Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 178 Season 3


__ADS_3

Danira terus tersenyum sembari menatap wanita yang tersu tersedu di layar ponselnya. Bunga melati masih menjuntai indah di atas kepalanya yang tertutup hijab. Kebaya yang di pilih langsung oleh ibu mertuanya masih melekat sempurna di tubuh indahnya.


Wanita yang baru beberapa saat lalu resmi menjadi seorang istri it masih duduk sambil menatap wajah adiknya yang sudah di penuhi air mata dari layar ponselnya.


"Kakak tega banget sama aku."


Kalimat singkat yang kesekian kalinya kembali terdengar. Namun, Danira hanya terus memasang wajah bahagianya, walaupun di dalam hati terdalamnya, ia tidak kalah sedih mengingat salah satu orang berharga dalam hidupnya sedang berada di benua yang lain, padahal hari ini adalah hari bahagia dalam hidupnya.


"Selamat atas kehamilan mu. Doakan aku cepat nyusul kamu yaa." Ucap Danira berusaha mengalihkan pembahasan yang membuat mereka berdua sedih. Ia tuak ingin terus menerus terjebak dalam suasana seperti ini.


"Dasar mulut ember." Kesal Dira sambil menatap tajam laki-laki yang duduk diam di sampingnya.


Nira hanya tersenyum melihat tingkah adiknya dari layar ponsel. Meskipun selama ini mereka tidak terlalu dekat, karena Dira terus saja menjaga jarak darinya, tetap saja ia sangat mengenal bagaimana tabiat dari adik dinginnya ini.


"Kabar bahagia tidak boleh di sembunyikan Dir." Ucapnya mencegah kejadian tidak di inginkan terjadi pada Arga di sana.


"Buktinya Kakak melakukan hal yang sama. Bukankah hari ini adalah hari bahagia juga, mengapa tidak mengabari aku." Omel Dira. Rupanya wanita yang kurang dari sembilan bulan lagi akan bergelar sebagai seorang ibu itu masih demam atas apa yang terjadi hari ini.


"Maaf. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kamu. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjalani pernikahan tanpa kehadiran salah satu orang penting dalam hidup." Ujar Nira. "Maafkan kakak mu yang egois ini." Sambungnya.


Pintu kamar yang terbuka lebar diketuk. Nira mengalihkan tatapannya dari layar ponsel, terlihat laki-laki yang belum genap satu jam resmi menjadi suaminya sudah berada di ambang pintu kamar, bersama seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu mertuanya.


"Dira aku tutup yaa, suamiku sudah datang." Pamit Nira pada adiknya.


"Bentar Kak, aku mau marahin Ferri dulu." Cegah Dira.


Nira terkekeh, namun ia tidak menjelaskan perihal siapa laki-laki yang menjadi suaminya.


"Nanti akan aku beri kejutan. Tiga hari lagi." Setelah mengatakan kalimat itu, Nira segera mengakhiri panggilan video lalu melangkah menuju ambang pintu untuk membantu suaminya masuk ke dalam kamar tamu yang di dekorasi menjadi kamar pengantin.


"Mama tinggal yaa." Izin Reni pada menantunya.


Danira mengangguk mengiyakan, ia lantas mendorong kursi roda yang di duduki suaminya usai menutup pintu kamar.


"Aku pikir kamu sudah bersiap." Ucap Arion. "Padahal Papa sudah menyiapkan pesawat untuk keberangkatan kita malam ini." Sambungnya.


"Malam ini kita istirahat dulu, besok baru berangkat." Jawab Nira. Gadis itu mulai membantu melepaskan jas yang masih melekat di tubuh suaminya, kemudian meletakkan jas itu ke atas sofa. Sepatu dengan harga fantastis yang melekat di kaki suaminya mulai ia lepaskan, lalu mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri Nir." Ucap Arion saat Nira mulai melepaskan kancing kemeja yang melekat di tubuhnya.


Nira terkekeh geli melihat wajah tampan yang sudah seperti uang rebus di hadapannya.


