bersama keluarga besar yang masih belum beranjak dari kediaman Danira dan Arion.


Abizar yang tidak mau kalah dengan kakak sulungnya, segera memberitahu perihal rencana pernikahan Ayiman dan Ayura yang hanya berselang beberapa bulan saja.


Tidak lupa pula orang-orang di sana mengejek tiga jomblo abadi yang sampai detik ini belum ada tanda-tanda kemunculan wanita dalam kehidupan mereka.


"Bang Azam kemana ?" Tanya Daniza sambil membawakan nampan berisi gelas yang berisi minuman untuk suami dan Abangnya yang tadi sedang berbincang di ruangan itu.


"Tadi ada yang menghubunginya, jadi dia meminta izin untuk mengangkat telepon lebih dulu." Jawab Daren.


Daniza mengerutkan keningnya. Jelang beberapa saat, Daniza melihat Abangnya berjalan cepat keluar dari salah satu ruangan.


"Ada apa Bang ?" Tanya Daniza menghadang tubuh Abangnya yang terlihat ingin pergi dari rumah.


"Temani mas Daren dulu, Abang mau pergi sebentar." Jawab Azam terburu-buru.


"Iya tapi kemana ?" Tanya Daniza.


Azam yang ingin cepat keluar dari rumah, kembali berhenti lalu menatap wajah Daniza penuh permohonan. Tangannya terulur, lalu mengusap lembut puncak kepala adiknya yang tertutup hijab.


Daniza akhirnya membiarkan Abang kesayangannya itu berlalu dari dalam ruangan itu. Gadis yang beru beberapa jam lalu resmi menyandang status sebagai seorang istri itu, hanya menatap punggung kokoh yang semakin menjauh dari tempat ia berada.


Beberapa saat kemudian tatapan Daniza kembali tertuju pada laki-laki yang baru saja menyedot minuman yang baru saja ia sajikan.


"Mau kemana ?" Tanya daren sambil menggenggam tangan istrinya.


"Mau kembali ke kamar Fatih, Mami dan Aunty


"Mama sayang.." Sela Daren menggoda.


"Jangan mulai ya Mas, aku ga suka bercanda." Kesal Daniza lalu bersiap meninggalkan suaminya yang terus saja tertawa.

__ADS_1


"Ga boleh kemana-mana." Daren menarik tangan Daniza hingga membuat gadis itu terduduk tepat di sampingnya.


"Mas ga enak di lihat orang." Protes Daniza. Wajahnya memerah saat Daren semakin mendekatkan wajah mengesalkan suaminya itu ke wajahnya.


"Hargai kami dong.." Protes Alfan yang sedang duduk tidak jauh dari sofa yang di duduki Daren dan Azam tadi.


"Ke kamar dong.." Goda Aidar menimpali, dan langsung mendapati pelototan garang dari Daniza.


"Ke kamar yuk." Ajak Daren.


Daniza menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengurangi kekesalan yang semakin menghimpit dada. Sungguh, jika ia tidak takut menjadi istri durhaka, sudah di pastikan tangannya yang sedang terkepal ini, mendarat sempurna di kepala suaminya sejak tadi.


"Udah dong Mas, Mami dan Mama sedang nungguin aku." Mohon Daniza semanis mungkin.


"Ah aku jadi pengen culik kamu." Daren melepaskan genggaman tangannya di tangan Daniza, lalu menatap wajah menggemaskan istrinya itu dengan hangat.


Daniza beranjak dari sofa, lalu dengan cepat melangkah menuju kamar di mana Mami dan Mama mertuanya sedang menunggu.


Kamar Alfan akan di rubah menjadi kamar Al Fatih, sedangkan si bungsu Alfan akan menempati apartemen baru hadiah dari Daren karena sudah di langkahi Daniza. Aidar pun mendapat hadiah dari kakak ipar mereka itu, hanya berbeda dengan Alfan yang menginginkan Apartemen, Aidar meminta tiket ke luar negeri untuk mengajak sahabatnya ke sana. Daren pun menyanggupi hal itu, bukan hanya tiket tapi seluruh akomodasi dan banyak hal lain ia yang akan menyiapkannya.


Daniza membantu ke dua ibunya mengatur kamar baru untuk putranya. Barang-barang Alfan sudah di rapikan dan siap di angkut ke apartemen, sedangkan barang-barang fatih mulai menempati kamar itu.


Bocah yang sejak tadi di ajari oleh Oma nya untuk memanggil Daniza dengan sebutan Ibu, kini sudah terlelap di atas ranjang yang dulunya milik Alfan. Sesekali Daniza melirik fatih yang sedang terlelap di ats ranjang besar itu sambil tersenyum.


Hadiah yang komplit. Yah, Allah sungguh sangat baik terhadapnya karena sudah di beri paket se komplit ini dalam hidupnya. Menikah dengan laki-laki yang ia cintai, dan mencintainya.


"Aku ga nyangka kita akan berbesan."


Daniza mencuri-curi mendengar percakapan antara Mami dan mama mertuanya. tawa bahagia dari dua wanita paruh baya yang terlihat serupa itu, semakin membuatnya yakin jika keputusannya hari ini tidaklah salah. Untuk penilaian orang lain di luar sana, biarlah itu menjadi urusan mereka dengan sang maha kuasa. Toh, apa yang ia lakukan hari ini sama sekali tidak melanggar aturan - Nya. Jadi biarlah orang-orang berbicara dan menilai semau mereka.


*****

__ADS_1


*NoteAuthor


Mungkin ada yang bertanya-tanya soal Gio dan Meisya. Kisa mereka berdua akan ada di lanjutan menggenggam janji, tapi aku ga tahu kapan bisa lanjut novel itu. Meisya adalah salah satu tokoh penting wanita di sana, jadi aku ga bisa buat flash back kisah mereka di sini, mohon pengertiannya ya guys 🙏


__ADS_2