"Biasakan dirimu." Kecup Nira di bibir Arion, dan sontak membuat mata lelaki itu membulat penuh. "Aku ngga mau kalah dari adikku, kamu tahu dia sudah hamil sekarang." Sambungnya sambil melepaskan kemeja berwarna putih dari tubuh atletis suaminya.


Wajah terkejut Arion seketika berubah sedih saat istrinya mulai membahas masalah keturunan.


****


Di luar kamar, keluarga besar kedua mempelai masih duduk dan saling bercengkrama di ruangan mewah yang sudah di sulap menjadi begitu indah. Meskipun ini adalah acara yang terbilang dadakan, sama sekali tidak terlihat sederhana.


Pernikahan yang di rencanakan kurang dari dua minggu itu, terlihat begitu mewah dan meriah.


"Jadi Adelia ini mantan pacar kamu ?" Tanya Reni pada suaminya.


Rey hanya mengangguk, setelah puluhan tahun berlalu ini pertama kalinya ia melihat wajah wanita yang sudah ia kecewakan.


Di sisi lain, Gerald semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Adelia saat pembahasan mulai tertuju pada masa lalu istrinya itu.


"Kami punya satu anak di Singapura, kalau kalian mau nanti kita jodohkan." Ujar Reni penuh binar.


"Nggak." Tolak Gerald tegas. Ah sumpah demi apapun, ia tidak mau ber besan dengan mantan kekasih dari istrinya.


Adelia hanya semakin terkekeh geli dengan tingkah suaminya.


"Jadi Feri itu putramu ?" Tanya Alfaraz pada lelaki yang terus tertunduk dalam.


Rey mengangkat wajahnya, kemudian menatap wajah istrinya bingung.


Reni hanya tersenyum, ia tahu bagaimana sikap dari lelaki baik yang mampu membuat dirinya berhenti dari kebiasaan buruknya.


"Dia putraku dari suami kedua." Jawab Reni.


Mendengar kalimat santai itu membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut. Kecuali Abimanyu dan Rey yang memang sudah sangat hafal dengan tabiat Reni.


"Lalu suami keduamu mana ?" Tanya Adelia penasaran.

__ADS_1


"Ngga bisa hadir, istrinya tidak mengizinkan. Wanita itu masih saja mencemburui ku." Jawab Reni santai, seakan aib yang sedang ia bahas bersama keluarga menantunya ini adalah sesuatu yang biasa-biasa saja.


"Wah, luar biasa banget." Ujar Adelia.


"Apanya yang luar biasa. Awas aja kalau kamu ikut-ikutan kayak begitu." Kesal Gerald karena melihat istrinya yang terlihat takjub dengan Reni.


Di ruangan yang sama, tapi di perkumpulan anak muda terlihat seorang petugas dari wo khusus katering sedang menyajikan makanan ringan yang di pesan oleh sahabat-sahabat Abizar.


Abizar duduk diam sambil memperhatikan gadis yang begitu telaten menyajikan makanan di atas meja yang di kelilingi oleh sahabat-sahabat, juga sepupunya.


"Kalau kerja pakai mata dong." Teriak salah satu gadis yang ada di sana.


"Udah lah Kak, lagian itu ngga banyak kok." Ujar Gea sembari membersihkan tangan sahabat kakak sepupunya menggunakan serbet.


"Udah ngga apa-apa, kamu lanjut kerja aja." Ujar Gea pada gadis yang terlihat menunduk di depan mereka.


Abizar mengusap lembut puncak kepala adik sepupunya.


"Abi kalau tangan aku melepuh gimana ?" Rengek gadis itu.


"Melepuh apaan, ini tuh udah dingin. Ngga usah mengada-ngada deh." Bela Gea.


Aira menahan lengan Gea, lalu menggeleng.


"Maafkan saya." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


Aira..


Aira menatap wajah sahabatnya penuh permohonan agar berhenti dan tidak lagi melanjutkan masalah ini.


Meskipun kesal, Gea akhirnya patuh dan tidak lagi memperbesar masalah itu.


****


*Note Author


Maafkan aku yaa karena ke mageran ku kambuh 😪😪😪

__ADS_1


__ADS_2